
Eva PoV
setelah aku mengambil alih tubuh Lia, aku langsung menghela nafas mendapati sosok Rayn yang sudah berdiri diluar kaca jendela mobil, sembari mengetuk jendelanya pelan. aku menghela nafas pelan kemudian menurunkan mengambil softlens yang ada didashboard mobil dan memakainya.
untuk apa Softlens? ya, karena waran mata Lia saat ini hijau emerald dan ya, warna mata Lia seharusnya biru shaphire jadi aku langsung saja mengenakan softlens itu kemudian menyesuaikan mataku sejenak. aku mengambil nafas setelahnya menurunkan jendela sebelah kiriku dan menoleh ke arah Rayn yang sudah memasang cengirannya.
" apa mau mu?" tanyaku dengan dingin dan datar.
tidak terlalu sulit meniru Lia\, mungkin aku harus bersikap agak tenang dan dingin. akan tetapi aku juga bisa bersikap manja\, jadi bisa aku katakan kalau Lia itu tipe ***Tsundere ***alias imut didalam dan dingin diluar. jujur meniru Lia jauh lebih mudah dibanding meniru Nana\, kenapa? karena dia itu dewinya iblis jadi\, jika aku berperan sebagai dia\, aku harus sangat dinginnn\, judesss\, kejammm\, cuekkk\, dan ya nyebelinnn pake bangettt....
" haha, jangan begitu! aku hanya ingin menyambut kedatanganmu!!" ucap rayn dengan santainya. dia terkekeh sejenak setelahnya mengukir senyumnya lembut, dan aku begidik ngeri karena senyum yang diukirnya.
sungguh aku tidak percaya kalau orang ini sungguh sangat mencintai Lia, bagaimana aku bisa tahu? ya, karena dari cara pandangnya saja sudah terlihat jelas kalau dia sangat mencintai Lia. dan ya, sebagai mantan seorang play girl dan juga The Queen Drama. aku sangat paham makna tatapan itu.
tatapan yang memandang sosok Lia dengan penuh rasa penasaran, rasa memuja, dan ya rasa ingin memiliki.aku menggelengkan kepalaku sejenak setelahnya aku mengambil nafas dalam dan menatapnya datar, sungguh ini menyebalkan aku ingin sekali mencongkel kedua bola matanya dan mencincangnya saat ini juga.
" hahh, buka gerbangnya!" titahku yang tidak diindahkan sama sekali oleh Rayn. aku menghela nafs kemudian membuka dashbord yang berisi beberapa pistol dan pisau yang sudah terhias disana. Rayn menoleh ke dashboard kemudian bedigik ngeri mendapati dashboard mobil yang berisi pisau dan pistol.
" o..oke! aku buka!!" ucapnya agak terbata kemudian langsung saja membuka gerbang dan aku langsung saja memasukkan perseneling sembari menunggu rayn selesai membuka gerbang, aku langsung saja menginjak pedal gas dan melajukan mobilku ke tempat parkir.
setelah cukup lama akhirnya aku tiba diparkiran para donatur, aku memarkirkan mobil setelahnya aku mengambil ponsel, dompet, dan sebuah pistol AK4 yang sudah terbalut dengan tas panjang yang memang selalu ada disetiap mobil yang dibawa oleh Nana.
aku masih ingat betapa Nana memaksa membawa senjata laras panjang sebelum kami berangkat. dan ya, nana yang menang! bagaimanapun sekali nana keluar dia tidak akan pernah bisa dikendalikan kecuali dirinya yang memang mengalah.
aku keluar dan berjalan menuju ke lift yang tidak jauh dari sana, baru saja aku akan menekan tombolnya dan pintu lift ini sudah terbuka menampilkan sosok pria tampan. dia tinggi mungkin sekitar 185 cm, rambut yang dicat abu-abu, matanya hitam pekat dan sorot matanya benar-benar dingin. mungkin 11-12 dengan sorot mata Nana.
__ADS_1
urgh mengerikan~batinku
" ah, silahkan!" ucapnya dengan datar sembari menjauh dari sana dan memberikan aku jalan untuk masuk. aku mengukir senyum kecil kemudian melangkah masuk dan menekan tombolnya menuju ke lantai asrama tempat kamarku berada.
Author PoV
kali ini Eva yang masih berada ditubuh Lia. dia kini tengah berbaring di atas ranjang single bed miliknya yang baru. nuansa kamar yang hening nan sepi membawa eva kembali ke masa lalu. ruanga berukuran 5X5 m persegi itu dihiasi cat putih, sebuah ranjang ditengah ruangan, sebuah nakas disebelahnya, dan sebuah lemari yang tidak jauh dari sana. disebelah kanan ranjang ada balkon dengan tirai putih yang nampak kontras dengan pintu kaca yang membuatnya bisa melihat pemandangan diluar.
dari sana Eva bisa melihat ada sebuah meja dan sebuah bangku dari besi yang nampak keras akan tetapi nyaman untuk diduduki. Eva merubah posisinya menjadi telentang, kini ia memandang langit-langit kamar polos itu. disana ada sebuah lampu yang sangat dia yakini akan membuat matanya silau jika ia membiarkan lampu menyala saat malam.
ruangan yang kecil ini mengingatkan dirinya dengan kamar lamanya, ruangan kecil seluas 5X5 m persegi yang selalu dia gunakan sewaktu kecil. kamar dimana ia menghabiskan waktunya untuk belajar dan bertahan hidup. memiliki ayah yang merupakan raja mafia bukan berarti hidupmu akan indah karena kamu bisa mendapat segalanya.
pada saat itu Italia tengah berada dalam perang dingin, karena posisinya yang merupakan putri seorang mafia tentu saja ia memiliki musuh yang sangat banyak. karenanya ayahnya membuangnya dan menitipkannya pada seorang pedagang kecil di tepi kota dan menjauhkan Eva dari segala macam bahaya.
dirumah kecil nan sederhana itu Eva bertahan hidup sendiri setelah orang tua angkatnya meninggal karena penyakit. Eva menghembuskan nafasnya panjang kemudian memejamkan matanya sejenak, mengingat hal yang mungkin akan mengalihkan perhatiannya dari ruangan sempit itu.
" ah, silahkan!"
" Eva, apa yang kau pikirkan?" gumamnya sejenak
Eva menurunkan kakinya kemudian melangkah mendekati balkon yang ada disebelah kanan ranjangnya. dengan perlahan ia mengegeser pintu dan melangkahkan kakinya keluar. Eva mengernyitkan matanya sejenak dan menyesuaikan matanya dengan sinar mentari yang ada.
" ternyata disini lumayan juga!" ucapnya dengan sebuah senyum kecil yang diukir di wajah cantiknya.
Eva masih setia memandang pemandangan yang ada didepan matanya, dan tanpa ia sadari ada orang yang tengah memperhatikan dirinya dari tempatnya duduk. Eva tidak menyadari hal itu, dia masih larut dalam pikirannya hingga sosok yang memperhatikan dirinya berdehem sejenak.
__ADS_1
" ehem.."
" ah?"
Eva yang terkejut langsung menoleh dan mendapati seorang pria tampan yang tengah duduk dikursi sembari menyesap espresso yang ada dimug berwarna hitam. Eva sedikit terkejut mendapati sosok yang tadi ia temui di lift, dan ya, kini Pria itu nampak sangat tampan dengan pakaian santainya. membuat Eva kembali dalam angannya.
" hei? apa kamu masih disana?" tanyanya dan Eva langsung tersadar dari lamunannya.
" ah, maaf! kamu... yang tadikan?" tanya Eva dan pria itu malah tersenyum.
Li, bangun oi!!!
apaan?~lia
cogan ni!! adepin noh!!
malezz~Lia
ih, ngak kuat dedekT~T
jijiq ~Lia
Eva memejamkan matanya sejenak dan mengembalikan kesadarannya pada Lia. baru saja Lia membuka mata dan Pria itu sudah ada didepan matanya.
" ah!!??" Lia mengambil beberapa langkah mundur akan tetapi hal itu sia-sia karena dia ada diujung balkon sekarang, bahkan Lia bisa merasakan pagar pembatas yang menyentuh punggungnya.
__ADS_1
" heh, sepertinya kamu sangat suka melamun ya?"