
" hahh...." LIa menghela nafas panjang.
kini Lia tengah terbaring lelah dibawah sebuah pohon rindang yang ada dilapangan sekolahnya, ini jam olahraga dan Lia baru saja berlari sebanyak 2 kali mengelilingi lapangan. seharusnya Lia kuat dengan hal seperti ini, akan tetapi karena dia harus berakting menjadi gadis lemah jadi apa dayanya?
walau awalnya dia sempat mengacaukan dramanya, akan tetapi Lia berhasil mengendalikan keadaan dan mengikuti alurnya. dia mengubah perannya menjadi gadis manis yang lembut dan lemah. dihari pertamanya masuk ke sekolah, dia bilang kalau tubuhnya lemah jadi butuh waktu agak lama agar dia bisa tiba dikelas dan dia juga mengatakan kalau dia sedikit tersesat karena gedung ini sangat luas.
dan bodohnya semua orang percaya dengan hal itu? kalau itu aku pasti BK sudah datang dan menyeretku ke lapangan T~T, kini Lia tengah duduk sembari memandang ke salah satu jendela kaca yang ada digedung itu. tempat dimana Rayn berada, kelas X-3. Lia bisa melihat Rayn dengan jelas dari sana, ya kalau bukan karena dia sudah terlatih melihat dari jarak jauh jadi, dia bisa melihat Rayn yang sedang terlelap dari jendela luar.
sesekali Lia terkekeh melihat Rayn yang dimarahi oleh guru, dan itu terus berulang karena Rayn juga kembali tidur setelah guru yang memarahinya pergi. tanpa dia sadari seorang laki-laki datang mendekat ke arahnya. Lia yang sejak tadi sibuk memandangi Rayn tersentak saat ada orang yang menepuk bahunya.
" KYAA!!!" teriak Lia yang terkejut.
" haha, apa sih yang lu lakuin?" tanya orang yang tadi menepuk bahu Lia.
" Theo? apa yang? lu udah selesai?" tanya Lia langsung dalam sekali tarikan nafas yang membuat Theo terkejut karenanya.
" hei-hei, satu-satu dong!!"
" jangan langsung sekali nafas_-"
" iya-iya gue jawab!" sahut Theo ketika mendapati Lia yang menatapnya dengan tajam.
" pertama ini gue, Theo! kedua gue cuma mau ngagetin lu aja, dan yang ketiga gue udah selesai lari" jawab Theo dengan wajah yang dihiasi senyum tanpa dosa.
__ADS_1
" hahh, lu tu ya? heran gue, ngapain kesini?" tanya Lia lagi. Theo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan malah memasang cengirannya.
" emang siapa sih yang lagi lu liatin sampe segitunya?" tanya Theo yang membuat jiwa Lia tersentak kaget akan tetapi karena Lia masih bisa mempertahankan poker facenya jadi dia nampak biasa saja.
" bukan urusan lu!" jawab Lia sembari bangkit dari duduknya.
Theo yang melihat hal itu malah menarik lengan Lia sehingga Lia kembali ke duduknya.
" argh.." ringisnya pelan sedangkan Theo malah memasang cengirannya.
" apa-apaan sih?" tanya Lia dengan kesal sembari menahan amarah. aku yakin itu pasti sakit, dan Theo juga menarik Lia cukup keras jadi itu pasti sakit.
" hehe, sorry😁" ucap Theo dengan cengirannya yang khas.
" lagian lu juga sih, gue kan baru duduk eh lu malah pergi!" ucap Theo merajuk, membuat Lia geli karenanya.
Theo yang melihat itu malah memasang smirknya, Theo mulai mendekat dan menahan tubuh Lia diantara dirinya dan pohon yang ada dibelakangnya, walau begitu Lia masih nampak tenang dan tidak merasa tergangggu. padahal ini adalah posisi yang sangat tidak nyaman bagi siapapun, disudutkan!
" apaan?" tanya Lia dingin.
" jangan gitu dong sweetheart!"
Lia akhirnya mengalah, dia mendorong tubuh Theo setelahnya memperbaiki posisi duduknya. Theo juga mengangkat tubuhnya yang sudah mencium tanah dan memperbaiki posisi duduknya. kini mereka duduk bersebelahan, Theo memandang langit biru yang sedang cerah tanpa ada awan yang menghiasinya, sedangkan Lia malah sibuk memperhatikan lapangan tempat dimana teman-teman sekelasnya tengah sibuk dengan kegiatan lari mereka.
__ADS_1
" jadi..gue suka sama lu!" ucap Theo yang masih memandang langit biru diatas sana, sedangkan Lia kini sedikit terperanjat kaget karenanya, baru saja mereka berteman selama beberapa lama dan Theo bilang dia suka padanya? apa dia gila? tidak!! Theo masih waras, dan sangat waras, dia tidak bercanda kali ini.Theo suka Lia.
" lu becanda" ucap Lia yang kini ikut memandang langit biru, disana dia bisa melihat luasnya langit yang begitu indah nan cerah. sangat berbeda dengan hatinya yang kini tengah ditutup oleh awan badai yan ganas, Lia menghela nafas sejenak dan membuat Theo menatapnya.
" ngak, gue serius!" ucap Theo sembari memandangi wajah cantik Lia, Lia biasa aja. dia emang cantik, tapi satu hal yang tidak bisa ku mengerti dari Lia. dari mana dia memiliki rasa PD yang teramat? kalau ada orang sepertinya didunia pasti semua orang akan dibilang pacarnya?
" kalau begitu gue ngak serius" ucap Lia yang menghempaskan tubuhnya ke tanah, kini dedaunan rindang yang menjadi atap dan menghiasi gambaran dimatanya, Lia mengukir senyum kecil kemudian mengangkat tangan kanannya dan mengerakkannya ke atas berusaha mencapai sesuatu yang tidak ada disana.
" lu ngapain?" tanya Theo yang melihat tangan Lia yang terulur ke atas, dia tidak mengerti kenapa dan apa yang akan Lia lakukan, padahal Lia hanya membolak balikkan tangannya dan sesekali dia mengepalkan tangannya seakan dia mendapati sesuatu untuk dia genggam dan harus ia dapatkan.
" ini mimpi!" ucap Lia yang membuat Theo menautkan kedua alisnya.
" ini mimpi gue, yang ngak akan bisa tercapai!" ucapnya lagi dan membuat Theo semakin bingung dengan apa yang dia ucapkan. Theo menghela nafas setelahnya ikut merebahkan tubuhnya diatas tanah, ikut memandangi dedaunan yang rindang dan menenangkan, beberapa sinar mentari menerobos dedaunan memberikan efek yang indah dimata keduanya.
" emang apa mimpi lu?" tanya Theo yang masih memandangi dedaunan diatasnya, Lia mengukir senyumnya dan menarik tanggannya yang sudah terulur di udara, Theo menoleh ke arah Lia dan mendapati sosok gadis cantik yang tengah tersenyum indah.
" mimpi gue? sama seperti itu!" ucap Lia sembari menunjuk ke atas, tangan yang tadi sudah ia simpan kembali terulur ke udara dan menunjuk ke arah dedaunan yang ada diatas mereka.
" ha? apaan? lu tadi bilang mimpi pake tanda tanya kan?" tanya Theo yang tidak percaya dengan apa yang telah ia dengar, Lia terkekeh sejenak kemudian membuka uluran tangannya.
" mimpi gue sama seperti tempat ini, gue yang berada dibawah kegelapan yang tidak bisa dicapai oleh cahaya!" ucapnya membuat Theo semakin mengernyitkan alisnya, Theo masih bingung dengan kata-kata Lia, akan tetapi disatu sisi dia merasa sedih mendengar ucapan Lia.
" apa maksudmu, kamu tidak akan bisa meraihnya?" tanya Theo agak pelan, dia takut menyinggung perasaan Lia. Lia menoleh ke arah Theo yang masih setia menatapnya, Lia mengangguk sebagai jawaban yang diminta oleh Theo.
__ADS_1
" emangnya apa? mimpi apa itu?" tanya Theo lagi, dan Lia kembali menatap rindangnya pohon yang ada diatasnya.
" mimpi gue bukan hal yang besar, gue sama seperti rumput ini! rumput yang bisa di injak oleh siapapun, rumput yang harus menerima keringnya tanah tanpa air saat kemarau, rumput yang harus rela tenggelam oleh air saat hujan, rumput yang harus bertahan dibawah pohon rindang!"