
Theo PoV
aku memandang sosok cantik itu, gadis manis yang sejak tadi berada disampingku dan bergumam tidak jelas. aku tidak mengerti, sebenarnya mimpi apa yang dia miliki hingga ia mengatakan kalau mimpinya tidak akan bisa dicapai. dia mengangkat tubuhnya kemudian mengulurkan tangannya kembali ke udara.
" mimpiku adalah agar aku bisa bertemu dengan kedua orang tuaku dan membalas semua orang yang membuatku menderita" ucapnya dengan sendu, aku tidak salah dengar? seorang Lia bisa menjadi sendu dan sedih? aku memutuskan untuk menoleh ke arahnya dan medapati sosoknya yang kini nampak sendu.
sorot matanya sayu dan senyum yang diukirnya begitu sendu, ini pertama kalinya aku melihat seorang gadis yang berusaha sekuat ini untuk terlihat kuat. hatiku terenyuh sakit, rasanya ingin aku mendekapnya dan memeluknya. ingin sekali melindunginya dan membawanya pergi jauh dari segala macam bahaya dan kesedihan yang dimilikinya.
tanpa sadar aku bangkit dari dudukku dan mengulurkan tanganku padanya. dia nampak bingung dengan apa yang aku lakukan, bahkan aku sendiri tidak tahu apa yang tengah aku lakukan sekarang. aku mengukir senyumku lembut kemudian mengambil aba-aba untuk bicara.
" kalau begitu aku akan membantumu untuk mewujudkannya!" ucapku dengan ringan, sedangkan Lia nampak terkekeh sejenak mendengar ucapanku.
" kalau gitu lu harus ngebunuh gue lebih dulu.." ucapnya dengan kekehan sembari meraih uluran tanganku. aku membantunya berdiri dan dengan santainya dia pergi dari hadapanku.
" apa maksudmu?" tanyaku yang tidak paham maksud kata-katanya, sungguh gadis ini memiliki banyak rahasia. dia berhenti kemudian menoleh ke arahku, sebuah senyum diurkirnya. senyum tulus yang belum pernah ku lihat sebelumnya.
" kalau lu mau wujudin mimpi gue, lu harus ngebunuh gue! karena orang tua gue udah mati!!" ucapnya dengan santai, aku yang mendengar hal itu membatu sejenak, bukan karena melihat keindahan senyum yang belum pernah dia perlihatkan padaku. akan tetapi karena kata-katanya dan senyum yang dia buat.
sejenak ku pikir dia ingin mati sekarang juga, dan dia benar-benar ingin mati sekarang. dan entah kenapa hatiku rasanya sakit mendengar hal itu, mungkin aku sudah benar-benar jatuh cinta padanya. rasanya aku ingin membawanya pergi jauh dari sini, dan menyembunyikannya dari dunia ini.
" heh, lu apa-apaan sih? lu ngelamunin apaan?" tanyanya yang membuatku tersadar dari lamunanku, aku menoleh dan mendapati sosoknya yang sudah berkacak pinggang didepanku.
__ADS_1
" ayo pergi!" ucapku dengan tenang sembari menjauh dari lapangan, dia nampak berdecih kesal sebelum berjalan mengikutiku dari belakang.
jam pelajaran sudah berakhir, kini kami tengah bersantai ria di kantin sekolah. aku memesan sebuah nasi goreng dan sekaleng soda dari mesin minuman, sedangkan Lia membeli sekaleng susu vanilla dan sepotong softcake. aku masih memandangnya dan Lia nampak tidak peduli dengan hal itu.
" li.." panggilku pada Lia yang sedang asik meneguk sekaleng susu vanilla miliknya.
" apaan?"
aku masih memandangnya, dia hanya mengacuhkanku dan fokus dengan sarapannya. ya, Lia memang tidak pernah sempat sarapan pagi karena dia selalu bangun kesiangan. dan ya, aku selalu terlambat karena dirinya_-. tanpa sadar aku mengukir senyum lembut, dan tanpa sadar sebuah kata-kata keluar dari mulutku.
" gue suka sama lu!!!"
" hah, apa cuma itu yang ada dipikiran lu?" tanyaku yang sudah jengan dengan kata-katanya.
jujur sebenarnya Theo cukup tampan, sangat tampan malahan. akan tetapi aku sendiri juga tidak mengerti, bagaimana bisa aku jatuh hati pada orang yang paling aku benci. entah sejak kapan tapi, pikiran ku mulai dipenuhi dengan gambaran dirinya bahkan beberapa kali aku bisa mengigat suaranya, deru nafasnya, detak jantungnya. semuanya, aku menyukai Rayn!!
ini bukan hal yang aku inginkan, dan aku sudah menghancurkan diriku, rencanaku, dan kepercayaan dari orang-orang yang mempercayaiku. aku merusak semuanya, karenanya aku sedang dalam dilema sekarang. aku bingung bagaimana aku akan melanjutkan kisah ini, jika aku mengatakan perasaanku pada Rayn aku akan merusak kepercayaan semua orang dan ya, aku akan menghancurkan reputasiku dan mencoreng harga diriku. akan tetapi jika aku tidak mengatakan hal ini, maka perasaanku sendiri yang akan tersiksa.
selain itu kini Theo juga malah ikut membuatku pusing dengan kata-katanya,bukannya aku tidak percaya dengan ucapannya, hanya saja aku sudah terlalu bingung dengan dilema yang aku alami. mungkin jika sejak awal aku tidak berencana mencari sosok Rayn, apa mungkin aku tidak akan bertemu dengannya? dan mungkin aku juga tidak akan jatuh cinta padanya? tapi, jika saja ini memang takdir apa mungkin aku benar-benar jatuh cinta padanya?
apa Nana dan Eva akan membiarkan aku melakukan ini? apa paman Louis dan pama Ryoma akan mengizikan aku mencintai orang yang membunuh orang tuaku? apa mendiang Papa dan Mama akan bahagia dengan yang aku lakukan? banyak sekali pertanyaan yang terbentang dalam benakku akan tetapi aku memiliki semua jawabannya, entah itu jawaban yang baik atau buruk.
__ADS_1
jika aku menyatakan perasaanku, maka Nana pasti akan mengambil alih tubuhku dan menggila, dia pasti akan membunuh Rayn saat itu juga. jika aku beraparan dengan Rayn, paman Ryoma pasti akan menguliti Rayn yang sebelumnya sudah dibunuh oleh Nana, dan paman Louis pasti akan menyimpan organnya kemudian dia jual degan harga mahal. dan itu adalah jawaban dengan resiko buruk, dan untuk jawaban positif yang ada diotakku? aku tidak mendapatkannya, jawabannya TIDAK!!!
argh, aku pusing. ini menyebalkan, apa memang harus begini? aku menghela nafas pelan setelahnya megangkat kepalaku dan membawa pandanganku ke arah Theo yang sedang menatapku saat ini? ha, menatapku? aku menoleh dan ya, Theo sedang memandangi diriku. dia menatapku dengan tatapan memuja, tatapan yang aku suka akan tetapi aku benci jika Theo yang melakukan itu. kenapa? itu menjijikkan.
" heh, kayaknya mata lu minta di lepas ya?" tanyaku dengan sebuah smirk yang khas ala Nathalia Yuu. Theo nampak terkekeh sejenak sembari menggelengkan kepalanya.
" habis lu bengong sih!"
" mikiran apaan sih sebenernya?" tanyanya yang membuatku sadar dengan apa yang ku lakukan.
" the!!" panggilku dan Theo langsung menoleh dan mengernyitkan alisnya.
" apa?" jawabnya dan aku malah bingung dengan apa yang aku lakukan, kenapa aku memanggil Theo? aku harus mencari udara segar.
" gua mau bolos, ijinin gua!" ucapku yang beranjak dari duduk dan melangkah pergi menjauhi kantin yang masih ramai dengan para murid yang masih menyantap makanan mereka.
aku melangkahkan kaki ku pergi menjauh dari sana, entah kemana kakiku membawaku pergi aku menurutinya begitu saja. pikiranku entah melayang kemana dan jiwaku sedang berapa dalam dilema. sudah cukup lama kakiku membawaku dan tubuhku berhenti di taman belakang sekolah? entah kenapa tubuhku membawaku kemari akan tetapi kini aku merasa lega.
pemandangan taman belakang tidak kalah indah dengan sejuknya deru angin di rooftop, hijaunya pepohonan dan sejuknya hembusan angin yang menerpa tubuhku menghilangkan semua beban yang ada dipikiranku. aku mengambil nafas dalam dan menikmati segarnya angin yang berhembus.
" apa yang harus ku lakukan?"
__ADS_1