
Lia POV
kini aku masih berada di rooftop, ya aku membolos. habisnya aku bosan dan aku lelah. aku bingung, kenapa perasaanku begini? bagaimana bisa begini? dan sejak kapan aku terjebak dalam perasaan ini? aku merebahkan tubuhku dilantai rooftop, ku pandang langit biru yang tadi bisa kulihat dari bawah pohon bersama Theo.
eh, kenapa aku malah memikirkan si bodoh itu?
ah, aku benar-benar gila
aku masih sibuk memandang langit, iris biruku memandang langit biru yang sama indahnya. ada beberapa awan tipis disana, tapi aku tidak keberatan. toh awannya malah menghalangi sinar mentar yang menyilaukan mataku. aku masih bingung, aku ingin menyelesaikan tugasku dengan sempurna seperti biasanya.
tapi, rasanya tidak mungkin. ini sulit! hatiku terlanjut jatuh dalam cengkraman Rayn, dan disatu sisi Theo juga menyukaiku, aku bingung. apa aku harus memilih Rayn yang merupakan musuhku, dan membuang Theo. atau aku harus memilih Theo dan membunuh Rayn seperti rencana awal?
argh, aku bisa gila. saking frustasinya ingin ku langkahkan kakiku ke awan. ya, aku mengangkat tubuhku dan denan santai ku langkahkan kakiku menuju ke tepi dinding pembatas, aku melangkahkan kakiku di dinding tipis itu sembari terus berpikir. mungkin kalian anggap aku gila karena melakukan hal yang amat berbahaya seperti itu. tapi, aku memang sudah terlalu gila dengan hal ini.
" LIA!!!"
sebuah teriakan mengalihkan fokusku, aku menoleh ke sumber suara itu dan mendapati sosok Rayn yang kini tengah berdiri di depan pintu dengan wajah takut dan penuh amarah. aku bingung, kenapa dia disini? dan apa yang dia lakukan disana? dan kenapa dia bisa semarah itu?
" ada apa Rayn?" tanyaku yang mulai berjalan turun dari sana dan melangkahkan kakiku mendekati sosok Rayn yang masih berada didepan pintu menuju ke rooftop.
GREPP
" ah?"
aku semakin tidak mengerti, kenapa dia tiba-tiba memelukku? Rayn memeluk tubuhku erat dan membuatku hampir kesulitan bernafas, aku rasa aku bisa mati jika dia terus memelukku seperti ini. aku mendorong tubuh Rayn pelan dan melepaskan tubuhku dari pelukan gilanya itu.
" bodoh!! apa kamu gila!!" makinya yang membuatku semakin tidak mengerti.
Rayn masih memandangku dengan tajam dan aku mendapati amarah yang sangat besar disana. aku masih tidak mengerti, Rayn mencengkram bahuku dengan erat tanpa melepas pandangannya, aku bingung. tapi walau begiti tidak ada rasa takut yang muncul dari wajahku, yang ada hanya rasa sakit karena cengkraman Rayn yang sangat kuat membuat bahuku seakan diremas kuat.
" Rayn..le..pas.." ucapku terbata. aku makin tidak mengerti kenapa aku bisa begini didepan Rayn, padahal aku bisa tetap tenang saat Theo mengatakan perasaannya tapi, kenapa aku menjadi lemah didepan Rayn.
__ADS_1
ya, mungkin si Author ngak pernah nyeritain soal aku dan Rayn, tapi hubungan kami selalu berlangsung baik dan menjadi dekat. walau belum ada yang mengungkapkan rasa tapi aku bisa melihatnya. Rayn yang sangat mencintaiku, dan aku juga jatuh hati padanya.
" ah, ma..maaf!"
" apa aku membuatmu terluka??"
" apa ada yang sakit??" tanyanya dengan lembut dan penuh ke khawatiran. aku menggeleng sebagai jawaban yang ku berikan untuknya, dan dia nampak masih khawatir denganku.
" kita ke uks sekarang!!" ucapnya sembari berniat menarikku, akan tetapi aku diam tidak bergerak.
" ada apa?" tanyanya yang mendapati diriku tengah terdiam.
tanpa sadar aku menatapnya nanar, dan tanpa sadar setetes air mata mengalir dari pelupuk mataku. aku bingung, aku tidak mengerti. kenapa aku begini? bagaimana bisa aku sehancur ini?
" ah, Lia?"
" ada apa? apa aku membuatmu terluka??"
" Rayn.." panggilku dengan suara parau, rasa sedih dan bimbang yang sejak tadi menghantuiku kini terlepas. air mata menghapus semua kebingunganku dan membuatku merasa lega
" kenapa?" tanyanya lembut membuatku semakin senang, hatiku rasanya diterbangkan hingga ke bulan. dan aku harap dia tidak akan menjatuhkanku.
" kenapa..hiks...kenapa kamu marah tadi?" tanyaku sembari terisak.
Rayn terkejut sejenak, kemudian mengukir senyumnya lembut. tangannya terulur dan membelai wajahku dengan lembut, dia menghapus anak sungai yang mengalir dipipiku. dan menahan mutiara yang akan jatuh dari pelupuk mataku, dia menatapku dengan lembut sembari mengukir senyumnya.
aku tau senyum itu, senyum yang berisi kelegaan. aku makin bingung, isak tangis masih keluar dari bibirku, aku benar-benar hancur sekarang. Rayn mendekatkan wajahnya dan mencium puncak kepalaku dengan lembut, setelahnya dia mengelus rambutku dengan sayang.
" aku hanya kaget melihatmu berdiri disana!" ucapnya lembut membuatku tenang. ku pikir dia marah karena apa, nyatanya aku yang bodoh dan membuatnya khawatir.
" maaf.."
__ADS_1
" hiks..maaf.."
" maaf..Rayn.." ucapku sembari terisak.
Rayn menggeleng pelan, kemudian medekap tubuhku dengan penuh sayang. diusapnya punggungku dengan pelan dan diciumnya puncak kepalaku dengan sayang, dia menenangkanku. aku tau harusnya aku melepasnya, harusnya aku menjauh darinya. aku salah. ini semua salah.
aku jatuh dalam perangkapku sendiri, nyatanya aku ingin membuatnya jatuh hati padaku dan setelahnya akan ku bunuh dia dengan pelan, entah itu hati ataupun jiwanya. aku gagal, ternyata bibi dan Eva benar. aku masih belum siap, aku haus akan cinta dan kasih sayang. dan aku malah membawa diriku sendiri ke tepi jurang.
bodoh, harusnya aku membiarkan bibi yang menyelesaikannya dengan cepat. jika saja aku mematuhi ucapan bibi pasti sekarang aku masih berada Spanyol, duduk didepan meja dengan setumpuk berkas dengan hati yang riang karena berhasil membalas dendam.
tapi sekarang? sekarang aku jatuh dalam permainan konyol yang ku ciptakan sendiri. aku jatuh dalam perangkap yang ku bangun untuk menangkap mangsaku, dan aku tidak tau apakah mangsaku juga jatuh dalam perangkap ini atau malah dia yang berhasil melepaskan diri dari perangkapku.
" tenanglah, semua akan baik-baik saja!" ucapnya lembut.
dia melepas pelukannya dan menangkup wajahku dengan tangan besarnya, tanpa sadar tangaku terulur menyentuh tangannya yang menangkup wajahku. kehangatan yang dia salurkan membuat hatiku gundah, perasaan lembut penuh sayang yang tidak pernah aku dapatkan sebelumnya kini ada didepan mataku.
" Lia, dengarkan aku baik-baik!" ucapnya tegas. aku menatap matanya dalam dan mengangguk pelan tanda aku mengerti. Rayn nampak mengukir senyumnya puas, dan aku tambah tidak mengerti.
" aku suka kamu" ucapnya tenang dan membuatku membolakan mata, aku terkejut bukan main.
kenapa batinku selalu benar, aku sudah jatuh dalam perangkap dan aku sudah tidak bisa lepas lagi dari sangkar emas ini. aku masih membatu sedangkan Rayn tengah menatapku dalam dan penuh sayang, aku bisa lihat dia masih menungguku untuk bicara dan menjawab pernyataannya.
" aku suka kamu Lia!!" ucapnya lagi dan membuyarkan lamunanku.
air mataku kembali lolos dari tampuknya. aku terisak. tapi aku bahagia. setidaknya aku tidak jatuh sendiri, atau paling tidak dia juga menyukaiku. aku mengukir senyum lembut, aku menikmati sentuhan tangannya yang lembut diwajahku, Rayn menghapus air mata yang kembali mengalir diwajahku.
kehangatan menjalar ke seluruh kulit wajahku, tangan besarnya yang lembut nang hangat membuat hatiku yang beku mencair. tanpa sadar aku mengangguk tanda aku setuju, Rayn membolakan matanya tidak percaya dia mengukir senyum puas bukan main, dan aku tau dia bahagia.
" kamu serius Lia?" tanyanya lagi tidak percaya dan aku hanya mengangguk sebagai jawaban.
" YAYYY!!!!!" teriaknya girang bukan main.
__ADS_1