
tidak lama kemudian louis dan Ryoma tiba, mereka mendapati sosok manis yang tengah duduk diatas kursi kebanggaannya, kepalanya sesekali menggeleng ke kanan dan kiri mengikuti lantunan nada yang ia ciptakan sendiri, Ryoma dan Louis mendekati sosok manis itu dan memeluknya.
" ada masalah apa sehingga kami harus kemari?" tanya Ryoma sembari mencium puncak kepala Lia.
" aku ingin pergi ke Amerika!" ucap Eva yang membuat Ryoma dan Louis melepas pelukannya. mereka menatap gadis manis itu dan mendapati Eva yang tengah bicara dengan mereka, Louis menghela nafas kesal sedangkan Ryoma menggelengkan kepalanya.
" apa yang akan kamu lakukan disana?" tanya Ryoma yang masih memijat pangkal hidungnya. Eva berdecak kesal karena sikap overprotektif yang dilakukan oleh kedua pamannya itu. Eva mengambil nafas panjang sebelum bicara.
" aku akan mencari Rayn!" ucapnya yang membuat Louis mendelik kesal, bukan karena apa hanya saja gadis kecil mereka mengatakan kalau dirinya ingin pergi ke Amerika hanya untuk mencari seorang pria? what, kenapa dia tidak memerintahkan anak buahnya saja?
" apa maksudmu Eva?" kali ini Ryoma yang angkat bicara, dia geram dengan tingkah Eva yang seenaknya Eva menurunkan pandangannya, kali ini aura dingin mengelilingi sekitarnya. Ryoma juga tidak mau kalah, dia juga mengeluarkan aura dingin yang mencekam.
perang dingin mulai terjadi antara keduanya akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama, Louis yang tidak sabar dan masih kesal dengan sikap keduanya hanya bisa menghela nafas kesal sebelum angkat bicara. Louis mulai mengeluarkan aura dingin yang lebih kuat dan mencekam dari keduanya.
" hahh, siapa pria itu?" tanya Louis yang sudah sangat kesal. Eva berdecak kesal kemudian melangkahkan kakinya mendekati kedua pamannya.
" dia? cucu dari The Red Poppy Corn!" ucap Lia sedikit berbisik, Louis dan Ryoma langsung membolakan matanya terkejut. keduanya masih membatu sembari memproses apa yang dikatakan oleh Eva sesaat yang lalu.
__ADS_1
" apa yang kamu inginkan, Eva?" tanya Ryoma yang sudah berhasil mencerna ucapan Eva. Eva mengukir smirknya kemudian memutar tubuhnya dan membelakangi keduanya.
" balas dendam!" ucapnya dengan mudah. Ryoma dan Louis mengukir senyumnya ah tidak, lebih tepatnya Smirknya yang mengerikan.
berbagai macam pikiran dan bayangan mulai tergambar dipikiran ketiganya, mereka larut dalam pikiran mereka masing-masing. apa yang mereka pikirkan? aku tidak tahu. mungkin cara yang tepat untuk membunuh cucu dari The Red Poopy Corn, atau cara untuk menyiksanya sebelum membunuhnya, atau mungkin cara untuk menjebaknya.
" nona?" sebuah suara mengalihkan ketiganya dari kegiatan mengkhayal mereka, Eva yang senang kini beranjak kesal hingga aura membunuh langsung saja keluar dari tubuhnya.
" ada masalah apa?" tanya Eva yang langsung membuat orang yang mengalihkan atensi mereka gemetar ketakutan.
" i..ini jadwal an..da hari ini!" ucapnya yang masih gemetar, Eva mengukir senyum kecut dan langsung mengangguk pelan.
Eva melangkahkan kakinya, mengambil kertas yang berisi jadwalnya hari ini kemudian menyerahkannya pada Louis. Louis terkejut mendapati Eva yang sudah melempaar kertas itu padanya, Eva mengukir senyumnya kemudian mengerjapkan matanya beberapa kali memamerkan puppy eye's miliknya.
" paman saja yang mengurusnya!" ucap Eva sembari mengukir senyum 1000 watt
Eva melangkahkan kakinya pergi menjauh setelah mencium pipi kedua pamannya kemudian pergi menuju ke parkiran basement, diusianya yang ke 16 tahun ini Lia sudah sangat ahli mengendarai mobil. jangankan mobil Lia memiliki lisensi untuk mengemudikan pesawat, bagaimana menurut kalian? gila, tentu saja!
__ADS_1
Eva memejamkan matanya dan mengembalikan tubuh itu pada Lia sebelum mereka pergi ke bandara, Lia langsung saja mengendarai mobilnya dan mengemudikannya dengan lihai, membelah jalanan kota yang ramai dan melajukannya menuju ke bandara. ya, hari ini dia akan langsung terbang ke Amerika.
setibanya di bandara, Lia langsung memarkirkan mobilnya dan membawa dirinya pergi menuju ke salah satu hanggar tempat dimana, Jet pribadinya diletakkan. apa yang akan dia lakukan disana? ya, Lia tidak pernah mempercayai siapapun untuk menjadi sopir pribadinya, kecuali kedua pamannya.
kenapa? jawabannya sederhana. karena dia tidak bisa mempercayai siapapun, pernah sekali beberapa bulan sejak dirinya lepas dari kejadian kematian kedua orang tuanya, dan Eva sudah diculik oleh sopir pribadinya. karenanya dia tidak pernah pergi dengan anak buahnya, Lia selalu saja pergi sendiri.
eva langsung saja melangkahkan kakinya memasuki jet pribadinya dan mendudukkan tubuhnya dikursi pilot. Lia segera menyalakan jet miliknya dan mengoperasikannya dengan sangat lihai. ya,Lia sendiri saja disana, tidak ada co-pilot atau bahkan pramugari, kenapa? karena dia memang lebih suka sendiri. bahkan perjalanan yang harus dia lakukan selama berjam-jam lamanya harus dia lakukan sendiri.
apa dia tidak lelah? tentu saja, akan tetapi apa gunanya punya kepribadian ganda jika dia tidak menggunakannya dengan baik. mungkin fisiknya akan lelah, akan tetapi dengan mental yang kuat apa yang tidak bisa ia lakukan, selain itu melakukan penerbangan selama beberapa jam tidak lebih dari bekerja seharian dengan tumpukan berkas, atau melakukan uji coba dengan beberapa rudal, misil atau melaksanakan misi pembunuhan.
setibanya di Amerika, Lia langsung pergi dengan salah satu mobil yang memang sudah biasa ia tinggal dimana-mana. kenapa? entahlah, dia bilang agar lebih mudah. biasa orang kaya mah apa sih yang ngak boleh. Lia langsung mengendarai mobilnya dan membawanya menuju ke salah satu appartemen miliknya.
kenapa ke appartement? apa Lia tidak memiliki mansion, Villa, atau rumah? mungkin kondominium? tentu saja dia punya. akan tetapi Lia lebih suka dengan appartemen yang bisa ia tinggali sendiri, ya Lia memang anti sosial. kenapa? dunia sudah terlalu sering mengecewakannnya.
" ah, lelahnya" gumam Lia yang sudah merebahkan tubuhnya diatas ranjang king size miliknya.
ya kini lia sudah berada disebuah appartemen dengan luas 10x15 meter persegi. kalau kalian bilang itu luas tentu saja, tapi bagi Lia itu masih saja sebuah appartemen yang sederhana. sebuah ruangan dengan warna navy yang mendominasi dan interior yang klasik dan berkelas membuah ruangan itu sempurna.
__ADS_1
Lia memandang langit-langit appartemen miliknya, kosong. hanya kata itu yang ada dibenaknya, berbagai macam pikiran mulai menyeruak dan menyerbu angannya. kekosongan yang tadi menyerbu kini berubah dengan berbagai macam pikiran yang sudah sangat jelas kalau itu semua adalah rencana yang akan dia gunakan untuk membunuh Rayn.
bagaimana aku bisa tahu? tentu saja karena itu sudah sangat jelas tergambar dari wajahnya. smirk dan kilatan mata penuh kebencian sudah terukir dengan jelas diwajahnya. Lia juga tidak menyangkal hal itu, dia malah semakin larut dalam angannya dan terus berpikir.