
" jangan gitu dong sweetheart!"
Lia akhirnya mengalah, dia mendorong tubuh Theo setelahnya memperbaiki posisi duduknya. Theo juga mengangkat tubuhnya yang sudah mencium tanah dan memperbaiki posisi duduknya. kini mereka duduk bersebelahan, Theo memandang langit biru yang sedang cerah tanpa ada awan yang menghiasinya, sedangkan Lia malah sibuk memperhatikan lapangan tempat dimana teman-teman sekelasnya tengah sibuk dengan kegiatan lari mereka.
" jadi..gue suka sama lu!" ucap Theo yang masih memandang langit biru diatas sana, sedangkan Lia kini sedikit terperanjat kaget karenanya, baru saja mereka berteman selama beberapa lama dan Theo bilang dia suka padanya? apa dia gila? tidak!! Theo masih waras, dan sangat waras, dia tidak bercanda kali ini.Theo suka Lia.
" lu becanda" ucap Lia yang kini ikut memandang langit biru, disana dia bisa melihat luasnya langit yang begitu indah nan cerah. sangat berbeda dengan hatinya yang kini tengah ditutup oleh awan badai yan ganas, Lia menghela nafas sejenak dan membuat Theo menatapnya.
" ngak, gue serius!" ucap Theo sembari memandangi wajah cantik Lia, Lia biasa aja. dia emang cantik, tapi satu hal yang tidak bisa ku mengerti dari Lia. dari mana dia memiliki rasa PD yang teramat? kalau ada orang sepertinya didunia pasti semua orang akan dibilang pacarnya?
__ADS_1
" kalau begitu gue ngak serius" ucap Lia yang menghempaskan tubuhnya ke tanah, kini dedaunan rindang yang menjadi atap dan menghiasi gambaran dimatanya, Lia mengukir senyum kecil kemudian mengangkat tangan kanannya dan mengerakkannya ke atas berusaha mencapai sesuatu yang tidak ada disana.
" lu ngapain?" tanya Theo yang melihat tangan Lia yang terulur ke atas, dia tidak mengerti kenapa dan apa yang akan Lia lakukan, padahal Lia hanya membolak balikkan tangannya dan sesekali dia mengepalkan tangannya seakan dia mendapati sesuatu untuk dia genggam dan harus ia dapatkan.
" ini mimpi!" ucap Rena yang membuat Theo menautkan kedua alisnya.
" emang apa mimpi lu?" tanya Theo yang masih memandangi dedaunan diatasnya, Lia mengukir senyumnya dan menarik tanggannya yang sudah terulur di udara, Theo menoleh ke arah Lia dan mendapati sosok gadis cantik yang tengah tersenyum indah.
" mimpi gue? sama seperti itu!" ucap Lia sembari menunjuk ke atas, tangan yang tadi sudah ia simpan kembali terulur ke udara dan menunjuk ke arah dedaunan yang ada diatas mereka.
__ADS_1
" ha? apaan? lu tadi bilang mimpi pake tanda tanya kan?" tanya Theo yang tidak percaya dengan apa yang telah ia dengar, Lia terkekeh sejenak kemudian membuka uluran tangannya.
" mimpi gue sama seperti tempat ini, gue yang berada dibawah kegelapan yang tidak bisa dicapai oleh cahaya!" ucapnya membuat Theo semakin mengernyitkan alisnya, Theo masih bingung dengan kata-kata Lia, akan tetapi disatu sisi dia merasa sedih mendengar ucapan Lia.
" apa maksudmu, kamu tidak akan bisa meraihnya?" tanya Theo agak pelan, dia takut menyinggung perasaan Lia. Lia menoleh ke arah Theo yang masih setia menatapnya, Lia mengangguk sebagai jawaban yang diminta oleh Theo.
" emangnya apa? mimpi apa itu?" tanya Theo lagi, dan Lia kembali menatap rindangnya pohon yang ada diatasnya.
" mimpi gue bukan hal yang besar, gue sama seperti rumput ini! rumput yang bisa di injak oleh siapapun, rumput yang harus menerima keringnya tanah tanpa air saat kemarau, rumput yang harus rela tenggelam oleh air saat hujan, rumput yang harus bertahan dibawah pohon rindang!"
__ADS_1