
"Astaga apa lagi sih ini? Enggak ada aman amannya jantung gue!".
"Udah dong Zef, masa sama bos sendiri... Ah udah dong Sajangnim please".
"Gimana bisa dia senyum sampai semanis itu?".
Gumam Zefa hampir menangis dalam hatinya melihat senyum manis yang di sertai dengan ketampanan bosnya. Alih alih di berikan kopi dan choco lava, Zefa lebih terpana dengan senyumannya.
Senyuman itu benar benar mengganggu hati Zefa, hingga membuatnya semakin tidak karuan sampai ia terdiam beberapa saat.
"Zefa?".
"Zefanya Chayra?".
"Helo!".
Choi sajang melambai lambaikan tangan di wajah Zefa karena sejak tadi pandangannya kosong. Choi Sajang melakukan hal tersebut beberapa kali hingga akhirnya Zefa kembali tersadar dari lamunannya.
"Oh! Astaga. Maaf Sajangnim, lagi lagi saya enggak fokus. Maaf Sajangnim, maaf". Ucap Zefa sambil menepuk keningnya.
"Kadang kadang sikap kamu tuh lucu ya".
Suara lembut Choi Sajang membuat Zefa semakin kikuk, dan lagi lagi senyumannya... Senyuman itu bisa mengalihkan dunia dan juga sangat mematikan! Oh god...
"Sial! Kenapa dia bilang gue lucu? Hufftt...".
"Sabar Zefa sabar, ini ujian! Harap bersabar!".
Deguban jantungnya semakin cepat, semakin tidak karuan.
"Ya sudah, saya masuk ya". Ucap Choi Sajang.
"Di minum kopinya dan setelah choco lavanya habis kamu harus kembali fokus. Semangat!". Sambungnya sambil tersenyum.
"Iya baik Sajangnim, terimakasih". Sahut Zefa kikuk lalu memberi hormat kepada Choi Sajang yang hendak kembali ke ruangannya.
Zefa kembali duduk menghadap layar monitor yang tengah menampilkan pekerjaan yang harus ia selesaikan sore ini.
Menyeruput kopi perlahan sambil sesekali menggigit choco lava tersebut menjadi teman sempurna untuk menemaninya bekerja. Dan hal sederhana ini mampu mengembalikan fokusnya.
PESAN [Nayra Comel]
Nayra Natasya
Pokoknya kalau si netizen alay itu gangguin lo lagi, lo harus bilang gue!
Zefanya Chayra
Siap bos!
Nayra Natasya
Atau gue langsung aja kali ya labrak dia?
Zefanya Chayra
Heh! Enggak usah aneh aneh deh! Kalau lo ngelakuin hal yang sama kayak mereka ya terus apa dong bedanya kita sama mereka? Kita harus sedikit lebih berkelas
Nayra Natasya
Iya juga sih. Ya udah, pokoknya lo enggak boleh diam aja. Ngerti enggak lo?
Zefanya Chayra
Iya bawel ih
Nayra Natasya
Awas lo!
Zefa mematikan ponselnya dan kembali bekerja.
"Bawel banget anak itu!". Gumamnya lalu menyeruput kopi dan fokus menatap layar monitor.
Selang beberapa jam kemudian, akhirnya jam pulang telah tiba. Zefa telah siap dengan segala sesuatunya, meja kerja pun sudah bersih dan rapih.
Zefa melangkahkan kaki pergi dari ruangannya setelah Choi Sajang pun bergegas meninggalkan ruang kerjanya.
Mereka berpisah di basemen kantor. Zefa menemui Nayra yang ternyata sudah sejak tadi menunggunya di mobil.
"Ayo pulang". Ucap Zefa setelah duduk di samping Nayra.
Nayra mengangguk lalu mobilnya pun melaju meninggalkan kantor.
"Mereka gangguin lo lagi enggak?". Tanya Nayra kembali membahas permasalahan Zefa.
"Enggak". Sahut Zefa lesu.
"Itu kenapa lo lemas gitu? Enggak usah bohong deh, mereka ganggu lo lagi kan?". Seru Nayra yang sangat teliti menginterogasi sahabatnya.
"Astaga Nayra Natasya! Gue enggak ketemu mereka lagi setelah makan siang. Sumpah!". Ucap Zefa dengan nada sedikit tinggi.
"Terus itu kenapa lo lemas banget gitu?". Nayra kembali menanyakan hal yang sama.
Zefa menghelas nafas panjang sambil memoncongkan bibirnya.
"Aahh! Lama lama stres gue kerja sama Sajangnim". Zefa mengeluh seraya merengek sambil memegangi keningnya.
"Kenapa? Sajangnim nyebelin?". Tanya Nayra yang sangat kepo.
"Hm. Nyebelin banget! Pusing gue". Sahut Zefa.
"Nyebelinnya gimana? Kan orang orang selalu cerita kalau Sajangnim itu baik banget, enggak pernah memandang rendah siapa pun. Ternyata aslinya nyebelin gitu?". Ucap Nayra sangat serius menanggapi keluh kesah Zefa yang saat itu memang ekspresinya sangat serius.
"Ya nyebelin banget deh pokoknya". Ucap Zefa.
"Yang lebih spesifik dong Zefa! Nyebelinnya gimana?". Seru Nayra yang semakin penasaran.
"Lo kepo banget sih Nay". Celetuk Zefa menahan tawa.
"Ya lo tahu sendiri teman lo ini kan emang anaknya selalu kepingin tahu, lo malah spoiler ya gue makin meronta ronta lah!". Gerutu Nayra.
__ADS_1
Zefa tertawa lepas melihat tingkah Nayra seraya merengek kepadanya.
"Nyebelin gimana?". Tanya Nayra.
"Ya nyebelin Nay. Masa tiap hari dia selalu kasih gue senyuman semanis itu coba". Ucap Zefa.
"Terus ya karena kejadian pagi tadi tiba tiba dia kasih gue kopi sama choco lava". Sambungnya.
"Coba lo bayangin, lo lagi enggak semangat lagi sedih terus tiba tiba ada cowok yang datang bawain lo kopi sama choco lava terus dia minta maaf padahal dia enggak salah. Coba Nay, aman enggak jantung lo?". Zefa menjelaskan dengan detail hal sikap Choi Sajang hari ini yang semakin hari semakin membuatnya tidak karuan.
"What? Lo serius? Perlakuan Sajangnim semanis itu?". Nayra terkejut dengan membelalakkan matanya.
"Serius Nay. Nyebelin banget kan? Tiap hari kayak gini gue bisa stres sumpah". Ucap Zefa.
"Lo enggak deg degan atau gimana gitu?". Nayra masih terkejut.
"Ya kan tadi gue bilang, jantung gue enggak aman Nay bisa stres gue kalau tiap hari kayak gini". Sahut Zefa.
"Eh atau jangan jangan, Sajangnim suka deh sama lo". Celetuk Nayra sambil tersenyum.
"Iya enggak sih dia suka sama lo?". Sambungnya.
"Yeh aneh lo! Mana mungkin Sajangnim suka sama cewek kayak gue, status sosial kita aja beda Nay. Beda jauh". Sahut Zefa.
"Siapa tahu ya kan. Enggak ada yang enggak mungkin loh di dunia ini". Ucap Nayra.
"Enggak usah ngarang, udah gue mau masuk. Makasih, lo hati hati ya". Ucap Zefa sambil membuka pintu mobil.
Yap, Zefa sudah sampai di rumahnya diantar oleh sahabat sampai tujuan dengan aman.
"Bye!". Ucap Zefa sambil melambaikan tangannya.
"Bye!". Sahut Nayra yang juga melambaikan tangan.
Kaca mobil itu mulai tertutup, mobil tersebut pun melaju dan perlahan meninggalkan halaman rumah Zefa.
Zefa melangkah masuk ke rumahnya dan menyapa orang tuanya yang sedang bersantai di ruang tv. Setelah itu ia masuk ke kamarnya dan mulai membersihkan tubuh untuk segera beristirahat.
Beberapa jam kemudian, malam semakin larut dan sudah waktunya bagi Zefa untuk istirahat.
"Emang bisa ya kalau Sajangnim suka sama gue? Kayaknya enggak mungkin deh". Gumam Zefa sambil menarik selimut.
"Si Nayra emang kadang kadang suka berasumsi yang aneh aneh. Masa seorang CEO suka sama rakyat jelata kayak gue". Sambungnya.
"Engga mungkin banget. Udah ah ngapain juga sih gue mikirin itu. Mending gue tidur".
Zefa mematikan lampu kamarnya. Dan tidak butuh waktu lama, Zefa pun kini tertidur pulas.
***
"Kriiiiinggg".
Alarm dari sebuah kamar luas bak kamar hotel milik seorang pria kelahiran Korea Selatan berbunyi tepat pada pukul 6:00 pagi.
Matanya yang masih belum cukup tenaga untuk terbuka membuat tangannya bersusah payah meraih jam yang sedang berbunyi itu.
"Aahh".
Ia mengusap usap matanya lalu meraih jam yang berhasil membangunkannya. Alarm itu pun kini telah damai.
Choi Woo Shik sudah terbangun dari tidurnya dan bergegas untuk membersihkan tubuh lalu bersiap untuk segera ke kantor.
Selang beberapa menit kemudian ia sudah sangat rapih dengan setelan jas berwarna coklat susu yang di padukan dengan kemeja putih. Warna itu seperti menyatu pada tubuhnya dan ia terlihat semakin tampan.
"Woo Shik~a. Kamu tidak sarapan dulu?". Pertanyaan itu menyambut Choi Woo Shik yang tengah berjalan menghampiri ibunya.
"Sepertinya aku mau minum kopi saja pagi ini". Sahut Choi Woo Shik sambil tersenyum.
"Sebaiknya sarapan dulu nak". Sang ibu terus memintanya untuk sarapan.
"Kamsahamnida~ besok aku pasti sarapan, Eomma. Hari ini aku mau suasana yang beda". Choi Woo Shik mencium kening ibunya untuk berpamitan.
"Ya sudah, hati hati ya". Ucap Ibunya yang mengalah.
"Na ganda~". Pamitnya sambil tersenyum.
Choi Woo Shik mengendarai mobilnya menuju cafe yang ia harapkan sudah siap untuk melayani pelanggan tetap yang ingin menyeruput kopi pagi ini.
Sesampainya disana...
"Makanya cepat nikah, biar kalau sebelum berangkat kerja ada yang buatin lo sarapan". Celetuk pemilik cafe yang menyambut Choi Woo Shik.
Ya, Joddy menyambut sahabatnya yang baru saja datang. Cafe milik Joddy ini memang tempat favoritnya dan menjadi tempat yang pas untuknya dalam segala suasana hati.
"Terimakasih sambutannya!". Ucap Choi Woo Shik sambil tersenyum.
"Seperti biasa ya, cepat sedikit gue udah laper". Sambungnya.
"Siap bos!". Seru Joddy dengan tegas dan membuat Choi Woo Shik tertawa.
Choi Woo Shik duduk santai bersandar pada kursi yang sangat nyaman itu sambil memainkan ponsel. Jari jemarinya terus menggulir layar ponsel yang sedang menampilkan laman sosial medianya.
Jari jemari yang semula sangat bersemangat menggulir layar ponselnya tiba tiba saja terhenti.
"Oh? Jinjja?". Choi Woo Shik terkejut dengan membelalakkan matanya lalu tersenyum.
Jarinya kembali menggulir sosial medianya dengan senyuman yang masih melekat di bibirnya.
"Sesuka itu lo sama Zefa?". Celetuk Joddy yang tiba tiba datang mengejutkan Choi Woo Shik.
"Aiishh, jinjja!". Ucap Choi Woo Shik tersipu malu.
"Kenapa enggak langsung aja?". Tanya Joddy sambil tertawa meledeki sahabatnya.
"Langsung apanya?". Choi Woo Shik kebingungan.
"Ya langsung lah". Ucap Joddy masih saja tertawa.
"Ah enggak jelas lo". Seru Choi Woo Shik kembali manatap layar ponselnya.
"Langsung aja pacarin, tunggu apa lagi?". Jelas Joddy membuat Choi Woo Shik terdiam lalu cekikikan.
__ADS_1
Choi Woo Shik menggaruk garuk alisnya yang sama sekali tidak gatal. Lalu ia tersenyum.
"Lo suka sama cewek terus lo pacari dia, lo pikir jatuh cinta semudah itu?". Ucap Choi Woo Shik sambil tersenyum ke arah joddy.
"Ya emang harus apa lagi? Kan emang urutannya kayak gitu". Ucap Joddy yang kemudian menyeruput kopinya.
"Lo enggak bisa sembarangan jatuh cinta terus lo langsung pacari. Lo harus pikirkan kedepannya bagaimana, apa lo bisa mempertanggung jawabkan perasaan lo atau enggak". Jelas Choi Woo Shik.
"Gue akan mempertanggung jawabkan cinta gue kalau gue udah benar benar serius sama cewek itu". Sahut Joddy.
"Ya itu maksud gue. Cara kita memandang cinta itu beda Jodd. Gue sendiri harus benar benar yakin dengan perasaan gue baru deh gue berani untuk menunjukkan cinta gue". Ucap Choi Woo Shik.
"Gue enggak mau ada orang yang terluka karena gue hanya mempermainkan perasaan dia". Sambungnya.
"Lagi pula rasanya enggak enak juga kan kalau lo udah lama pacaran, udah banyaaakk banget kenangan sama dia tapi hubungan lo justru kandas karena salah satu dari mereka enggak bisa bertanggung jawab atas rasa itu". Jelas Choi Woo Shik.
"Aahh... Kita seumuran tapi pemikiran lo jauh lebih dewasa dari pada gue. Pantas aja lo bisa jadi CEO kayak sekarang, enggak kayak gue cuma tukang kopi". Ucap Joddy sambil tersenyum lalu bersandar pada kursi.
"Gue cuma seorang pewaris, tugas gue cuma meneruskan. Beda sama lo, lo lebih hebat dari pada gue. Nyatanya lo bisa merintis usaha lo dari nol sampai bisa se populer sekarang". Choi Woo Shik menepuk punggung Joddy.
Joddy tertawa lalu menyeruput kopinya. Dan Choi Woo Shik memasukkan ponsel ke saku jasnya lalu bersiap untuk pergi setelah menghabiskan bolognese nya.
"Gue ke kantor ya, thank you untuk sarapan yang enak ini". Ucap Choi Woo Shik.
"Nih kartu gue, buat bayar makanan ini. Nanti lo pegang aja kartunya buat makan siang lo dan staff cafe". Sambungnya memberikan kartu kredit kepada Joddy.
"Woo Shik~a, lo ganteng banget hari ini". Ucap Joddy sambil tersenyum lalu merapihkan jas sahabatnya.
"Ah jinjja! Aniyo~ enggak Jodd, sana". Choi Woo Shik tertawa sambil mendorong tubuh Joddy perlahan.
Choi Woo Shik merasa aneh dengan perlakuan Joddy hingga membuatnya tertawa. Persahabatan mereka memang seseru itu.
Beberapa saat kemudian, Choi Woo Shik telah tiba di ruangannya. Ia tersenyum melihat Zefa yang tengah sibuk merapihkan meja kerjanya.
"Pagi Zefa". Ucap Choi Woo Shik setelah beberapa saat berdiri memperhatikan Zefa.
"Pagi Sajangnim". Sahut Zefa tersenyum.
"Ruangannya sudah saya bersihkan Sajangnim, semangat untuk pagi ini". Sambungnya.
"Terimakasih ya". Sahut Choi Woo Shik sambil tersenyum.
"Ya sudah, saya masuk dulu". Sambungnya.
Zefa menganggukkan kepalanya sambil tersenyum memperhatikan Choi Woo Shik yang akan masuk ke ruangannya.
Choi Woo Shik menutup pintu ruangannya tersebut. Benar kata Zefa, ruangannya sudah rapih dan juga wangi. Aroma ruangan yang sangat wangi menambah semangat bagi Choi Woo Shik.
"Ok! Pertama tama apa yang harus kita kerjakan". Ucap Choi Woo Shik mengawali harinya sebagai seorang CEO.
"Oh iya...".
"Zefa, kesini sebentar ya".
Choi Woo Shik menghubungi Zefa melalui telepon kantor. Dan tidak lama kemudian Zefa pun datang sambil membawa berkas.
"Ada yang bisa saya bantu Sajangnim?". Ucap Zefa.
"Saya mau lihat berkas yang...". Ucapannya terhenti setelah melihat berkas yang di pegang oleh Zefa.
"Ah, berkas itu yang saya maksud". Sambungnya.
"Iya tadi baru aja mau kesini tiba tiba Sajangnim hubungi saya". Jelas Zefa sambil tersenyum.
"Kebetulan sekali ya". Ucap Choi Woo Shik yang juga tersenyum.
"Boleh saya lihat?". Sambungnya, kemudian ia berdiri untuk meraih berkas yang di berikan Zefa untuk menghormatinya.
"Braaakkk!".
Vas bunga di sudut meja kerja Choi Woo Shik terjatuh karena ia tidak sengaja menyenggolnya. Vas itu hancur berkeping keping hingga berserakan di sekitar mejanya.
Choi Woo Shik dan Zefa pun refleks mengambil pecahan vas itu secara bersamaan. Dan tidak sengaja pula kepala mereka saling membentur.
"Aaahh!".
"Awwh!".
Keduanya mengerang kesakitan sebab insiden yang tidak di sengaja itu. Wajahnya saling berhadapan begitu dekat. Mereka memandangi satu sama lain dalam waktu yang cukup lama.
"Zefa memang cantik, dan lebih cantik dari foto foto yang dia unggah di sosial medianya".
"Aish jinjja! Kenapa juga jantung gue rasanya mau copot. Kenapa bisa secepat ini degubannya?".
Choi Woo Shik bergumam dalam hati sambil terus memandangi Zefa. Entah ini kesempatan baginya atau bagi Zefa untuk memandang dengan posisi yang sangat pas.
"Eehh... Eeh, ini biar saja aja yang beresin". Zefa tersadar setelah beberapa saat saling memandang dengan jarak yang sangat dekat.
Zefa terlihat gugup dan kemudian mengalihkan pandangannya untuk membersihkan pecahan vas tersebut. Begitu juga dengan Choi Woo Shik, ia menggigit bibir bawahnya sambil menggaruk garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
"Biar saya aja yang bersihin ya. Kamu bisa kembali ke meja kamu". Ucapnya semakin gugup.
"Enggak apa apa Sajangnim, udah hampir selesai juga kok". Sahut Zefa sambil berusaha tersenyum dan terus melanjutkan pekerjaannya hingga selesai.
"Saya pamit mau sekalian buang ini juga". Ucap Zefa saat sudah selesai memunguti pecahan vas tersebut.
"Oh iya, Eehh... Terimakasih". Sahut Choi Woo Shik yang masih sangat gugup.
Zefa telah keluar dari ruangannya dan Choi Woo Shik langsung duduk dan menyandarkan kepalanya di kursi.
"Ahhh sial! Wae?".
"Kenapa tiba tiba vasnya jatuh?".
"Kenapa juga kepala bisa tiba tiba kebentur".
"Tapi Zefa memang cantik sih".
Choi Woo Shik terus bergumam hal kejadian yang amat sangat menguntungkannya sehingga ia bisa menatap Zefa jauh lebih dekat. Peristiwa pagi ini benar benar membuat jantungnya tidak aman.
Bagaimana dengan Zefa? Apa dia akan memikirkan hal yang sama? Apa dia merasa beruntung atau sebaliknya? Hmm...
__ADS_1
***