
"Kamu enggak perlu khawatir soal bagaimana orang akan menilai saya. Biarkan saya melakukan apa pun, kecuali kalau memang benar ada hati yang harus kamu jaga".
Kata demi kata yang di ucapkan Choi Woo Shik Sajangnim seperti memiliki arti yang penting baginya. Entah ini hanya perasaan Zefa saja atau memang benar kalimat itu di tujukan untuknya?.
Semakin lama berada di meja yang sama dengan Choi Woo Shik Sajangnim, hatinya semakin berdebar cepat ia tidak bisa lagi mengendalikan deguban jantungnya.
Keringat dingin semakin membasahi telapak tangannya sebab ia berhadapan dengan orang yang selalu membuatnya menjadi gila dan tidak karuan.
"Kalau ternyata memang ada?". Tanya Zefa memberanikan diri untuk mengetahui maksud dari perkataan Choi Sajang.
"Maka saya enggak akan pernah minta kamu untuk temui saya di luar jam kerja". Sahut Choi Sajang.
"Bukankah Sajangnim melakukan ini hanya untuk membangun chemistry agar kerja sama kita semakin baik? Dan bukankah Sajangnim hanya butuh teman untuk sekedar bercerita dan bercanda?". Jelas Zefa.
"Aniyo~ Dinner ini bukan untuk membangun chemistry sebagai rekan kerja. Tapi...". Sahut Choi Sajang dengan wajah seriusnya.
"Tapi apa?". Zefa semakin penasaran.
"Hanya saja saya tidak ingin membuat hati saya terlalu lama untuk berpura pura". Jelas Choi Sajang sambil menatap tajam Zefa yang tengah terdiam dengan rasa penasarannya.
"Apa Sajangnim bisa jelaskan lebih spesifik lagi?". Tanya Zefa yang saat itu mulai gemetar, ia sangat gugup.
"Saya enggak bisa jelaskan sekarang, karena sudah terlalu malam. Saya harus antar kamu pulang agar orang tua kamu enggak khawatir". Ucap Choi Sajang sambil memasukkan ponsel ke saku celananya.
Zefa tidak segera bersiap, ia hanya terdiam berusaha untuk kembali berpikir positif. Pikirannya di penuhi dengan tanda tanya besar.
"Perlahan kamu pasti akan menyadari dan mengerti maksud dari perkataan saya tadi". Jelas Choi Sajang tersenyum.
"Ayo". Sambungnya.
Tanpa mengucap sepatah katapun, Zefa berjalan tepat di belakang Choi Woo Shik Sajangnim. Ia mengikuti langkah demi langkah bosnya hingga sampai pada tempat dimana mobil Choi Woo Shik Sajangnim terparkir.
Keduanya telah berada pada mobil tersebut, Choi Woo Shik Sajangnim sudah siap untuk mengantar Zefa kembali ke rumah.
Tidak lama kemudian...
"Terimakasih Sajangnim". Ucap Zefa sambil melepas seat belt.
__ADS_1
"Saya yang harusnya berterimakasih. Terimakasih ya kamu sudah meluangkan waktu untuk saya". Choi Sajang tersenyum.
"Langsung istirahat ya". Sambungnya membuat Zefa seketika menengok ke arah Choi Sajang.
"Kenapa? Salah juga kalau saya suruh kamu untuk istirahat?". Ucap Choi Sajang kembali tersenyum.
"Saya enggak akan melewati batas dan saya tahu kapan saya harus berhenti". Sambungnya.
"Saya duluan Sajangnim". Ucap Zefa tersenyum kaku, lalu pergi meninggalkan Choi Sajang.
Malam ini hatinya benar benar kacau, tidak karuan. Semua yang terjadi belakangan ini hampir saja membuatnya gila. Terutama sikap Choi Woo Shik Sajangnim yang selalu saja membuatnya berpikir keras.
"Udah deh Zefa, mending lo tidur istirahat biar besok pagi pikiran lo bisa tenang dan lebih fresh. Enggak usah terlalu mikirin Sajangnim, itu semua mustahil dan lo harus sadar diri".
Lalu Zefa pun tertidur.
***
Dua minggu kemudian...
Kericuhan di jalan pagi ini membuat se isi mobil itu panik, khawatir mereka akan terlambat. Berkali kali membunyikan klakson berharap untuk segera melaju sedikit lebih dekat. Namun, apalah daya mereka hanya bisa bersabar dan berharap akan keajaiban tuhan.
"Drama ibu kota memang sama saja. Entah di Seoul atau pun di Jakarta, hal seperti ini sudah jadi santapan setiap hari". Gumam Choi Sajang.
"Kalau selama tiga puluh menit kita stuck disini, kita bisa tertinggal". Ucap Zefa yang duduk tepat di samping bosnya.
Ya... Zefa dan Choi Woo Shik Sajangnim kini sedang berada pada mobil yang sama. Pagi ini mereka hendak menuju ke Bandara untuk melakukan penerbangan ke Sydney, Australia.
Zefa dan Choi Woo Shik Sajangnim juga dua staff lainnya akan melakukan perjalanan bisnis ke Negeri Kangguru, Australia. Rencananya mereka akan berada disana untuk beberapa hari kedepan.
Tepat satu jam dari sekarang mereka akan terbang menuju Sydney, namun kenyataan hidup di bumi memang tidak bisa di hindarkan. Mereka masih terjebak dalam antrian panjang kendaraan yang menunggu giliran untuk melaju, meskipun hanya satu centi saja.
"Tidak perlu khawatir mba Zefa, mobil di depan perlahan sudah bergerak, semoga saja tidak ada hambatan lain". Ucap pak sopir.
"Nanti kalau sudah lancar, bisa tolong lebih cepat ya pak". Ucap Zefa dengan wajah paniknya.
"Baik mba". Sahut pak sopir.
__ADS_1
Mobil yang mereka tumpangi akhirnya perlahan melaju setelah terjebak dalam kemacetan selama lima belas menit. Choi Woo Shik Sajangnim, Zefa dan dua staff lainnya kini sudah sedikit lebih lega.
📍Bandara Soekarno-Hatta
Zefa, Choi Woo Shik Sajangnim dan dua staff lainnya sudah berada di kabin pesawat dan beberapa menit lagi mereka akan segera terbang menuju Sydney, Australia.
Setelah memasang seat belt, Zefa hanya terdiam sambil melihat lihat keadaan di luar pesawat melalui jendela kecil yang berada tepat di sampingnya. Zefa terduduk kaku, gugup dan...
Dag dig dug...
Begitulah kondisi hatinya saat ini. Bagaimana mungkin ia bisa tenang jika duduk bersebelahan dengan Choi Woo Shik Sajangnim setelah mengingat pertemuan mereka dua minggu yang lalu.
Setelah hari itu hari dimana mereka bertemu dan makan malam berdua untuk pertama kalinya, mereka menjadi canggung terutama Zefa. Zefa seperti di buat bingung dengan sikap Choi Woo Shik Sajangnim yang sebentar bilang untuk tidak khawatir tetapi sesaat setelah itu ia bilang untuk tidak akan melebihi batas. Apa maksud dari semua itu, itu lah yang selalu Zefa pikirkan sampai saat ini.
📍Sydney, Australia
Perjalanan udara dari Jakarta menuju Sydney, Australia yang memakan waktu hampir tujuh jam itu kini sudah berakhir. Mereka telah tiba di tempat yang akan menjadi persinggahannya selama berada disana.
Malam harinya, saat mereka sudah menyelesaikan makan malam bersama. Di tempat itu hanya tersisa Zefa dan Choi Woo Shik Sajangnim, sedangkan yang lain sedang berada di kamar kecil.
"Mianhae~". Ucap Choi Sajang tiba tiba.
Zefa menengok dan terdiam dengan alisnya yang menyernyit.
"Kamu pasti bingung kan sama apa yang terjadi setelah makan malam waktu itu? Saya benar benar minta maaf". Sambungnya.
"Selama beberapa hari terakhir entah kenapa pikiran saya selalu teralihkan dengan moment malam itu. Bahkan saya merasa seperti Sajangnim hanya menghibur saya dengan omong kosong". Ucap Zefa.
"Saya sungguh minta maaf untuk itu, saya enggak berpikir panjang sebelum berkata seperti itu". Ucap Choi Sajang.
"Sebenarnya apa maksud Sajangnim dari berkata tidak perlu khawatir, lalu berubah jadi enggak akan melewati batas?". Tanya Zefa.
"Se simple itu Sajangnim mempermainkan saya?". Sambungnya lalu tertunduk.
Choi Woo Shik Sajangnim memperhatikan Zefa dengan tatapan tajamnya. Sedangkan Zefa mengalihkan pandangan sambil menggigit bibirnya.
***
__ADS_1