
"Terserah kalian aja deh. Gue sama sekali enggak perduli dengan sikap kalian. Semua hal yang kalian bicarakan cuma omong kosong dengan maksud dan tujuan yang enggak jelas". Gumam Zefa saat menaruh tas di meja kerjanya.
"Fisik gue lagi enggak bisa di ajak santai. Tolong, tolong banget satu hari ini aja kasih gue ketenangan". Sambungnya kemudian menenggak air.
"Huh...". Zefa menghela nafas berat.
Raut wajah yang tampak lesu serta hati dan pikiran yang sedang tak sejalan. Rasanya ia ingin sekali cepat cepat mengakhiri hari ini. Membaringkan tubuhnya di atas kasur yang empuk sambil memejamkan mata dan bermimpi indah.
Ingin pula rasanya satu hari saja menikmati waktu luang tanpa memikirkan hal sekecil apa pun. Satu hari berada di kamar sambil terus melakukan maraton drama korea. Hm... Rasanya mustahil.
"Terlalu banyak yang harus gue selesaikan hari ini. Boleh pulang aja enggak sih, rasanya berat banget buat gerak". Gumamnya lagi.
Saat jam makan siang hampir tiba tidak seperti biasanya, Zefa selalu bisa menyelesaikan pekerjaan lebih cepat. Namun hari ini tampaknya ia benar benar kehabisan tenaga untuk bekerja. Tubuhnya yang lemah sebab sudah bekerja keras selama beberapa bulan, bahkan tidak jarang ia pun harus bekerja di akhir pekan.
Jam makan siang akhirnya tiba, Zefa bergegas pergi meninggalkan ruangannya. Berjalan melewati lobby tanpa menunggu teman temannya seperti yang biasa ia lakukan.
Tidak lama kemudian ia pun telah kembali ke ruangannya dengan membawa sesuatu. Saat Zefa baru saja sampai ia di kejutkan dengan Choi Woo Shik Sajangnim yang sedang bermain ponsel dan duduk di meja kerja miliknya.
"Sajangnim". Ucap Zefa.
"Oh... Kamu habis makan siang? Biasanya kamu kabari saya?". Tanya Choi Sajang yang masih duduk di zona kerja Zefa.
"Ehh... Maaf Sajangnim tadi saya buru buru ke luar dan lupa untuk beri tahu Sajangnim". Sahut Zefa.
"Itu apa?". Tanya Choi Sajang ketika pandangannya teralihkan dengan sesuatu yang di bawa Zefa.
"Kamu sakit?". Tanyanya khawatir.
Zefa menggelengkan kepala perlahan dan terkesan ragu.
"Kamu pasti lelah ya setelah perjalanan dinas kemarin?". Ucap Choi Sajang lalu berdiri dan mendekati Zefa.
"Ayo". Sambungnya lalu menggandeng tangan Zefa secara tiba tiba.
"Ehh, Sajangnim...". Ucap Zefa berusaha melepaskan tangannya sambil melihat situasi di sekitarnya.
"Kenapa? Saya antar kamu pulang, hari ini kamu istirahat di rumah". Ucap Choi Sajang.
"Ehh, iya... Tapi, ehh... Ta, tangan saya". Ucap Zefa gugup dan khawatir ada seseorang yang melihat mereka.
Bisa sangat bahaya jika ada seseorang yang melihat Choi Woo Shik Sajangnim memegang tangan Zefa. Salah salah orang tersebut akan beranggapan negatif dan berpikir yang macam macam tentang mereka.
__ADS_1
"Oh iya, sorry". Choi Sajang segera melepaskan tangannya.
"Eh, ya sudah ayo kamu pulang saja. Saya antar". Sambungnya.
"Saya enggak apa apa kok Sajangnim". Ucap Zefa berusaha menahan diri.
"Enggak apa apa gimana? Wajah kamu pucat, kamu juga habis dari apotek, kamu masih bilang enggak apa apa?". Choi Sajang tampak sangat khawatir.
"Tapi masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan hari ini". Ucap Zefa.
Choi Sajang menghela nafas.
"Nurut sama saya yah, please! Kamu istirahat di rumah sampai benar benar fit baru kamu boleh kerja lagi. Kamu harus sehat dan semangat buat selesaikan semua pekerjaan kamu. Kalau kamu seperti ini sudah pasti fokus kamu teralihkan dan pekerjaan juga jadi berantakan, jadi nurut sama saya ya?". Jelas Choi Sajang.
Zefa terdiam sambil berpikir.
"Ternyata dia cuma khawatir kerjaan gue jadi berantakan, bukan karena hal lain". Gumam Zefa dalam hati.
"Sudah ayo, pulang". Ucap Choi Sajang.
"Baik Sajangnim". Sahut Zefa menuruti perintah bosnya.
Dengan wajahnya yang lesu, ia berjalan mengikuti Choi Woo Shik Sajangnim yang berjalan begitu cepat. Bahkan Zefa sampai terburu buru dan berjalan sambil merapihkan tasnya. Dan beberapa menit kemudian mereka sudah berada di dalam mobil yang sama.
"Istirahat, jangan lupa makan dan di minum obatnya". Ucap Choi Woo Shik tersenyum.
"Hm". Zefa mengangguk.
"Ya sudah, kalau begitu saya mau ke kantor lagi". Ucap Choi Sajang.
"Terimakasih Sajangnim". Sahut Zefa tersenyum.
Choi Woo Shik Sajangnim mengangguk dan melangkahkan kaki meninggalkan Zefa. Tetapi ia sempat menghentikan langkahnya dan melihat Zefa sejenak, lalu...
"Ingat pesan saya ya!". Ucapnya kembali mengingatkan Zefa.
Tanpa mengharap balasan Choi Woo Shik Sajangnim berlalu dan kali ini benar benar pergi meninggalkan Zefa yang masih berdiri di halaman rumahnya sampai mobil bosnya itu tidak terlihat.
"Terus aja buat gue bingung, terus aja terus!". Gumam Zefa lalu menutup pintu dengan sedikit keras dan membuat dirinya sendiri terkejut.
"Astaga... Kalau ibu dengar bisa di omelin Ibu nih gue". Ucapnya lalu berlari kecil menuju kamarnya.
__ADS_1
***
Terhitung sudah hampir enam bulan Zefa bekerja sebagai sekertaris Choi Woo Shik Sajangnim. Sudah banyak sekali waktu yang ia korbankan untuk mengabdikan dirinya sebagai seorang sekertaris pribadi.
Dari waktu ke waktu, hari demi hari yang ia lewati semakin di padati dengan deadline. Hingga tidak jarang ia sering kali merelakan akhir pekannya demi sebuah pekerjaan. Dan bersamaan dengan itu terlewati dan terbuang sia sia pula hari libur yang seharusnya bisa ia gunakan untuk beristirahat.
Beberapa kali merasakan dirinya tidak sebaik dan sesehat biasanya, ia hanya bisa menahan rasa sakit itu dan menyembunyikannya dengan kesibukan. Namun kali ini ia menghiraukan hal tersebut. Ia tidak bisa lagi menahannya untuk waktu yang lebih lama.
"Zefa... Kamu enggak kerja?". Tanya Ibu seraya berteriak sambil mengetuk pintu kamar Zefa.
"Kayaknya Zefa absen lagi deh hari ini". Ucap Zefa dengan suaranya yang parau setelah membukakan pintu untuk Ibunya.
"Badan kamu juga panas, ya udah kamu istirahat aja nanti Ibu bawain bubur sama obat". Ibu sangat khawatir setelah memeriksa suhu tubuh Zefa.
Pagi itu Zefa kembali berbaring dengan selimut yang ia tarik hingga hampir menutupi seluruh tubuhnya. Lalu setelah itu ia teringat sesuatu dan mengambil ponselnya, tidak lama kemudian ponsel itu ia letakkan kembali di tempat semula.
Tak terasa Zefa pun kembali tertidur selang beberapa menit setelah ia berbaring. Tampaknya ia benar benar lelah dan lemah.
Hingga akhirnya malam pun tiba. Zefa kembali di bangunkan oleh sang Ibu. Zefa yang setengah sadar berusaha duduk dan bersandar dengan matanya yang masih terpejam.
"Makan dulu yuk".
Zefa seketika membelalakkan matanya, ia terkejut setengah mati setelah mengetahui seseorang yang sedang duduk di kasurnya sambil tersenyum.
"Bisa bisanya gue malah halu. Efek terlalu banyak tidur kayaknya". Gumam Zefa dengan suaranya yang parau lalu kembali memejamkan matanya.
"Kamu lagi sakit aja tetap lucu ya". Ucap seseorang yang sedari tadi mentertawakan tingkah Zefa.
"Hah?". Zefa kembali terkejut.
"Ayo makan dulu, kamu harus minum obat biar cepat sehat". Ucapannya terus menyadarkan Zefa.
"Sajangnim?". Seru Zefa lalu mengusap wajahnya.
"Ih, kenapa ada disini? Astagaaa, ancur banget muka gue". Gumam Zefa seraya merengek.
"Enggak seburuk itu kok. Udah yuk makan dulu". Ucap Choi Sajang kembali tersenyum.
"Sajangnim kenapa bisa ada disini?". Tanya Zefa sekali lagi.
"Kamu sakit dari kemarin, bahkan hari ini kamu absen. Enggak seharusnya saya acuh dan menunggu sampai kamu kembali ke kantor". Sahut Choi Sajang sambil menyiapkan makanan untuk Zefa.
__ADS_1
"Apa saya juga harus punya alasan yang jelas saat melakukan sesuatu yang saya suka?".
***