My Cutie Presdir

My Cutie Presdir
[MCP] CHAPTER 5


__ADS_3

"Zefa".


Suara itu mengagetkan Zefa saat ia sedang menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Ia terkejut setelah melihat seseorang yang sedang tersenyum di hadapannya.


"Oh, Hoejang-nim". Zefa bergegas bangun dari duduknya dan memberi hormat kepada Hoejangnim, pemilik Star's Holding Group, atau lebih tepatnya adalah ayah dari Choi Sajang.


"Kamu kenapa, kelihatan sedih gitu?". Seru Hoejang-nim menaruh kedua tangannya di saku celana.


"Ehh... Eng, engga Hoejang-nim. Saya engga apa apa". Zefa terlihat sangat gugup.


"Kamu jelas sedang tidak baik baik saja". Ucap Hoejang-nim kembali tersenyum.


"Ya sudah, saya tidak berhak tahu kan? Tetap semangat ya". Sambungnya menyemangati Zefa.


"Oh iya. Woo Shik ada?". Tanyanya.


"Maaf Hoejang-nim". Ucap Zefa lesu.


"Choi Sajang ada di dalam". Sambung Zefa sambil tersenyum.


"Baik. Saya masuk ya. Harus semangat ya Zefa". Hoejang-nim memang terkenal dengan kelembutannya, beliau benar benar sangat baik dan perhatian terhadap semua staffnya.


Zefa mengangguk, lalu menghela nafas panjang setelah Hoejang-nim masuk ke ruangan Choi Sajang.


"Anak sama Ayah sama sama baik, sama sama tulus dan engga pernah memandang rendah pegawainya. Sejuk banget pasti keluarganya".


Zefa berbicara sendiri sambil merapihkan meja yang sebenarnya sudah rapih. Pagi ini Zefa memang terlihat tidak bersemangat dan seperti sedang kebingungan. Entah apa yang membuatnya seperti ini.


Zefa mendapatkan fokusnya kembali setelah meminum air putih dan ia pun mulai mengerjakan beberapa pekerjaan selagi menunggu waktu meeting.


"Hati hati, Appa".


"Iya".


Zefa seketika mendongakkan wajahnya setelah mendengar percakapan antara orang tua dan anaknya.


"Zefa saya pamit ya. Harus semangat, jangan sedih terus". Hoejang-nim tersenyum dan berpamitan dengan Zefa sambil berjalan meninggalkan ruangan.


"Baik Hoejang-nim. Hati hati di jalan". Sahut Zefa sambil tersenyum.


Melihat Zefa dan Ayahnya yang terlihat seperti sangat akrab, Choi Sajang mendekati Zefa sambil mengerutkan keningnya.


"Sejak kapan kalian bisa se akrab itu?". Tanya Choi Sajang.


"Saya aja bingung, kenapa Hoejang-nim bisa tahu nama saya. Padahal ini pertama kalinya saya ketemu langsung sama beliau". Sahut Zefa tersenyum kepada bosnya.


"Kalau soal nama, itu saya yang beri tahu. Tapi kenapa Appa saya bisa bilang kalau kamu Sedang sedih?". Jelas Choi Sajang.


"Ah iya! Waktu saya datang kamu memang sudah kelihatan enggak semangat sih. Kamu kenapa? Kalau ada yang perlu di ceritain, enggak apa apa cerita aja". Sambung Choi Sajang yang tiba tiba gaya bicaranya menjadi lebih santai.


"Enggak kok Sajangnim, saya cuma kurang tidur aja. Enggak apa apa kok". Zefa terus tersenyum berusaha untuk terlihat baik baik saja.


"Ok. Kalau gitu ayo sebentar lagi meeting di mulai". Ucap Choi Sajang yang sudah siap untuk meeting.


Zefa dan Choi Sajang pun bergegas menuju ruang meeting.


Dan lagi, saat Zefa menyusuri koridor demi koridor kantor menuju ruang meeting. Matanya kembali tertuju pada beberapa orang yang sedang sibuk bekerja tetapi justru menyempatkan diri untuk menatap sinis Zefa yang saat itu berjalan di belakang Choi Sajang.


Ya. Mereka adalah orang orang yang kemarin bergunjing serta mengumpat dan merendahkan Zefa. Meskipun Zefa tidak menyadarinya tetapi kejadian kemarin bisa saja menjadi penyebab utama kenapa ia kehilangan semangatnya hari ini.


"Mungkin ini yang bikin gue enggak semangat, ****!". Zefa bergumam dalam hatinya.


Meeting di mulai.


"Baik. Saya harap kalian bisa selalu semangat untuk bekerja lebih giat lagi dan selalu memberikan yang terbaik untuk Stars Holding. Sekian dari saya, terimakasih".


Setelah beberapa saat meeting berlangsung Choi Sajang mengakhiri pertemuan pada pagi hari ini, itu pertanda bahwa meeting telah selesai. Zefa telah selesai merapihkan beberapa berkas yang sudah di gunakan Choi Sajang. Dan mereka berdua kini tengah dalam perjalanan kembali ke ruangan masing masing.


Zefa sampai di zona kerjanya, sedangkan Choi Sajang tidak langsung masuk ke ruangannya melainkan menemani Zefa yang tengah merapihkan berkas berkas meeting tadi.


"Oh. Ada yang bisa saya bantu lagi Sajangnim?". Seru Zefa setelah tersadar bahwa sang bos masih memperhatikannya.


"Enggak. Saya cuma bingung harus apa, enggak ada jadwal lagi kan setelah ini?". Ucap Choi Sajang sambil tersenyum.

__ADS_1


"Iya Sajangnim, hari ini cuma ada satu meeting". Sahut Zefa.


"Ok". Choi Sajang menghela nafas.


"Ayo Zefa, ikut saya". Sambungnya.


"Kemana Sajangnim?". Tanya Zefa.


"Enggak jauh kok". Sahut Choi Sajang.


"Ayo". Sambungnya, kemudian berjalan meninggalkan ruangan tersebut diikuti Zefa yang terburu buru mengantongi ponselnya.


***


"Ini cafe yang selalu jadi tujuan akhir kalau saya bingung harus melakukan apa lagi di waktu senggang seperti sekarang".


Choi Woo Shik dan Zefa telah sampai di cafe milik Joddy, teman terdekat Choi Woo Shik. Mereka melangkah masuk ke cafe tersebut sambil mencari tempat duduk dengan spot yang bagus.


"Hei you bro!".


Terdengar suara lantang Joddy yang menyapa Choi Woo Shik dari kejauhan. Terlihat wajah Joddy yang sangat senang dengan kedatangan sahabatnya.


"Sombong banget lo enggak pernah kesini". Seru Joddy sambil menepuk punggung Choi Woo Shik.


"Sibuk lah. Emang lo tiap hari kerjaannya ngopi terus, enggak kerja kerja!". Sahut Choi Woo Shik sambil tertawa.


"Ya kan emang gue tukang kopi bro! Apalagi kerjaan gue selain ngopi? Enggak ada". Ucap Joddy yang juga tertawa.


"Eh ini?". Tanya Joddy setelah menyadari keberadaan Zefa.


"Oh iya. Ini Zefa, sekertaris gue". Jelas Choi Woo Shik memperkenalkan Zefa.


"Halo Zefa". Joddy menyapa Zefa sambil tersenyum.


"Halo". Sahut Zefa yang membalas senyum si pemilik cafe.


"Ini Joddy, satu satunya teman saya yang ada di Indonesia". Jelas Choi Woo Shik memperkenalkan Joddy kepada Zefa.


"Zefa, kalau nanti lo enggak sengaja lihat ada tingkah konyol dari Woo Shik, jangan kaget. Karena emang dia kayak gitu anaknya". Seru Joddy tiba tiba merendahkan Choi Woo Shik.


"Apa sih Jodd! Ya kalau gue konyol itu karena ketularan sama lo. Efek buruk dari berteman sama orang konyol". Ujar Choi Woo Shik tertawa sambil menyela rambutnya dengan jari.


"Pokoknya udah enggak aneh kalau Woo Shik agak agak gimana gitu". Joddy sekali lagi memberitahu Zefa tentang sikap Choi Woo Shik yang sebenarnya.


"Udah udah! Kopi gue kaya biasa. Cepat!". Ucap Choi Woo Shik sambil mendorong perlahan tangan Joddy.


"Lo doang?". Seru Joddy.


"Eh sorry! Zefa kamu mau apa?". Choi Woo Shik memberikan buku menu kepada Zefa.


Zefa mengambil buku menu tersebut dan mulai memilih apa yang ia inginkan.


"Lo enggak salah pilih sih". Joddy berbisik di telinga Choi Woo Shik selagi Zefa sibuk memilih makanan.


"Lo bisa bilang nanti Jodd, kalau dia dengar gue enggak enak hati". Sahut Choi Woo Shik yang juga berbisik sambil cekikikan.


"Udah cepat!". Seru Joddy.


"Cepat apa, enggak jelas lo!". Sahut Choi Woo Shik dengan suaranya yang mulai membesar, hingga membuat Zefa menengok ke arahnya.


Seketika Choi Woo Shik langsung membenarkan posisi duduknya, ia terlihat gugup dan takut kalau Zefa mendengar percakapannya dengan Joddy.


"Udah sana cepat buatin". Choi Woo Shik mengusir Joddy sebagai bentuk pengalihan dari pembicaraan yang takut di dengar oleh Zefa.


"Iya!". Ucap Joddy yang kemudian membawa buku menunya dan segera pergi untuk menyiapkan pesanan Choi Woo Shik dan Zefa.


Choi Woo Shik dan Zefa kembali pada mode senyap. Keheningan kembali menghiasi pertemuan mereka siang ini.


"Gue yakin Zefa lagi enggak baik baik aja".


Choi Woo Shik bergumam dalam hati sambil sesekali melirik Zefa yang sedang terdiam sambil menatap meja yang kosong.


"Zefa". Serunya menyadarkan lamunan Zefa.

__ADS_1


"Iya Sajangnim?". Sahut Zefa langsung tersadar dan memberikan senyuman.


"Eeehh. Maafkan saya, mungkin saya sebagai atasan kamu terlalu kaku atau tidak se humble yang kamu bayangkan sehingga buat kamu jadi terlalu canggung ketika sedang bersama saya". Ucap Choi Woo Shik.


"Melihat kamu sejak kemarin seperti tidak semangat, entah kenapa. Yang jelas jika itu karena perilaku saya, saya benar benar minta maaf". Sambungnya.


"Dan... Mulai hari ini saya minta tidak ada lagi ke canggungan di antara kita. Ya, santai gitu anggap aja saya teman kamu. Demi kenyamanan pekerjaan kita berdua. Kamu nyaman saya nyaman, jadi lebih enak kerja samanya". Jelas Choi Woo Shik.


"Ehh. Kamu paham kan maksud saya Zefa?". Tanya Choi Woo Shik memastikan.


Zefa tersenyum.


"Maaf Sajangnim, sejak kemarin saya memang sedang enggak fokus. Ada satu hal yang... Sedikit mengganggu saya". Ucap Zefa.


"Dan kalau soal canggung saya rasa wajar kok Sajangnim, karena kita baru aja kerja bareng jadi ya masih dalam tahap penyesuaian. Perlahan pasti bisa lebih santai kok, apalagi Sajangnim ini sangat humble. Saya yakin kerjasama kita akan jauh lebih bagus dalam waktu dekat". Jelas Zefa sambil tersenyum meyakinkan Choi Woo Shik kalau kondisinya sekarang bukan karena dirinya, melainkan hal lain.


"Sekali lagi sikap saya yang seperti ini bukan karena Sajangnim dan saya minta maaf kalau sikap saya hari ini justru buat Sajangnim jadi kesal atau apa pun, saya minta maaf". Sambungnya.


"Syukurlah kalau memang seperti itu dan kamu enggak perlu minta maaf, cukup dengan kembali semangat, saya akan jauh lebih berterimakasih sama kamu". Sahut Choi Woo Shik.


"Kalau begitu mulai besok..".


"Ah enggak! Mulai detik ini kalau kamu masih canggung sama saya, kamu tidak saya perbolehkan untuk libur sampai kamu benar benar bisa lebih santai sama saya". Choi Woo Shik tersenyum memberikan konsekuensi yang akan di berikan kepada Zefa.


"Sajangnim". Zefa menghela nafas lalu tersenyum sambil menggelangkan kepala perlahan.


"Saya akan sangat senang kalau kamu bisa lebih santai, lebih relax dalam bekerja tapi tetap pada tingkat formal yang semestinya". Jelas Choi Woo Shik.


"Baik Sajangnim. Saya akan buktikan kalau saya bisa lebih santai dari dugaan Sajangnim". Ucap Zefa sambil menahan tawa.


Choi Woo Shik tertawa dengan mata sipitnya yang menggemaskan. Zefa, lari! biar habis ketawa Sajangnim cariin kamu. Hehe...


"Kok Sajangnim ketawa?". Zefa tersenyum.


Choi Woo Shik terdiam sesaat.


"Senyumannya...". Ucap Choi Woo Shik dalam hatinya.


Tidak lama kemudian saat Choi Woo Shik sedang tersenyum sambil berbisik dalam hatinya. Joddy datang dengan membawa pesanannya.


"Zefa. Kamu harus hati hati kalau Woo Shik udah diam sambil senyum kayak gini". Seru Joddy tiba tiba, membuat Zefa kebingungan.


"Ah jinjja!". Choi Woo Shik tersadar dari lamunannya dan langsung menyiku tangan Joddy yang kini duduk di sampingnya.


"Lo ngapain disini?". Tanya Choi Woo Shik.


"Gue enggak boleh gabung? Biasanya juga kalau lo kesini kita ngobrol". Ucap Joddy.


"Oh Iya, iya iya sorry. Sorry banget sorry. Permisi". Sambungnya seakan tahu apa yang diinginkan sahabatnya.


Setelah Joddy pergi.


"Kak Joddy emang gitu ya orangnya?". Tanya Zefa sedikit ragu.


"Yaa dia memang sedikit agak gimana ya? Tingkahnya tuh sedikit konyol, tapi aslinya dia baik banget". Jelas Choi Woo Shik mendeskripsikan sahabatnya.


Zefa tertawa begitu pun Choi Woo Shik yang terbawa suasana.


Berbeda dari sebelumnya saat Choi Woo Shik dan Zefa makan siang berdua di restauran. Saat itu suasana benar benar hening hingga piring tersapu bersih pun tak ada gelak tawa seperti saat ini. Mungkin benar kata Zefa, mereka hanya butuh waktu untuk menyesuaikan diri satu sama lain agar terbangun chemistry yang baik.


Hari ini, perlahan mereka sudah bisa tertawa bersama di waktu luang yang mereka manfaatkan untuk menikmati kopi.


***


"Lo kenapa sih? Dari tadi pagi, cemberuuut aja! Ada masalah apa? Cerita, biasanya juga cerita sama gue". Ucap Nayra.


Siang ini Zefa sudah bersama Nayra di lobby kantor, menunggu teman teman yang lain datang untuk makan siang.


Namun sikap Zefa yang masih sama dengan pagi tadi, membuat Nayra heran dan penasaran dengan yang terjadi kepada Zefa hingga membuatnya tampak sedih.


Zefa terdiam beberapa saat dan semakin membuat Nayra penasaran.


***

__ADS_1


__ADS_2