
Setelah kembali dari cafe bersama Choi Sajang, siang ini Zefa sudah bersama Nayra di lobby kantor, menunggu teman teman yang lain datang untuk makan siang.
Namun sikap Zefa yang masih sama dengan pagi tadi, membuat Nayra heran dan penasaran dengan yang terjadi kepada Zefa hingga membuatnya tampak sedih.
"Lo kenapa sih? Dari tadi pagi, cemberuuut aja! Ada masalah apa? Cerita, biasanya juga cerita sama gue". Ucap Nayra.
Zefa terdiam sesaat.
"Ah engga tahu deh". Sahut Zefa lesu.
"Lo bukan lagi galau karena V upload foto di sosmed kan?". Nayra semakin penasaran.
"Apa sih Nay. Bukan lah, tadi pagi kan kita udah bahas". Ucap Zefa sedikit kesal.
Mengetahui sahabatnya sedang sensitif, sedang dalam suasana hati yang tidak baik, Nayra berhenti bertanya meskipun rasa penasarannya masih ada.
"Ayo girls!". Seru Araya setibanya mereka di lobby menghampiri Zefa dan Nayra.
"Tapi girls! Kita mau makan apa?". Seru Imelda.
"Nah iya. Gue pusing deh kalau soal nentuin menu makan. Terserah kalian aja". Ujar Metta santai dengan matanya yang sayu.
"Ya udah kita ke restauran biasa aja, dari pada pusing mikir mau makan apa!". Imelda memberikan keputusan dengan cepat dan langsung berjalan hingga teman temannya pun mengikuti.
Langkah demi langkah yang diiringi dengan candaan kini telah usai ketika mereka telah sampai di restauran yang di tuju.
"Lo pesan apa?". Tanya Araya.
"Nasi sama soto daging, gue samain semuanya". Sahut Imelda yang bertugas memesan makanan kali ini.
"Niceuuu". Seru Nayra.
Melihat Zefa yang sedari tadi lesu dan tidak banyak berbicara, satu persatu temannya mulai menyadari sikap yang tidak biasa dari Zefa.
"Lo kenapa Zef? Lagi sakit?". Tanya Metta tiba tiba.
Zefa terdiam dengan wajah lesunya, lalu menggelengkan kepala.
"Iya, kayaknya lemas gitu. Engga enak badan lo ya?". Ujar Araya setelah merapihkan lipstiknya.
"Capek kali Zefa, nemanin Sajangnim kemana mana". Seru Imelda.
"Dari tadi pagi gue jemput udah kayak gini sih bentukannya". Ucap Nayra.
"Lagi enggak semangat aja, enggak tahu kenapa". Sahut Zefa setelah menerima serangan pertanyaan dari teman temannya.
"Banyakin minum air putih Zef, biar lebih segar!". Ucap Metta.
"Emang iya Mett, kalau banyak minum air putih jadi segar?". Seru Imelda.
"Ya kalau gue sih gitu. Kalau lagi enggak semangat suka banyakin minum air putih". Jelas Metta.
"Atau ada yang gangguin lo ya Zef?". Tanya Araya setelah terdiam sesaat.
"Nah, bisa jadi". Seru Nayra.
Mendengar pertanyaan Araya, Zefa sontak mendongakkan kepalanya dengan wajah yang sedikit khawatir.
"Hmm? Enggak kok. Enggak ada yang gangguin gue". Sahut Zefa lesu.
"Ya takutnya ada yang gangguin lo, tapi lo nya enggak mau cerita". Sambung Araya.
"Hm, enggak ada kok". Ucap Zefa lalu tersenyum.
"Kalau ada yang gangguin lo bilang aja ke kita. Jangan diam!". Seru Metta.
"Iya Zep. Cerita aja kalau ada apa apa". Ujar Nayra.
"Iya". Sahut Zefa singkat.
Lalu ia kembali terdiam sambil menatap meja yang masih kosong.
"Bisa pas banget tebakan Araya. Huft!". Bisik Zefa dalam hatinya.
Makanan telah tiba, dan sudah tersaji di meja dengan rapih. Satu persatu dari mereka mulai menyantap menu makan siang kali ini sambil sesekali berbincang dan bertukar cerita.
***
Malam telah tiba, suasana ruang makan keluarga yang berkewarganegaraan Korea Selatan ini mulai di warnai dengan tawa dan candaan ringan. Menghidupkan suasana pada malam ini.
Satu persatu anggota keluarga sudah menempati tempat duduknya seperti biasa. Choi Woo Shik, Appa dan Eomma juga sang Nuna sudah berkumpul untuk makan malam. Hanya tersisa Choi Tae Hyung yang sampai saat ini belum kembali ke Indonesia, sebab masih banyak yang harus ia selesaikan di tanah kelahirannya, Korea Selatan.
"Eomma, Tae Hyung selalu kabarin Eomma kan?". Choi Woo Shik mengawali perbincangan mereka.
"Setiap hari dia selalu chat Eomma, sesekali dia kirim foto. Dia bilang dia enggak mau Eomma nahan rindu sama dia. Haduh, anak itu!". Sahut Eomma dari Choi Woo Shik yang sangat lembut.
"Dia enggak pernah chat kamu ya?". Tanya Appa kepada Choi Woo Shik.
"Kita sering chattingan, video call hampir setiap hari". Sahut Choi Woo Shik seketika membuat sang Nuna menatapnya dengan sinis.
"Kenapa Tae Hyung enggak pernah chat aku?". Seru Choi Soo Young tiba tiba, membuat keluarganya cekikikan.
"Dia cuma pernah sekali tanya kabar aku. Habis itu dia enggak pernah chat aku". Sambungnya semakin mengundang tawa.
"Lihat kan?! Itu karena sifat dan sikap Nuna. Lebih santai sedikit dan lebih ramah, pasti akan di rindukan sama siapa pun". Celetuk Choi Woo Shik yang lebih sering beradu argumen dengan kakaknya.
"Emang salah? Kan emang kakak seperti ini. Kakak cuma bersikap apa adanya. Salah?". Ucap Choi Soo Young dengan percaya diri.
__ADS_1
"Aish! Iya iya... Terserah deh". Sahut Choi Woo Shik tidak ingin berdebat.
"Udah udah jangan ribut terus! Kamu maklumi saja Woo Shik, kakak kamu memang seperti itu". Eomma melerai pertengkaran si adik kakak yang seperti tom and jerry.
"Khawatir nanti kamu dapat pendamping seperti kakak mu". Sambung Eomma.
"Aah jinjja! Jelas tidak akan! Pilihan Woo Shik jauh lebih baik dari Nuna". Ucap Choi Woo Shik sambil tersenyum dan menatap sinis sang kakak.
"Nugu? Sekertaris kamu?". Seru Choi Soo Young dengan nada sedikit tinggi.
Choi Woo Shik terdiam.
"Ah jinjja! Benar kan kamu pilih dia sebagai sekertaris cuma karena kamu suka sama dia, bukan karena prestasi dan kinerjanya!". Ucap Choi Soo Young.
"Lihat kan Appa, Woo Shik engga serius kelola perusahaan. Dari cara dia memilih sekertaris aja udah main main!". Sambungnya ketus dan terlihat serius.
"Nuna bisa tanya staff di perusahaan cabang, bagaimana cara dia bekerja. Mustahil kalau enggak ada yang tersanjung dengan cara dia bekerja!". Tegas Choi Woo Shik membela Zefa.
"Apa aku terlihat main main dengan perusahaan? Sejauh ini apa ada masalah yang serius karena ulah ku?". Sambungnya terbawa emosi.
Melihat kedua anaknya bertengkar seperti biasa, Appa dan Eomma hanya terdiam sambil terus memperhatikan mereka.
"Kalau memang sikap dan sifat kamu tidak bisa di rubah, tolong jaga bicara kamu. Meskipun kamu hanya bercanda, bagi Appa ini di luar batas! Kalian bersaudara dan tidak seharusnya kalian seperti ini". Appa hanyut dalam emosi karena ulah Choi Woo Shik dan juga kakaknya.
"Soo Young! Kamu harus perhatikan cara bicara kamu, jangan sampai kamu merendahkan orang lain seperti kamu memandang rendah Woo Shik seperti tadi". Sambungnya.
"Untuk Zefa. Dia memang berbakat juga dia anak yang baik dan sopan. Bagi Appa sangat wajar kalau Woo Shik memilihnya. Dan kalau pun Woo Shik memiliki perasaan lain, juga hal yang wajar baginya karena dia seorang lelaki". Lanjut Appa dengan raut wajah yang santai namun ketegasannya membuat Choi Soo Young dan Choi Woo Shik terdiam hingga tidak melanjutkan makan.
"Appa tidak akan melarang kalau pun akhirnya kamu dan Zefa bersama. Tapi satu yang Appa minta, profesionalitas terhadap pekerjaan itu harus di utamakan!".
"Mengerti Soo Young? Woo Shik?! Berhenti bertengkar seperti anak kecil. Kalian sudah dewasa!". Ucap Appa mengakhiri peringatannya.
Kedua kakak beradik ini hanya terdiam setelah mendapat peringatan keras dari orang tuanya terutama sang Appa.
Setelah terdiam beberapa saat, Choi Woo Shik bangun dari duduknya, menyudahi makan malam yang belum tuntas. Makanan pun masih tersisa banyak di piringnya. Ia tidak lagi bernafsu menyantap makan malam sebab ulah sang Nuna yang membuatnya jengkel.
"Aku udah selesai". Choi Woo Shik melenggang pergi menuju kamarnya.
Langkahnya yang sangat cepat membawanya ke kamar dengan waktu yang singkat.
"Nuna memang jutek, ketus. Tapi apa harus sampai seperti itu? Itu keterlaluan!".
Setibanya di kamar Choi Woo Shik duduk di pinggir tempat tidurnya sambil bergumam. Ia menghela nafas panjang sambil memejamkan matanya.
Pesan [Tae Hyung]
Choi Woo Shik
Nuna berulah lagi. Kali ini aku benar benar emosi. Mood ku hancur!".
Choi Tae Hyung
Choi Woo Shik
Cepat pulang, ayo kita lawan Nuna sama sama!.
Choi Tae Hyung
Haha. Tunggu aku Hyeong. Nanti kita buat Nuna jadi wanita yang lembut!.
Choi Woo Shik
Aku tunggu, secepatnya.
Choi Tae Hyung
Ok!.
"Aiissh!". Choi Woo Shik lagi lagi menghela nafas panjang, kali ini sambil mengacak acak rambutnya.
"Udahlah! Istirahat Woo Shik, besok ada meeting pagi". Ia mulai merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata, berharap untuk segera tertidur dan melupakan kejadian malam ini.
Baru saja matanya terpejam, ia teringat sesuatu dan langsung mengambil ponselnya.
Pesan [Zefanya Chayra]
Choi Woo Shik
Malam Zefa. Jangan lupa besok pagi kita ada meeting. Siapkan berkasnya satu jam sebelum meeting di mulai.
Zefanya Chayra
Baik Sajangnim.
Choi Woo Shik tersenyum setelah menerima balasan pesan dari sekertarisnya, Zefa.
"Terbayang jelas gimana cara dia bilang ini ke gue". Choi Woo Shik terus tersenyum sambil menatap layar ponselnya.
"Thank you Zefa, setidaknya malam ini saya bisa tersenyum setelah perseteruan sengit tadi, berkat balasan chat kamu". Gumamnya kemudian mematikan ponselnya.
Di letakkannya ponsel tersebut di tempat asalnya. Mematikan lampu dan menarik selimutnya, kini Choi Woo Shik sudah siap untuk tidur dan bermimpi indah.
***
Sinar mentari telah menyusup masuk melalui sela jendela kamar Zefa. Alarm pun sudah menjalankan tugas untuk membangunkan pemiliknya.
Wajahnya yang terkena sorot matahari, membuat ia terus memalingkan wajahnya ke kanan dan ke kiri. Hingga akhirnya setelah merasa tidak nyaman, barulah ia membuka matanya.
__ADS_1
Langkahnya gontai dengan kelopak mata yang belum seutuhnya terbuka. Berjalan membawa handuk menuju kamar mandi sambil mengusap usap wajahnya.
"Zefa berangkat ya".
Setelah berpamitan Zefa bergegas menemui Nayra yang sudah menunggunya di halaman rumah. Masih seperti kemarin, semangatnya belum juga pulih. Hatinya masih tidak karuan. Dan semoga saja tidak mengacaukan pekerjaannya hari ini.
"Masih cemberut aja. Kenapa sih? Ada masalah di kantor atau soal pribadi? Cerita lah". Nayra masih penasaran dengan sebab yang membuat sahabatnya murung beberapa hari ini.
"Lagi enggak enak badan aja". Sahut Zefa lesu dengan pandangan yang tetap fokus ke depan.
"Masih belum mau cerita? Ya udah enggak apa apa. Gue bisa nunggu sampai lo siap cerita". Ucap Nayra sambil tersenyum.
"Sorry". Zefa pun tersenyum tipis, setelah sang sahabat mengerti akan kondisinya.
Setelah beberapa saat akhirnya mereka tiba di kantor dan segera berpisah untuk ke ruangan masing masing.
Zefa telah sampai di meja kerjanya, ia langsung menyiapkan berkas berkas yang ia butuhkan untuk meeting dengan klien pagi ini.
Sebelum berangkat ke kantor Choi Woo Shik Sajangnim mengabarkan Zefa untuk lebih dulu menemui kliennya, karena ia akan sedikit terlambat.
Lima belas menit setelah Zefa siap dengan berkas berkasnya. Ia pun bergegas menuju ruang meeting yang mana disana sudah ada klien yang menunggunya.
Setibanya disana sesuai dengan perintah Choi Woo Shik Sajangnim, Zefa menjabarkan apa apa saja yang akan mereka bahas pagi ini termasuk dengan rencana untuk kedua perusahaan yang akan bekerja sama ini.
"Untuk lebih jelasnya nanti Choi Sajang yang akan melanjutkan". Ucap Zefa.
"Silahkan di minum dulu Pak". Sambungnya.
"Terimakasih". Sahut klien tersebut.
Baru saja selesai menyampai beberapa hal kepada kliennya, datanglah Choi Woo Shik dengan senyumannya yang hangat.
Choi Woo Shik Sajangnim mulai melanjutkan apa yang telah di jelaskan oleh Zefa.
"Ada perubahan pada anggaran biayanya ya?". Pertanyaan dari klien tersebut membuat Choi Sajang terdiam dan mengerutkan keningnya sambil berpikir.
"Sebentar. Saya lihat dulu". Ucap Choi Sajang sambil membuka lembar berkas yang ia pegang.
Setelah membaca beberapa saat. Choi Sajang melirikkan matanya ke arah Zefa.
"Duh. Kenapa nih? Kok Sajangnim ngeliriknya gitu banget? Ada yang salah ya?". Gumam Zefa dalam hati saat mendapat lirikan maut dari Choi Sajang.
"Kenapa anggarannya jadi lebih besar dari yang sudah kita sepakati?". Klien itu terus bertanya perihal yang sama.
"Eehh. Iya... Hm". Choi Sajang menggigit bibirnya lalu menghela nafas panjang, dan menjadi gugup.
Choi Sajang memejamkan matanya sejenak. Lalu...
"Maaf sebelumnya. Sepertinya ada kesalahan input pada berkas yang baru saja selesai di perbarui". Ucap Choi Sajang berusaha agar si klien tidak marah.
"Eehh, sebentar pak".
Choi Sajang harus memutar otak untuk memberikan alasan yang masuk akal agar klien tersebut tidak kecewa. Kemudian, ia mengambil laptop yang ada di hadapan Zefa dengan terburu buru.
"Baik. Ini detail anggaran yang baru. Bapak bisa lihat disini untuk sementara sambil sekertaris saya membuatkan berkas yang terupdate". Ucap Choi Woo Shik memberikan laptop tersebut kepada kliennya.
"Mohon maaf sebelumnya atas kekeliruan ini. Saya belum sempat melihat lagi isi berkas itu sebelum meeting pagi ini". Sambungnya berharap klien tersebut dapat mengerti.
Choi Woo Shik Sajangnim kembali menatap sinis Zefa yang masih duduk dengan wajah polosnya.
Zefa yang tersadar langsung berdiri dan dengan cepat membuat salinan berkas yang baru. Ia berlari bahkan hampir terjatuh. Panik? Takut? Tentu! Tapi ia tetap berusaha tenang agar kesalahan yang sama tidak terjadi lagi.
Lima menit kemudian Zefa telah siap dengan berkas barunya yang langsung di berikan kepada Choi Sajang. Ia kembali duduk menyimak bosnya dan klien tersebut yang sedang melanjutkan perbincangan mereka.
Hatinya menjadi tidak karuan, ini akibat pikiran yang sedang tidak sejalan dengan hatinya beberapa hari ini. Kenapa? Sudah jelas ini karena ulah para netizen. Zefa berusaha tenang meskipun terlihat jelas matanya berbinar dan hampir menangis.
Beberapa saat kemudian meeting pun selesai dengan hasil yang baik berkat Choi Sajang yang sigap mencari solusi serta alasan untuk menutupi kecerobohan Zefa.
Setelah klien itu keluar dari ruangan meeting...
"Kamu bisa lebih fokus kan?". Choi Sajang berdiri di hadapan Zefa dan menatapnya tajam.
"Setiap klien itu berarti buat saya. Syukurnya saya bisa mengalihkan kecerobohan kamu. Dan untungnya klien saya bisa mengerti. Gimana kalau enggak? Stars Holding bisa kehilangan satu klien yang berharga karena kamu!". Sambungnya emosi.
"Gimana bisa kamu cetak berkas itu tanpa di baca ulang? Kamu harus teliti Zefa. Itu berkas untuk klien lain, dari lembar awal harusnya kamu sudah tahu". Ucap Choi Woo Shik dengan nada sedikit tinggi.
"Saya lihat beberapa hari ini kamu enggak fokus, entah karena hal apa. Tapi saya mohon, saya mohon dengan sangat Zefa! Tolong, kamu harus bisa bedakan tempat untuk kamu merenungi masalah pribadi kamu dengan pekerjaan kamu! Please!". Choi Sajang semakin terbakar emosi.
Zefa hanya terdiam tanpa menjawab sepatah kata pun. Wajahnya memerah, tangisnya hampir pecah. Ya, benar saja ia tak bisa lagi menahan air matanya.
"Maaf Sajangnim. Saya lalai". Dengan terbata bata diiringi deraian air mata, Zefa meminta maaf kepada Choi Sajang.
"Maaf Sajangnim". Tangisnya semakin pecah, Zefa benar benar takut sebab kesalahan yang ia perbuat.
Choi Sajang terdiam melihat Zefa yang semakin sesak karena tangisannya.
"Saya tidak mau hal seperti ini terjadi lagi. Tolong lebih fokus!". Choi Woo Shik Sajangnim memutuskan berhenti memarahi Zefa.
Choi Sajang menghela nafas lalu berjalan keluar ruangan tersebut, diikuti Zefa di belakangnya.
Langkahnya yang cepat diiringi derai air mata yang masih membasahi pipinya. Hati dan pikirannya tidak sejalan, tidak karuan, kacau. Ya, semuanya jadi kacau sebab ia terus memikirkan perkataan para netizen yang mengunjingnya.
Zefa sampai di meja kerjanya, duduk menatap layar monitor yang mati lalu menutupi wajahnya dan tangisnya semakin pecah.
"Dari awal juga gue ngerasa engga pantas!".
***
__ADS_1