My Cutie Presdir

My Cutie Presdir
[MCP] CHAPTER 15


__ADS_3

Zefanya Chayra...


Hari itu ia sangat terkejut dengan sikap Choi Woo Shik Sajangnim yang secara terang terangan membela dirinya. Pasalnya hari itu adalah hari dimana Choi Woo Shik Sajangnim mengetahui hal yang selama hampir tiga bulan ia rahasiakan.


Mendengar dan melihat dengan jelas Choi Woo Shik Sajangnim begitu marah dengan keempat netizen yang selama ini merundungnya membuat Zefa speechless dan sangat terharu mengetahui sang bos sangat perduli dengannya.


Zefa masih terdiam di meja kerjanya dengan perasaan yang campur aduk. Namun ia harus tetap tenang mengingat ia masih memiliki banyak tugas yang harus segera di kerjakan.


"Gue harus gimana sekarang, gue takut mereka berpikir kalau gue yang udah laporin mereka ke Sajangnim".


"Dan pasti mereka enggak akan diam gitu aja setelah dapat teguran dari Sajangnim. Gue yakin mereka akan lebih berani buat ngejatuhin mental gue".


"Gimana ini... Help me please god!".


Gumam Zefa di sela sela pekerjaannya yang sangat menumpuk. Ia sangat khawatir dengan huru hara yang akan terjadi nantinya. Pikirannya saat ini benar benar berantakan.


Selang beberapa jam kemudian, jam pulang telah tiba. Zefa pun segera merapihkan barang barangnya dan bersiap untuk pulang. Namun...


"Zefa, bisa bicara sebentar?". Choi Sajang tiba tiba saja membuka pintu ruangannya dan mengagetkan Zefa.


"Oh, iya Sajangnim". Sahut Zefa yang tanpa berlama lama menghampiri bosnya.


Setibanya di ruangan Choi Woo Shik Sajangnim...


"Kenapa kamu enggak pernah cerita sama saya kalau kamu jadi korban bullying mereka?". Tanya Choi Sajang yang terlihat sangat murka.


Zefa terdiam...


"Sejak kapan? Atau mungkin sejak awal kami bekerja dengan saya?". Tanyanya sekali lagi.


"Maaf Sajangnim". Ucap Zefa.


"Saya pikir itu cuma masalah pribadi saya yang enggak perlu saya ceritakan". Sambungnya dengan wajah lesu.


"Cuma? Kamu menganggap masalah itu masalah sepele?". Seru Choi Sajang.


Zefa mengangguk...


"Zefa... Sekalipun kamu bukan sekertaris saya, mengetahui staff saya jadi korban bullying selama berbulan bulan saya enggak akan mungkin diam!". Jelas Choi Sajang dengan nada tinggi.


"Kamu harusnya melaporkan masalah ini dengan pak Hans kalau memang kamu enggak berani untuk bilang hal itu ke saya". Sambungnya.


"Ini alasan kamu sering tiba tiba nangis dan hilang fokus?". Tanya Choi Sajang.


Zefa mengangguk...


"Ini terakhir kalinya. Saya enggak mau kamu cuma diam dan tenang ketika di perlakukan seperti itu!". Ucap Choi Sajang.


"Baik Sajangnim". Sahut Zefa.


"Mulai sekarang apa pun masalah kamu, baik pribadi atau masalah pekerjaan. Cerita sama saya. Saya akan menjadi pendengar yang baik buat kamu". Choi Sajang memelankan suaranya.


"Terimakasih banyak Sajangnim". Ucap Zefa.


"Ya sudah, kamu boleh pulang". Perintah Choi Sajang.


Zefa mengangguk.


"Saya permisi Sajangnim". Pamit Zefa.


Baru saja akan melangkah ke luar ruangan tersebut, langkahnya terhenti dan Zefa membalikkan badannya lalu tersenyum.


"Terimakasih karena Sajagnim sudah mau perduli sama saya. Permisi". Ucapnya lalu berpamitan lagi.


Kali ini Zefa benar benar pergi meninggalkan bosnya sendiri. Zefa sudah siap untuk segera pulang dan menjernihkan kembali pikirannya.


Nayra sudah menunggunya di halaman kantor, Zefa pun bergegas menghampiri sahabatnya itu. Dengan wajah yang tampak tak bersemangat Nayra mulai menganalisa Zefa yang saat itu hanya tersenyum kecil kepadanya.


"Ada masalah apa?". Tanya Nayra yang mulai menancap gas.

__ADS_1


"Enggak". Sahut Zefa singkat.


"Enggak usah bohong, ada masalah apa?". Tanya Nayra bersikukuh.


Zefa terdiam.


"Si netizen ganggu lo lagi?". Tanya Nayra dengan nada sedikit tinggi.


Zefa masih terdiam.


"Bener kan?". Nayra mulai terbakar emosi.


"Ah bener bener ya tuh orang, bikin kesabaran gue habis. Enggak ada kapoknya ya padahal udah pernah di laporin ke HRD. Masih aja!". Gumam Nayra.


"Mereka beneran udah pernah di laporin ke Pak Hans?". Tanya Zefa yang mulai tertarik untuk bercerita.


"Udah pernah tapi mereka tuh kayak enggak ada kapoknya, di ulangin terus". Sahut Nayra.


"Berarti Sajangnim enggak bohong dong". Ucap Zefa pelan.


"Sajangnim? Enggak bohong soal apa?". Jiwa kepo Nayra mulai menggebu gebu.


Zefa menarik nafas panjang untuk mulai menceritakan hal yang baru saja di alaminya.


"Jadi tadi tuh si netizen berulah lagi sama gue. Tapi gue seperti biasa, cuma diam dan enggak gubris omongan mereka". Ucap Zefa.


"Omongan mereka makin nyakitin hati banget, gue bener bener enggak bisa nahan nangis. Sampai akhirnya gue beneran nangis dan tanpa sadar ternyata Sajangnim lihat". Sambungnya.


"Habis itu pas selesai jam makan tiba tiba gue di panggil ke ruangan Sajangnim dan di ruangannya udah ada Pak Hans dan si empat netizen itu". Jelas Zefa.


"Hah? Terus terus?". Seru Nayra.


"Intinya, Sajangnim enggak sengaja dengar mereka lagi ngomongin gue. Langsung di interogasi lah mereka di ruangan Sajangnim. Kali ini sih masih di maafin, tapi kalau sekali lagi mereka masih sama, ya ada konsekuensinya". Ucap Zefa.


"Good job Sajangnim! Gue suka nih kalau Sajangnim se gentle itu". Ucap Nayra seraya tertawa.


Nayra terdiam sesaat.


"Bener juga sih!". Ucap Nayra pelan.


"Mereka pasti bakal lebih parah buat ngehujat lo Zef. Terus gimana?". Sambungnya.


"Eh tapi tenang aja. Lo punya gue punya Araya, Imel dan ada si suhu labrak melabrak, Metta!". Lanjut Nayra penuh semangat.


Zefa tertawa kecil merasa terhibur dengan celetukan Nayra.


"Dan kalau pun emang lo enggak mau libatin kita, lo bisa langsung ke Sajangnim, laporin aja Zef lo enggak usah takut. Lo udah punya backing yang keren, Sajangnim!". Ucap Nayra menenangkan Zefa.


"Iya sih tapi ya tetap aja, apa pun itu pasti tetap beresiko ke gue Nay". Sahut Zefa lesu.


"Udah lah pusing gue mikirin itu terus, gue mau cepat cepat sampai rumah. Mau tiduran terus play lagu Treasure pakai full volume". Ucap Zefa lalu menyandarkan kepala sambil memejamkan matanya.


"Terserah lo deh, yang penting sih gue mah senang kalau tuh netizen udah pada ketahuan kedoknya". Ucap Nayra yang memang sangat senang mendengar berita tersebut.


Beberapa saat kemudian Zefa telah sampai di rumah. Ia berdiri menunggu Nayra yang sedang memutar balikkan mobilnya untuk kembali ke rumah. Zefa melambaikan tangannya lalu bergegas masuk untuk segera beristirahat.


Setelah sampai di kamarnya dan selesai bersih bersih Zefa memutar musik dan membaringkan tubuhnya guna menjerninkan pikiran yang sedang kacau. Berharap esok hari ia kembali menemukan semangatnya.


***


Beberapa hari kemudian.


Zefa telah sampai di kantor, ia tidak pernah lupa untuk selalu menyapa setiap kolega yang di jumpainya. Semangatnya pagi ini sangat membara terlihat dari senyumnya yang sangat tulus. Koridor demi koridor ia lewati dengan langkah yang cepat berharap bisa segera sampai ke ruang kerjanya.


Namun, baru saja melewati beberapa ruangan dengan sangat terpaksa Zefa menghentikan langkahnya. Ia menghela nafas panjang dan berusaha untuk tetap tenang.


"Puas lo?". Ucap salah satu koleganya.


Kolega? Ya, kolega yang selalu berkata kasar dan tidak pernah menyukainya. Siapa lagi kalau bukan para netizen alay yang selalu mengganggunya.

__ADS_1


"Puas banget pasti dia!".


"Lo tuh bener bener nguji kesabaran gue ya! Berkali kali di sindir biar sadar diri malah ngelunjak".


"Udah caper, centil, matre, penghasut, eh sekarang malah jadi ember juga. Dikit dikit ngadu, lo pikir lo siapa biasa seenaknya!".


"Braakk!".


"Awwhh".


Zefa terjatuh setelah di dorong oleh salah satu kolega yang menghadangnya. Mereka yang tidak terima mendapat teguran dari Choi Woo Shik Sajangnim rupanya makin menunjukkan keburukan mereka. Bukannya introspeksi diri dan menjadikan permasalahn tersebut sebagai pelajaran, mereka justru semakin murka dengan Zefa.


"Sakit ya?".


"Lo pikir dengan lo ngadu ke Sajangnim, masalah kita selesai? Oh sorry, selama lo masih enggak tahu diri gue dan yang lain enggak akan pernah ngebiarin lo tenang dan damai kerja disini".


"Yap! Kuncinya lo harus sadar diri dan kalau enggak yaaa... Lo bakal dapat yang lebih menyakitkan dari ini".


"Ngerti enggak lo caper!".


Setelah merasa lebih baik, Zefa kembali berdiri sambil merapihkan bajunya yang berantakan setelah di dorong oleh mereka. Ia tidak menangis meski jatuh sekeras itu, ia tetap harus terlihat tegar agar tidak semakin di olok olok oleh mereka.


Zefa menghela nafasnya.


"Satu hal yang selalu mau gue tanya sama kalian". Ucap Zefa.


"Apa gue punya salah sama kalian secara pribadi?". Tanya Zefa dengan santai namun mereka justru semakin marah.


"Lo bener bener enggak tahu diri banget ya!".


"Kan udah gue bilang nih cewek emang udah enggak kenal daratan. Buktinya dia sok polos nanya kesalahan dia apa padahal udah jelas dia enggak sadar diri dari awal!".


"Ini konsepnya gimana sih, gue yang punya salah sama kalian atau kalian yang iri sama pencapain gue?". Ucap Zefa sambil menyunggingkan senyumnya.


"Gue bener bener enggak ngerti sih sama kalian. Jalan pikiran kalian tuh kayak apa ya... Kayak... Ya gitu deh". Sambungnya.


"Kurang ajar lo ya!". Salah satu dari mereka berniat menghampiri Zefa namun temannya yang lain justru menahannya.


"Mau nampar gue? Sini tampar aja enggak apa apa. Gue diam kok enggak akan ngelawan". Ucap Zefa sambil tersenyum.


"Oh nantangin lo!".


"Jangan. Hari ini cukup jatuh aja, besok dia harus rasain yang lebih sakit".


"Lagi pula takut sih gue, takut dia ngadu. Kan dia ember!".


Mereka tertawa terbahak bahak begiu juga dengan Zefa yang ikut tertawa. Ia sangat santai menanggapi celotehan para netizen alay itu.


"Kalian tenang aja, kali ini gue enggak akan ngadu ke Sajangnim. Karena mungkin Sajangnim akan tahu dari orang lain". Ucap Zefa sambil tersenyum.


"Orang lain siapa maksud lo?".


"Tuh... Kalian lupa ya, kasihan. Udah ya, gue mau langsung ke ruangan gue. Bentar lagi Sajangnim dateng. Bye!". Ucap Zefa sambil menunjuk ke arah cctv yang terpasang di sudut koridor itu.


"Permisi". Sambungnya sambil tersenyum meledeki koleganya.


Zefa berhasil membuat penggemarnya merasa takut dengan ulahnya sendiri. Ia sangat senang melihat wajah mereka yang panik dan ketakutan. Meskipun tubuhnya masih terasa sakit ia tetap tersenyum sebab aksi preman dari para koleganya itu justru menjadi Boomerang untuk mereka sendiri.


Zefa telah tiba di ruang kerjanya, ia bergegas mengambil kotak P3K untuk mengobati lututnya yang lecet karena terjatuh tadi. Ia juga mengoleskan minyak di bagian lengannya yang terkilir.


"Masih pagi nasib gue udah pahit banget". Gumamnya sambil terus mengobati luka di kakinya.


Baru saja akan mengambil plester untuk menutupi lukanya, tiba tiba Choi Woo Shik Sajangnim menarik lengan Zefa dan membawanya masuk ke ruang kerjanya.


"Awwhh".


"Awwhh, Sajangnim".


***

__ADS_1


__ADS_2