
Malam ini akan menjadi malam terindah dalam hidupnya. Setelah menyembunyikan perasaan yang semakin dalam selama beberapa bulan terakhir, akhirnya Choi Woo Shik memberanikan diri untuk mengungkapkannya kepada Zefa.
"Semoga Zefa benar-benar datang". Ucapnya gelisah setelah melihat jam yang melingkar di tangan kanannya.
Saat itu hanya tersisa lima belas menit dari waktu yang telah di janjikannya, tetapi Zefa tak kunjung datang. Hal itu membuat Choi Woo Shik semakin khawatir dan takut apa yang sudah ia persiapkan akan sia-sia.
"Gwaenchanha Woo Shik, semuanya pasti akan sesuai dengan rencana lo". Ucapnya mencoba menenangkan diri.
"Gue akan terima bagaimana pun keputusannya". Sambung Choi Woo Shik dengan ketulusan hatinya.
Di ruangan yang sudah terdekorasi dengan cantik itu Choi Woo Shik dengan sabar menunggu Zefa. Beberapa kali ia juga terlihat berjalan kesana kemari khawatir Zefa tidak datang menemuinya.
Tidak lama setelah itu, akhirnya Zefa pun datang dengan setelan dress code yang sama dengannya. Choi Woo Shik yang semula sangat khawatir dan takut Zefa tidak akan datang, kini sudah jauh lebih tenang.
Senyumannya menyambut Zefa yang saat itu tampak kebingungan. Melihat Zefa yang begitu cantik pada malam itu, Choi Woo Shik seperti merasakan jantungnya berdebar begitu cepat. Dalam hatinya ia hanya bisa berharap agar bisa dengan mudah mengungkapkan perasaannya.
"Saya cinta sama kamu. Dan saya sangat berharap kita bisa memjalin hubungan yang lebih serius". Ucap Choi Woo Shik memberikan setangkai bunga mawar kepada Zefa sambil mengungkapkan perasaannya.
Yang tersisa saat ini hanyalah bagaimana keputusan Zefa, apakah ia akan menerimanya dan menjalani hubungan yang serius atau kah sebaliknya?. Sungguh, Choi Woo Shik semakin tidak bisa mengontrol deguban jantungnya.
"Sajangnim enggak lagi bercanda kan?". Tanya Zefa yang saat itu terlihat sangat terkejut.
"Saya hanya sedang berusaha untuk tidak membohongi perasaan saya". Sahut Choi Woo Shik tersenyum.
"Kamu enggak perlu meragukan lagi cinta saya, karena itu memang benar adanya". Sambungnya.
Saat itu Zefa benar-benar tidak banyak bicara, sepertinya ia memang sangat terkejut. Wajar saja, selama ini Choi Woo Shik dan Zefa sama sekali tidak pernah berada dalam situasi yang menggambarkan pendekatan secara intens. Karena hal itu lah yang mungkin membuat Zefa kebingungan.
"Jadi... Apa kamu bersedia menerima cinta saya?". Tanya Choi Woo Shik dengan penuh harap.
"Saya... Ehh, saya enggak pernah berpikir sejauh ini. Bahkan sekali pun saya enggak pernah membayangkan bagaimana jadinya kalau saya dan Sajangnim memiliki hubungan yang serius". Ucap Zefa tertunduk.
"Bahkan untuk berpikir kalau Sajangnim mencintai saya pun rasanya, rasanya justru semakin membuat saya sadar diri". Sambungnya.
"Maksud kamu?". Tanya Choi Woo Shik.
"Saya enggak tahu apa Sajangnim benar-benar tulus atau hanya akan melakukan sesuatu yang belum Sajangnim lakukan selama tinggal di Indonesia". Ucap Zefa.
"Tapi sekalipun memang benar, apa yang Sajangnim lihat dari seseorang seperti saya? Bukankah banyak wanita yang jauh lebih berkelas dari pada saya?". Sambungnya.
"Ya, wanita yang lebih berkelas memang banyak. Tapi enggak ada satu pun yang bisa mengalihkan pandangan saya terhadap kamu". Sahut Choi Woo Shik.
"Apa Sajangnim sebelumnya sudah memikirkan apa yang akan terjadi kalau kita benar-benar bersama?". Tanya Zefa.
"Saya cinta sama kamu. Yang saya utamakan saat ini adalah kamu. Hal bagaimana sesuatu yang akan terjadi nanti ya saya pasti siap apa pun itu". Jelas Choi Woo Shik.
"Kamu meragukan saya?". Tanya Choi Woo Shik lesu.
"Bukan. Bukan soal itu, tapi...".
"Saya cinta sama kamu!". Jelas Choi Woo Shik sekali lagi.
Zefa kembali terdiam sambil menggigit bibirnya. Wajahnya yang cantik saat itu sangat jelas menggambarkan bahwa ia sedang berpikir keras. Bersamaan dengan itu Choi Woo Shik pun sangat gugup dan hatinya semakin tidak karuan.
__ADS_1
"Saya boleh minta waktu sampai besok?". Tanya Zefa.
Choi Woo Shik terdiam dan menatap Zefa begitu dalam. Ini adalah salah satu ketakutannya, ia takut Zefa akan memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan harapannya.
"Hm...". Choi Woo Shik menghembuskan nafas lalu menganggukkan kepala.
"Saya tunggu sampai besok". Sahut Choi Woo Shik.
"Maaf Sajangnim". Ucap Zefa tertunduk lesu.
"Gwaenchanha~ kamu berhak untuk itu, secara kita memang enggak pernah ada pendekatan apa pun". Sahut Choi Woo Shik tersenyum.
Akhirnya Choi Woo Shik menyepakati keinginan Zefa. Lagi-lagi ia hanya bisa berharap sesuatu yang terbaik untuknya, dan untuk mereka.
Setelah prosesi itu selesai mereka pun menyantap hidangan yang sudah tersaji disana. Seperti biasa mereka selalu membahas sesuatu jika sedang makan bersama, yang berbeda kali ini adalah mereka sedikit canggung. Tetapi syukurlah, setidaknya masih ada yang bisa mereka bahas.
***
Pukul 9 malam di hari minggu adalah waktu yang paling tidak disukai oleh Zefa. Kenapa? Sebab, di hari minggu tepat pukul 9 malam Zefa akan tertidur dan bersiap untuk hari senin yang sedikit menyebalkan.
Namun hari ini berbeda, Zefa justru seperti sangat menunggu waktu-waktu itu. Bukan karena akan tayang episode baru dari drama korea yang selalu ia tunggu-tunggu. Tetapi, di waktu itu Zefa akan memberikan jawaban kepada Choi Woo Shik Sajangnim seperti yang sudah ia janjikan kemarin.
"Sajangnim tuh nungguin jawaban gue atau enggak sih? Kok enggak chat gue sama sekali, kayak enggak ngarepin jawaban gue". Ucap Zefa sambil melihat layar ponselnya.
"Seenggaknya tuh chat lah nanya gue beneran kasih jawaban hari ini atau gimana kek gitu. Jadi cowok enggak ada usahanya sama sekali". Gumamnya.
"Enggak pernah usaha buat dekatin gue tapi tiba-tiba nembak gue, simple banget". Sambungnya lalu memanyunkan bibir.
"Udah lah, gue enggak akan kasih jawaban apa pun kalau dia enggak chat gue". Ucap Zefa sambil menjatuhkan ponselnya ke kasur.
Pesan [Choi Sajang]
...
Hai Zefa. Aku masih nunggu jawaban dari kamu loh. Jangan lupa ya!.
...
"Astagaaa! Kenapa bisa pas banget". Ucap Zefa sambil terus memperhatikan layar ponselnya.
"Tiba-tiba banget jadi "aku" biasanya "saya"?". Gumamnya usil.
"Apa gue jawab sekarang aja?". Tanyanya pada diri sendiri.
Zefa terdiam sesaat sambil memutar-mutar ponsel ditangannya. Ia terlihat sedang berpikir dengan keras sekali lagi, ia kembali mamastikan bahwa jawaban yang akan ia berikan ini adalah yang terbaik untuk mereka berdua. Dan setelah itu...
Pesan [Choi Sajang]
...
Z : Maaf udah buat Sajangnim nunggu.
C : Gwaenchanha. Jadi gimana? Apa pun keputusan kamu, aku akan terima.
__ADS_1
Z : Maaf.
C : Untuk apa? Kenapa?.
Z : Maaf.
C : Ayolah Zefa. Kenapa?.
...
"Tarik nafas Zefa, jangan lupa di hembuskan". Ucap Zefa lalu menghela nafas dan menghembuskannya.
"Lo harus inget Zefa, jangan pernah menyesali apa yang udah lo putuskan malam ini. Dan lo harus benar-benar yakin dengan keputusan lo!". Ucapnya sebelum memberikan jawab kepada Choi Sajang.
Dan kali ini Zefa benar-benar akan memberikan jawabannya.
Pesan [Choi Sajang]
...
Z : Yes, i will...
C : You will be...?
Z : I will be your girlfriend.
C : Jinjja???
Z : Jinjja!!!
...
Setelah mengirimkan jawabannya, Zefa kembali melempar ponselnya ke kasur dan ia pun menutupi wajahnya dengan selimut sambil menggoyangkan kakinya seraya begitu senang dengan keputusannya. Bahkan ia pun sesekali berteriak untuk mengekspresikan kebahagiaannya itu.
Ponselnya kembali berdering, ia pun tersadar dan kembali fokus.
Pesan : [Choi Sajang]
...
C : Ke balkon sekarang.
Z : Balkon? Kenapa?.
C : Keluar sekarang.
...
Zefa kebingungan dengan maksud Choi Woo Shik Sajangnim yang memintanya untuk membuka jendela kamar. Untuk apa?. Zefa bertanya-tanya dalam waktu yang cukup lama.
Namun untuk menuruti perintah bosnya itu, ia pun bergegas membuka pintu untuk menuju ke balkon kamarnya. Sesampainya di balkon kamar...
"What???".
__ADS_1
Next chapter >>>