My Cutie Presdir

My Cutie Presdir
[MCP] CHAPTER 7


__ADS_3

Choi Woo Shik sudah tiba di ruangannya dengan suasana hati yang kacau. Ia sangat kesal dengan kesalahan yang di perbuat oleh sekertarisnya yang baru, Zefa.


Kesalahan yang di perbuat Zefa hampir saja membuat Choi Woo Shik kehilangan kliennya. Itulah mengapa ia sangat marah pagi ini.


Namun, mengetahui Zefa yang menangis karena kesalahannya ia merasa Zefa tidak melakukan kesalahan itu dengan sengaja. Choi Woo Shik berdiri di hadapan jendela besar di ruangannya, sambil melihat lihat situasi jalan yang ramai.


"Dia salah tapi gue justru enggak enak hati lihat dia nangis kayak gitu".


Choi Woo Shik menghela nafas panjang.


"Ya... Dia enggak mungkin melakukan kesalahan dengan di sengaja. Tapi kesalahan tetaplah kesalahan".


"Beberapa hari ini dia memang kelihatan enggak semangat, entah sakit atau apa. Mau tanya tapi gue enggak ada hak untuk tahu tentang urusan pribadinya".


"Aisshh! Gue hampir kehilangan klien karena dia tapi gue malah khawatirin dia".


Choi Woo Shik tersenyum lalu berbalik badan dan mengambil ponselnya dan berjalan keluar ruangan.


Saat baru saja membuka pintu ia mendengar isak tangis dari meja Zefa. Choi Woo Shik berdiri sambil tangannya di masukkan kedalam saku celana.


"Dari awal juga gue ngerasa enggak pantas!". Zefa menggerutu sambil menangis.


Choi Woo Shik menghela nafas panjang lalu memutuskan untuk pergi meninggalkan Zefa.


***


Pesan [Nayra Comel]


Nayra Natasya


Zef. Lama banget! Gue di lobby nih.


Ayo makan, laper gue.


Zefanya Chayra


Duluan aja. Gue masih ada kerjaan.


Zefa mengangkat wajahnya yang sedari tadi tertunduk sambil di tutupi dengan telapak tangannya. Zefa benar benar merasa sedih dan kecewa dengan kinerjanya yang menjadi sebab Choi Sajang memarahinya.


Zefa mengusap air matanya lalu menghela nafas panjang. Di masukkannya ponsel yang semula tergeletak di atas meja kedalam sakunya.


Sebenarnya ia sangat tidak ingin keluar ruangannya dan bertemu dengan para kolega, mengingat matanya yang sembab setelah menangis.


Ia berusaha menahan air matanya dan mulai berjalan melewati koridor demi koridor dengan cepat agar tidak ada yang menyadari bahwa ia sedang menangis.


Kini Zefa sudah berada di rooftop perusahaan tempatnya bekerja. Tanpa makanan atau pun minuman yang menemaninya. Ia hanya melamun sambil merenungi kesalahannya pagi ini. Sesekali ia pun mengusap air matanya yang masih saja berjatuhan.


"Si caper kenapa nangis?".


"Di putusin pacarnya kali".


"Atau jangan jangan di marahin Sajangnim!".


"Bisa jadi sih dia kena marah karena kerjanya enggak becus!".


"Emang udah sepantasnya sih kena marah, toh sekertaris jalur caper emang bisa apa? Kalau bukan bikin masalah".


"Kecewa banget sih gue kalau jadi Sajangnim, pas tahu ternyata sekertarisnya enggak bisa apa apa".


"Bukannya meringankan malah tambah beban sih kalau rekrut sekertaris lewat calo gini".


Lagi lagi kata umpatan itu terdengar di telinganya. Zefa menghela nafas panjang lalu mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara. Ia menatap sinis semua orang yang menggunjingnya.


"Kenapa ngelihatinnya kayak gitu? Enggak suka?".

__ADS_1


"Marah?".


"Tersinggung ya?".


"Benar kan lo habis bikin masalah sama Sajangnim? Keterlaluan ya lo! Engga tahu di untung banget, udah di rekrut dengan belas kasihan eh malah jadi beban".


Zefa tersenyum menanggapi kata kata yang sangat tidak pantas yang di ucapkan oleh seseorang yang terpelajar seperti mereka.


"Gue engga tersinggung sama sekali sih. Cuma kasihan aja sama kalian. Kalian cantik pintar dan berbakat tapi sayang, citra kalian enggak secantik wajah kalian". Zefa tersenyum sinis.


"Sekarang gue tahu kenapa orang orang enggak suka sama kalian". Sambungnya sambil tertawa kecil.


Setelah memberikan serangan balik kepada kolega kantor yang di juluki sebagai netizen maha nyinyir, Zefa bergegas pergi.


"Eh kurang ajar lo ya!".


"Ngelunjak banget lo caper!".


"Jangan puas dulu lo sekertaris gadungan, lo lihat nanti!".


Meski dengan kata yang berkesan ancaman Zefa tetap tidak perduli dan terus melanjutkan langkahnya.


Saat Zefa tiba di lobby ia tidak sengaja bertemu dengan Metta.


"Zefa!". Seru Metta seraya berteriak dari kejauhan.


Zefa mencari cari sumber suara yang tidak asing itu. Dan setelah itu...


"Metta". Ucap Zefa lalu menghampiri Metta sambil tersenyum.


"Gue kira lo udah sama yang lain". Sambut Metta kepada Zefa yang baru saja menghampirinya.


"Gue baru aja selesain kerjaan, tanggung banget soalnya". Sahut Zefa berusaha menutupi apa yang sedang terjadi dengannya.


"Enggak meeting sama Sajangnim?". Tanya Metta.


"Tadi pagi meeting". Sahut Zefa.


"Sajangnim orangnya asik banget kan!". Seru Metta sambil tertawa kecil.


"Awalnya gue kira Sajangnim tuh pasti arogan kayak kebanyakan bos bos di novel yang sering gue baca gitu. Ternyata bos yang ini beda, baik banget". Jelas Zefa sambil tersenyum.


"Lo suka baca novel?". Tanya Metta menengok ke arah Zefa.


"Ya kalau lagi bosan biasanya gue baca novel, kadang di buku kadang juga di aplikasi novel gitu". Sahut Zefa.


"Pantas aja lo pintar, hobi lo aja baca buku". Ucap Metta sambil tertawa.


"Bukan hobi, iseng iseng aja". Jelas Zefa yang juga tertawa.


"Sama aja". Seru Metta.


"Asik banget lo berdua".


Sambut Araya saat Zefa dan Metta tiba di restauran tersebut dan menghampiri teman temannya.


"Katanya lo masih ada kerjaan". Seru Nayra langsung memburu Zefa yang baru saja duduk.


"Itu kan tadi, sekarang sih udah free". Sahut Zefa sambil tersenyum dengan mata sembabnya.


Nayra yang sangat mengenali sahabatnya itu mulai memperhatikan bagian wajah Zefa saat terlihat ada yang berbeda. Bahkan dari suaranya pun ia bisa mengetahui bahwa ada sesuatu yang aneh dari Zefa.


"Peramal lo? Lagi baca baca aura di wajah gue?". Ucap Zefa saat menyadari kalau Nayra sedang memperhatikannya sedari tadi.


Nayra hanya diam dan terus meperhatikan Zefa.

__ADS_1


"Jangan bikin gue salting deh!". Ucapnya sambil tertawa.


"Kenapa si Zef?". Tanya Imelda yang duduk di samping Nayra atau lebih tepatnya di hadapan Zefa.


"Itu Nayra kayak lihat ada yang aneh di muka gue". Sahut Zefa.


"Lo lihat kan Mel? Ada yang beda kan sama Zefa?". Tanya Nayra kepada Imelda setelah terdiam beberapa saat.


"Bentar gue analisa dulu". Ucap Imelda membuat semua teman temannya ikut memperhatikan Zefa dengan seksama.


Zefa tersenyum salah tingkah dengan kelakuan absurd teman temannya itu. Ia pun tertawa sebab tingkah ke kanak kanakkan temannya.


"Lama lo semua!". Seru Araya.


"Zefa tuh habis nangis, matanya sembab dan suaranya agak parau. Pasti ada masalah yang sangat mengganggu lo, entah itu masalah pekerjaan atau masalah pribadi. Yang jelas lo lagi ngerasa enggak nyaman sih menurut gue". Jelas Araya menebak dengan sangat tepat.


"Nah, habis nangis kan dia? Makanya gue perhatiin dari tadi. Feeling gue benar kan beberapa hari ini lo tuh lagi kepikiran sesuatu tapi enggak mau cerita". Seru Nayra yang memiliki pemikiran yang sama dengan Araya.


"Asli gue sama sekali enggak bisa nebak sih, padahal gue yang lebih dulu ketemu sama Zefa". Ucap Metta.


"Tapi lo paling jago sih kalau soal analisa cowok". Celetuk Imelda membuat teman temannya tertawa.


Metta mengatupkan bibirnya kedepan seperti anak kecil yang sedang merajuk. Tentunya menambah gelak tawa teman temannya.


"Eh tapi, lo kenapa Zef? Cerita aja kalau emang lo rasa ini bukan masalah pribadi lo". Ucap Araya.


"Gue udah pancing terus buat dia cerita, tapi dia bilang nanti kalau waktunya tepat dia baru cerita". Seru Nayra.


"Iya Zef cerita aja, kita siap kok dengar cerita lo, keluh kesah lo, yaa minimal lo bisa lebih lega sedikit lah". Ucap Imelda.


Zefa terdiam sesaat.


"Apa gue ceritain aja kali ya?". Gumam Zefa dalam hatinya.


Setelah itu ia menyeruput minuman dingin yang baru saja tiba.


"Eeh, jujur memang beberapa hari ini gue lagi. Eeh, ada beberapa masalah sih. Dan semuanya memang sedikit mengganggu konsentrasi gue. Masalah yang benar benar bikin gue kehilangan fokus". Ucap Zefa memutuskan untuk bercerita.


"Soal apa?". Tanya Imelda.


"Masalah pekerjaan atau pribadi lo?". Tanya Metta.


"Yang mau gue ceritain ini masalah di kantor sih". Sahut Zefa.


"Ya... Sebagian dari kalian udah pernah ngerasain ada di posisi gue sekarang". Sambungnya.


"Apa?". Tanya Araya.


Zefa menghela nafas panjang lalu tersenyum.


"Jadi beberapa hari ini gue kehilangan fokus karena satu hal, dan hal itu bikin gue jadi kena marah Sajangnim". Sahut Zefa sambil tersenyum.


"Hah? Kenapa? Kok bisa?". Tanya Nayra.


"Masalah apa Zef!". Tanya Araya yang sudah penasaran.


"Lo putus sama pacar lo terus lo enggak fokus, habis itu kerjaan lo berantakan dan lo kena marah Sajangnim?". Cerocos Metta.


"Zef ayo Zef! Buruan cerita". Seru Imelda.


Zefa tersenyum.


"Jadi sebenarnya gue tuh...".


***

__ADS_1


__ADS_2