My Cutie Presdir

My Cutie Presdir
[MCP] CHAPTER 26


__ADS_3

Hari demi hari yang telah ia lewati selama beberapa bulan terakhir terasa begitu sangat berat. Bagaimana tidak, pasalnya ada beberapa hal yang selalu saja mengganggu ketenangannya.


Mulai dari Choi Woo Shik Sajangnim yang selalu bersikap manis dan memberikan percikan-percikan yang mampu menggetarkan hati. Dan yang paling menyebalkan adalah ketika harus berurusan dengan para kolega yang selalu mengusiknya, netizen si maha nyinyir.


Sekilas mungkin seperti hal sepele yang tidak perlu di pusingkan, namun hati tetaplah hati. Hatinya yang lembut sangat mudah tergores, sangat mudah terluka. Namun ia tetap harus kuat dan mencoba untuk tidak memperdulikan hal tersebut, sekali lagi.


"Lo cuma perlu sabar Zefa. Emang udah garis takdir lo kayak gini. Di perlakukan seenaknya dan di tuduh yang enggak-enggak". Gumamnya sambil merapihkan berkas-berkas yang menumpuk di hadapannya.


"Pusing mau nangis!". Ucapnya sambil merengek.


"Kamu ada masalah apa sampai kamu tiba-tiba mau nangis, kenapa?".


Tiba-tiba saja Choi Woo Shik Sajangnim datang menghampiri Zefa yang saat sedang dalam keadaan yang sedikit terpuruk. Choi Woo Shik Sajangnim datang dengan menyernyitkan dahinya.


"Eehh.. Sajangnim". Ucap Zefa berusaha tersenyum.


"Kamu kenapa? Kalau memang ada yang bisa kamu ceritakan ke saya, silahkan. Dengan senang saya akan mendengarkannya". Ucap Choi Sajang.


Zefa menghapus air mata yang hampir menetes, ia berusaha untuk tetap tersenyum.


"Enggak apa-apa kok Sajangnim". Sahut Zefa dengan suara yang gemetar.


"Apa ada hubungannya dengan sekumpulan staff yang pernah memfitnah kamu?". Tanya Choi Sajang khawatir.


"Saya cuma teringat hal lain. Enggak ada hubungannya sama mereka, Sajangnim". Sahut Zefa.


"Kamu yakin?". Tanya Choi Sajang memastikan.


"Hm". Zefa menganggukkan kepala.


"Ok... Kalau begitu, Eeh...". Choi Sajang tiba-tiba terlihat gugup.


"Eeh.. nanti saya kabari kamu ya". Sambungnya seperti sedang kebingungan.


Zefa kembali menganggukkan kepala dan kemudian tanpa berkata apa pun lagi, Choi Woo Shik Sajangnim berlalu meninggalkan Zefa menuju ruangannya.


"Bisa-bisanya dia sesantai itu setelah buat gue jadi kebingungan setengah mati!". Gumam Zefa.


"Dasar laki-laki !". Sambungnya sangat kesal.


Selang beberapa jam kemudian tibalah saatnya bagi Zefa untuk pulang kembali ke rumah. Zefa pulang dengan keadaan hati dan pikiran yang sangat berantakan. Hati dan pikiran yang tak sejalan itu membuat dirinya tidak ingin melakukan apa pun, ia hanya ingin tertidur dan melupakan hari ini lalu esok pagi ia bisa kembali lebih semangat.


Namun kenyataannya tak semudah itu, sampai pada pukul 20:00 Zefa masih terjaga. Ia tidak bisa tertidur secepat itu sementara hati dan pikirannya saat ini sedang tidak baik-baik saja.


Beberapa saat kemudian semuanya berubah setelah ponsel yang ia pegang berdering beberapa kali. Zefa terdiam dan pandangannya terpaku pada layar ponsel yang berisikan sebuah pesan singkat.


Pesan [Choi Sajang]


...

__ADS_1


C : Zefa, besok malam temui saya di Green Resto ya. Dress code putih cokelat. Jam 7 malam saya sudah disana. Sampai bertemu disana ya.


C : Saya harap kamu benar-benar datang!


...


"Ada acara apa ya, kayaknya penting banget sampai gue harus benar-benar datang?". Ucap Zefa bingung.


"Ya udah lah, biar ke refresh deh otak gue". Sambungnya kemudian membalas pesan tersebut dan memutuskan untuk segera tidur.


***


Teriknya matahari pagi itu seperti sedang menyoroti Zefa yang tengah berolahraga di taman kota. Sudah sekian lama ia tidak menggerakkan tubuhnya untuk berolahraga. Hari ini Zefa menyempatkan waktunya untuk itu juga sebagai upaya untuk menjernihkan pikirannya.


Setelah selesai berolahraga dan kembali ke rumah, Zefa bergegas memilih outfit yang akan ia kenakan untuk menemui Choi Woo Shik Sajangnim.


"Putih dan cokelat untuk acara di restauran ternama? Hm, berarti gue harus pakai yang formal". Ucapnya setelah membuka lemari dan melihat-lihat jajaran baju yang tersusun sangat rapih.


"Yas! Gue pakai ini aja. Semoga enggak malu-maluin Sajangnim deh". Ucapnya setelah berhasil menemukan setelan yang ia suka.


Zefa adalahnya wanita yang sangat-sangat memperdulikan penampilannya. Ia sangat pemilih jika itu melibatkan fashion bahkan untuk memakai baju santai di rumah pun ia tidak pernah asal, Zefa selalu memakai pakaian dengan perpaduan warna yang cocok.


Setelah berhasil mendapatkan setelan yang cocok Zefa pun mulai melanjutkan rutinitasnya di akhir pekan ini dengan menonton drama korea. Hal itu sebenarnya tidak pernah ia lewatkan bahkan satu hari pun tidak pernah.


Beberapa jam kemudian...


Sesampainya disana...


"Hai". Sapa Choi Sajang sambil tersenyum.


Begitu memasuki ruangan tersebut Zefa hanya bisa terdiam sambil bertanya-tanya di dalam hatinya.


Kenapa di ruangan itu cuma ada dua kursi? Bukankah ini makan malam bersama klien? Lalu, kenapa dekorasi ruangannya cantik sekali?.


Terlalu banyak pertanyaan yang muncul dari kepalanya. Zefa benar-benar bingung dengan apa yang ada di hadapannya dan apa yang sebenarnya terjadi malam ini?.


"Kenapa diam? Ayo duduk". Ucap Choi Sajang menyiapkan kursi untuk Zefa.


"Eehh... Kenapa ruangannya cuma untuk dua orang? Kita mau ada pertemuan dengan klien kan Sajangnim?". Tanya Zefa dengan mata yang terus beralih pandang.


Choi Woo Shik Sajangnim tampak tersenyum menatap Zefa dan tanpa mejawab pertanyaannya tersebut. Wajahnya yang tampan, suaranya yang lembut, hatinya yang sangat baik dan juga tatapannya yang amat tajam itu benar-benar sangat mematikan.


Deguban jantung yang tidak bisa ia kendalikan itu membuatnya sangat gugup, salah tingkah dan sebagainya.


"Help me god! Ini ada apa sebenarnya, kenapa mendadak jadi horor gini". Gumam Zefa merengek dalam hatinya.


"Terimakasih sudah datang". Ucap Choi Sajang tersenyum.


"Jadi kita beneran cuma berdua?". Tanya Zefa.

__ADS_1


"Hm". Choi Sajang mengangguk.


"Terus kenapa mesti pakai dress code kalau kita cuma berdua?". Tanya Zefa yang masih kebingungan.


"Hm... Tiba-tiba saja". Sahut Choi Sajang.


"Tiba-tiba? Terus kalau dekornya, kenapa kayak mau kasih kejutan ke orang spesial gini?". Tanya Zefa tiada henti.


"Saya memang berniat melakukan itu untuk kamu". Sahut Choi Sajang.


"Buat saya? Kenapa?". Ucap Zefa dengan ekspresi wajah yang sangat kebingungan.


Choi Woo Shik Sajangnim terdiam dan hanya menatap Zefa dengan senyumannya. Situasi itu berlangsung selama beberapa menit hingga membuat Zefa semakin berdebar dan salah tingkah.


"Sebelumnya saya minta maaf kalau saya tidak sempurna melakukan hal ini. Tapi percayalah, saya bersungguh-sungguh melakukannya". Ucap Choi Sajang tersenyum.


"Maksud dari hal ini, apa?". Tanya Zefa.


"Saya suka sama kamu!". Ucap Choi Sajang membuat Zefa terdiam.


"Akhir-akhir ini saya merasa seperti perasaan saya ke kamu semakin tumbuh. Dan semakin saya mencoba untuk menahannya, rasa cinta itu semakin tidak bisa saya kendalikan". Sambungnya.


"Zefa, sudah lama sejak pertama kali saya melihat kamu. Perasaan itu sudah tumbuh bahkan sebelum kita benar-benar bertemu". Ucap Choi Sajang dengan wajah yang serius.


"Salanghaeyo! Saya sangat berharap kita bisa bersama dengan hubungan yang jauh lebih serius". Jelas Choi Sajang.


Speechless, Zefa tidak bisa berkata apa pun. Yang hanya bisa ia lakukan adalah berdiam diri sambil meyakinkan dirinya bahwa ini benar-benar terjadi.


Selagi ia terdiam, bayang-bayang tentang semua sikap manis Choi Woo Shik Sajangnim kepadanya seperti tergambar jelas di matanya. Ia teringat kembali akan semua moment yang selama ini sangat mengganggunya dan membuat ia hampir gila.


Jadi itu semua bukan karena profesionalitas terhadap sekertaris yang bekerja untuknya? Apa semua itu sebagai bentuk pengungkapan cinta? Berarti, selama ini Zefa salah dalam mengartikan sikap bosnya? Ia hanya menganggap bahwa sikap manisnya tersebut hanya unuk bersenang-senang, tetapi... Ini sungguhan?.


"Sajangnim enggak lagi bercanda kan?". Tanya Zefa gugup.


"Saya hanya sedang berusaha untuk tidak membohongi perasaan saya". Sahut Choi Sajang yang semakin membuat Zefa berdebar.


"Kamu enggak perlu meragukan lagi cinta saya, karena itu memang benar adanya". Sambungnya tersenyum.


Zefa kembali terdiam.


"Jadi... Apa kamu bersedia menerima cinta yang saya punya?". Tanya Choi Sajang kembali mengungkapkan perasaannya.


"Saya... Ehh, saya enggak pernah berpikir sejauh ini. Bahkan sekali pun saya enggak pernah membayangkan bagaimana jadinya kalau saya dan Sajangnim memiliki hubungan yang serius". Ucap Zefa.


"Bahkan untuk berpikir kalau Sajangnim mencintai saya pun rasanya, ya itu cuma akan membuat saya semakin sadar diri". Sambungnya.


"Maksud kamu?".


***

__ADS_1


__ADS_2