
"Tik tik tik".
Suasana sejuk sore hari ini masih terasa, bahkan sisa sisa air hujan pun masih menetes. Dari balik jendela besar yang tak tertutup gorden, terlihat dengan jelas pelangi itu mulai menampakkan keindahannya.
Cara menikmati hujan dengan baik menurut Zefa adalah dengan bersantai di kamar menyaksikan drama Korea favoritnya sambil sesekali melihat ke arah jendela yang menggambarkan dengan jelas seberapa deras hujan saat itu. Dengan syarat, hari itu adalah hari libur.
Ya... Sore itu di akhir pekan yang sangat damai ini Zefa tengah asyik dengan drama korea kesukaannya sambil menikmati segelas cokelat panas. Keasyikannya mulai terganggu dengan dering ponselnya. Ia segera mengecek ponsel tersebut, bisa saja ada pekerjaan mendadak dari Choi Woo Shik Sajangnim.
Yap, benar saja itu pesan masuk dari Choi Woo Shik Sajangnim. Tetapi... Ia bukan membahas masalah pekerjaan melainkan hanya menanyakan kabar Zefa.
Setelah membalas beberapa kali pesan tersebut, Zefa terdiam. Ia berusaha berpikir positif meskipun hatinya terus berdebar.
"Segitu khawatirnya Sajangnim sama gue? Sampai dia cuma chat gue buat mastiin kondisi gue aja? Sumpah?". Zefa menyela rambutnya yang tergerai.
"Oh iya gue tahu! Mungkin Sajangnim lagi bosan makanya dia chat gue gini biar ada alasan padahal dia pasti bingung kan mau ngapain lagi". Sambungnya sambil tertawa.
"Tapi... Aneh juga si, akhir akhir ini Sajangnim tuh kayak perhatian gitu sama gue. Kenapa ya?". Ucap Zefa berpikir keras.
Setelah terdiam dan berpikir beberapa saat.
"Eh... Enggak enggak! Sajangnim enggak mungkin punya maksud lain. Enggak!". Ucap Zefa kepada dirinya sendiri sambil mengacak acak rambutnya.
Setelah mengacak acak rambutnya Zefa meminum cokelat yang saat ini sudah tidak panas seperti sebelumnya. Zefa terengah engah layaknya seorang yang sedang berlari dan kelelahan. Zefa benar benar speechless, hatinya menjadi tidak karuan. Ia pun tidak tahu harus melakukan apa lagi untuk menjernihkan pikirannya.
Saat ia sedang kebingungan, tiba tiba ponselnya kembali berdering.
"Ahh, Sajangnim kenapa lagi?!". Gumamnya sesaat sebelum melihat ponsel.
Pesan [Nayra Comel]
Nayra Natasya
Zef. Ngopi yuk, bosan banget gue di rumah.
Zefanya Chayra
Ok. Gue siap siap dulu.
Zefa meletakkan kembali ponselnya sambil menghembuskan nafas, ia sangat lega.
"Nayra si comel ini emang paling pengertian. Dia tahu aja kalau gue lagi cari kesibukan biar gue enggak kepikiran Sajangnim terus". Ucap Zefa sambil bersiap.
Beberapa menit kemudian, Zefa dan Nayra sudah berada pada mobil yang sama untuk segera berangkat menuju cafe yang selalu menjadi tempat favorit CEO mereka.
Akhirnya, setelah beberapa menit dalam perjalan mereka pun tiba di cafe tersebut. Suasana cafe sore itu sangat ramai, karena memang hal yang paling cocok dilakukan di suasana yang sejuk setelah hujan adalah menikmati secangkir kopi hangat.
"Hai Zefa... Welcome back! Mau pesan apa?". Sapa Joddy si pemilik cafe yang sangat humble.
"Hai kak. Bosan banget enggak sih Zefa lagi Zefa lagi". Sahut Zefa sambil tersenyum.
"Enggak dong, justru senang kalau Zefa balik lagi dan balik terus". Ucap Joddy.
__ADS_1
"Profit jadi aman ya". Celetuk Zefa membuat Joddy tertawa.
"Nah itu paham". Ucap Joddy.
"Ya udah, Aku mau espresso sama strawberry waffle. Lo apa Nay?". Ucap Zefa.
"Samain aja deh Zef". Sahut Nayra yang terlihat sangat gugup.
"Ok". Zefa lantas menyampaikan pesanan yang sama untuk Nayra.
Setelah menyelesaikan pembayaran untuk pesanan mereka, Zefa dan Nayra kini telah berada di meja yang tidak terlalu jauh dari kasir milik Joddy.
Saat itu Zefa dan Nayra hanya terdiam sambil menunggu pesanan mereka datang. Zefa merasa aneh dengan sikap Nayra yang mendadak menjadi lebih calm. Zefa terus memperhatikan Nayra berharap ia bisa mengetahui hal yang apa yang sedang di pikirkan oleh sahabatnya.
Berkali kali Zefa memperhatikan Nayra dan melirik ke suatu arah. Lalu Zefa tersenyum hingga terlihat seperti sedang menahan tawa.
"Lo suka sama kak Joddy ya?". Ucap Zefa sontak membuat Nayra terkejut dan membelalakkan matanya.
Nayra terlihat sangat panik, gugup, dan kikuk. Benar dan tepat sekali dugaan Zefa. Mereka berdua memang benar benar saling memahami satu sama lain. Memang begitulah definisi sahabat yang sesungguhnya.
"Eng... Enggak lah ngaco lo!". Sahut Nayra berusaha mengelak.
"Enggak usah bohong. Kelihatan banget dari gerak gerik lo Nay". Seru Zefa sambil tertawa.
"Gue perhatian juga akhir akhir ini lo tuh kayak yang senang banget gitu nongkrong di cafe semenjak pertama kali kita ke sini". Sambungnya.
"Enggak jarang juga lo ajak gue buat ngopi, tapi gue selalu enggak ada waktu buat nemenin lo". Ucap Zefa tersenyum.
"Awalnya gue enggak curiga, tapi... Hari ini gue akhirnya gue sadar". Lanjut Zefa meledeki sahabatnya.
"Lo enggak usah bohong Nay. Gue paham banget sama lo, enggak usah ngelak. Karena udah jelas banget kelihatan dari sorot mata dan tingkah laku lo". Jelas Zefa membuat Nayra semakin salah tingkah.
Lalu di tengah kepanikan yang sedang di alami oleh Nayra, datanglah Joddy membawa pesanan mereka. Joddy tersenyum sambil menaruh satu persatu kopi dan desert yang mereka pesan.
"Enjoy ya!". Ucap Joddy tersenyum.
"Thank you kak". Sahut Zefa.
"Makasih". Ucap Nayra yang tiba tiba menjadi pemalu.
Joddy akhirnya kembali bekerja melayani pelanggan cafe yang saat itu semakin ramai pengunjung. Setelah Joddy sudah cukup jauh, Zefa terlihat menahan tawanya hingga membuat Nayra semakin tidak karuan.
"Please Zef... Gue enggak kaya yang lo maksud". Ucap Nayra seraya mengemis kepercayaan dari Zefa.
"Lo mau ngaku atau gue kasih tahu kak Joddy kalau lo suka sama dia?". Ucap Zefa tegas.
"Ih apaan sih! Jangan aneh aneh lo!". Seru Nayra tampak ketakutan.
Zefa hanya tersenyum sambil menunggu Nayra untuk mengakuinya. Sedangkan Nayra terdiam beberapa saat dengan ekspresi wajah ketakutan, hingga akhirnya...
"Iya!". Ucap Nayra singkat namun membuat Zefa tertawa.
__ADS_1
"Puas lo!". Sambungnya.
"Sejak kapan?". Tanya Zefa sambil terus tertawa.
"Waktu pertama kali kita kesini, maybe". Sahut Nayra.
"Apa yang buat lo suka sama kak Joddy?". Tanya Zefa mulai menginterogasi sahabatnya.
"Tanpa alasan". Sahut Nayra singkat dan masih terlihat salah tingkah.
"Tiba tiba suka gitu?". Tanya Zefa setelah menyeruput espresso nya.
"Ya you know lah! Lo juga pasti bisa suka sama seseorang tanpa alasan yang pasti". Jelas Nayra.
"Rasa suka emang kadang suka tiba tiba muncul sih". Ucap Zefa dengan wajah yang tiba tiba lesu seperti memikirkan sesuatu.
"Lo juga lagi suka sama seseorang ya?". Pertanyaan Nayra membuat Zefa tiba tiba terkejut.
"Hah?". Zefa membelalakkan matanya.
"Lagi suka sama siapa? Udah move on lo dari V?". Tanya Nayra memberikan serangan balik.
"Eehh, bentar ya Nay tadi Sajangnim minta gue buat cek data base". Ucap Zefa mengalihkan pembicaraan juga tentunya untuk menghindari pertanyaan yang lebih serius.
***
"Duh... Kacau banget sih gue. Kenapa jadi degdegan gini". Ucap Zefa sambil merapihkan berkas yang akan di berikan kepada Choi Sajang.
Pagi itu Zefa terlihat sangat gugup setelah kemarin ia di buat salah tingkah dengan pesan singkat yang di kirim oleh Choi Woo Shik Sajangnim. Entahlah, Zefa sudah berusaha mencari kesibukan lain tetapi usahanya tak membuahkan hasil.
Zefa semakin gugup setelah suara hentakkan sepatu Choi Woo Shik Sajangnim terdengar dan semakin dekat. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya. Deguban jantungnya pun semakin cepat.
"Eehh... Pagi Zefa". Sapa Choi Sajang sambil tersenyum ragu.
Zefa terdiam setelah melihat tingkah Choi Woo Shik Sajangnim yang terkesan sama dengannya, gugup.
"Kenapa jadi sama sama canggung kayak gini?". Gumam Zefa dalam hatinya.
Lalu Zefa berusaha untuk tersenyum dan menyapa Choi Woo Shik Sajangnim dengan santai.
"Pagi... Sajangnim". Sahut Zefa masih dengan hatinya yang berdebar.
"Eehh... Berkas berkasnya sudah siap?". Tanya Choi Sajang.
"Sudah Sajangnim". Sahut Zefa singkat.
"Ok...". Choi Sajang terdiam dan tidak melanjutkan perkataannya. Ia pun terlihat seperti kebingungan.
"Eeh... Zefa". Ucapnya.
"Iya Sajangnim?". Sahut Zefa.
__ADS_1
"Ehm, Apa kamu...".
***