
Siang ini Zefa memenuhi janji untuk bertemu dengan Sajangnim di restauran yang sudah di tentukannya. Ia sudah tiba di tempat tersebut. Matanya berpindah titik pandang dari satu tempat ke tempat lainnya namun ia tak kunjung menemukan keberadaan Choi Woo Shik Sajangnim.
"Zefa...".
Suara yang terdengar tidak asing itu membuat Zefa memalingkan wajahnya.
"Sajangnim". Ucapnya setelah mengetahui Choi Sajang berada di belakangnya.
"Kamu sudah lama? Maaf ya, tadi saya habis dari toilet". Ucap Choi Sajang.
Matanya tak berkedip melihat penampilan sederhana Choi Woo Shik Sajangnim yang hanya mengenakan baju putih lengan pendek yang dimasukkan kedalam lingkar pinggang celana panjangnya.
Kesederhanaan yang justru menambah nilai ketampanan untuk Choi Woo Shik Sajangnim itu membuat Zefa benar benar terpaku dan tak bosan memandangi wajah bosnya.
Zefa dan Choi Woo Shik Sajangnim kini telah berada di satu meja yang sama dan mereka telah menghabiskan waktu sekitar setengah jam untuk makan siang. Mereka banyak membahas hal kecil yang tentunya di luar pekerjaan.
"Oh iya". Seru Choi Sajang.
"Zefa, gimana kalau besok kamu temanin saya olahraga?". Sambung Choi Sajang membuat Zefa membelalakkan matanya.
"Olahraga bareng Sajangnim?". Tanya Zefa gugup.
"Iya, kita olahraga sama sama. Kalau sendiri kayaknya agak membosankan. Kalau ada temannya kan bisa sambil ngobrol santai. Jadi lebih seru". Sahut Choi Sajang sambil tersenyum.
"Besok Sajangnim?". Tanya Zefa masih tidak percaya dengan tawaran bosnya.
"Iya Zefa. Besok kamu temani saya olahraga ya". Sahut Choi Sajang sekali lagi.
"Kamu kan minta saya untuk olahraga biar pola hidup saya jadi lebih sehat". Sambungnya kembali tersenyum.
"Ok deh Sajangnim. Besok ya?". Tanya Zefa sekali lagi.
"Besok saya kabari kamu lagi". Ucap Choi Sajang.
Obrolan ringan nan sederhana itu rupanya terus berlanjut sampai akhirnya mereka memutuskan untuk mengakhiri pertemuan mereka setelah hampir dua jam sudah berada di restauran tersebut.
"Terimakasih Sajangnim". Ucap Zefa ketika hendak berpamitan dengan Choi Sajang.
"Kamu mau kemana?". Tanya Choi Sajang.
"Mau pulang Sajangnim". Sahut Zefa.
"Ayo masuk, saya antar kamu pulang". Ucap Choi Sajang yang sudah berdiri di samping mobilnya.
Zefa terdiam sambil celingukan dan salah tingkah.
"Ayo". Ucap Choi Sajang.
"Tapi saya bisa naik ojek online kok. Nanti malah jadi ngerepotin kalau Sajangnim antar saya pulang". Sahut Zefa.
"Saya harus bertanggung jawab karena saya sudah buat kamu kesini". Sahut Choi Sajang.
"Udah ayo masuk. Enggak apa apa kok, sekalian biar saya bisa tahu rumah kamu. Jadi kalau ada sesuatu yang mendesak saya tahu harus cari kamu kemana". Sambungnya.
"Iya juga si... Ya udah deh Sajangnim". Zefa menuruti perintah bosnya.
Jarak tempuh dari restauran menuju kediaman Zefa memakan waktu tiga puluh menit. Dan selama dalam perjalanan pulang Zefa dan Choi Woo Shik Sajangnim saling bertukar pikiran tentang proyek yang akan mereka kerjakan beberapa hari lagi.
Tidak lama kemudian akhirnya mereka tiba di istana Zefa. Rumah yang mungkin sederhana dan sangat kecil untuk Choi Woo Shik Sajangnim, namun rumah itu adalah tempat ternyaman bagi Zefa dan keluarganya.
"Terimakasih banyak Sajangnim". Ucap Zefa setelah turun dari mobil.
Choi Woo Shik Sajangnim menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Saya pamit ya". Ucap Choi Sajang.
"Mau mampir dulu Sajangnim?". Tanya Zefa gugup.
"Next time saya pasti akan mampir". Sahut Choi Sajang.
"Ok. Hati hati Sajangnim". Seru Zefa sambil tersenyum.
Mobil yang dikendarai Choi Woo Shik Sajangnim melaju dan perlahan meninggalkan Zefa.
"Mimpi apa gue bisa makan siang sama Sajangnim. Segala di antar pulang. Ini sih udah pasti Sajangnim bakal kerumah gue terus". Ucap Zefa lalu tersenyum salah tingkah karena ucapannya sendiri.
"Ya enggak mungkin lah Zefa, aneh aja lo. Ngapain juga Sajangnim kerumah gue". Sambungnya sambil membuka pintu.
Zefa terus melangkahkan kakinya menuju kamar untuk segera beristirahat.
Ponselnya terus berdering saat ia baru saja membaringkan tubuhnya di kasur.
Pesan Grup [Girls Story]
Metta Hanindita
Girls, jangan lupa nanti sore!
Araya Pamela
Yang harus diingatkan adalah Imel, jangan sampai tuh anak malah ngedate sama pacarnya.
Nayra Natasya
Imeldaaa, dimana lo!
Metta Hanindita
Cukup tahu aja gue sama lo Mel, kalau enggak dateng!
__ADS_1
Imelda Angela
Gue free hari ini girls, demi kalian
Araya Pamela
Hilih, alasan! Pasti lo ribut dulu kan sama pacar lo biar bisa nongkrong sama kita?
Nayra Natasya
Haha, benar banget Ray. Pasti pacarnya bilang Imel mau pilih dia atau kita.
Metta Hanindita
Ribet kan Mel punya pacar? Udah, jomblo aja kayak kita. Mau kemana pun bebas.
Imelda Angela
Enggak ribut dong, dia itu paling bisa mengerti gue!
Metta Hanindita
Oh kita enggak pernah bisa ngertiin lo?
Araya Pamela
Bentar Mett, gue baru sadar si Zefa enggak nongol dari tadi. Kemana dia? Dia enggak punya pacar kan, jadi enggak mungkin sibuk hari ini?
Metta Hanindita
Zefa lo kemana, kalau lo enggak ada kita nongkrong dimana dong? Secara kan lo yang rekomendasiin tempatnya ke kita.
Nayra Natasya
Jangan bilang weekend gini lo tetap kerja ya Zef?
Imelda Angela
Zefaaa!
Zefanya Chayra
Gue enggak kemana mana girls!
Kita ketemu di depan kantor ya
Zefa meletakkan kembali ponselnya di atas kasur setelah membalas pesan grupnya.
"Huh! Padahal gue mau tidur siang sampai puas, lupa banget kalau ada janji sama mereka". Gumam Zefa sambil memejamkan matanya.
"Ok lah, gue siap siap aja daripada gue ketiduran". Ucapnya kemudian bangkit dari tidurnya dan bersiap.
"Hai Zefa". Ucap Joddy sambil tersenyum.
Joddy menghampiri Zefa dan teman temannya untuk menyapa.
"Hai kak". Sahut Zefa yang juga tersenyum.
"Oh iya girls. Ini kak Joddy yang punya cafe ini, selain itu kak Joddy juga sahabatan sama Sajangnim". Ucap Zefa memperkenalkam Joddy kepada teman temannya.
Joddy tersenyum ramah kepada lima wanita cantik yang ada di hadapannya.
"Semoga suka ya sama menu menunya. Dan jangan lupa next kunjungannya". Ucap Joddy yang tidak lupa mempromosikan cafenya.
"Ada member enggak? Kalau ada kita pasti sering kesini deh". Ucap Araya yang suka ceplas ceplos.
"Nah iya. Itu sih yang paling penting". Seru Metta.
"Sorry ya kak, teman teman aku emang yaaa gini deh modelannya". Ucap Zefa.
"Enggak apa apa. Kalian sering sering aja ngopi disini, saya pasti ingat kalian". Ucap Joddy.
"Ya sudah, enjoy your time! Nanti saya buatin makan penutup khusus buat kalian". Sambungnya.
"Wah! Thank you banget!". Seru Araya.
"Makasih banyak koh". Ucap Metta.
"Yeh ngaco lo Mett. Blasteran Indo Korea lo panggil kokoh". Jelas Zefa mengundang tawa teman temannya begitu pula dengan Joddy.
***
"Kriiiiinggg".
Alarm di kamar seorang bujang tampan itu kembali terdengar. Biasanya di akhir pekan seperti ini Choi Woo Shik akan menghabiskan waktunya di kamar dengan bermain game atau bermalas malasan.
Namun, ada yang berbeda kali ini dan alarm itu menjadi tanda. Ya, hari ini ia akan memulai pola hidup sehat dengan melakukan olahraga ringan seperti joging.
Sebenarnya sejak dulu saat masih di Korea ia sangat suka dengan olahraga dan selalu melakukannya di akhir pekan. Tetapi setelah pindah ke Indonesia ia menjadi malas dan hanya menikmati hidup santainya.
Dan mulai hari ini Choi Woo Shik akan memulai lagi kebiasaannya itu. Semangatnya untuk berolahraga ia dapatkan kembali berkat nasehat dari Zefa. Dan hari ini pun ia akan berolahraga bersama Zefa.
Pesan [Zefanya Chayra]
Choi Woo Shik
Zefa, setengah jam lagi saya jemput kamu.
Zefanya Chayra
__ADS_1
Kita ketemuan aja Sajangnim, kayaknya malah jauh deh kalau Sajangnim jemput saya dulu.
Choi Woo Shik
Enggak apa apa, saya siap siap dulu.
Zefanya Chayra
Baik Sajangnim.
Setelah jari jemarinya berbalas pesan dengan Zefa, ia bergegas mengambil handuk dan bersiap untuk menjemput Zefa.
Beberapa menit kemudian Choi Woo Shik telah siap dengan pakaian olahraganya dan berjalan ke lantai bawah untuk berpamitan dengan Appa dan Eomma.
"Kamu mau kemana?". Tanya Appa yang langsung menyadari outfit putranya.
Choi Woo Shik tersenyum.
"Aku mau olahraga, pola hidupku selama ini ternyata enggak sehat". Sahut Choi Woo Shik yang kemudian duduk di samping Eomma.
"Kamu serius mau olahraga? Pemalas seperti kamu mana mungkin bisa gerakin kaki buat lari". Celetuk Eomma meledeki putranya.
"Siapa yang memotivasi kamu?". Tanya Appa tiba tiba.
Choi Woo Shik terdiam dan celingukan serta salah tingkah dengan pertanyaan dari sang Appa.
"Benar juga ya, rasanya enggak mungkin kalau kamu tiba tiba mau olahraga. Pasti ada seseorang yang buat kamu seperti itu". Seru Eomma sambil tersenyum.
"Aniyo~ Aku memang tiba tiba aja mau olahraga, karena nih Eomma lihat sendiri, lemak semua Eomma". Sahut Choi Woo Shik membela diri sambil menunjukkan lengannya yang berototkan lemak.
"Itu sih cuma alasan kamu aja". Ucap Ayah terus meledeki putranya.
"Appa...". Choi Woo Shik merengek.
Melihat tingkah kekanak kanakan dari putranya, Appa dan Eomma sontak tertawa dan hampir tersedak sebab mereka sedang menyantap makan pagi.
"Na ganda~". Choi Woo Shik merajuk setelah di ledeki oleh orang tuanya.
Masih dengan wajahnya yang memerah karena salah tingkah, ia berjalan meninggalkan orang tuanya di ruang makan untuk segera menjemput Zefa.
Beberapa menit kemudian Choi Woo Shik akhirnya tiba di kediaman Zefa tepat pada pukul 06:00 pagi. Ia berjalan menghampiri seorang pria yang tengah berdiri tepat di pintu masuk rumah Zefa.
"Permisi. Apa ada Zefa?". Tanyanya kepada pria yang jauh lebih muda darinya.
"Mau ketemu kak Zefa?". Ucap pria tersebut.
"Iya". Choi Woo Shik menganggukkan kepalanya.
"Sebentar ya kak". Ucap pria tersebut yang kemudian berjalan kedalam rumah tersebut.
Beberapa saat kemudian...
"Sajangnim".
Pandangan mata Choi Woo Shik terpaku pada Zefa yang baru saja keluar dari rumahnya. Penampilan simple Zefa yang hanya mengenakan jaket crop berwarna abu abu dengan celana pendek dan mengalungkan handuk kecil di lehernya, membuat Choi Woo Shik benar benar tidak berkedip.
Pasalnya dengan penampilan sederhana itu bukan membuat Choi Woo Shik ilfeel, melainkan ia terpesona dengan pancaran cahaya kecantikan Zefa yang sangat natural.
"Sajangnim". Panggil Zefa sekali lagi hingga membuat Choi Woo Shik tersadar.
"Oh. Maaf. Udah siap?". Ucap Choi Woo Shik gugup.
"Sudah Sajangnim". Sahut Zefa sambil tersenyum.
Choi Woo Shik menganggukkan kepala sebagai isyarat untuk mengajak Zefa memasuki mobilnya.
Kurang lebih lima belas menit perjalanan dari rumah Zefa menuju alun alun kota yang setiap akhir pekan selalu ramai dan di penuhi oleh orang orang yang sengaja menyempatkan waktu untuk berolahraga santai.
"Enggak apa apa kan kalau kita joging disini, Sajangnim?". Tanya Zefa setelah mereka tiba di zona lari yang sangat asri.
"Enggak apa apa". Sahut Choi Woo Shik sambil tersenyum.
"Ya udah, ayo langsung aja sebelum mataharinya makin terik". Seru Zefa.
Choi Woo Shik dan Zefa melakukan pemanasan sebelum memulai putaran pertama mereka. Dan dengan semangat yang berapi api akhirnya mereka mulai berlari. Keduanya berlari sangat kencang seperti sedang berkompetisi.
"Zefa...". Seru Choi Woo Shik seraya berteriak memanggil Zefa yang sudah jauh di depannya.
"Zefa tunggu! Kita olahraga santai Zefa bukan kompetisi". Teriaknya sekali lagi.
Zefa menghentikan larinya dan menunggu Choi Woo Shik sambil tertawa.
"Arrgghh! kamu semangat banget sih. Kita bukan sedang kompetisi kan?". Ucap Choi Woo Shik dengan nafas yang terengah engah.
"Bukan saya yang terlalu semangat tapi Sajangnim yang lelet". Sahut Zefa meledeki bosnya.
"Lemak saya terlalu banyak jadi saya enggak kuat kalau lari terlalu cepat". Ucap Choi Woo Shik sambil menghapus keringat dengan handuknya.
"Semangat Sajangnim! Yang kalah traktir ice cream ya!". Ucap Zefa sambil tersenyum lalu berlari.
"Zefa!". Choi Woo Shik tertawa dan berusaha untuk berlari lagi.
"Woo Shik~a, fighting!". Ucapnya dan berlari dengan sangat cepat untuk bisa menyusul Zefa yang sudah jauh di depannya.
"Selain pintar, rupanya dia juga seorang wanita yang ceria. Semangatnya bisa buat gue semangat juga!".
Choi Woo Shik terus berlari dengan semangatnya yang membara. Sesekali ia pun tersenyum saat ia sedang terengah engah dengan langkahnya yang semakin cepat.
***
__ADS_1