
"Ada apa ya dengan Zefa. Akhir akhir ini kenapa dia selalu seperti itu? Apa ada masalah besar di keluarganya atau dia sedang ada problem dengan pacarnya?". Gumam Choi Woo Shik setelah sampai di ruangannya.
"Sshh...". Berpikir.
"Tapi waktu itu Zefa pernah bilang kalau dia enggak punya pacar. Berarti dia selalu sedih karena masalah keluarga?". Bertanya tanya dengan diri sendiri.
"Ah sudahlah... Gue enggak berhak tahu kalau pun itu masalah keluarganya". Sambungnya.
"Ok! Woo Shik~a, kajja!". Choi Woo Shik mengembalikan fokusnya dan segera bekerja.
Jari jemarinya mulai beradu dengan keyboard berwarna putih itu. Pandangan matanya tak teralihkan dan tertuju pada satu titik, layar monitor.
Choi Woo Shik adalah seorang pekerja keras yang apabila ia sedang bekerja, fokusnya takkan teralihkan oleh apapun sebelum hal yang ia kerjakan selesai. Termasuk dengan dering ponsel yang sedari tadi berbunyi dan sangat mengganggu konsentrasinya.
"Oh iya, apa Zefa sudah menyelesaikan berkas itu atau belum ya? Berkas ini harus segera rampung, karena sebentar lagi projectnya akan di mulai". Choi Woo Shik bergumam sementara jari jemarinya terus bekerja.
"Ok... Sebentar". Ucapnya lalu berdiri dan berjalan keluar ruang kerjanya.
Ceklek...
Setelah pintu terbuka ia bergegas menghampiri Zefa dengan senyum manisnya. Namun, langkahnya terhenti wajahnya menjadi tak bersemangat. Ia terdiam sambil memastikan suara yang ia dengar.
"Zefa nangis". Tanyanya dalam hati.
Ya, Choi Woo Shik menghentikan langkahnya sebab ia mendengar suara tangis dari meja kerja Zefa. Tentu saja itu adalah suara tangis Zefa yang memang sejak pagi tadi terlihat tidak bersemangat.
Ingin rasanya ia menghampiri Zefa dan menenangkannya, namun ia sadar tidak bisa berbuat sesukanya ketika sedang berada di kantor. Choi Woo Shik tetap harus menjaga profesionalitasnya.
"Enggak, enggak usah. Lebih baik gue biarin aja Zefa lampiaskan kesedihannya. Gue bisa tanya berkas itu nanti". Ucapnya dalam hati.
Choi Woo Shik berlalu meninggalkan Zefa yang masih dengan tangisnya. Kali ini ia memaklumi Zefa yang tengah dalam kesedihan meskipun ia tidak tahu alasan jelas kenapa Zefa selalu seperti itu belakangan ini.
Choi Woo Shik kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Fokusnya sedikit teralihkan sebab ia masih saja memikirkan Zefa.
"Come on Woo Shik!". Choi Woo Shik meneguk segelas air dan kembali fokus bekerja.
Selang beberapa jam kemudian, jam makan siang pun tiba. Ia segera beranjak dari meja kerjanya dan menghampiri Zefa.
"Zefa". Ucapnya saat tiba di meja kerja Zefa.
"Iya Sajangnim?". Sahut Zefa tersenyum.
"Ayo ikut saya". Ucap Choi Woo Shik kemudian berjalan keluar ruangan.
Tanpa membantah Zefa menuruti perintah Choi Woo Shik dan berjalan di belakangnya. Entah kemana Choi Woo Shik akan membawa Zefa. Semoga ia tidak memarahinya sebab Zefa kembali kehilangan fokusnya dalam bekerja.
Mobil berwarna hitam glossy itu melaju dan perlahan meninggalkan perusahaan. Lajunya santai dan tak secepat saat akan meeting diluar kantor. Kemana mereka akan pergi?.
Tidak lebih dari lima menit, mereka telah tiba di salah satu tempat yang selalu menjadi favoritnya. Yap, benar sekali. Choi Woo Shik membawa Zefa ke cafe milik Joddy.
Setibanya disana...
"Nanti malam jadi tenis kan?". Tanya Joddy saat Choi Woo Shik dan Zefa baru saja duduk.
"Jadi... Nanti gue jemput ya". Sahut Choi Woo Shik sambil memberikan kartu atmnya.
"Kayak biasa?". Tanya Joddy.
"Hm". Choi Woo Shik mengangguk.
"Ok, wait!". Seru Joddy yang kemudian berlari untuk segera membuatkan pesanan pelanggan tetapnya.
Setelah Joddy pergi...
"Oh iya, berkas yang saya minta sudah selesai?". Tanya Choi Woo Shik.
"Sudah Sajangnim. Maaf, berkasnya baru aja selesai". Sahut Zefa tersenyum.
"Enggak masalah". Choi Woo Shik pun tersenyum.
"Hmm, by the way... Akhir akhir ini saya lihat kamu sering kali menangis. Seperti tadi". Tanya Choi Woo Shik berhati hati.
Zefa terkejut lalu terdiam.
__ADS_1
"Ehh, maaf Zefa saya enggak bermaksud untuk mencampuri masalah pribadi kamu. Tapi, saya cuma merasa enggak nyaman kalau harus selalu lihat kamu seperti itu". Ucap Choi Woo Shik semakin membuat Zefa mematung.
"Enggak nyaman dalam arti saya takut kamu seperti itu karena saya. Entah apa permasalahannya tapi jika hal itu ada hubungannya dengan saya, jelas saya pasti akan merasa lalai terhadap kewajiban saya yang harusnya membuat kamu nyaman bekerja dengan saya". Jelasnya.
"Jadi saya minta jika itu karena saya atau karena pekerjaan, jangan sungkan untuk bicarakan hal itu ke saya". Sambungnya.
"Sebelumnya saya minta maaf. Maaf kalau memang sikap saya akhir akhir ini sering terlihat aneh. Tapi, saya enggak apa apa kok". Ucap Zefa.
"Sajangnim enggak perlu ngerasa bersalah karena memang hal ini enggak ada hubungannya dengan Sajangnim". Sambungnya tersenyum.
Choi Woo Shik terdiam sambil menatap dalam mata Zefa.
"Jangan ragu untuk cerita sama saya. Saya bisa jadi atasan sekaligus teman buat kamu". Ucapnya.
Zefa kembali terdiam, kali ini lebih lama dari sebelumnya.
Setelah beberapa saat. Zefa menatap Choi Woo Shik dengan matanya yang berbinar. Zefa terlihat seperti menahan tangis.
"Saya boleh tahu, apa alasan Sajangnim secara pribadi merekrut saya sebagai sekertaris pribadi Sajangnim?". Tanya Zefa.
Choi Woo Shik terdiam, ia tidak menduga pertanyaan itu akan di lontarkan oleh Zefa. Meskipun sebenarnya ia tahu bahwa suatu saat pertanyaan itu pasti ada.
Sejauh ini tidak banyak yang tahu tentang alasannya merekrut Zefa secara pribadi. Joddy, hanya Joddy yang tahu alasan pastinya.
"Itu sudah jelas karena kamu berbakat di perusahaan cabang. Bukan hanya saya, tapi juga para atasan disana sangat yakin dengan kemampuan kamu". Sahut Choi Woo Shik mengelak dan semoga saja Zefa percaya.
"Benar kan? Sajangnim bukan merekrut saya karena saya bertingkah centik terhadap Sajangnim kan?". Ucap Zefa.
"Kita belum pernah ketemu kan sebelumnya? Bahkan pertama kali ketemu itu ya di hari pertama saya kerja sebagai sekertaris. Iya kan Sajangnim?". Sambungnya dengan tangis yang hampir pecah.
"Apa saya pernah menggoda Sajangnim dan minta untuk dijadikan sekertaris pribadi?". Air matanya tak tertahankan lagi.
"Saya sendiri enggak percaya kalau Sajangnim merekrut saya padahal Sajangnim tahu kalau saya enggak ada basic di bidang ini!". Sambungnya.
"Jadi apa salah saya? Saya sudah berusaha sejauh ini, Sajangnim. Salah saya apa?". Ucap Zefa sambil menangis tersedu sedu.
Zefa mengusap air matanya.
Choi Woo Shik bingung, ia sangat kebingungan dengan apa yang di ucapkan oleh Zefa. Ia pun tidak tahu harus menjawab apa.
"Apa yang di maksud Zefa? Gue enggak ngerti. Sama sekali enggak ngerti, tapi kenapa gue ngerasa sakit banget ngeliat Zefa nangis di depan mata gue? Seakan emang gue yang jadi masalah buat dia". Gumamnya dalam hati.
Choi Woo Shik menggaruk alisnya dan terlihat sangat kebingungan. Sedangkan Zefa masih berusaha untuk menghentikan tangisnya, namun semakin ia berbicara tangisnya semakin menjadi.
"Jujur saya enggak ngerti dengan apa yang kamu maksud. Tapi... Saya minta maaf kalau memang hal itu yang menjadi sebab kamu selalu seperti ini. Dan...". Choi Woi Shik menghela nafas.
"Kamu enggak salah, sama sekali engga salah. Jadi, please... Jangan nangis lagi ya, kesannya seperti saya yang memang buat kamu seperti ini". Sambungnya.
"Melihat kamu seperti ini, saya enggak bisa Zefa. Saya lemah". Choi Woo Shik terlihat berbicara dengan sangat tulus.
Zefa tercengang dengan perkataan bosnya, ia terdiam sambil mengusap air matanya. Tangisnya mulai mereda meskipun senyumnya masih bersembunyi.
Jam makan siang yang hampir usai membawa Choi Woo Shik dan Zefa kembali ke kantor. Mereka telah selesai dan mengakhiri makan siang kali ini dengan suasana yang sendu. Mereka berdua tampak tak semangat dan memikirkan satu hal yang sama. Namun hal tersebut tidak boleh sampai menghancurkan mood keduanya sehingga mengganggu pekerjaan mereka.
Setibanya di kantor mereka mulai kembali fokus untuk mengerjakan tugasnya. Choi Woo Shik menyandarkan tubuhnya di kursi, wajahnya terlihat seperti menahan tangis dan hatinya pun masih terasa sakit.
"Gue benar benar enggak ngerti sama yang dimaksud Zefa. Tiba tiba dia nangis terus bahas soal perekrutan dia. Bingung lah gue".
"Enggak mungkin juga gue jawab jujur. Waktunya belum tepat dan gue juga belum siap".
"Tapi... Kenapa tiba tiba dia bahas soal itu ya? Ada apa sih sebenarnya sampai dia nangis seperti itu".
"Kenapa juga gue sampai sakit hati lihat dia nangis".
"Arrghh...".
Choi Woo Shik terus bergumam dengan dirinya sendiri. Bukannya mulai bekerja ia justru merenungi kata demi kata yang di ucapkan Zefa saat di cafe. Perkataan itu bersarang di pikirannya sehingga ia kehilangan fokusnya.
"Udah deh... Gue ke rooftop aja kali ya. Biar pikiran gue lebih fresh". Ucapnya.
Choi Woo Shik melangkah keluar ruangannya. Tak lupa ia pun berpamitan dengan Zefa yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Ia sedikit lega melihat Zefa jauh lebih baik sekarang. Namun, ia sudah terlanjur kehilangan fokus dan berniat untuk menenangkan pikirannya.
"Gue heran ya si Zefa makin hari makin enggak tahu diri. Udah sering banget kan kita sindir dia tapi kayaknya enggak ngaruh deh".
__ADS_1
"Hm, dari yang gue lihat dia malah makin sengaja nunjukin kecentilannya di depan Sajangnim. Jurus capernya makin diperkuat, makanya tuh tadi juga masih pergi berdua kan sama Sajangnim?".
"Logika aja ya, mana mau sih seorang CEO olahraga bareng sama bawahannya di alun alun kota? Coba kalian pikir deh, Sajangnim juga enggak akan mau kali kalau Zefa enggak ngerayu dan maksa".
"Benar banget. Dia bakal ngelakuin segala cara biar niat busuknya tuh tercapai".
"Yap, biar dia bisa dengan cepat menguasai harta Sajangnim".
"Eh tapi emangnya orang tua Sajangnim mau ya punya menantu enggak berkelas kayak dia?".
"Ya jelas enggak mau lah, Zefa mah sekelas pembantunya kali".
Langkah kakinya yang semula sangat cepat kini terhenti tepat di salah satu ruangan yang saat itu pintunya terbuka lebar. Terlihat pula beberapa orang staff yang sedang berkumpul dan dengan suaranya yang lantang membuat Choi Woo Shik berdiri dan menyimak pembicaraan mereka dari luar ruangan.
Saat mendengar hal itu hatinya semakin sakit. Ia mengepalkan tangannya sebagai bentuk pelampiasan atas kekesalannya. Melihat para staffnya bergunjing dan merendahkan Zefa tentu saja ia takkan diam.
"Pak Hans, tolong ke ruangan saya sekarang juga".
Choi Woo Shik dengan sengaja menelpon Pak Hans, kepala HRD dengan suara yang lantang dan menghadap ke arah para staff yang sedang bergunjing tersebut.
Beberapa staff tersebut tentunya sangat terkejut dan mulai memasang wajah panik, mereka begitu ketakutan. Ditambah Choi Woo Shik memandang mereka dengan tatapan mata yang sangat tajam.
"Kalian berempat segera ke ruangan saya". Ucap Choi Woo Shik kepada para staff tersebut.
Setibanya di ruang kerja, Choi Woo Shik kini sudah bersama dengan Zefa, Pak Hans dan juga para netizen alay.
Choi Woo Shik tampak terlihat murka dengan ulah keempat staffnya. Ia sangat tidak terima mengetahui Zefa di perlakukan begitu rendah.
"Pak Hans, saya tidak akan memberitahu apa yang menjadi inti masalah disini. Tapi saya minta Pak Hans untuk menyimaknya agar mereka tidak menyebut saya berbohong dan mengada ada". Ucap Choi Woo Shik.
Choi Woo Shik dan semua orang yang ada di ruang kerjanya sudah berada di sofa tamu untuk segera melakukan penyelidikan tentang apa yang baru saja ia dengar.
"Kalian berempat... Sejak kapan kalian merundung Zefa?". Ucap Choi Woo Shik membuat Pak Hans dan Zefa sangat terkejut.
Zefa membelalakkan matanya, ia benar benar terkejut dengan apa yang baru saja bosnya katakan. Pasalnya Zefa sama sekali tidak tahu bahwa pertemuan ini akan membahas permasalahannya dengan para netizen tersebut.
Sedangkan keempat staff tersebut hanya terdiam dan terus menundukkan kepala. Bahkan salah satu dari mereka hanya bisa menangis.
"Apa saya salah merekrut pegawai berbakat untuk menjadi sekertaris saya?". Tanya Choi Woo Shik.
"Sebelum saya merekrut Zefa, saya sudah lebih dulu berdiskusi dengan Pak Hans selama beberapa minggu sebelum akhirnya saya memantapkan keputusan saya". Sambungnya.
"Di perusahaan seperti ini kalian boleh saja bersaing untuk menjadi yang lebih baik dari teman kalian untuk mendapatkan apresiasi dari perusahaan, silahkan. Dengan senang hati saya menyambut kalian jika memang kinerja kalian bagus". Choi Woo Shik mulai geram.
"Saya tahu catatan kalian selama bekerja disini, banyak juga laporan yang masuk ke saya tentang bagaimana sikap kalian ketika di kantor".
"Saya tidak pusingkan itu, karena saya pikir kalian hanya bercanda dan tidak mungkin ada bullying di perusahaan ini".
"Tapi bukannya kalian introspeksi diri sekarang sikap kalian justru menjadi lebih parah. Kalian makin menjadi, makin seenaknya merundung orang lain, menjatuhkan nama baik orang lain, memfitnahnya dan yang lebih parahnya lagi semua hal yang kalian katakan tentang Zefa itu salah!". Ucap Choi Woo Shik dengan nada yang sedikit tinggi.
"Saya bukan membela Zefa, tapi saya lebih tahu seperti apa dia dan bagaimana dia bekerja!". Sambungnya.
"Orang yang kalian gunjingkan ini jauh lebih baik dari pada kalian. Di perusahaan cabang, dia sudah menjadi kepala departemen, dan kinerjanya terus meningkan sehingga sekarang bisa menjadi sekertaris pribadi saya". Ucapnya.
"Sedangkan kalian, hanya merendahkan tanpa berkaca siapa kalian? Bagaimana prestasi dan kinerja kalian selama bekerja di perusahaan ini?". Sambungnya.
"Oh iya... Satu hal yang sama mau tanya sama kalian. Apa jangan jangan kalian juga pernah bermain fisik kepada Zefa?". Tanya Choi Woo Shik.
"Enggak Sajangnim. Mereka sama sekali enggak pernah bermain fisik". Ucap Zefa.
"Kamu diam. Saya mau dengar jawaban dari mereka". Ucap Choi Woo Shik.
Suasana yang mencekam di ruangan itu membuat mereka benar benar mematung, diam dan tak bisa berkata apapun. Satu persatu dari mereka pun mulai meteskan air matanya. Jelas, siapa juga yang tidak akan menangis jika berada pada kondisi tersebut.
"Kenapa diam aja? Jawab! Tadi saya lihat kamu banyak sekali bicara, kenapa sekarang malah menangis?". Choi Woo Shik semakin geram.
"Bobot bicara kalian tidak sesuai dengan kemampuan dan kinerja kalian!". Sambungnya.
"Pak Hans silahkan nilai sendiri. Hari ini saya berbaik hati sama kalian, saya bisa memaafkan kalian dengan catatan kalau saya tahu kalian masih melakukan hal yang sama, silahkan tinggalkan perusahaan in. Anggap saja ini peringatan terakhir dari saya". Ucap Choi Woo Shik yang kemudian beranjak dari tempat duduknya dan keluar ruangan tersebut.
Keheningan masih terasa di ruangan tersebut. Pak Hans menghela nafas dan menggelengkan kepala sebagai tanda kecewanya kepada empat staffnya tersebut. Raut wajahnya terlihat sangat marah lalu meminta mereka untuk ikut ke ruangannya.
Zefa, ia pun kembali ke meja kerjanya dengan perasaan yang masih sangat tidak menyangka bahwa permasalahan ini menjadi semakin rumit.
__ADS_1
***