
Suasana restauran siang itu semakin ramai di penuhi oleh staff dari beberapa perusahaan yang berdekatan dengan Star's Holding.
Siang itu suasana hati Zefa yang dapat di tebak oleh teman temannya menjadi fokus pembicaraan mereka sambil menikmati makan siang kali ini.
"Zef ayo Zef! Buruan cerita". Seru Imelda.
Zefa tersenyum.
"Jadi sebenarnya gue tuh sekarang lagi jadi santapannya si para netizen itu. Udah beberapa hari ini mereka selalu ganggu gue, gue sendiri enggak ngerti salah gue apa. Hampir setiap kali ngeliat gue mereka tuh selalu kata katain gue, dan... Ya, itu jadi sebab hilangnya fokus gue sampai akhirnya gue kena marah Sajangnim". Jelas Zefa dengan santai dan sambil tersenyum.
"Hah? Lo serius?". Seru Metta seraya berteriak.
"Mett Mett... Santai Mett, malu lah di lihatin cowok cowok kantor sebelah". Ucap Araya berbisik sambil memegangi tangan Metta yang saat itu sangat terkejut dengan pernyataan Zefa.
"Ok sorry! But... Lo serius Zef?". Tanya Metta dengan nada yang lebih rendah.
"Lo di bully tapi lo diam aja gimana sih Zef! Kan udah di bilang kalau ada apa apa cerita, apalagi masalahnya tuh sama si netizen alay!". Ucap Nayra terlihat sangat kesal.
"Lo di apain sama mereka? Mereka bilang apa ke lo?". Tanya Imelda.
"Iya Zef lo tuh ih! Udah berapa lama?". Tanya Araya.
Zefa kembali tersenyum menanggapi ke khawatiran teman temannya. Ia terlihat sangat santai meskipun hatinya masih terluka sebab perkataan menyakitkan dari koleganya yang kurang asupan nutrisi.
"Enggak usah senyum senyum, buruan cerita lo di apain sama mereka?". Ucap Nayra yang semakin emosi.
"Ok sabar girls! Jadi...". Zefa menarik nafas panjang sesaat sebelum menjelaskan kronologi kasus pembullyan dirinya.
"Jadi, beberapa hari yang lalu mereka dengan sengaja ngomongin gue pas gue mau balik ke ruangan. Jelas banget gue dengar mereka bilang kalau gue itu sekertaris jalur caper lah, sekertaris leeat calo lah dan banyak deh yang di bilang sama mereka". Jelas Zefa dengan nada yang tidak bersemangat.
"Dan yang paling menyakitkan buat gue itu ya... Gue di bilang sekertaris jalur caper. Jujur kata kata yang mereka tuju ke gue tuh langsung masuk ke otak jadi kepikiran terus sama gue". Sambungnya.
"Sampai akhirnya gue kehilangan fokus dan kepercayaan diri gue sama pekerjaan yang sekarang. Jadi meeting tadi pagi gue kena marah Sajangnim karena ya gue enggak teliti enggak fokus". Lanjut Zefa menjelaskan dengan detail permasalahannya.
"Sampai sekarang mereka masih ganggu lo?". Tanya Metta.
"Tadi sebelum gue ketemu sama Metta, itu gue baru aja dari rooftop. Disana ada geng netizen alay itu, dia nyerang gue lagi. Dan gue ketawain aja, gue bilang sesuatu yang singkat tapi bikin mereka kesal. Sedikit puas sih setelah gue coba buat lawan mereka". Sahut Zefa.
"Hah emang ya! Tuh netizen alay sekali kali mulutnya harus di rujak!". Seru Araya tampak kesal.
"Boleh enggak sih gue laporin mereka ke pihak kantor? Muak banget gue sama kelakuan mereka, siapa aja di jadiin umpan". Ujar Imelda.
"Yang penting buat mereka ya mulutnya enggak diam aja. Harus ada yang di bahas, harus ada yang di gosipin". Ucap Nayra.
"Lo enggak usah takut Zef. Lo enggak sendiri, kita pasti bantuin lo. Lihat aja nanti biar gue yang kasih mereka pelajaran". Seru Metta dengan wajah yang memerah karena menahan amarah.
"Enggak usah Mett, gue bisa hadapi sendiri kok. Nyinyir tinggal gue balas nyinyir lagi". Sahut Zefa dengan percaya diri.
"Ya enggak gitu lah Zef. Mereka aja satu geng masa lo sendirian". Ujar Araya.
__ADS_1
"Udah, pokoknya nanti kalau dia nyerang lo lagi. Kita serang balik". Ucap Metta dengan semangatnya yang membara.
"Kalau kita ngelakuin hal yang sama, berarti apa dong bedanya kita sama mereka". Ucap Zefa.
"Untuk masalah ini enggak apa apa deh Zef. Soalnya mereka tuh enggak akan pernah diam kalau kitanya cuek". Ucap Araya.
"Iya betul. Kita diam tuh malah bikin mereka jadi lebih leluasa". Seru Nayra.
"Udah Zef, lo tenang aja. Serahin masalah ini sama kita". Ucap Metta semakin panas.
"Yaudah deh terserah kalian. Thank you teman teman". Ucap Zefa sambil tersenyum.
Makan siang kali ini di hiasi dengan suasana yang mencekam, tercipta dari amarah para teman teman Zefa yang sangat emosi dengan kejadian yang menimpanya.
Akhir dari makan siang kali ini adalah dendam yang membara di hati para teman teman Zefa. Meskipun Zefa tidak menginginkan teman temannya ikut larut dalam permasalahannya namun solidaritas mereka tidak bisa di patahkan dengan alasan apapun. Teman temannya kukuh dengan kesepakatan mereka.
***
Choi Woo Shik sedang berada di cafe milik sahabatnya, Joddy. Hari ini ia tidak makan siang melainkan hanya meminum kopi di cafe favoritnya itu. Selain untuk mengisi waktu luang, ia juga ingin melepas penat dan menghilangkan kekesalannya dengan Zefa. Mengingat hari ini Zefa telah melakukan kesalahan yang hampir merugikannya.
Sesaat setelah Choi Woo Shik duduk, datanglah Joddy dengan membawa pesanannya.
"Kenapa lo?". Tanya Joddy menyadarkan Choi Woo Shik yang sedang fokus dengan ponselnya.
"Hm?". Choi Woo Shik mendongakkan kepalanya.
"Lo kenapa?". Tanya Joddy lagi.
"Sekertaris lo?". Tanya Joddy.
"Hm". Choi Woo Shik menganggukkan kepala perlahan.
"Lo suka sama dia?". Joddy mencecar Choi Woo Shik dengan berbagai pertanyaan.
"Kan lo tahu gue emang suka sama dia sudah lama". Sahut Choi Woo Shik.
"Iya maksudnya lo masih suka sama dia sampai sekarang?". Jelas Joddy.
"Hm". Choi Woo Shik kembali mengangguk.
"Terus sekarang kenapa? Kenapa lo sampai kesal sama dia?". Tanya Joddy lagi.
"Ada satu kesalahan yang hampir aja buat gue kehilangan klien". Sahut Choi Woo Shik.
Joddy terdiam sesaat...
"Lo kesal lo kecewa dan lo marah itu sebagai Choi Sajang kan? Bukan sebagai Choi Woo Shik?". Seru Joddy.
Choi Woo Shik pun terdiam, memikirkan apa yang baru saja joddy katakan.
__ADS_1
"Lo berhak marah sebagai bosnya, tapi lo juga boleh khawatir sebagai Choi Woo Shik". Ucap Joddy.
"Lo bingung kan lo harus bersikap kayak gimana?". Tanya Joddy lalu menyeruput kopinya.
Choi Woo Shik menengok ke arah Joddy dengan wajah penuh harap, berharap mendapat masukan yang tepat dari sahabatnya itu.
"Berarti tadi lo sempat marahin Zefa kan?". Tanya Joddy.
"Iya". Sahut Choi Woo Shik singkat.
"Sekarang lo hibur dia sebagai Choi Woo Shik. Gimana pun caranya, itu terserah lo. Yang penting lo harus minta maaf sama dia". Jelas Joddy kepada sahabatnya.
Choi Woo Shik kembali terdiam memikirkan perkataan Joddy.
"Udah kepikiran mau gimana?". Tanya Joddy si penasihat cinta meskipun hatinya hampa.
"Ya udah, buatin gue americano sama choco lava. Gue mau ke kantor lagi". Ucap Choi Woo Shik mengakhiri pertemuan mereka.
Begitu menerima pesanan, Joddy bergegas membuatkannya.
Beberapa saat kemudian Choi Woo Shik telah tiba di kantor dan segera menuju ke ruangannya. Sesampainya disana...
"Zefa". Choi Woo Shik memanggil Zefa yang sedang berkutik dengan monitornya, nadanya sedikit gugup.
Zefa menengok sambil tersenyum namun dengan mata yang sembab, semakin membuat Choi Woo Shik merasa bersalah.
"Iya Sajangnim. Ada yang bisa saya bantu?". Ucap Zefa dengan wajahnya yang tetap bersinar meskipun matanya terlihat berbinar.
"Ini kopi buat kamu". Choi Woo Shik tanpa basa basi memberikan kopi yang ia bawa dari cafe.
"Bu... Buat saya Sajang... Nim?". Zefa terlihat gugup setelah Choi Woo Shik memberikan kopi dengan senyumannya yang mampu menggetarkan hati.
"Iya buat kamu". Ucap Choi Woo Shik.
"Soal tadi pagi... Maafin saya ya, maaf sudah buat kamu sedih". Sambungnya.
"Eehh... Enggak apa apa Sajangnim. Itu kan memang kesalahan saya. Jadi wajar kok kalau Sajangnim marah". Ucap Zefa.
"Lagi pula yang harusnya minta maaf kan saya. Karena kelalaian saya Sajangnim hampir aja kehilangan klien". Sambungnya.
"Iya kamu memang salah dan saya minta jangan kamu ulangi. Kamu harus selalu fokus". Ucap Choi Woo Shik sambil tersenyum.
"Tapi saya tetap harus minta maaf karena sudah buat kamu sedih. Maafin saya". Sambungnya.
"Sajangnim...". Ucap Zefa.
"Iya?". Choi Woo Shik terdiam dengan wajahnya yang serius.
"Saya... Eeh, terimakasih karena Sajangnim sudah sangat baik sama saya. Saya janji enggak akan mengulangi kesalahan yang sama". Ucap Zefa.
__ADS_1
Choi Woo Shik menghela nafas panjang sambil tersenyum dan menatap dalam mata Zefa.
***