
Pagi hari setelah malam yang spesial pun tiba, Zefa mulai bersiap untuk memulai aktivitasnya. Meja kerja yang kini sudah tertata rapih dan wangi siap menemaninya hari ini.
Hari ini adalah hari pertama Zefa bekerja sebagai sekertaris juga sebagai kekasih dari bosnya. Selain statusnya yang berubah, resikonya dalam bekerja pun bertambah berat. Yang hanya perlu ia lakukan untuk saat ini adalah bersikap fleksibel agar setiap gerakannya tak mudah terbaca oleh orang lain. Bukan hanya untuk melindungi dirinya sendiri tetapi juga untuk menjaga nama baik kekasihnya.
"Gue pernah ada di posisi yang sama, menjalin hubungan dengan atasan gue sendiri. Tapi kali ini beda, jabatannya jauh lebih tinggi dan resikonya pun pasti enggak main-main". Ucapnya sambil membereskan berkas-berkas yang menumpuk di meja kerjanya.
"Ya... Mungkin orang akan menilai gue materialistis atau apa lah, gue yakin seratus persen sih. But, sekali lagi itu semua udah resiko yang mau enggak mau harus gue terima". Sambungnya sambil tersenyum.
"Selamat pagi".
Tiba-tiba saja Choi Woo Shik Sajangnim datang dan mengejutkan Zefa yang tengah memberikan afirmasi untuk dirinya sendiri.
"Astaga". Ucapnya sambil mengelus dada.
"Apa yang sedari tadi kamu ucapkan? Seperti afirmasi untuk diri sendiri atau mereka ganggu kamu lagi?". Tanya Choi Sajang.
"Ehh, enggak ada hubungannya sama mereka kok Sajangnim". Sahut Zefa tersenyum.
"Sajangnim? Bukankah kita...?". Seru Choi Sajang.
"Saya paham, tapi ini lingkungan kerja. Kita enggak bisa sembarang berkata dan bersikap, apa lagi cctv disini bisa saja merekam percakapan kita". Jelas Zefa.
"Beberapa cctv memang berfitur merekam suara juga, tapi tidak untuk ruangan ini". Ucap Choi Sajang.
"Jadi aku bebas mau panggil kamu Zefa atau pun chagiya, enggak masalah". Sambungnya.
"Isshh!". Zefa terlihat kesal dengan Choi Sajang yang tidak berhati-hati.
"Arasseo!". Ucap Choi Sajang tersenyum.
"Siang ini saya ada makan siang dengan keluarga. Jadi tolong siapkan berkas-berkas yang harus saya pelajari". Sambungnya kembali ke mode CEO.
"Baik Sajangnim". Sahut Zefa yang kemudian bergegas mempersiapkan berkas seperti yang diminta Choi Sajang.
Choi Sajang pun berlalu meninggalkan Zefa sendiri di meja kerjanya. Sedangkan Zefa mulai sibuk dengan setumpuk berkas yang tergeletak dihadapannya.
"Yang kayak gini nih yang bikin gue jantungan! Mentang-mentang cctv nya enggak bisa rekam suara dia malah seenaknya, santai banget!". Gumam Zefa.
"Dia yang santai, gue yang panas dingin. Astaga!". Ucapnya masih daja menggerutu.
Setelah beberapa saat ia pun mengantar berkas-berkas tersebut ke ruang kerja kekasihnya dan kembali untuk melanjutkan pekerjaannya.
Selang beberapa jam kemudian, waktu pulang telah tiba. Zefa yang sedari tadi bekerja seorang diri akhirnya bisa pulang lebih awal tanpa harus menunggu Choi Woo Shik Sajangnim terlebih dahulu.
Zefa bergegas menemui Nayra yang mungkin sudah menunggunya di basemen seperti biasa. Sesampainya disana...
"Lo mau temanin gue ke cafe enggak?". Tanya Nayra.
"Lo mau ke cafe?". Ucap Zefa.
"Iya. Lo ikut ya, canggung banget pasti kalau gue cuma berdua sama Joddy". Sahut Nayra sambil mengemudikan mobilnya.
Setelah beberapa saat tidak mendapat jawaban dari Zefa, Nayra pun menengok ke arah sahabatnya yang ternyata tengah sibuk dengan ponselnya.
__ADS_1
"Zefa!". Ucap Nayra seraya berteriak dan sontak membuat Zefa terkejut.
"Hah? Apa sih teriak-teriak segala!". Ucap Zefa yang juga berteriak.
"Gue lagi ngomong sama lo, lo malah sibuk sama handphone!". Ucap Nayra kesal.
"Oh, sorry". Sahut Zefa tersenyum malu.
"Chattingan sama siapa si lo? Akhir-akhir ini tuh lo kayak lagi di mabuk cinta tau enggak! Di ajak ngobrol jadi enggak nyambung, enggak searah! Nyebelin lo". Cerocos Nayra membuat Zefa tertawa.
"Gue lagi scroll sosmed,Nay!". Ucap Zefa mengelak.
"Kelihatan kali Zefaaa, tuh dari samping layar lo cerah banget gitu". Jelas Nayra kembali membuat Zefa tertawa.
"Waktunya belum tepat, nanti aja ya". Ucap Zefa tersenyum.
"Huh! Jadi gimana lo mau ikut gue ke cafe atau enggak?". Tanya Nayra bad mood.
"Enggak!". Sahut Zefa meledeki Nayra.
"Ya udah!". Ucap Nayra singkat semakin membuat Zefa puas mentertawakannya.
📍Green Resto
Hari senin pukul 07:00, Zefa telah sampai di Green Resto atau restauran favorit Choi Woo Shik Sajangnim. Masih mode bos dan sekertarisnya, Zefa datang sendiri ke tempat tersebut atas perintah dari kekasihnya.
Saat ini mereka masih belum bisa menjalani aktivitas layaknya pasangan lain yang selalu berdua tanpa takut orang lain akan mengetahuinya. Situasi di awal hubungan mereka masih sangat rentan, sebab itulah mereka lebih memilih jalur yang aman.
"Hari ini kamu absen makan di rumah? Tadi siang makan di resto sama keluaraga, sekarang sama aku?". Ucap Zefa yang sudsh duduk berhadapan dengan Choi Woo Shik Sajangnim.
"Aku sudah terbiasa". Sahut Choi Sajang.
"Oh iya, kenapa kamu enggak mau aku jemput?". Tanyanya.
"Aku belum siap buat kasih tahu keluarga, masih butuh waktu sedikit lagi sampai aku berani buat jawab segala pertanyaan yang datang bertubi-tubi". Sahut Zefa memanyunkan bibirnya.
"Hm". Choi Sajang mengangguk.
"Maaf". Ucap Zefa.
"Gwaenchanha, aku juga masih cari waktu yang tepat buat kenalin kamu ke keluargaku". Sahut Choi Sajang tersenyum.
"Jadi, enggak apa-apa kan kalah sementara kita backstreet gini?". Tanya Zefa.
"Gwaenchanha chagiya, kita ada di posisi yang sama". Sahut Choi Sajang.
Di sela-sela obrolan mereka datanglah makanan yang sudah terlebih dahulu di pesan oleh Choi Woo Shik Sajangnim.
"Terimakasih". Ucap Zefa dan Choi Sajang kepada pramusaji.
Setelah pramusaji tersebut meninggalkan private room...
"Apa kontakku masih dengan nama yang sama?". Tanya Choi Sajang.
__ADS_1
"Enggak. Mau lihat?". Sahut Zefa.
"Boleh". Ucap Choi Sajang mengambil ponsel yang di berikan Zefa.
Choi Woo Shik Sajangnim seperti menahan tawa setelah melihat nama kontaknya di ponsel Zefa.
"Apa itu Mas Choy?". Tanya Choi Sajang.
Tidak hanya Choi Woo Shik Sajangnim tetapi Zefa pun tertawa setelah nama itu terucap langsung dari bibir kekasihnya.
"Mas itu kurang lebih sama lah ya artinya sama Oppa, dan Choy itu sebenarnya Choi, tapi sekilas tuh dibacanya kaya coy gitu kan. Ya udah deh". Ucap Zefa menjelaskan asal muasal dari nama untuk kontak kekasihnya.
"Jadi, Mas Choy gitu?". Choi Sajang tertawa.
"Maaf". Ucap Zefa sambil tertawa.
"Coba aku lihat nama aku di handphone kamu apa?". Ucap Zefa.
Choi Woo Shik Sajangnim memberikan ponselnya dan seketika membuat Zefa tersenyum salah tingkah.
"Aku jauh lebih romantis dari pada kamu kan?". Ucap Choi Sajang cemberut.
"Chagiya pakai emoticon love. Gomawo~". Ucap Zefa sambil tertunduk malu.
Melihat Zefa yang sedang salah tingkah, Choi Woo Shik Sajangnim hanya bisa tertawa.
"Itu terlalu menggemaskan". Ucap Choi Sajang semakin membuat wajah Zefa memerah.
"Udah yuk, makan dulu nanti enggak enak kalau dingin". Ucap Zefa mengalihkan pembicaraan.
Akhirnya mereka mulai menyantap makanan yang telah tersaji sambil sesekali membahas hal-hal ringan untuk dinner pertama mereka setelah resmi menjalin hubungan.
"Kenapa enggak weekend aja dinnernya? Kalau hari-hari kerja gini kan kamu pasti capek". Ucap Zefa.
"Anggap saja ini ganti dari dinner yang waktu itu hampir rusak karena kamu tunda jawabannya". Sahut Choi Sajang.
"Kamu anggap dinner itu rusak?". Tanya Zefa tertawa.
"Ya jelas rusak, rencana aku enggak berjalan sesuai dengan keinginanku". Sahut Choi Sajang setelah menyeruput minumannya.
"Jadi ini dinner sebagai ganti hari itu, bukan dinner karena kita....?". Ucap Zefa.
"Ya, untuk itu juga. Untuk merayakan moment spesial kemarin". Sahut Choi Sajang.
"Tapi maaf malam ini enggak secantik hari itu. Tapi aku janji, next pasti akan ada dinner yang lebih cantik lagi". Sambungnya membuat Zefa tersenyum.
"Enggak perlu terlalu mewah, kamu bawa aku ke cafe aja aku udah senang. Lagi pula aku ngerasa enggak pantas makan di tempat semewah ini". Ucap Zefa.
"Biarkan aku meratukan kamu dalam segala hal. Kamu pantas mendapatkan itu". Jelas Choi Sajang membuat Zefa terdiam.
Mendengar sang kekasih menyanjungnya, Zefa hanya terdiam. Ia merasa sangat beruntung memiliki kekasih yang sangat baik hatinya. Meskipun terkesan terlalu dini untuk menilai seseorang yang baru saja dimilikinya, tetapi hal itu sangat berarti bagi Zefa.
Next chapter >>>
__ADS_1