
📍Sydney, Australia
Choi Woo Shik tengah berada pada situasi yang mendebarkan, pasalnya setelah makan malam kedua staffnya secara bersamaan meninggalkan tempat tersebut untuk ke kamar kecil terlebih dahulu.
Di meja itu tinggallah ia dan Zefa yang duduk bersebrangan. Kecanggungan dan keheningan begitu melekat di tempat tersebut. Mungkin hal ini terjadi karena dua minggu yang lalu terjadi sedikit kesalahpahaman setelah ia dan Zefa makan malam berdua untuk pertama kalinya. Entahlah...
Namun dengan maksud untuk menjauhkan Zefa dari kesalahpahaman, Choi Woo Shik berniat untuk menjelaskan detailnya agar tidak terjadi kecanggungan seperti saat ini.
"Sebenarnya apa maksud Sajangnim dari berkata tidak perlu khawatir, lalu berubah jadi enggak akan melewati batas?". Tanya Zefa.
"Se simple itu Sajangnim mempermainkan saya?". Sambungnya lalu tertunduk.
Choi Woo Shik Sajangnim memperhatikan Zefa dengan tatapan tajamnya. Sedangkan Zefa mengalihkan pandangan sambil menggigit bibirnya.
Entah kenapa begitu sakit terasa di dada. Choi Woo Shik merasakan hatinya seperti menangis mendengar pertanyaan tersebut. Ia benar benar merasa sangat bersalah kepada Zefa. Jinjja!.
"Mianhae~ saya sungguh enggak bermaksud seperti itu. Masalahnya...". Sahut Choi Woo Shik dengan suara yang gemetar.
"Apa masalahnya? Apa karena hal itu belum pernah Sajangnim lakukan? Seperti yang Sajangnim bilang akan melakukan hal yang belum pernah di lakukan sama saya?". Ucap Zefa kesal.
"Enggak Zefa. Sungguh, bukan itu maksud saya. Saya benar benar minta maaf kalau ternyata kamu sampai seperti ini mengartikan perbuatan saya tempo hari". Ucap Choi Woo Shik.
"Saya terpaksa bilang untuk tidak melewati batas karena kamu sempat bertanya, bagaimana kalau memang ada hati yang sedang kamu jaga?". Sambungnya.
"Karena itu... Karena itu saya bilang untuk tidak melebihi batas". Jelas Choi Woo Shik.
Zefa terdiam setelah mendengar penjelasan Choi Woo Shik. Bola matanya tampak berbinar, ia menahan tangisnya.
"Oh god! Ini benar benar salah gue...". Gumamnya dalam hati.
"Karena saya enggak tahu apa yang Sajangnim maksud, dan Sajangnim pun enggak mau menjelaskan hal itu lebih detail. Jadi...". Ucap Zefa tertunduk lesu.
"Jadi saya berusaha cari pertanyaan lain agar Sajangnim bisa jelaskan semuanya. Tapi Sajangnim justru buat saya tambah bingung". Sambungnya tersenyum tipis.
"Mianhae~". Ucap Choi Woo Shik.
"Saya... Eehh...". Choi Woo Shik tidak melanjutkan ucapannya setelah mengetahui salah satu staffnya sudah kembali. Ia pun membenarkan posisi duduknya sebagai pengalihan.
"Sekarang giliran saya, saya permisi ke toilet sebentar". Ucap Zefa tersenyum kepada koleganya.
Beberapa saat kemudian, setelah dirasa malam sudah semakin larut. Choi Woo Shik dan para staffnya memutuskan untuk kembali ke kamar dan beristirahat. Sebab akan ada banyak rangkaian pekerjaan yang sudah menanti mereka esok pagi.
[{Pesan : Tae Hyung}]
Choi Woo Shik
Tae Hyung~a. Apa kamu akan merasa bingung kalau seseorang yang kamu kenal seperti mengungkapkan perasaan tetapi setelah itu berkata untuk tidak melewati batas?.
Choi Tae Hyung
Aku bukan hanya merasa bingung tetapi lebih dari itu, mungkin aku juga akan sangat kesal.
Choi Woo Shik
__ADS_1
Ahh... Aku jadi merasa bodoh sekarang.
Choi Tae Hyung
Siapa wanita itu?.
Choi Woo Shik
Aku akan kenalkan kalau kamu sudah di indonesia.
Kapan kamu pulang?.
Choi Tae Hyung
Tunggu aku Hyeong, masih banyak yang harus aku selesaikan disini.
Choi Woo Shik
Jangan terlalu lama.
Choi Tae Hyung
Aku tahu kamu sangat merindukanku Hyeong!.
Choi Woo Shik
Aniyo~
"Anak itu memang selalu punya cara untuk membuat orang tersenyum". Ucap Choi Woo Shik setelah berkirim pesan dengan sang adik.
***
Malam telah berganti pagi, matahari pun sudah menampakkan diri. Masih disini, di Sydney. Suasana lounge hotel saat itu sangatlah ramai, semua orang berlalu lalang entah datang ataupun hendak pergi. Termasuk dengan Zefa dan Choi Woo Shik Sajangnim juga kedua koleganya yang kini tengah bersiap untuk menghadiri meeting setelah sarapan pagi.
"Waktu kita tidak banyak disini, jadi saya harap kita bisa menyelesaikan semuanya sesuai dengan yang sudah kita rencanakan". Ucap Choi Sajang sambil menggenggam segelas kopi.
"Baik Sajangnim". Sahut ketiga staffnya.
"Ok. Kalau begitu kita bersiap dan semangat untuk hari ini!". Seru Choi Sajang.
"Semangat!". Ucap salah satu staff.
"Semangat Sajangnim!". Seru Zefa dan koleganya bersamaan.
Setelah saling menyemangati satu sama lain, akhirnya mereka pun bergegas menuju salah satu tempat yang akan menjadi lokasi meeting kedua hari ini. Yap, kemarin mereka sudah menyelesaikan meeting pertama begitu tiba di Sydney. Dan besok adalah hari terakhir mereka disini.
Selang beberapa jam kemudian. Malam pun kembali datang menyapa Zefa yang saat itu tengah berbaring di kamarnya. Kebetulan ia ditempatkan satu kamar dengan koleganya yang saat itu sudah terlelap.
Ya, kegiatan mereka selama dua hari ini memang cukup menguras tenaga. Sebab bukan hanya meeting biasa melainkan juga meninjau beberapa tempat untuk kelangsungan projek yang akan mereka kerjakan.
Bukannya beristirahat Zefa justru sibuk dengan ponselnya. Matanya yang masih begitu segar membuatnya kebingungan harus melakukan apa di malam yang sudah selarut ini.
Setelah berpikir beberapa saat akhirnya Zefa memutuskan untuk berjalan jalan santai di downtown hotel.
__ADS_1
"Sydney? Hm... Dulu untuk liburan ke singapore aja gue mesti nabung beberapa tahun sebelum akhirnya beneran bisa liburan kesana". Gumam Zefa saat duduk santai menikmati sejuknya angin malam.
"Sekarang, enggak perlu nabung dan enggak keluar uang sepeser pun gue bisa ke sini. Ke Sydney, wah!". Sambungnya lalu tersenyum bahagia.
"Setelah ini kamu mau kemana lagi?".
Zefa terkejut, ia menoleh setelah mendengar suara yang tak asing itu terdengar sangat dekat. Ia menghela nafas lalu menutupi wajahnya yang tanpa make up itu.
"Sajangnim ngapain disini? Udah malem, harusnya kan istirahat". Ucap Zefa yang masih menutupi wajahnya.
"Kamu sendiri ngapain disini, kenapa enggak tidur? Kamu pasti lelah seharian kerja". Sahut Choi Sajang lalu memberikan kopi kepada Zefa.
"Ini". Ucapnya.
"Apa?". Tanya Zefa masih dengan wajahnya yang tertutup.
"Ini". Ucap Choi Sajang meledeki Zefa.
"Ih, iya apa?". Tanya Zefa kesal.
"Buka dong tangannya. Kamu masih marah sama saya sampai enggak mau lihat wajah saya?". Ucap Choi Sajang tersenyum.
"Enggak mau, saya enggak make up!". Sahut Zefa merengek.
"Ya memangnya kenapa kalau kamu enggak make up?". Tanya Choi Sajang.
"Malu... Jelek!". Sahut Zefa membuat Choi Sajang tertawa.
"Masa sih? Tapi by the way, saya enggak pernah lihat wajah jelek kamu. Jadi enggak apa apa, ini di ambil". Choi Sajang tersenyum.
"Enggak mau!". Ucap Zefa seperti anak kecil yang sedang merengek.
"Kalau begitu...". Choi Sajang masih berusaha untuk membuat Zefa memperlihatkan wajahnya.
"Iya iya". Sahut Zefa yang mengalah.
Akhirnya Zefa pun mengalah, ia dengan terpaksa membuka tangannya yang semula menutup wajah cantiknya. Meskipun ia malu tetapi ia harus melakukannya sebab Zefa tidak mungkin berlama lam menutupi wajahnya.
Dan setelah wajah Zefa terlihat, Choi Woo Shik Sajangnim tersenyum dan menghela nafas.
"Gojimal~". Ucap Choi Sajang.
"Gojimal? Bohong? Saya bohong? Kenapa?". Tanya Zefa.
"Hm... Kamu bilang kamu jelek kalau enggak make up? Tapi...". Sahut Choi Sajang.
"Tapi apa?". Tanya Zefa.
"Tapi saya rasa enggak seperti yang kamu bilang". Sahut Choi Sajang tersenyum.
Zefa terdiam, lagi lagi Choi Woo Shik Sajangnim membuat hatinya seperti ingin meledak. Hal kecil itu memacu jantungnya berdebar lebih cepat. Zefa benar benar dalam bahaya.
"Kopi di suasana yang sejuk malam ini memang sangat cocok ya". Ucap Choi Sajang mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Zefa hanya tersenyum kaku, gugup dan...
***