
Terdengar suara hentakan sepatu Choi Woo Shik Sajangnim dari kejauhan, bersamaan dengan deguban jantung Zefa yang semakin kencang. Hatinya menjadi semakin tidak karuan, keringat dingin mulai membasahi telapak tangan Zefa.
"Eehh... Pagi Zefa". Sapa Choi Sajang sambil tersenyum kaku.
Zefa terdiam setelah melihat tingkah Choi Woo Shik Sajangnim yang terkesan sama dengannya, gugup.
"Kenapa jadi sama sama canggung kayak gini?". Gumam Zefa dalam hatinya.
Lalu Zefa berusaha untuk tersenyum dan menyapa Choi Woo Shik Sajangnim dengan santai.
"Pagi... Sajangnim". Sahut Zefa masih dengan hatinya yang berdebar.
"Eehh... Berkas berkasnya sudah siap?". Tanya Choi Sajang.
"Sudah Sajangnim". Sahut Zefa singkat.
"Ok...". Choi Sajang terdiam dan tidak melanjutkan perkataannya. Ia pun terlihat seperti kebingungan.
"Eeh... Zefa". Ucapnya.
"Iya Sajangnim?". Sahut Zefa.
"Ehm, Apa kamu..., Eehh". Choi Sajang terbata bata dan terlihat semakin gugup.
"Apa kamu bisa belikan saya kopi?". Tanya Choi Sajang dengan wajah paniknya.
"Oh... Eh, iya Sajangnim. Saya belikan sekarang ya". Sahut Zefa dengan cepat mengambil dompet dan ponselnya.
Zefa sudah siap untuk segera pergi, tetapi...
"Kamu simpan ini, pakai untuk beli kopi dan untuk apa pun yang saya minta". Ucap Choi Sajang sambil memberikan black cardnya.
Bukannya menerima kartu tersebut Zefa justru terdiam sambil melihat ke arah kartu milik bosnya itu.
"Simpan ya. Kamu kan sekertaris saya, bukan hal aneh kalau kamu menyimpan barang milik saya seperti kartu ini". Jelas Choi Sajang meyakinkan Zefa.
"Oh... Iya Sajangnim, terimakasih karena sudah percaya sama saya". Ucap Zefa sambil tersenyum.
"Kalau begitu saya ambil kartunya dan saya berangkat sekarang". Sambungnya sambil mengambil kartu tersebut.
Choi Woo Shik Sajangnim menganggukkan kepalanya perlahan, Zefa pun sudah pergi untuk membeli kopi yang di pesan oleh bosnya. Moment mendebarkan saat itu akhirnya berlalu. Hati Zefa menjadi sedikit lebih tenang dan tenang.
"Kak, biasa ya". Ucap Zefa kepada Joddy saat tiba cafe.
"Akhir akhir ini Woo Shik lebih sering minta kamu buat kesini. Dia bosan ketemu saya terus?". Joddy melayani Zefa sambil bergurau.
"Sajangnim lagi sibuk, banyak yang harus di selesaikan". Sahut Zefa tersenyum.
"Alasan". Seru Joddy sambil tertawa.
"By the way, yang datang sama kamu waktu itu, siapa?". Tanya Joddy membuat Zefa terlihat menahan tawa.
"Kenapa ketawa?". Sambungnya.
"Enggak. Lucu aja, kebetulan banget kalian bisa nanya hal yang sama ke saya". Sahut Zefa tersenyum.
"Kebetulan? Dia juga tanya soal saya ke kamu?". Ucap Joddy terkejut.
"Tambah Americano satu ya kak, saya bayar pakai ini". Ucap Zefa mengalihkan pembicaraan.
"Kamu sengaja kan bikin saya penasaran". Ucap Joddy tampak kesal, namun justru membuat Zefa tidak kuat lagi menahan tawa.
"Kamu hutang penjelasan sama saya". Sambungnya sambil memberikan black card kepada Zefa.
"Thank you kak, aku tunggu di situ ya". Ucap Zefa masih dengan tawanya.
Pesan [Nayra Comel]
Zefanya Chayra
Gue lagi di cafe, lo tau enggak kak Joddy nanya apa ke gue?.
Nayra Natasya
Curang lo enggak ajak gue!
Btw, Kak Joddy nanya apa?.
__ADS_1
Zefanya Chayra
Nanti ya gue ceritain kalau kita ketemu.
Nayra Natasya
Nyebelin lo! Sengaja lo ya mau bikin gue penasaran.
Zefa tertawa menatap layar ponsel saat sedang berkirim pesan dengan Nayra sambil menunggu pesanannya selesai di buat.
Tidak lama kemudian kopi yang di pesan kini sudah bisa ia bawa ke kantor menemui pemiliknya. Dan Zefa pun telah sampai disana, bersegera menemui Choi Woo Shik Sajangnim yang tengah sibuk bekerja.
"Permisi Sajangnim". Ucap Zefa setelah mengetuk pintu.
Ia melangkahkan kaki mendekati Choi Woo Shik Sajangnim yang hanya kepadanya. Di berikannya kopi dan dessert tersebut untuk menemaninya bekerja.
"Terimakasih ya". Ucap Choi Sajang.
"Sama sama Sajangnim. Di minum dulu kopinya sebelum dingin". Sahut Zefa membalas senyum bosnya.
Choi Woo Shik Sajangnim kembali tersenyum dan menatap Zefa beberapa saat. Hal itu jelas saja membuat Zefa menjadi kebingungan dan salah tingkah. Ditambah ia juga kembali teringat dengan hari kemarin, dimana mereka melakukan pesan singkat yang membuat mereka saling merasa canggung.
"Ehh... Ada yang bisa saya bantu lagi Sajangnim?". Tanya Zefa menyadarkan Choi Sajang.
"Oh iya... Untuk saat ini enggak ada, nanti saya akan hubungi kamu kalau saya butuh sesuatu". Sahut Choi Sajang.
"Ya sudah, kalau begitu saya kembali ke ruangan saya. Permisi". Ucap Zefa berpamitan.
Choi Woo Shik Sajangnim menganggukkan kepalanya dan Zefa dengan cepat meninggalkan ruangan tersebut.
"Mending gue cepat cepat pergi dari sini deh, enggak aman banget jantung gue kalau lama lama lihat Sajangnim". Gumam Zefa sambil menutup pintu dan berjalan dengan cepat menuju meja kerjanya.
Zefa telah kembali ke meja kerjanya dan mulai melakukan aktivitas seperti biasa dengan hati yang masih sedikit berdebar. Ya, itu semua ulah Choi Woo Shik Sajangnim.
Malam harinya...
Zefa telah terbaring lelah di atas kasurnya, sepertinya pekerjaan hari ini begitu membuatnya kelelahan. Belum lagi ia juga harus menyiapkan berkas berkas untuk projek besar yang akan segera mereka realisasikan. Hal itu tentu saja menyita banyak waktunya.
Beruntungnya esok adalah hari yang selalu di nanti natikan olehnya. Hari yang selalu menjadi hari terbaik dalam hidupnya. Akhir pekan, yap! Akhir pekan memang salah satu hari yang paling di tunggu oleh siapa pun. Bagaimana tidak, di hari itu kita bisa bersantai sejenak melepas penat setelah selama beberapa hari bergelut dengan pahitnya kehidupan.
"Hmm, manis banget! Dia bisa merasakan cinta yang sama untuk kedua kalinya meskipun sekarang kondisinya enggak memungkinkan buat dia bisa pacaran lagi". Gumamnya seraya mengomentari drama tersebut.
Drrtt... Drrtt... Drrtt
"Ganggu banget deh!". Ucap Zefa sambil membuka pesan yang baru saja ia terima.
Entah apa isi dari pesan tersebut, Zefa tampak terkejut dan seperti tidak menyangka.
Pesan [Choi Sajang]
Choi Woo Shik
Malam Zefa, apa saya ganggu aktivitas kamu chat semalam ini?.
Zefanya Chayra
Malam Sajangnim. Ada yang bisa saya bantu?.
Choi Woo Shik
Hm, untuk saat ini saya bisa ngobrol santai sama kamu kan? Bukan untuk bahas masalah pekerjaan. Sepertinya saya butuh teman untuk sekedar bercerita dan bercanda.
Zefanya Chayra
Sajangnim bosan ya karena enggak ada kesibukan? Biasanya kan selalu kerja sampai malam. Hehe...
Choi Woo Shik
Ya... Saya bingung harus apa. Saya bosan kalau ketemu sama Joddy terus.
Zefanya Chayra
Padahal kak Joddy kangen loh sama Sajangnim, karena beberapa hari ini enggak pernah ngopi disana.
Choi Woo Shik
Saya mau cari suasana yang lain, yang belum penah saya lakukan disini.
__ADS_1
Zefanya Chayra
Ternyata masih ada yang belum pernah di lakukan juga sama seorang CEO seperti Sajangnim. Hehe...
Choi Woo Shik
Gimana kalau besok kita dinner?.
Zefanya Chayra
Dinner? Kita?
***
Akhir pekan terakhir di minggu ini akan segera usai. Rasanya berat sekali melepaskan hari ini begitu saja. Hari ini harus benar benar di akhiri dengan baik.
Sore itu Zefa telah bersiap untuk mengakhiri pekan ini dengan hal yang belum ia ketahui akan berakhir seperti apa. Meskipun begitu ia tetap harus melakukannya sebab hal terpenting yang akan ia lakukan kali ini adalah...
"Zefa pamit ya bu". Ucap Zefa kepada Ibunya.
"Mau kemana?". Tanya Ibu sambil memotong buah apel.
"Ada janji. Zefa berangkat ya". Sahut Zefa dan berlalu dari Ibunya.
Singkat cerita Zefa telah tiba di salah satu restauran. Langkahnya mulai mencari keberadaan orang yang akan ia temui. Zefa datang tepat tiga puluh menit sebelum waktu yang dijanjikan.
Ia menemui pramusaji restauran tersebut untuk menanyakan tempat yang sudah di reservasi oleh seseorang dan ia pun menunggunya disana.
"Hai".
Tidak lama kemudian orang tersebut datang dan menyapanya sambil tersenyum. Zefa yang semula sudah berdebar dan sangat gugup kini justru semakin tidak karuan. Gejala yang sama, gejala yang selalu ia rasakan saat bersama orang tersebut. Zefa hanya berharap dirinya bisa lebih rileks dan tidak terlalu gugup.
"Malam Sajangnim". Ucap Zefa kepada seseorang yang ditemuinya. Yap, kemarin malam Zefa sudah menyetujui ajakan Choi Woo Shik Sajangnim untuk makan malam berdua.
"Saya kan sudah sering bilang, panggil saya Woo Shik kalau di luar jam kerja". Jelas Choi Sajang sambil tersenyum.
Zefa tertawa sambil menggelengkan kepalanya.
"Wae?". Seru Choi Sajang yang juga tertawa.
"Iya saya tahu, umur saya memang jauh lebih dewasa dari kamu. Tapi saya juga mau dapat panggilan santai dari kamu". Sambungnya.
Zefa kembali tertawa melihat ekspresi wajah bosnya yang memang sangat menggambarkan jiwa humorisnya. Matanya yang sipit membuat Choi Woo Shik Sajangnim terlihat seperti memejamkan matanya saat tertawa. Hal itu tentu saja membuat Zefa semakin asyik mentertawakan bosnya.
Kedekatan mereka sebagai CEO dan sekertarisnya semakin dekat. Chemistry yang mereka bangun sejak awal sudah terlihat dengan jelas sekarang. Keduanya pun sangat nyaman berbicara santai bahkan tertawa dan bercanda layaknya seorang teman.
Namun ada yang berbeda dari saat pertama kali mereka bertemu. Dari yang awalnya hanya takut dan rasa khawatir kini berubah menjadi rumit. Perbedaan itu melibatkan hati, hati yang selalu terombang ambing dengan hal kecil nan manis yang akhir akhir ini sering Zefa dapati.
Zefa tidak munafik, jika dilihat dari sudut pandang seorang wanita. Hal hal kecil nan manis yang amat membahayakan hati itu tentu saja dapat membuat Zefa menaruh hati terhadap bosnya. Namun, hal itu sangat tidak mungkin terjadi mengetahui perbedaan status sosial keduanya.
Zefa yang sadar diri akan kondisi keluarganya hanya bisa untuk berpikir positif bahwa setiap hal kecil nan manis itu merupakan bentuk pendekataan seorang bos dengan sekertarisnya agar terbangun chemistry yang baik dan dapat mempermudah mereka dalam bekerja.
"Maaf saya sudah buat kamu datang sendiri kesini, padahal saya yang minta waktu kamu untuk bisa makan malam disini". Ucap Choi Sajang setelah menyeruput minumannya.
"Enggak apa apa Sajangnim". Sahut Zefa tersenyum.
"Apa saya boleh meminta lebih dari ini?". Tanya Choi Sajang.
"Lebih dari ini, gimana maksudnya?". Ucap Zefa kebingungan.
"Ya... Mungkin saya bisa lebih bebas kapan pun saya ingin bertemu kamu di luar jam kerja". Sahut Choi Sajang tersenyum.
"Sajangnim enggak bisa sembarangan ketemu sama saya di luar jam kerja, apalagi kalau terlalu sering". Ucap Zefa.
"Ada hati yang harus kamu jaga?". Ucap Choi Sajang dengan ekspresi wajah yang mendadak lesu.
"Saya lebih khawatir sama reputasi Sajangnim. Saya enggak mau dengan seperti ini orang orang akan berpendapat aneh tentang Sajangnim". Jelas Zefa.
"Kenapa mereka harus berpendapat aneh? Saya hanya melakukan sesuatu mengikuti perintah hati saya, apa saya salah?". Seru Choi Sajang tampak serius.
Zefa terdiam memikirkan perkataan Choi Woo Shik Sajangnim. Ia tidak menyangka hal itu terucap dari bibir bosnya. Hatinya kembali berdebar, semakin cepat.
"Ehh... Maksud saya orang lain enggak berhak untuk membatasi ruang gerak saya. Mereka salah kalau hanya menilai dan berpendapat hanya karena mereka tidak suka". Jelas Choi Sajang seperti panik dengan perkataan yang ia ucapkan sebelumnya.
"Kamu enggak perlu khawatir soal bagaimana orang akan menilai saya. Biarkan saya melakukan apa pun, kecuali kalau memang benar ada hati yang harus kamu jaga".
***
__ADS_1