My Cutie Presdir

My Cutie Presdir
[MCP] CHAPTER 13


__ADS_3

"Saya kalah".


Choi Woo Shik Sajangnim datang dengan membawa dua ice cream untuknya dan untuk Zefa. Dengan nafasnya yang masih terengah engah Zefa terlihat kebingungan.


"Sajangnim beli ice cream? Enggak lari?". Tanya Zefa dengan menyernyitkan alisnya.


"Kalau pun saya lari saya tetap kalah sama kamu". Sahut Cho Sajang yang kemudian duduk di samping Zefa.


"Kebetulan tadi ada yang jual ice cream waktu saya lari, jadi sekalian aja saya beli". Sambungnya sambil tersenyum.


"Astaga, seorang Choi Woo Shik Sajangnim ternyata se pesimis itu". Celetuk Zefa meledeki bosnya.


"Aishh, saya bukan pesimis tapi cuma mengalah aja sama perempuan". Ucap Choi Sajang yang kemudian tertawa.


"Alasan". Seru Zefa.


"Pokoknya Sajangnim tuh harus bisa meluangkan waktu buat olahraga. Kerjaan Sajangnim tuh banyak, jadi harus tetap fit dengan berolahraga bukan cuma konsumsi vitamin". Jelas Zefa kembali mengingatkan bosnya.


"Baik Zefa". Sahut Choi Sajang.


"Kamu sama aja kayak Eomma, cerewet". Sambungnya sambil tersenyum.


"Atau memang semua wanita itu sama cerewetnya?". Tanya Choi Sajang.


"Terlalu banyak yang menganggap wanita kalau banyak bicara dibilang cerewet, padahal cerewetnya wanita itu bisa aja karena perduli". Sahut Zefa sambil ******* ice creamnya.


Choi Woo Shik Sajangnim terdiam sambil sesekali melirik Zefa yang tengah asyik menikmati ice creamnya.


"Berarti itu juga tanda perduli kamu sama saya?". Tanya Choi Sajang.


Zefa terdiam...


"Habis ini Sajangnim harus lari lagi satu putaran! Yang tadi saya anggap gagal". Ucap Zefa sambil tersenyum ke arah bosnya untuk mengalihkan pembicaraan.


"Lagi?". Seru Choi Woo Shik membelalakkan matanya.


Zefa mengangguk sambil terus menyuap ice cream dengan khidmat sedangkan Choi Woo Shik Sajangnim terus saja mentertawakannya.


"Ok! Satu putaran ini akan lebih sempurna dari sebelumnya! Fighting". Seru Choi Woo Shik saat sedang bersiap untuk kembali berlari sesuai dengan perintah Zefa.


"Fighting Sajangnim!". Ucap Zefa menyemangati Choi Sajang.


Choi Woo Shik Sajangnim mulai berlari memutari alun alun kota. Sedangkan Zefa masih asyik dengan ice cream pemberian bosnya.


"Pelanggaran banget, masa habis olahraga langsung ice cream! Padahal gue cuma bercanda".


***


Sinar mentari pagi menyusup masuk melalui sela sela jendela kamarnya. Matanya yang terkena pancaran cahaya tersebut berusaha keras agar tak terusik, namun pagi itu alarm pun mendukung sang mentari untuk membangunkan Zefa dari tidurnya.


Zefa terbangun dari tidur lelapnya tepat satu jam sebelum berangkat bekerja. Mengambil handuk yang tergantung dan mulai membersihkan diri. Hingga beberapa saat kemudian Zefa telah siap untuk menyantap makan pagi bersama keluarganya.


"Kemarin kamu olahraga sama bos kamu kak?". Tanya sang Ayah tiba tiba.


Zefa menganggukkan kepala perlahan tanpa menjawab sepatah kata pun.


"Bosnya kakak beneran orang Korea yah, ganteng banget". Seru Zeno sambil mengunyah makanannya.


"Kamu cuma berdua sama bos kamu?". Tanya Ayah sekali lagi, seakan hanya ingin mendengar jawaban dari anak sulungnya itu.

__ADS_1


"Iya yah, kemarin Zefa nemanin Sajangnim olahraga. Cuma sebentar kok". Sahut Zefa.


"Kamu tahu enggak resikonya gimana kalau sampai ada pegawai lain yang tahu?". Pertanyaan yang serius itu membuat Zefa terdiam.


"Kamu memang sekertarisnya kak, tapi coba untuk memilah hal mana yang memang benar benar di lakukan oleh Bos dan Sekertarisnya. Apa nemanin olahraga juga termasuk pekerjaan kamu?". Tanya Ayah lagi.


Zefa masih terdiam meresapi pertanyaan serius dari sang Ayah.


"Ya memang tugasnya sekertaris pribadi itu menuruti semua perintah bosnya. Tapi coba kamu pikirkan dulu dampak buruknya sebelum kamu lakukan hal itu". Ucap Ayah.


"Ayah bukan enggak suka, tapi ayah khawatir kalau saja sampai ada yang tahu pasti ada saja hal buruk yang akan kamu hadapi nantinya". Sambungnya.


"Lagi pula gimana dengan keluarganya kak? Apa keluarganya juga mengizinkan anaknya untuk bergaul sejauh itu sama sekertarisnya yang hanya anak dari seorang supervisor?". Jelas Ayah semakin membuat Zefa terdiam.


"Zefa itu cuma sekertaris yah, dia enggak ada alasan untuk menolak semua perintah bosnya. Itu memang sudah tugas dia, mau gimana pun Zefa tetap harus menuruti perintahnya". Ucap Ibu membelas Zefa.


"Selama hal yang di minta bosnya masih bernilai positif, bukan kah enggak apa apa?". Sambungnya.


"Tetap saja, gimana nanti pendapat orang lain? Di tambah Zefa itu di rekrut secara pribadi sama bosnya. Ayah cuma takut orang lain akan menilai Zefa itu cuma memanfaatkan parasnya untuk jadi sekertaris". Jelas Ayah Zefa dengan penuh ke khawatiran.


"Semoga enggak seperti yang Ayah khawatirkan ya". Ucap Ibu kembali meredakan ke khawatiran Zefa.


Mendengar pernyataan dari sang Ayah yang sangat related dengan apa yang sedang ia alami di kantor, Zefa benar benar terdiam bahkan hampir menangis. Namun, mengingat ia akan bekerja Zefa tetap harus menguatkan hatinya.


"Zefa berangkat ya. Nayra udah di depan". Ucap Zefa mengakhiri sarapannya meskipun masih ada makanan yang tersisa di piringnya.


Yap! Zefa berbohong kepada orang tuanya bahwa Nayra sudah datang menjemputnya. Zefa hanya ingin menghindari perbincangan dengan sanga Ayah. Topik pembicaraan pagi ini membuat luka hati Zefa kembali tergores. Ia teringat kembali perkataan pahit dari para kolega yang sengaja di lontarkan kepadanya.


Bad mood! Itulah yang dirasakan oleh Zefa hari ini.


Nayra sudah tiba, Zefa bergegas masuk kedalam mobil sahabatnya itu dengan wajahnya yang terlipat hingga sepuluh lapisan.


"Udah ayo jalan!". Sahutnya ketus.


"Ih galak bener. Kenapa sih, masih pagi udah bad mood. Kayak yang punya pacar aja". Ucap Nayra.


"Emang yang punya pacar aja yang boleh bad mood?". Sahut Zefa kesal.


"Ok ok! Marah mulu heran. Enggak ada angin, enggak hujan, maraaaah aje tiba tiba". Gumam Nayra.


"Kenapa sih?". Nayra masih penasaran.


"Diam Nay! Gue lagi enggak mood". Ucap Zefa dengan nada yang sedikit tinggi.


"Beneran bad mood ternyata". Nayra menghela nafas, terdiam dan kembali fokus menyetir mobilnya.


Sesampainya di kantor, Zefa turun dari mobil tanpa mengucap satu kata pun. Moodnya benar benar hancur sebab perkataan sang Ayah.


"Yeh, tuh anak kenapa sih. Main pergi aja!". Gumam Nayra.


Langkahnya yang sangat cepat membawa Zefa melewati koridor demi koridor menuju ruang kerjanya. Ia berusaha untuk tetap tersenyum saat para kolega yang berpapasan menyapanya. Entah bagaimana hari ini akan dijalaninya dengan hati yang sedang tidak sejalan dengan pikirannya.


"Selamat pagi nyonya Zefa! Duh, kelihatannya semangat banget ya hari ini".


Langkahnya kini terhenti saat ia melewati ruang kerja si para nerizen alay itu. Mereka kembali berulah, kembali mengusik Zefa tepat pada saat moodnya sedang tidak bagus. Dan berkat mereka mood Zefa semakin memburuk.


"Ya udah pasti semangat dong, kan kemarin...".


"Kemarin? Kemarin ada apa?".

__ADS_1


"Ih masa lo enggak tahu! Kemarin kan dia habis olahraga berdua sama Sajangnim!".


"What? Lo enggak asal ngomong kan?".


"Gue serius! Gue lihat dengan mata kepala gue sendiri, kemarin si caper itu olahraga berdua sama Sajangnim. Segala minta di beliin ice cream".


"Oh jadi itu alasan dia bisa semangat banget hari ini? Wah, keren. Makin hari makin pinter aja ngerayu Sajangnim".


"Ya harus lah, biar dia bisa terus kerja disini".


"Biar bisa kerja terus disini atau biar bisa nikah sama Sajangnim, terus jadi istrinya CEO eh terusnya jadi kaya mendadak? Atau gimana sih konsepnya?".


"Ya udah pasti ngerayu buat bisa meguasai harta Sajangnim lah. Emangnya apa lagi tujuan cewek matre ngedeketin cowok tajir melintir kayak Sajangnim?".


"Wah, ternyata di balik wajah cantiknya tersimpan niat busuk yang enggak di sadari sama Sajangnim".


"Bahaya banget ya kan".


Kesal itu sudah pasti, namun kali ini Zefa hanya membiarkannya dan berusaha untuk tak terusik sedikit pun. Ia hanya bediri sambil tersenyum mendengarkan celotehan tak berbobot dari para netizen yang budiman tersebut.


Mengingat ia sedang berada di lingkungan kerja, Zefa memilih untuk diam meskipun ingin sekali rasanya ia membalas. Setelah di rasa sudah cukup untuk mendengar celotehan koleganya, Zefa kembali berjalan dan meninggalkan mereka.


Hatinya semakin kacau, ia benar benar di paksa oleh keadaan untuk tetap kuat. Matanya mulai berbinar menahan tangis agar tak pecah di saat ia harus bekerja. Zefa harus tetap fokus agar tidak terjadi kesalahan dengan pekerjaannya.


"Selamat pagi Zefa".


Tiba tiba saja Choi Woo Shik Sajangnim datang menghampiri dan menyapa Zefa yang tengah duduk menghadap layar monitor sambil menutupi wajahnya dengan telapak tangan.


Zefa terkejut lalu berdiri untuk memberi salam kepada bosnya. Tergambar dengan jelas, ia sangat gugup saat berhadapan dengan Choi Woo Shik Sajangnim.


"Kamu kenapa?". Tanya Choi Sajang.


"Enggak apa apa Sajangnim". Zefa menggelengkan kepalanya.


"Tapi kelihatannya kayak lagi sakit atau...?". Choi Sajang menyadari ada sesuatu yang berbeda dari Zefa.


"Saya enggak apa apa Sajangnim". Sahut Zefa meyakinkan bosnya.


"Ok... Ehm, benar enggak apa apa?". Tanya bosnya lagi.


"Iya Sajangnim". Sahut Zefa sambil tersenyum.


Choi Woo Shik Sajangnim mengangguk.


"Ok. Ehm, ini kopi buat kamu". Ucap Choi Sajang memberikan kopi dan sandwich kepada Zefa.


"Eehh, saya udah sarapan. Buat Sajangnim aja". Sahut Zefa.


"Saya juga sudah sarapan dan saya sengaja beli ini buat kamu". Ucap Choi Sajang.


"Tapi kalau kamu enggak mau ya...". Sambungnya kemudian Zefa memotong pembicaraannya.


"Eeh, iya Sajangnim. Buat saya kan? Terimakasih banyak Sajangnim". Ucap Zefa terburu buru mengambil kopi pemberian Choi Sajang karena takut bosnya akan marah jika ia menolak.


"Ya sudah, saya masuk dulu". Ucap Choi Sajang kemudian berlalu meninggalkan Zefa.


Zefa kembali menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Tak terasa air mata pun mulai membasahi pipinya. Ia kembali teringat dengan apa yang sudah ia dengar pagi ini. Hal itu sungguh sangat menyakitkan hatinya.


Tangisnya semakin pecah sebab ia berlarut dalam memikirkan hal tersebut.

__ADS_1


***


__ADS_2