My Cutie Presdir

My Cutie Presdir
[MCP] CHAPTER 11


__ADS_3

Tatapan mata yang tajam nan dalam itu menusuk sampai ke jantung Zefa. Sungguh tatapan yang mematikan itu membuatnya tidak karuan. Hatinya semakin berdebar cepat seraya tidak kuat menahan ombak yang menerjang.


Choi Woo Shik Sajangnim masih dengan tatapannya yang dalam kepada Zefa yang hanya terdiam dan tak bisa berkutik. Dengan senyumannya yang semanis cokelat 5kg, Choi Woo Shik hanyut dalam pandangannya.


Zefa semakin salah tingkah, ingin rasanya berteriak tetapi ia tidak bisa. Keringat dingin satu persatu mulai menetes dari keningnya. Tangannya pun gemetar sebab tatapan yang amat tajam itu. Hatinya kini terombang ambing.


"Eehh... Terimakasih untuk kopinya. Sekarang kamu siapkan semua berkas berkas untuk meeting pagi ini ya". Ucap Choi Sajang setelah tersadar dari lamunannya.


"Semuanya sudah saya siapkan dan sudah di cek ulang untuk memastikan, Sajangnim". Sahut Zefa dengan senyumannya yang terlihat kikuk.


"Oh sudah ya, kalau begitu tunggu saya sekitar sepuluh menit lagi. Setelah itu kita langsung berangkat ya". Ucap Choi Sajang membawa kopi pemberian Zefa dan masuk ke ruangannya.


Langkah kakinya dengan cepat meninggalkan Zefa yang tengah di buat salah tingkah olehnya.


Zefa menghela nafas panjang, hatinya sudah lega namun pikirannya menjadi kacau. Ya, siapa yang tidak kacau jika hampir setiap hari di pandang sebegitu khidmat oleh bos Korea tampan seperti Choi Woo Shik Sajangnim?.


"Haduh. Benar benar ya Sajangnim, tiap hari ada aja tingkahnya yang bikin gue stres!". Zefa bergumam lalu menyeruput kopinya.


"Tapi syukur deh, Sajangnim mau nerima kopi dari gue. Seenggaknya ada yang dia makan sebelum meeting penting". Sambungnya.


"Sajangnim tuh kebiasaan kalau ada meeting penting kayak sekarang pasti enggak pernah sempat buat sarapan. Nanti kalau tiba tiba sakit pas meeting kan dia juga yang rugi". Zefa masih saja bergumam sambil meneguk kopi yang kini sudah tersisa setengahnya.


"Zefa".


Zefa tersedak saat sedang meneguk kopinya setelah mendengar suara Choi Woo Shik Sajangnim yang memanggilnya. Jelas ia sangat terkejut, pasalnya baru saja ia bergumam tentang kebiasaan buruk bosnya itu.


"Ya ampun Zefa. Kamu enggak apa apa?". Ucap Choi Sajang yang dengan sigap memberikan air kepada Zefa.


Dengan cepat pula Zefa mengambil air tersebut dan meminumnya. Ia tampak kesakitan karena tersedak.


"Maaf Zefa, saya enggak tahu kalau kamu lagi minum kopi". Ucap Choi Sajang merasa bersalah.


"Enggak apa apa Sajangnim". Sahut Zefa kemudian membersihkan sisa kopi yang berceceran di meja kerjanya.


"Udah lebih baik?". Tanya Choi Sajang.


"Saya udah enggak apa apa kok Sajangnim". Sahut Zefa.


"Eeh, Sajangnim dari tadi disini ya?". Tanyanya.


"Eehh, enggak. Saya baru aja keluar karena udah waktunya kita berangkat". Sahut Choi Sajang terlihat gugup.


"Oh iya. Iya Sajangnim, kita berangkat sekarang ya?". Zefa pun terlihat gugup, ia sangat khawatir kalau Choi Sajang mendengar ocehannya tadi.


"Iya ayo berangkat, jangan sampai telat". Sahut Choi Sajang sambil melihat jam di tangannya.


"Baik Sajangnim, saya sudah siap". Zefa pun berjalan di belakang Choi Sajang sambil membawa tumpukan berkas.


Zefa dan Choi Woo Shik Sajangnim sudah dalam mobil yang sama dan mobil berwarna hitam glossy itu melaju lalu perlahan meninggalkan perusahaan.


Setelah tiga puluh menit menempuh perjalanan, akhirnya Zefa dan juga Choi Woo Shik Sajangnim tiba di lokasi yang menjadi tempat diadakannya meeting penting pada hari ini.


"Hufft... Saya sampai gemetar gini". Choi Sajang merapihkan jasnya, lalu menghela nafas dan terlihat ia sangat gugup.


"Jantung saya malah udah party Sajangnim". Seru Zefa sambil tersenyum.


"Ada ada aja kamu ya". Choi Sajang tertawa.


"Semoga kita bisa memenangkan tender ini ya Zefa". Sambungnya.


"Kita pasti bisa Sajangnim. Saya yakin 1000%!". Sahut Zefa dengan penuh semangat.


"Semangat!". Seru Choi Sajang yang juga sangat bersemangat meski sesekali menghela nafas panjang sebab ia sangat gugup.


Tidak lama kemudian Zefa dan Choi Woo Shik Sajangnim memasuki ruangan tempat meeting tersebut di adakan.


Langkah yang tegas menandakan tekad yang kuat serta keyakinan akan hasil presentasi yang baik. Mereka berdua kini sudah bergabung dengan para rekan bisnis Stars Holding yang sudah memenuhi ruangan tersebut.


Beberapa saat kemudian meeting pun di mulai. Suasana di ruangan tersebut semakin mencekam namun tetap berjalan dengan khidmat. Satu persatu klien sudah menjabarkan visi misi perusahaan mereka termasuk dengan Choi Woo Shik Sajangnim yang juga mengindahkan tujuan Stars Holding.


Harapan terbesar Choi Woo Shik Sajangnim ada pada hari ini. Beberapa kali memperebutkan tender tender besar, namun ia selalu saja tertinggal. Dan kali ini di kesempatan yang sangat bagus ini Choi Woo Shik Sajangnim berusaha dengan sangat keras untuk bisa memenangkan tender tersebut. Itu semua hanya demi masa depan Stars Holding.


Beberapa jam berlalu dengan presentasi yang sangat sengit membuat Zefa dan Choi Woo Shik Sajangnim tentunya merasa khawatir akan hasil akhirnya. Dalam hatinya Zefa terus berdoa tanpa henti berharap tuhan memberikan yang terbaik untuk mereka, untuk kerja keras yang selama satu bulan ini mereka geluti.


Meeting telah selesai. Terlihat Zefa dan Choi Woo Shik Sajangnim sudah meninggalkan ruangan tersebut bersama para rekan bisnis yang lainnya.


Setelah beberapa saat bersalaman dengan para klien, Choi Woo Shik Sajangnim tetap berdiri di depan ruang meeting tersebut meskipun yang lainnya sudah pergi meninggalkan ruangan itu.


Choi Woo Shik terdiam sambil menggaruk garuk kepalanya dan sesekali menyela rambutnya.


"Sajangnim". Ucap Zefa sambil tersenyum.


Choi Woo Shik Sajangnim meresponnya dengan senyuman. Matanya pun kini terlihat berbinar. Dan perlahan langkahnya mendekati Zefa.


"Terimakasih banyak Zefa". Ucap Choi Sajang yang langsung memeluk Zefa.


What? Choi Sajang meluk Zefa? Serius?.

__ADS_1


Yap, Choi Woo Shik Sajangnim yang semula terdiam dengan wajahnya yang masih terlihat gelisah dengan matanya yang berbinar hampir menangis itu tiba tiba berjalan perlahan mendekati Zefa dan memeluknya.


"Astagaaaaa! Ini kenapa Sajangnim meluk gue? Gue lagi mimpi enggak sih?".


"Sajangnim... Kenapa kayak gini. Haduhhh, bikin gue dag dig dug aja ih. Ini nempel banget astaga!".


"Gue harus balas meluk atau lepasin aja nih? Hah, gimana dong? Tapi kalau di lepasin sayang juga sih. Kapan lagi gue di peluk sama oppa Korea".


"Eh, astaga, Zefa! Stop berpikiran kotor Zef! Astaga, enggak tahu diri banget lo Zef".


Zefa menepuk keningnya, wajahnya sangat khawatir dan tubuhnya seketika menjadi kaku setelah Choi Woo Shik Sajangnim secara tiba tiba memeluknya.


Choi Woo Shik Sajangnim pun melepas pelukannya setelah beberapa saat.


"Oh astaga! Maaf Zefa. Sungguh, maafkan saya". Ucap Choi Sajang dengan wajahnya yang panik.


Zefa terdiam.


"Maaf Zefa. Saya terlalu senang sampai saya lupa kalau kita sedang ada di tempat umum. Juga seharusnya saya tidak memeluk kamu begitu saja. Sekali lagi, maafkan saya". Sambungnya.


Zefa tersenyum.


"Enggak apa apa Sajangnim. Saya paham Sajangnim lagi senang banget karena berhasil dapatin tender ini". Ucap Zefa.


"Ah! Bukan hanya senang Zefa, saya benar benar bahagiaaaaa banget. Setelah beberapa kali coba untuk memenangkan proyek besar, saya selalu gagal. Dan akhirnya berkat kamu hari ini saya berhasil". Sahut Choi Sajang sambil tersenyum.


"Ini semua memang sudah sepantasnya Sajangnim dapatkan, hasil terbaik hari ini kan berkat kerja keras Sajangnim yang selama satu bulan terakhir fokus dan fokus merancang semuanya dengan sangat baik". Jelas Zefa.


"Tentu saja ada kamu yang selalu membantu saya, juga memberikan beberapa masukan terkait hal itu. Jadi, kemenangan hari ini bukan hanya karena saya tapi juga berkat kamu". Ucap Choi Sajang.


"Terimakasih sekali lagi kamu sudah sangat mendukung saya. Dan jujur, semakin hari kinerja kamu semakin bagus meskipun kamu sama sekali tidak punya basic di bidang ini". Sambungnya menyanjung Zefa.


"Terimakasih banyak Sajangnim. Sejujurnya saya masih harus belajar lebih banyak lagi. Sekali lagi selamat Sajangnim". Ucap Zefa sambil tersenyum.


Choi Woo Shik Sajangnim tersenyum dan salah tingkah.


"Ayo, kita kembali ke kantor". Ucap Choi Sajang mengakhiri perayaan kecil mereka.


"Saya akan segera beri tahu Appa saya". Sambungnya sambil berjalan menuju basemen perusahaan.


"Beliau pasti sangat bangga karena enggak salah pilih penerus". Ucap Zefa membuat Choi Sajang tersenyum.


***


Keesokan harinya...


.


Choi Woo Shik


Zefa, siang ini kamu ada waktu luang?


.


Zefanya Chayra


Iya Sajangnim, ada yang perlu saya bantu?


.


Choi Woo Shik


Kalau kamu luang, temui saya di Grace Resto jam satu siang


.


Zefanya Chayra


Baik Sajangnim


Zefa meletakkan kembali ponselnya di atas kasur yang terlihat kusut. Ya, pukul sembilan pagi ini Zefa baru saja terbangun dari tidurnya mengingat hari ini adalah akhir pekan yang mana ia memang selalu menghabiskan akhir pekannya di kamar.


"Kenapa ya Sajangnim tiba tiba minta gue ke restauran buat temuin dia?". Zefa bertanya tanya setelah membalas pesan dari Choi Sajang.


"Ya udah deh, emang gini resiko jadi sekertaris CEO. Akhir pekan gini masih aja ada kerjaan yang harus di kerjain". Gumamnya.


"Semangat Zefa". Ucapnya menyemangati diri sendiri.


Setelah dirasa cukup segar Zefa bergegas mengambil handuk dan berjalan menuju kamar mandi.


Setelah selesai bersih bersih, ia menemui ibunya yang tengah menyiapkan menu makan siang di dapur. Selain anak yang rajin dan tekun dalam berkerja, Zefa juga gemar memasak dan selalu membantu ibunya menyiapkan makanan lezat untuk keluarga kecil mereka.


"Hm, menu makan siangnya enak banget. Tapi Zefa enggak bisa makan dirumah". Ucap Zefa setelah menaruh lauk pauk yang sudah matang di atas meja makan.


"Loh emang kenapa kak?". Tanya Ibu.


"Siang ini Sajangnim minta Zefa ke restauran, kayaknya sih ada kerjaan mendadak bu". Sahut Zefa.

__ADS_1


"Hm, hari libur loh kak masih aja kerja kamu". Ucap Ibu.


"Resiko sekertaris pribadi ya gini bu". Ucap Zefa sambil tersenyum.


"Ya udah kamu makan aja dulu, ketemu bos kamu kan nanti siang. Masih lama". Ibu menyodorkan piring kepada Zefa.


"Iya deh bu, Zefa juga laper". Sahut Zefa.


Masih tersisa dua jam lagi untuk bertemu dengan Choi Woo Shik Sajangnim. Zefa memanfaatkan waktu luangnya untuk bersantai dan juga menikmati menu makan siang buatan sang Ibu yang sangat menggiurkan.


Selang beberapa jam kemudian Zefa kini telah siap dengan style simplenya untuk menemui Choi Woo Shik Sajangnim di tempat yang sudah di janjikan.


Setelah berpamitan dengan orang tuanya, kini Zefa sudah berada di halaman rumah sedang memakai helm milik ojek online yang sudah ia pesan. Lalu Zefa pun melaju bersama mas ojek yang mengantarnya.


"Makasih ya mas".


Zefa memberikan helm yang ia pakai kepada pemiliknya setelah ia sampai di Grace Resto.


Ia melangkah masuk dan mencari keberadaan Choi Woo Shik Sajangnim. Dari sudut satu sampai ke sudut lainnya Zefa tidak juga menemukan bosnya, hingga sampai akhirnya...


"Zefa". Suara yang tidak asing itu terdengar sangat dekat.


Zefa menengok ke arah sumber suara.


"Sajangnim". Seru Zefa kepada seseorang yang memanggilnya, dan rupanya itu adalah Sajangnim.


"Kamu sudah lama? Maaf ya tadi saya habis ke toilet". Ucap Choi Sajang sambil tersenyum.


"Iya enggak apa apa Sajangnim, saya juga baru aja sampai kok". Sahut Zefa.


"Ok, kalau begitu ayo kita ke meja di sebelah sana". Jelas Choi Sajang menunjuk ke arah mejanya.


Sesampainya di meja tersebut...


"Kliennya belum datang Sajangnim?". Tanya Zefa secara tiba tiba membuat Choi Sajang tersenyum.


"Apa tadi pagi saya bilang kalau kita akan bertemu klien?". Ucap Choi Sajang.


"Enggak sih... Berarti, ini...?". Zefa mendadak gugup.


"Iya hanya kita berdua". Ucap Choi Sajang sambil tersenyum.


"Dalam rangka apa?". Tanya Zefa semakin salah tingkah.


"Ya... Sebagai ucapan terimakasih saya atas kemenangan kita kemarin". Sahut Choi Sajang.


"Saya sengaja ajak kamu kesini hanya untuk makan siang, dan bukan soal pekerjaan". Sambungnya.


"Ya ampun Sajangnim, kenapa sampai repot kayak gini". Ucap Zefa tersipu malu.


"Enggak kok, enggak ada yang dibuat repot. Udah, kamu makan itu nanti dingin enggak enak". Ucap Choi Sajang.


Beberapa saat kemudian setelah mereka menghabiskan semua makanan yang di pesan...


"Kalau setiap hari kayak gini, bisa bisa berat badan saya makin bertambah". Gumam Choi Sajang sambil memegangi otot lengannya.


Zefa cekikikan melihat bosnya terus memegangi lengan juga perutnya yang sudah membuncit.


"Kok kamu ketawa?". Seru Choi Sajang yang juga menahan tawanya.


"Kalau saya lihat, kayaknya Sajangnim enggak pernah olahraga ya?". Celetuk Zefa.


"Oh itu...". Choi Sajang tertawa sambil melirik ke segala arah.


"Benar kan?". Ucap Zefa meledeki bosnya.


"Iya sih saya memang udah enggak pernah olahraga sejak tiga tahun lalu. Tepatnya setelah saya pindah ke Indonesia". Sahut Choi Sajang.


"Padahal selama di Korea setiap weekend saya selalu menyempatkan diri untuk ke gym. Tapi setelah disini rasanya saya malas pergi keluar rumah selain bekerja". Sambungnya.


"Karena Indonesia itu tempat yang tepat bagi saya untuk meregangkan otak dan pikiran saya setelah bergelut dengan hiruk pikuk Seoul". Lanjut Choi Sajang.


"Itu si cuma alasan Sajangnim aja". Ucap Zefa kembali meledeki Choi Sajang.


"Saya serius Zefa". Sahut Choi Sajang menahan malu.


"Sajangnim tuh harus sempatin waktu buat olahraga, kalau malas ke Gym kan Sajangnim bisa joging. Lari lari santai aja". Ucap Zefa.


"Emang kamu kalau weekend gini suka olahraga?". Tanya Choi Sajang.


"Enggak setiap weekend sih, tapi sesekali suka joging keliling komplek". Sahut Zefa.


"Hm... Tapi kamu benar juga sih, pola hidup saya jadi kurang sehat setelah cuma fokus kerja".


Choi Woo Shik Sajangnim terdiam beberapa saat.


"Zefa... Gimana kalau...".

__ADS_1


***


__ADS_2