My Cutie Presdir

My Cutie Presdir
[MCP] CHAPTER 17


__ADS_3

Choi Woo Shik tiba tiba bergeming sebab perkataan yang baru saja ia ucapkan. Di hadapan Zefa ia tidak berkutik dan kikuk akibat ulahnya sendiri. Ingin rasanya menarik apa yang sudah diucapkannya namun apalah daya hal itu sudah terlanjur di dengar oleh Zefa.


Dihadapan Choi Woo Shik, Zefa pun terlihat terkejut ia juga tidak berkata apa pun. Jelas saja, Zefa pasti kebingungan dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Eehh... Gini Zefa, maksud saya... Eehh". Choi Woo Shik menggaruk garus kepalanya yang sama sekali tidak gatal.


"Saya paham kok Sajangnim. Kita harus bangun chemistry agar pekerjaan kita jadi jauh lebih mudah kalau kita bisa santai satu sama lain kan?". Ucap Zefa sambil tersenyum.


"Aahh, iya benar Zefa. Itu maksud saya". Sahut Choi Woo Shik berusaha untuk tertawa meskipun ia sedang bertempur dengan hatinya yang masih saja berdegub kencang.


"Terimakasih Sajangnim karena Sajangnim enggak pernah membatasi saya baik masalah pekerjaan atau pun urusan pribadi Sajangnim". Ucap Zefa.


"Meskipun begitu saya enggak akan melebihi batas dan bertindak seenaknya. Saya akan terus berusaha untuk tetap sesuai prosedur dan berjanji untuk selalu memberikan yang terbaik untuk Sajangnim sebagai kewajiban juga sebagai balasan dari semua kebaikan Sajangnim terhadap saya". Sambungnya lalu tersenyum.


"Justru saya yang harusnya berterimakasih sama kamu, karena kerja keras kamu saya jadi lebih termotivasi lagi untuk terus memberikan yang terbaik untuk perusahaan". Sahut Choi Woo Shik.


"Itu sih karena memang Sajangnim sangat pintar dan berbakat. Kalau saya kan hanya membantu sebagian kecil tugas Sajangnim". Zefa menyanjung bosnya.


"Bisa aja kamu". Ucap Choi Woo Shik salah tingkah.


Choi Woo Shik dan Zefa melanjutkan makan siang mereka dengan obrolan yang terus mengalir. Diiringi dengan canda tawa ringan menjadikan makan siang kali ini sangat menyenangkan.


"Terimakasih atas makan siangnya Sajangnim". Ucap Zefa setelah sampai di basemen kantor.


"Sama sama". Sahut Choi Woo Shik sambil tersenyum.


"Next time. Saya yang traktir Sajangnim ya". Ucap Zefa setelah melepaskan seat belt.


"Wah daebak! Saya pegang janji kamu". Seru Choi Woo Shik terlihat sangat senang.


"Iya saya janji!". Sahut Zefa tertawa.


"Permisi Sajangnim". Sambungnya kemudian meninggalkan Choi Woo Shik untuk kembali bekerja.


Choi Woo Shik masih berada di dalam mobilnya dan terlihat ia sedang tersenyum salah tingkah setelah Zefa berjanji untuk mentraktirnya makan di lain waktu.


Ia bersandar pada kursi mobilnya yang sangat lembut itu. Matanya seakan masih melihat Zefa yang sedang tersenyum kepadanya. Siang ini Choi Woo Shik benar benar di mabuk kepayang meskipun hanya karena hal kecil tersebut.


"Ngopi deh biar lebih segar". Ucap Choi Woo Shik.


Ia pun segera melajukan mobilnya menuju cafe terfavoritnya.


"Annyeong oppa!". Joddy menyapa Choi Woo Shik yang baru saja tiba dari kejauhan.


Choi Woo Shik hanya tertawa melihat tingkah laku kocak sahabatnya. Joddy pun menghampiri Choi Woo Shik yang kini sudah duduk di salah satu meja di dekat jendela besar yang menghadap ke jalan umum.


"Staff gue lagi siapin menu favorit lo". Ucap Joddy.


"Tapi hari ini gue mau matcha latte". Choi Woo Shik tersenyum meledeki sahabatnya.


"Kenapa enggak bilang!". Ucap Joddy dengan nada kesal.


"Ya siapa juga yang nyuruh lo langsung buatin, kan gue belum pesan!". Seru Choi Woo Shik sambil tertawa.


"Jadi matcha aja? Enggak americano aja?". Tanya Joddy.


"Lo buatin matcha juga, americanonya buat lo. Temenin gue ngobrol, nanti tetap gue bayar kopinya tenang aja". Sahut Choi Woo Shik.


"Daebak! Gomawo Woo Shik". Joddy memberikan love sign kepada sahabatnya sambil tersenyum dan bergegas membuatkan pesanan baru.


Choi Woo Shik menggelengkan kepalanya sambil tertawa sebab ulah Joddy yang selalu di luar nalar. Setelah Joddy pergi, jari jemarinya mulai sibuk menggulir laman sosial medianya. Ya, siang ini Choi Woo Shik sedang luang dan memanfaatkan waktu tersebut untuk menyegarkan pikiran.


Beberapa saat kemudian Joddy pun datang membawa pesanan Choi Woo Shik.


"Biasanya sama Zefa?". Tanya Joddy.


"Zefa di kantor. Gue baru aja makan siang sama dia". Sahut Choi Woo Shik dengan tidak mengalihkan pandangan dari ponselnya.


"What, lo serius? Sekarang udah bisa makan siang di luar pekerjaan?". Seru Joddy yang sangat mendukung hubungan Choi Woo Shik dengan Zefa.

__ADS_1


"Akhir akhir ini gue sering makan siang sama Zefa". Sahut Choi Woo Shik lalu meletakkan ponselnya.


"Kalau dinner?". Tanya Joddy meledeki sahabatnya.


"Aniyo~ belum sampai kesitu". Sahut Choi Woo Shik salah tingkah.


"Udahlah, lo tunggu apa lagi sih? Perasaan lo ke dia sekarang udah jauh lebih dalam kan?". Ucap Joddy.


"Sabar lah Jodd, gue butuh waktu sedikit lagi buat ngeyakinin diri dan hati gue". Choi Woo Shik menyeruput matcha latte buatan Joddy.


"Jangan sampai lo kalah cepat sama cowok yang mungkin lagi dekatin Zefa juga". Ucap Joddy.


"Lo jangan takut takutin gue dong!". Choi Woo Shik tertawa.


"Bukan gitu maksud gue. Gue sih realistis aja ya sebagai cowok. Zefa itu cantik, pintar, baik pula. Ok dia jomblo, tapi pasti ada kan cowok yang lagi berusaha buat dapatin dia? Dan mungkin juga bukan satu atau dua orang, tapi lebih banyak dari dugaan lo". Jelas Joddy.


Choi Woo Shik terdiam memikirkan perkataan Joddy yang memang lebih unggul dari dirinya jika menyangkut masalah percintaan.


"Benar kan?". Tanya Joddy.


"Iya sih lo benar". Sahut Choi Woo Shik.


"Ya udah, terus lo mau nunggu apa lagi? Setiap waktu yang lo punya itu berharga Woo Shik! Manfaatkan dengan baik, jangan sampai lo lengah dan akhirnya kehilangan apa yang seharusnya jadi milik lo". Tegas Joddy menasehati sahabatnya.


"Jangan lupa berdoa buat gue ya!". Ucap Choi Woo Shik sambil tersenyum.


"Lo mah slow respon banget! Enggak terpacu sama sekali. Terlalu santai". Ucap Joddy sedikit kesal.


"Terlalu santai gimana sih Joddy? Gue bukan lagi berleha leha, gue cuma butuh waktu sebentar lagi Jodd. Sebentar lagi". Sahut Choi Woo Shik dengan ekspresi yang sangat serius.


"Lo bukan lagi meyakinkan diri lo atas perasaan yang lo punya kan?". Tanya Joddy.


"Gue yakin seratus persen sama perasaan gue. Sekarang gue cuma butuh waktu buat memberanikan diri gue, itu aja". Sahut Choi Woo Shik.


"Gue percaya sih, bertahun tahun lo simpan rasa itu. Dan sekarang pasti udah lebih dari sekedar yakin". Ucap Joddy yang mengetahui banyak hal tentang Choi Woo Shik.


Choi Woo Shik menyeruput minumannya lalu tersenyum. Mereka pun semakin asyik bertukar cerita sampai lupa waktu. Ya, begitulah mereka saling memberi support dan saling mengisi kekurangan satu sama lain.


***


Weekend telah tiba, saatnya bagi Zefa untuk bersantai dan bermalas malasan. Minggu lalu ia tidak menikmati hari libur dengan baik sebab harus menemani Choi Woo Shik Sajangnim berolahraga. Hari ini ia harus memanfaatkan akhir pekannya dengan sebaik mungkin.


Pukul sepuluh pagi Zefa baru saja bangun dari tidurnya. Dan pagi menjelang siang ini Zefa sudah rapih dengan pakaian rumah yang santai. Ia berjalan keluar kamarnya menuju dapur untuk membuat sarapan.


"Kamu mau masak apa kak?". Tanya Ibu yang sedang menyiapkan sayur mayur untuk makan siang.


"Zefa mau buat nasi goreng, ibu mau?". Sahut Zefa sambil mengingat rambutnya sebelum mulai memasak.


"Buat kamu aja, ibu udah sarapan". Ucap Ibu.


"Kamu enggak kerja kak? Biasanya kerja weekend gini". Tanya Ayah yang baru bergabung bersama mereka.


"Enggak setiap weekend kok Yah, kerja di hari libur kan kalau ada pekerjaan deadline aja". Sahut Zefa.


"Ayah kira kamu olahraga lagi sama bos kamu". Ucap Ayah.


Zefa fokus pada masakannya.


"Bos kamu baik ya kak?". Tanya Ayah yang memang paling detail jika menyangkut anak anaknya.


"Baik banget yah. Zefa juga sering di traktir ngopi atau makan siang". Sahut Zefa.


"Ya wajar sih kalau sering di traktir makan, secara kamu kan memang sekertaris pribadinya. Kecuali kalau kamu staff biasa, bisa di bilang ada sesuatu kalau sering makan berdua bos". Ucap Ayah sambil mengambil sehelai roti.


"Zefa juga bisa aja di bilang ada sesuatu kalau sering makan berdua sama bosnya". Celetuk Ibu membuat Zefa dan Ayahnya saling pandang.


"Enggak Ayah... Zefa sama sekali enggak ada hubungan lain selain hubungan antara bos sama sekertaris". Ucap Zefa yang paham dengan pandangan sang Ayah.


Yap... Ayah Zefa sangat khawatir kalau sampai Zefa terjerat skandal percintaan dengan bosnya sendiri. Hal yang paling menakutkan bagi Ayahnya adalah status sosial. Sang Ayah tidak ingin putrinya bahkan keluarganya di rendahkan oleh orang yang memang status sosialnya berada jauh diatas mereka.

__ADS_1


Ayah Zefa memiliki trauma dengan strata sosial ketika ia bekerja di salah satu perusahaan. Dimana saat itu ada satu masalah yang membuatnya merasa di rendahkan oleh orang yang memang keadaan ekonominya lebih baik darinya. Ayah Zefa sangat sakit hatinya di rendahkan oleh mereka, sebab itu lah sang Ayah selalu memberikan nasihat kepada putri atau putranya untuk memilih pasangan yang setara dengan mereka agar tidak di rendahkan seperti dirinya.


"Ayah cuma enggak mau kalian merasakan hal yang sama seperti Ayah". Ucap Ayah kembali mengingatkan putrinya.


"Enggak semua konglomerat itu sejahat teman teman Ayah dulu kok. Sebagian dari mereka pasti ada yang benar benar baik dan tulus". Seru Ibu.


"Nah benar tuh Yah". Ucap Zefa spontan.


"Jadi kamu benar ada sesuatu sama bos kamu?". Ucap Ayah dengan nada sedikit tinggi dan membuat Zefa juga Ibunya terkejut.


"Ih enggak! Zefa enggak ada huhungan apa apa sama Sajangnim. Zefa cuma sekertarisnya, enggak lebih". Ucap Zefa membela diri demi menghindari omelan sang Ayah.


"Meskipun memang ada konglomerat dengan hati yang tulus, berpikir lah berulang kali". Jelas Ayah.


"Iya Ayah, Zefa paham". Sahut Zefa sambil tersenyum.


Zefa yang telah selesai memasak, membawa nasi goreng buatannya itu ke meja makan. Ia juga mengambil tiga piring dan sendok untuk di bawanya ke meja makan.


"Temanin Zefa sarapan ya". Ucap Zefa setelah meletakkan piring.


"Ih kan Ibu bilang udah sarapan kak". Ucap Ibu.


"Ya udah Ibu enggak usah. Ayah aja, Ayah laper tadi sarapan cuma sama roti". Seru Ayah yang langsung mengambil nasi goreng buatan Zefa.


"Nasi goreng buatan kakak kan enak". Sambung Ayah meledeki istrinya.


Zefa tertawa melihat tingkah Ayahnya.


"Ya udah Ibu juga mau deh". Celetuk Ibu membuat Zefa dan Ayahnya tertawa.


Selang beberapa jam kemudian saat Zefa tengah bermalas malasan di tempat tidurnya sambil menyaksikan drama korea kesukaannya di laptop, ponselnya berdering menandakan sebuah pesan untuknya.


Diraihnya ponsel yang tergeletak di kasur dan ia mulai membaca pesan singkat tersebut.


Pesan [Choi Sajang]


Choi Woo Shik


Zefa, luka dan tangan kamu yang terkilir apa masih terasa sakit?.


Pesan singkat dan tanpa basa basi itu membuat Zefa terdiam, hatinya kembali berdebar. Ia terdiam beberapa saat untuk meyakinkan dirinya bahwa yang mengiriminya pesan tersebut memang Choi Woo Shik Sajangnim.


Pesan [Choi Sajang]


Zefanya Chayra


Semuanya udah membaik Sajangnim😊


Choi Woo Shik


Yakin sudah sembuh?.


Zefanya Chayra


Iya Sajangnim, luka dan tangan yang saya yang terkilir udah sembuh.


Choi Woo Shik


Syukurlah... Istirahat dan jangan lakukan kegiatan yang berat, khawatir tangan kamu masih belum kuat.


Zefanya Chayra


Baik Sajangnim. Terimakasih atas perhatiannya.


Choi Woo Shik


Saya cuma mau memastikan kamu baik baik saja.


Zefa kembali terdiam setelah membaca pesan tersebut. Hatinya semakin berdebar mengetahui Choi Woo Shik Sajangnim sangat mengkhawatirkannya. Entah kenapa beberapa hari ini Zefa merasa ada yang aneh dengan sikap bosnya. Sering kali Choi Woo Shik Sajangnim seperti memberikan spoiler tipis tipis tentang perasaannya. Tetapi Zefa berusaha untuk berpikir positif bahwa hal itu adalah hal yang wajar bagi seorang bos dan sekertarisnya.

__ADS_1


***


__ADS_2