
"Braaakkk!".
Vas bunga di sudut meja kerja Choi Woo Shik Sajangnim terjatuh karena ia tidak sengaja menyenggolnya. Vas itu hancur berkeping keping hingga berserakan di sekitar mejanya.
Choi Woo Shik Sajangnim dan Zefa pun refleks mengambil pecahan vas itu secara bersamaan. Dan tidak sengaja pula kepala mereka saling membentur.
"Aaahh!".
"Awwh!".
Keduanya mengerang kesakitan sebab insiden yang tidak di sengaja itu. Wajahnya saling berhadapan begitu dekat. Mereka memandangi satu sama lain dalam waktu yang cukup lama.
"Hah, apa nih? Kenapa dekat banget? Saking dekatnya sampai gue bisa ngerasain nafas Sajangnim. Gue harus gimana ini".
"Malah ganteng banget lagi Sajangnim. Sabar Zefa sabar, tahan please tahan. Jangan sampai ngelakuin hal aneh di situasi kayak gini".
Zefa terlihat gugup dan kemudian mengalihkan pandangannya untuk membersihkan pecahan vas tersebut. Begitu juga dengan Choi Woo Shik Sajangnim, ia menggigit bibir bawahnya sambil menggaruk garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
"Biar saya aja yang bersihin ya. Kamu bisa kembali ke meja kamu". Ucap Choi Sajangn yang semakin gugup.
"Enggak apa apa Sajangnim, udah hampir selesai juga kok". Sahut Zefa sambil berusaha tersenyum dan terus melanjutkan pekerjaannya hingga selesai.
"Saya pamit mau sekalian buang ini juga. Permisi Sajangnim". Ucap Zefa saat sudah selesai memunguti pecahan vas tersebut.
"Oh iya, Eehh... Terimakasih". Sahut Choi Woo Shik Sajangnim yang masih sangat gugup.
Zefa melangkah keluar dari ruangan Choi Woo Shik Sajangnim dengan perasaan yang tidak karuan. Deguban jantungnya semakin cepat juga keringat dingin mulai menetes dari keningnya. Zefa benar benar sangat terkejut dengan peristiwa yang baru saja terjadi.
"Aahh! Pikiran gue kotor banget sih!". Gumam Zefa setelah sampai di meja kerjanya.
"Bisa bisanya gue fokus ngerasain nafas Sajangnim, mesum banget gue astaga". Sambungnya kemudian menenggak sebotol air.
"Arrgghh! Lagian sih Sajangnim...". Ucap Zefa sambil memanyunkan bibirnya.
"Udah deh udah, Zefa lo harus kerja sekarang. Fokus Zefa fokus, jangan sampai pikiran kotor lo bikin kacau kerjaan hari ini. Fokus!". Zefa bergumam dengan tangan terus merapihkan berkas yang sebenarnya sama sekali tidak berantakan.
Hari ini adalah hari yang sangat mendebarkan bagi Zefa, bagaimana tidak? Ia bisa melihat ketampanan Choi Woo Shik Sajangnim dari jarak yang sangat dekat. Dan hal yang paling membuat deguban jantungnya semakin cepat adalah karena ia bisa merasakan nafas dari bosnya itu.
Ya sekilas memang itu seperti pikiran kotor yang ada di kepala Zefa, namun hal tersebut sangatlah wajar bagi siapa pun yang mungkin akan atau pernah berada di posisi Zefa tadi.
Lupakan hal itu, mari fokus dengan Zefa yang tengah sibuk bekerja hingga tidak terasa sudah waktunya bagi Zefa untuk makan siang.
Zefa kini tengah berjalan menuju lobby untuk menemui teman temannya. Ia berjalan santai sambil sesekali menyapa kolega yang berpapasan dengannya. Zefa memang sangat ramah juga mudah bergaul sehingga ia sudah banyak mengenal koleganya meskipun belum genap satu bulan bekerja.
Zefa telah sampai di lobby dan sudah bergabung dengan teman temannya. Mereka pun langsung berjalan menuju restauran tempat biasa mereka makan siang. Seperti tidak pernah bosan, mereka hampir tidak pernah absen untuk makan di restauran tersebut.
"Girls, besok kan weekend nih. Gimana kalau kita hangout bareng? Kalau gue pikir pikir ya kita tuh cuma ketemu disini, ngobrol disini. Mentang mentang teman kerja ya masa ketemunya di kantor aja". Seru Araya tiba tiba.
"Maksudnya lo mau kita hangout terus cari suasana baru buat ngobrol gitu Ray?". Tanya Nayra.
"Iya Nay, ngopi kek atau makan apa gitu di luar pas weekend biar kita tuh lebih enak aja ngobrolnya. Biar makin bestie lah". Sahut Araya.
"Gue setuju sih, bosan juga weekend jalan sama pacar terus. Mau coba suasana lain". Ucap Imelda si paling mungil di antara teman temannya.
"Hm, iya deh yang punya pacar mah beda". Celetuk Zefa.
"Engga Zef, maksudnya tuh ya...". Ucap Imelda yang langsung di sela oleh Metta.
"Udah enggak usah makin di perjelas. Lo lupa ya teman teman lo yang cantik cantik ini jomblo semua?". Seru Metta mengundangan tawa teman temannya.
__ADS_1
"Udah Ray, ayo kita ngopi dimana? Ada yang punya rekomendasi tempat ngopi yang enak?". Sambung Metta.
"Gue tahunya warteg doang Mett". Celetuk Nayra.
"Ya elah si Nayra. Lo cantik cantik enggak bisa aesthetic sedikit aja gitu Nay?". Ucap Metta semakin membuat teman temannya tertawa lepas.
"Emang orang cantik enggak boleh makan di warteg? Justru orang cantik yang makan di warteg itu lebih aesthetic Mett! Hih payah lo". Ucap Nayra meledeki Metta.
"Udah ah berisik lo berdua! Jadi dimana nih?". Ucap Araya.
"Gue tahu satu cafe yang menurut gue tuh simple tapi nyaman gitu. Design interiornya klasik tapi bagus banget. Itu menurut gue ya, tapi kalau kalian mau coba kesana. Boleh juga sih". Ucap Zefa memberikan jalan tengah untuk teman temannya yang sedang kebingungan.
"Boleh tuh Zef. Lagi pula kita enggak ada opsi lagi kan? Ya udah, fix". Sahut Araya.
"Mau engga lo Mett?". Tanya Nayra.
"Mau dong, dimana pun tempatnya yang penting sih sama kalian". Sahut Metta sambil tersenyum.
"Yeh alay!". Celetuk Imelda.
"Enggak usah lebay! Bilang aja lo senang kan weekend ada yang temanin lo". Seru Araya.
"Udah ah! habisin dulu makannya nanti lanjut lagi berantemnya. Fix pokoknya di cafe itu". Ucap Zefa kembali mendamaikan suasana.
Sifat mereka yang beragam memang sering kali membuat suasana menjadi lebih kompleks tetapi tetap menghibur dan memberikan suasana yang jauh lebih seru.
***
Satu bulan kemudian...
Tepat hari ini, dua bulan sudah Zefa bekerja di Stars Holding Group sebagai sekertaris dari seorang CEO. Dunia yang sangat baru baginya, di awali dengan rasa ragu dan kini ia sudah jauh lebih menguasai pekerjaannya dari pada hari hari pertama ia bekerja.
Hari ini Zefa tengah sibuk menyiapkan beberapa berkas yang akan di perlukan Choi Woo Shik Sajangnim untuk meeting penting hari ini. Zefa benar benar fokus menyiapkan segala sesuatunya. Ia tidak boleh membuat bosnya kecewa mengingat meeting ini adalah meeting yang selalu di tunggu tunggu oleh Choi Woo Shik Sajangnim.
"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam. Ok, clear! Semuanya udah siap tinggal tunggu Sajangnim datang". Zefa mengoreksi kembali berkas berkas yang harus ia siapkan sambil menunggu Choi Woo Shik Sajangnim tiba.
"Sajangnim sarapan di rumah atau langsung kesini ya? Meeting sepenting ini sih biasanya bikin dia fokus kerja semalaman, dan dia pasti buru buru buat pergi". Ucap Zefa yang sedang menatap layar monitor yang belum di hidupkan.
"Gue beliin aja kali ya, jaga jaga takutnya Sajangnim beneran enggak sempat buat sarapan". Zefa berpikir sesaat.
"Ya udah deh, gue beliin aja". Sambungnya kemudian bergegas keluar ruangan.
Beberapa saat kemudian Zefa telah sampai di cafe yang merupakan cafe favorit Choi Woo Shik Sajangnim. Tidak lain cafe itu adalah cafe milik Joddy, sahabat dari Choi Woo Shik Sajangnim.
"Pagi kak". Ucap Zefa menyapa Joddy yang sedang berjaga di cafenya.
"Hai Zefa. Lo sendiri?". Sahut Joddy.
"Iya". Zefa menanggukkan kepalanya.
"Woo Shik?". Tanya Joddy.
"Belum datang kak. Ini mau pesan kopi buat Sajangnim". Sahut Zefa sambil tersenyum.
"Tolong buatin kayak biasa ya kak". Sambungnya kemudian memberikan kartu untuk membayar pesanannya.
"Ok siap". Ucap Joddy yang langsung menyiapkan pesanan Zefa.
Setelah beberapa menit...
__ADS_1
"Zefa, ini pesanannya". Ucap Joddy memberikan pesanan tersebut.
"Makasih banyak ya kak". Ucap Zefa.
"Makin hari kamu makin tahu ya apa yang di butuhkan Woo Shik". Celetuk Joddy meledeki Zefa.
"Kan emang udah seharusnya seorang sekertaris tahu apa apa aja yang dibutuhin sama bosnya". Ucap Zefa sambil tersenyum.
"Bukan karena hal lain?". Tanya Joddy.
"Hal lain apa kak?". Ucap Zefa dengan kepolosannya.
"Hm, enggak deh. Ya udah makasih ya. Sering sering ngopi disini, ajak juga teman teman kamu". Ucap Joddy mengalihkan pembicaraan.
"Weekend ini aku emang mau kesini kok sama teman teman". Sahut Zefa.
"Oh iya? Serius?". Seru Joddy terlihat sangat senang.
Zefa menganggukkan kepalanya.
"Wah thank you Zefa. Di tunggu ya!". Ucap Joddy.
"Iya. Thank you ya kak". Zefa berpamitan kepada Joddy.
Setelah mendapatkan kopi yang akan di berikan kepada Choi Woo Shik Sajangnim, Zefa pun bersegera kembali ke kantor sebelum bosnya datang.
Langkah kakinya terhenti ketika ia tiba di ruang kerjanya. Jantungnya mulai berdebar cepat mengetahui Choi Woo Shik Sajangnim sudah lebih dulu datang darinya. Ia takut Sajangnim akan memarahinya sebab ia tidak ada di ruangan saat bosnya datang.
"Sajangnim". Ucap Zefa menyapa Choi Woo Shik Sajangim yang tengah berdiri di depan meja kerjanya.
"Oh Zefa. Kamu dari mana?". Tanya Choi Woo Shik Sajangnim membuat Zefa semakin khawatir.
"Hm, maaf Sajangnim. Saya tadi beli kopi dulu untuk Sajangnim". Sahut Zefa sambil tersenyum.
"Saya pikir Sajangnim enggak sempat sarapan karena meeting penting ini". Sambungnya.
Choi Woo Shik Sajangnim tersenyum dan menatap Zefa sesaat. Tentunya hal itu membuat Zefa kebingungan dan juga salah tingkah.
"Sajangnim?". Ucap Zefa gugup.
"Ah iya, maaf". Choi Woo Shik Sajangnim menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal.
"Terimakasih ya. Saya memang belum sarapan". Sambungnya.
"Sajangnim tetap harus sarapan dulu, apa lagi saat meeting sepenting ini. Biar tetap fokus dan lebih bersemangat". Ucap Zefa menasehati bosnya.
"Saya akui saya memang selalu merasakan panik yang berlebihan kalau ada meeting sepenting ini. Pikiran saya hanya tertuju pada hari itu". Jelas Choi Woo Shik Sajangnim.
"Itu salah satu kebiasaan buruk yang harus Sajangnim benahi. Saya harap Sajangnim enggak terlalu lama membiasakan hal itu". Zefa tersenyum.
Choi Woo Shik Sajangnim tersenyum sambil menatap tajam mata Zefa. Entah apa yang ada dipikirannya saat itu. Yang jelas sikap Choi Woo Shik Sajangnim sangat mengganggu konsentrasi Zefa. Ia jadi salah tingkah dengan deguban jantung yang semakin cepat.
Tatapannya benar benar berbahaya, ditambah lagi senyumannya semanis cokelat yang dilapisi dengan cokelat lagi. Bisa bisa Zefa terhipnotis dengan tatapan tajam bosnya itu.
"Oh tuhan selamatkan saya dari sini, please".
"Tatapannya Sajangnim setajam ini, saya enggak kuat. Help me please god!".
***
__ADS_1