
Rasanya seperti mimpi melihat Choi Woo Shik Sajangnim berada di rumahnya. Terlebih ia pun menyiapkan makan dan obat untuknya. Satu lagi sisi lain dari Choi Woo Shik Sajangnim terpampang nyata di depan mata. Entah apa maksud dan tujuannya yang jelas Zefa kembali terpana dengan sikap manis bosnya tersebut.
"Jadi saya enggak perlu alasan yang formal kan untuk bisa temui kamu, terutama di saat kamu dalam kondisi seperti ini?". Ucap Choi Sajang menyadarkan Zefa dari lamunannya.
"Hm...". Zefa mengangguk pelan.
"Ya sudah, makan dulu ya nanti minum obatnya biar kamu cepat sehat". Ucap Choi Sajang tersenyum.
"Terimakasih Sajangnim". Sahut Zefa tersenyum kaku.
Zefa mulai melahap makanan yang diberikan Choi Woo Shik Sajangnim. Meskipun ia harus menahan malu sebab terus di pandangi selagi ia menghabiskan makanannya.
"Sajangnim boleh kok main handphone atau mau streaming apaaa gitu, boleh banget kok". Ucap Zefa membujuk Choi Sajang agar tidak terus memperhatikannya.
"Saya enggak mau melakukan apa pun selagi disini sama kamu". Sahut Choi Sajang.
"Lagi pula kenapa saya harus streaming atau apa pun itu?". Sambungnya.
"Yaaa... Kalau begitu berarti saya butuh waktu lebih lama buat habisin makanan ini". Ucap Zefa mengalihkan pandangannya.
"Apa hubungannya dengan saya streaming atau enggak?". Tanya Choi Sajang dengan wajah bingungnya.
"Ya biar Sajangnim enggak lihatin saya terus, malu!". Sahut Zefa merengek dan membuat Choi Sajang tertawa.
"Ya sudah, saya keluar dulu buat temui orang tua kamu selagi kamu makan. Nanti saya kesini lagi". Ucap Choi Sajang kemudian pergi meninggalkan Zefa sendiri dikamarnya.
"Huh...". Zefa menghela nafas.
"Lega banget gue. Bisa enggak selesai-selesai kalau Sajangnim ngelihatin gue terus". Gumamnya.
Setelah hampir satu jam berada di rumah Zefa, menyiapkan makan dan obat untuknya, berbincang dengan orang tuanya. Kini Choi Woo Shik Sajangnim memutuskan untuk mengakhiri kunjungannya dan berpamitan dengan Zefa dan keluarga.
"Saya pamit ya. Harus cepat sehat dan semangat lagi. Nanti kalau sudah sehat, kita dinner lagi". Ucap Choi Sajang berpamitan.
"Terimakasih banyak Sajangnim udah sempatin waktu buat kesini". Ucap Zefa tersenyum.
"Hm... See you!". Choi Sajang pun berlalu.
Zefa kembali berbaring di tempat tidurnya kembali melanjutkan istirahatnya yang sempat tertunda. Tubuhnya benar benar sedang melemah, hanya itu lah yang bisa ia lakukan untuk saat ini.
...****************...
Hari kedua dalam kondisi yang lemah sebab terlalu memaksakam diri bekerja keras sejak menjadi sekertaris pribadi seorang CEO.
Sore ini Zefa hanya berbaring sambil melakukan streaming music dari salah satu boy group Korea Selatan yang menjadi favoritnya. Namun sebelum itu Zefa sudah terlebih dahulu mengabari Choi Woo Shik Sajangnim mengenai keadaannya saat ini.
Pesan [Choi Sajang]
...
Z : Sajangnim, maaf hari ini saya masih belum bisa bekerja.
C : Gwaenchanha. Istirahat saja dan cepat sehat ya!.
Z : Baik Sajangnim, terimakasih.
C : Istirahat saja selama beberapa hari sampai kamu benar benar sehat. Lalu sebagai gantinya setelah kamu sehat, kita dinner!.
Z : Dinner?.
...
"Hayo, ngapain lo senyum-senyum sendiri!".
Kehadiran Nayra yang secara tiba-tiba itu mengejutkan Zefa yang memang saat itu sedang tersenyum sambil memandangi layar ponselnya yang berisi pesan singkatnya dengan Choi Woo Shik Sajangnim.
"Hai bestie!". Ucap Zefa menyapa Nayra dengan riang agar sahabatnya itu tidak menginterogasinya lebih lanjut.
__ADS_1
"Kenapa enggak bilang kalau lo sakit?". Tanya Nayra yang duduk di kasur bersama Zefa.
"Kan gue udah bilang". Sahut Zefa.
"Lo cuma bilang kalau lo kecapekan aja, enggak bilang kalau lo sakit". Jelas Nayra.
"Ya itu maksud gue, mungkin gue sakit karena gue kecapekan". Ucap Zefa tersenyum.
"Hm... Habis liburan malah sakit". Seru Nayra meledeki Zefa.
Setelah meledeki sahabatnya, Nayra terlebih dahulu memeriksa ponselnya yang baru saja berdering.
"Heh! Kenapa lo senyum-senyum gitu?". Ucap Zefa setelah curiga dengan senyuman sahabatnya.
"Siapa yang senyum?". Sahut Nayra.
"Ya lo lah, lo tadi senyum-senyum gitu habis lihat chat siapa?". Zefa mulai penasaran.
"Enggak!". Ucap Nayra seraya berteriak.
"Bohong!". Seru Zefa.
"Enggak Zefa! Enggak ada yang senyum-senyum". Nayra masih mengelak.
"Lo udah komunikasi sama kak Joddy?". Tanya Zefa yang membuat Nayra terkejut dan terdiam.
"Tuh kan benar!". Zefa tertawa setelah memergoki sahabatnya yang sedang dimabuk cinta.
Zefa dan Nayra hanyut dalam tawa. Nayra benar-benar tidak menyangka bahwa Zefa bisa secepat itu mengetahui gerak-geriknya. Entah Zefa ataupun Nayra mereka memang paling bisa mengerti dan memahami satu sama lain. Dan yang terpenting adalah kehadiran Nayra memberikan suasana yang lebih ceria dan tentunya menghibur Zefa yang tengah kehilangan semangatnya.
"Sekarang giliran lo! Tadi lo senyum-senyum habis lihat handphone, siapa dia?". Tanya Nayra yang memberikan serangan balik untuk Zefa.
"Emang gue senyum cuma karena gue lagi chattingan sama seseorang?". Sahut Zefa tertawa.
"Udah pasti, enggak mungkin kalau cuma lihat sosial media terus lo jadi senyum-senyum kayak salah tingkah gitu". Ucap Nayra tidak mau kalah.
"Bukan sama V kan?". Tanya Nayra.
"Buat apa sih gue chattingan sama dia? Kayak enggak ada cowok lain aja!". Jelas Zefa.
"Nah benar kan! Lo juga lagi chattingan sama cowok, siapa? Tega lo ya enggak kasih tahu gue!". Ucap Nayra.
"Lo juga tega, tega banget sih. Kenapa gue harus lebih dulu tahu sebelum lo kasih tahu ke gue?". Balas Zefa yang juga tidak mau kalah.
"Iya maaf... Habisnya lo kan sibuk banget belakangan ini. Jadi ya gue tunggu waktu yang tepat lah buat cerita ke lo". Ucap Nayra.
"Udah berapa lama?". Tanya Zefa.
"Gue masih kayak ya... Semacam pendekatan lah". Sahut Nayra.
"Bohong!". Seru Zefa tidak percaya.
"Astaga Zefa. Lo tanya sendiri deh sama orangnya, kali ini gue enggak bohong, sumpah!". Ucap Nayra.
"Ok. Gue percaya sama lo". Ucap Zefa mengalah.
"Ya terus siapa cowok itu?". Nayra masih dengan tekadnya.
"Udah ah diam! Gue lagi streaming, ganggu banget deh". Ucap Zefa kemudian menutupi wajahnya dengan selimut dan mereka pun bercanda.
...****************...
Keesokan harinya setelah Zefa selama dua hari terakhir berbaring di tempat tidur sebab sakit yang sedang ia alami, hari ini setelah ia merasa sudah jauh lebih baik Zefa memutuskan untuk kembali bekerja. Pagi ini pun ia sudah berkumpul bersama keluarga dan juga Nayra untuk sarapan terlebih dahulu.
"Kamu yakin udah bisa kerja?". Tanya Ayah yang masih khawatir dengan kondisi sang anak.
"Enggak usah di paksa kalau memang masih sakit". Seru Ibu.
__ADS_1
"Zefa udah enggak apa apa kok. Udah sehat". Sahut Zefa setelah minum segelas air.
"Yakin lo? Nanti lo nyusahin gue lagi". Celetuk Nayra yang sedang sibuk dengan sepiring nasi dihadapannya.
"Nyebelin lo ya". Ucap Zefa dengan suaranya yang masih terdengar parau.
Setelah itu ia mengetikkan sesuatu setelah ponselnya berdering.
Pesan [Choi Sajang]
...
C : Zefa. Apa kamu masih sakit?.
Z : Hari ini saya mulai kerja lagi Sajangnim.
C : Kondisi kamu gimana? Jangan paksakan diri kamu kalau belum benar-benar fit.
Z : Saya sudah jauh lebih baik Sajangnim. Saya udah kangen kerja, suntuk juga kalau terlalu lama dirumah.
C : Yakin cuma kangen sama pekerjaan aja? Enggak kangen juga sama saya?.
...
"What? Apa nih, kok Sajangnim malah balas kayak gini sih. Astaga, salah ngomong nih gue. Sial". Gumam Zefa dalam hatinya.
"Tapi ada benarnya juga sih". Zefa tiba tiba tersenyum sambil memanyunkan bibirnya.
"Nah, kayak gini nih om tante. Dari kemarin sikapnya aneh banget senyum-senyum sendiri terus". Celetuk Nayra yang membuat Zefa terkejut dan langsung mematikan ponselnya.
Zefa berpura-pura melanjutkan sarapannya untuk menghindari hal yang lebih buruk terjadi karena kecomelan Nayra.
"Itu artinya kak Zefa udah enggak perduli lagi sama kak V. Atau mungkin bisa sebaliknya juga sih". Ucap Zeno, sang adik.
"Kamu sepemikiran sama aku Zen". Ucap Nayra tersenyum.
"Apa ada hubungannya sama Bos Korea yang kemarin datang kesini?". Celetuk Ayah Zefa yang kembali membuat Nayra penasaran.
"Hah? Sajangnim kesini? Serius om, tante?". Seru Nayra yang amat terkejut.
"Iya kemarin si Sajangnim itu datang kesini, ngobrol juga kok sama om tante. Dia bawain Zefa makanan banyak banget". Ucap Ibu semakin membuat Nayra meronta-ronta.
"Eehh... enggak enggak! Sajangnim enggak kesini kok, Ibu sama Ayah gue salah orang. Sumpah, salah orang kok Nay". Ucap Zefa seraya berteriak karena begitu panik.
"Yang om tante maksud bosnya Zefa kan yang orang Korea itu? Iya kan?". Tanya Nayra yang masih dengan rasa penasarannya.
"Nay, Nay... Ayo berangkat udah jam berapa nih, nanti telat lo bisa kena marah kepala suku". Ucap Zefa sambil menarik tangan Nayra.
"Om tante enggak salah lihat kan?". Tanya Nayra.
"Salah lihat Nay, Ayah Ibu gue salah lihat. Bukan Sajangnim yang mereka maksud". Ucap Zefa masih berusaha untuk membawa Nayra pergi dan menjauh dari orang tuanya.
"Ya terus siapa, kan orang Korea yang lo kenal cuma V sama Sajangnim. Dan enggak mungkin V kan?". Jelas Nayra berusaha menahan Zefa.
"Ya enggak lah. Pokoknya bukan mereka berdua!". Ucap Zefa dengan nada sedikit tinggi.
"Ya terus siapa?". Nayra masih berusaha.
"Ah udah deh. Gue mau kerja, lo kalau masih mau sarapan silahkan, gue berangkat sendiri". Ucap Zefa sedikit kesal.
"Ya enggak gitu juga lah Zef. Tungguin!". Seru Nayra yang terburu-buru mengambil tasnya.
Melihat tingkah kekanak-kanakan Zefa dan Nayra yang seperti kucing dan tikus, Ayah Ibu serta Zeno hanya bisa tertawa. Hal seperti ini memang sering terjadi jika salah satu dari mereka menyimpan rahasia. Tetapi hal tersebut tidak pernah membuat mereka menjadi dingin dan saling membenci, justru kedekatan mereka menjadi semakin erat.
Sesampainya di kantor...
"Wah... Aroma meja kerja gue tuh emang khas banget. Bikin gue kangen kalau lama-lama ditinggalin gini". Ucap Zefa setelah sampai di ruang kerjanya.
__ADS_1
"Kamu benar-benar cuma kangen sama meja kerja kamu? Enggak kangen yang lain...?".
Next chapter >>>