
"Awwhh".
"Aahh, Sajangnim".
Zefa refleks merintih sebab Choi Sajangnim menarik tangannya yang terkilir. Ia juga sangat terkejut dengan kedatangan Choi Sajang yang terkesan tiba tiba.
"Duduk". Ucap Choi Sajang setelah tiba di ruangannya dan segera mengambil kotak P3K.
"Awwhh". Zefa masih merintih sambil memegangi tangannya yang terkilir.
"Kamu jatuh? Kenapa bisa sampai luka?". Tanya Choi Sajang yang terlihat sangat khawatir.
Zefa justru terdiam melihat bosnya begitu panik setelah melihat luka di lututnya yang sebenarnya tidak terlalu parah.
"Kenapa diam? Kamu jatuh dimana sampai luka kayak gini?". Tanyanya sekali lagi.
"Lain kali bisa kan lebih hati hati dan enggak ceroboh?". Celotehnya seperti seorang ibu yang mengkhawatirkan anaknya.
"Eehh, tadi... Tadi saya sempat tersandung di basemen Sajangnim". Sahut Zefa gugup.
"Cckk..". Choi Sajang menyernyitkan alisnya sambil mengoleskan obat ke lutut Zefa.
"Eehh, enggak usah Sajangnim saya bisa sendiri kok". Zefa berusaha mengambil obat yang sedang di pegang bosnya.
Namun Choi Woo Shik Sajangnim terus saja fokus mengoleskan obat tersebut sampai tak sengaja menepis tangan Zefa yang berusaha mengambil obatnya.
"Awwhh". Rintih Zefa.
"Kenapa? Tangan kamu luka juga?". Seru Choi Sajang yang kemudian memeriksa lengan Zefa.
"Awwhh". Rintihnya lagi.
"Eehh... Sebelah kiri yang sakit?". Tanya Choi Sajang mendadak gugup.
Zefa mengangguk dengan wajahnya yang sedang menahan sakit.
"Astaga... Pantas aja tadi kamu kesakitan, jadi tangan yang saya tarik tadi tangan yang terkilir?". Ucap Choi Sajang menyesal.
Zefa mengangguk lagi.
"Aahh Jinjja! Maaf Zefa, saya... saya enggak tahu kalau tangan kamu terkilir, maaf ya". Ucap Choi Sajang penuh penyesalan.
"Masih sakit? Saya kompres dulu ya, sebentar". Sambungnya kemudian beranjak untuk mengambil sesuatu.
__ADS_1
"Sajangnim!". Seru Zefa seraya berteriak.
Choi Woo Shik Sajangnim berbalik arah dan terdiam serapa bertanya "Kenapa?".
"Enggak usah Sajangnim, saya udah bawa plester untuk kompres". Ucap Zefa yang tidak ingin merepotkan bosnya.
"Eehh....". Choi Sajang terlihat ingin tetap melakukannya.
"Enggak apa apa Sajangnim. Eeh, ini udah jam kerja juga. Luka saya udah di plester dan enggak enak juga kalau nanti tiba tiba ada yang datang malah salah paham kalau lihat kita kayak gini". Ucap Zefa sambil tersenyum meyakinkan bosnya.
"Benar juga sih". Seru Choi Sajang.
"Tapi kamu beneran udah ok ya?". Sambungnya.
"Everything's fine. Sajangnim". Sahut Zefa.
"Ok". Ucap Choi Sajang sambil menganggukkan kepala.
"Tapi kalau ada apa apa beri tahu saya, siapa tahu saya bisa bantu. Dan hati hati jangan ceroboh". Sambungnya masih terus mengkhawatirkan Zefa.
"Baik Sajangnim". Ucap Zefa.
"Terimakasih banyak karena Sajangnim selalu aja perduli sama saya. Saya enggak pernah lupa dengan semua kebaikan Sajangnim kepada saya, baik hal kecil maupun hal besar lainnya". Sambungnya sambil tersenyum lalu pergi dan meninggalkan ruangan tersebut.
"Eh, kenapa tadi tiba tiba gue bilang terimakasih kayak mau pergi jauh ya". Ucap Zefa setelah teringat dengan ucapannya kepada Choi Sajang.
Ia tertawa cekikikan sambil terus mengurusi tangannya yang terkilir lalu menggelengkan kepalanya.
"Lo kadang emang suka aneh sih Zef". Gumamnya sambil mentertawakan dirinya sendiri.
Fokusnya kembali tak teralihkan oleh apa pun. Zefa mulai bekerja meskipun perih dan sakit masih begitu terasa. Sesekali ia pun merintih kesakitan, namun ia tetap harus menahan rasa sakitnya itu demi terselesaikannya pekerjaan yang sangat menumpuk.
Selang beberapa jam kemudian saat jam makan siang tiba, Zefa pun merapihkan meja kerjanya untuk segera menemui Nayra dan teman temannya yang lain untuk makan siang bersama.
Zefa melangkah pergi meninggalkan ruang kerjanya. Namun, langkahnya terhenti setelah berpapasan dengan Choi Woo Shik Sajangnim yang baru saja datang dari arah yang berlawanan.
"Sajangnim". Sapa Zefa.
"Kamu mau makan siang kan?". Tanya Choi Sajang.
"Iya Sajangnim". Sahut Zefa.
"Ok. Ayo ikut saya". Seru Choi Sajang lalu berjalan dan diikuti Zefa dibelakangnya.
__ADS_1
Entah kemana Choi Woo Shik Sajangnim akan membawanya pergi, tapi kini mereka sudah berada di satu mobil yang sama.
"Luka kamu masih sakit ya?". Tanya Choi Sajang sambil menyetir.
"Mmm... Sedikit". Sahut Zefa sambil tersenyum.
"Sebenarnya kamu jatuh atau...?". Ucap Choi Sajang yang langsung disela oleh Zefa.
"Eehh... Iya Sajangnim. Saya beneran jatuh di basemen tadi pagi". Sahut Zefa gugup dan terpaksa terus berbohong agar Choi Sajang tidak mencurigai hal lain.
"Ok. Lain kali harus hati hati ya". Ucap Choi Sajang membalas senyum Zefa.
Tidak lama kemudian mobil yang dikendarai Choi Woo Shik Sajangnim berhenti di salah satu restauran yang saat itu sangat ramai. Lalu mereka pun kini telah menempati salah satu meja di restauran tersebut.
"Sajangnim tuh selalu aja tiba tiba ajak saya pergi cuma buat ke Cafe atau ke Resto". Ucap Zefa meledeki bosnya sambil tersenyum.
Choi Woo Shik Sajangnim tersenyum lalu menyeruput minuman yang baru saja disajikan.
"Kalau saya bilang, kamu pasti enggak akan mau". Sahut Choi Sajang.
"Kamu enggak suka ya kalau makan berdua sama saya?". Tanya Choi Sajang dengan wajah yang seketika berubah menjadi sedih.
Zefa terdiam melihat bosnya memasang wajah sedih.
"Kenapa Sajangnim tiba tiba kayak bad mood? Ada yang salah sama omongan gue atau kenapa nih?". Gumam Zefa dalam hatinya.
"Jadi benar kamu enggak suka kalau saya ajak kamu makan?". Tanya Choi Sajang sekali lagi.
"Ehh... Eng, enggak Sajangnim bukan gitu maksudnya". Sahut Zefa terbata bata.
"Saya malah takut kalau ternyata saya yang justru ganggu waktu luangnya Sajangnim". Sambungnya.
"Aniyo~ Enggak kok. Justru karena saya punya waktu luang jadi saya manfaatkan untuk bisa bincang santai sama kamu sebagai teman". Ucap Choi Sajang.
"Dan saya malah senang bisa menghabiskan waktu sama kamu". Sambungnya sambil tersenyum.
Mendengar pernyataan dari Choi Woo Shik Sajangnim, Zefa terpaku dan pandangannya menjadi kabur. Fokusnya pun tidak lagi bersamanya, ia benar benar seperti kehilangan kesadaran.
"Tuhaaan... Saya enggak salah dengar kan? Yang dihadapan saya ini benar Sajangnim kan? Saya enggak mungkin salah lihat dan dengar kan?". Ucap Zefa dalam hati.
Hatinya berdegub kencang seraya berteriak meminta tolong untuk segera disadarkan, khawatir yang ia dengar hanya sebuah mimpi yang hanya akan membuatnya menaruh harap pada sesuatu yang tidak mungkin.
Zefa masih berada pada mode silent, sangat hening bahkan suara hembusan nafasnya pun tak terdengar. Ia sangat terkejut, sangat amat terkejut. Ingin rasanya ia menampar wajahnya untuk memastikan ia sedang tidak bermimpi. Namun ia harus tetap tenang. Tenang... Tenang Zefa, calm down.
__ADS_1
***