My Love My Husband

My Love My Husband
Bab 1


__ADS_3

Suasana jam makan siang di 'ABIYU CORP' cukup ramai, banyak para karyawan tergesa-gesa menuju kantin atau tempat makan terdekat, karene percayalah, jam makan siang adalah kesempatan bagi mereka para pekerja untuk melepaskan diri dari tugas sejenak.


Berbeda dengan seorang gadis Cantik yang lebih memilih berkutat dengan segala pekerjaan yang seakan mencekiknya, matanya terfokus pada layar komputer di depannya.


Hingga seorang wanita menghampirinya.


"Mau makan sekarang atau kita jangan bertegur sapa?" tanya wanita itu pada gadis yang masih terfokus pada pekerjaannya.


cap


"Tapi aku sangat sibuk, dinda,"


"Baiklah, jangan menegurku selama beberapa hari!" ucap wanita itu dan berlalu dari meja temannya.


Melihat itu, gadis tersebut segera merapikan mejanya dan mengejar temannya.


"Baiklah, hanya sebentar!" ujarnya menyerah.


Dinda tersenyum karena merasa menang, karna seorang CLARA CECILIA AYUGO, adalah gadis paling keras kepala yang pernah ia temui.


Dinda dan Clara memang telah berteman sejak masa kuliah, bahkan mereka sudah merencanakan untuk bekerja di 'ABIYU CORP' bersama.


Saat menunggu lift terbuka untuk menuju kantinnperusahaan, lift khusus petinggi terbuka dan menampakkan beberapa petinggi perusahaan, termasuk sang CEO.


Semua karyawan yang melihat, menunduk hormat pada sang pemilik perusahaan, begitu pula dengan Clara dan Dinda, namun semua itu tak dipedulikan sang CEO.


"CEO kita adalah orang paling dingin yang kutemui, seakan dia tidak tersentuh," bisik Dinda saat di rasa sang CEO telah bergerak menjauh.


"Aku tidak peduli, ayolah, masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan," ucap Clara dan mereka pun berjalan memasuki lift yang terbuka.


SENOPATI ALEXANDER, seseorang yang sejak tadi menjadi bahan pembicaraan karyawannya sendiri, masih dapat mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh salah seorang gadis, clara.


Ia menyeringai menyadari bahwa ada karyawannya yang tidak peduli pada CEO-nya sendiri, pasalnya tidak ada satu pun wanita yang tidak peduli padanya l, bahkan negara ini pun tahu siapa Alexander, entah mengapa alex merasa suatu saat nanti, gadis itu, yang mengatakan bahwa dia tidak peduli pada seorang Alexander, akan menjadi orang yang paling peduli suatu saat nanti.

__ADS_1


Tepat tengah malam Clara baru menyelesaikan pekerjaan nya, karna jika ia tidak lembur, maka ia yakin akan terjadi masalah keesokkannya, apalagi berkas yang ia kerjakan harus diberikan pada atasannya untuk besok.


Saat Clara di lobby, ponselnya berbunyi menunjukkan nama Dinda yang terpampang di layar ponselnya, segera Clara mengangkat panggilan tersebut.


"Clara, kau dimana?" tanya Dinda terlebih dahulu bahkan sebelum Clara sempat menyapanya.


"Lobby kantor," jawab clara singkat.


"Kau masih di kantor?" tanya Dinda dengan nada naik satu okta, clara segera menjauhkan ponselnya.


"Telingaku bisa sakit kalau begini!" kata Clara pada Dinda, kesal.


Seakan tidak peduli pada kekesalan clara, wanita itu kembali berujar.


"Kau harus segera pulang, aku tidak ingin terjadi apa apa padamu dan jika alasanmu bekerja keras karena hutangmu--" Ucapan Dinda terpotong dengan ucapan Clara.


"Aku menyukai pekerjaan ku Dinda, dan baik aku akan segera pulang," potong Clara dengan cepat saat tahu apa yang akan dikatakan temannya itu.


"Baiklah, sampai jumpa," ucap Dinda mengakhiri panggilan teleponnya.


Saat menunggu taksi di depan perusahaan, ia sama sekali tidak menemukan tanda tanda taksi lewat, akhirnya ia memilih berjalan menjauh dari kantor, karna mungkin ia bisa menemukan taksi di sana.


Saat sedang berjalan, seorang pria bertubuh besar berjalan mendekat, awalnya Clara merasa biasa saja, namun saat pria itu mengatakan suatu hal padanya, saat itulah Clara merasa siaga.


"Berikan tasmu, nona," ucap pria itu.


Clara bergeming.


"Jangan membuatku bermain kasar, nona," ujar pria itu lagi dan kini mulai mencengkeram pergelangan tangan Clara dan bisa dipastikan itu akan meningalkan bekas.


"Jangan, lepaskan," teriak Clara berusaha menutupi rasa takutnya pada pria di hadapannya, ia pun berusaha untuk melepaskan diri dari pria itu.


BUGH!

__ADS_1


Seketika pria itu tersungkur dan cengkeramannya pada clara terlepas, terjadi baku hantam antara pencopet dan pria yang menolongnya.


"Senopati alexander!" bisik alex pada pencopet itu.


Mendengar nama itu, entah bagaimana pencopet itu memilih berlari menjauh dan meninggalkan mangsanya.


Clara tidak peduli pada apa yang ada di hadapannya, ia terisak dan menunduk, ketakutan dan tubuhnya bergetar hebat, alex yang menyadari itu, mendekat dan berkata, "Kau baik baik saja,Nona?" tanya alex.


Alih alih menjawab, Clara bergerak memberikan sapu tangannya pada Alex.


"Terima kasih," ucapnya dan berlalu begitu saja, memberhentikan taksi dan memasukinya.


Alex menaikkan satu alisnya melihat itu, ia memang sedikif terluka di bagian bibir, tapi ini bukanlah masalah, ia sendiri tidak tahu mengapa ia bisa turun dan menyelamatkan gadis itu.


Ia hanya bergerak secara spontan dan melihat pakaian yang dikenakan gadis itu, sepertinya ia mengenalnya.


Peduli setan, Alex berjalan masuk mobilnya kembali.


Saat dirumah, Clara langsung menuju dapur dan meneguk habis air di gelas yang ia siapkan, tubuhnya masih bergetar, ini semua karena traumanya, padahal Clara berusaha menahan ketakutannya dan ternyata itu berakhir sia sia.


Saat sudah merasa tenang, ia segera mandi dan tidur, karena Clara berencana untuk mengunjungi rumah sakit esok pagi, sebelum itu Clara berpikir siapa pria yang telah menolongnya?


Di kediaman Abiyuda.


"Astaga, apa yang terjadi denganmu?" tanya spontan yang keluar dari bibir Aliya saat melihat kondisi Alex.


"Membantu seorang gadis!" jawab Alex malas malasan dan berlalu dari sana menghindari pertanyaan lain yang ia yakin akan segera keluar dari bibir adiknya itu.


Aliya mendengar itu, mengangkat salah satu alisnya heran.


'Gadis, heh?'.


Dia yakin itu bukan Jenifer, jadi jika bukan wanita ular itu, maka ada seorang gadis yang sepertinya membuat kakaknya menarik, ia tersenyum miring saat berbagai pemikiran masuk.

__ADS_1


'Ini akan menjadi hal yang mudah jika mama yang turun tangan.'


__ADS_2