
Beberapa karyawan langsung memberi jalan pada Clara agar keluar dari lift dan menemui seseorang di depan lift, Clara terkejut bukan main saat ia melihat siapa yang memanggilnya.
"Ikut denganku," ucap Alex dengan nada dingin sembari berjalan menuju lift khusus petinggi perusahaan.
Clara mengekori Alex dengan perasaan bercampur aduk, pertama dia telah berlaku tidak sopan pada atasannya, kedua dia sudah bersikap lancang di depan para karyawan lain, Astaga! sekarang apa yang akan terjadi?
nyali Clara semakin menciut saat mereka berdua berada di dalam lift khusus.
Saat Alex baru saja masuk ruangannya dengan Clara yang mengekorinya, seseorang yang berada di dalam dikejutkan dengan kedatangan Alex, bukan karena Alex melainkan Clara, begitupun dengan Clara.
"Dia yang kau mangsud bukan?" tanya Alex pada Alvian.
"Hah? Oh benar, bagaimana kau bisa tahu?" balas Alvian bertanya sedikit terkejut, pasalnya ia hanya mengatakan ciri-cirinya saja, tapi Alex sudah dapat mengetahuinya.
Cantik, batin Alvian.
"Maaf sebelumnya, ada apa ya?" tanya Clara merasa binggung akan semuanya dan Alex tetap tidak mengatakan tujuan nya membawa Clara kemari.
"Tidak nona, Alex terlalu berlebihan membawamu kemari, sudahlah sebentar lagi meeting akan dimulai, aku duluan," ucap Alvian dan berlalu dari ruangan Alex.
Clara terdiam dan memilih menghadap ke Alex dan berucap.
__ADS_1
"Saya permisi." ucapnya.
Lalu wanita itu pergi.
Alex sebenarnya hanya iseng membawa Clara kemari, ia memilih untuk menyusul Alvian, namun saat berjalan keluar, ia melihat sesuatu dan mengambilnya.
Skip!
Seperti biasa, saat jam pulang kantor tiba, Dinda akan menunggu Clara, beruntung malam ini wanita itu tidak lembur, namun semuanya tampak sama saja, saat Clara dan Dinda menyadari bahwa kalung Clara pemberian ibunya hilang, berakhir Clara dan Dinda yang mencari hampir ke seluruh sudut kantor, perasaan Clara? jangan tanyakan, wanita itu hampir menangis saat mengetahui bahwa kalung berharga itu hilang, selain kalung itu pemberian ayah kandungnya, kalung itu hanya satu-satunya yang ada dan itu berarti dulu ayah kandungnya membuat kalung itu untuk ibunya khusus, Clara sempat berpikir sebesar itukah cinta yang diberikan ayah kandungnya terhadap ibu?
Namun mengapa ayahnya tidak menginginkan kehadirannya?
Tak sengaja Clara melihat sebuah bingkai foto berisi dua orang berbeda generasi, di dalam foto itu terdapat seorang anak kecil yang duduk dalam pangkuqb ibunya, tangan mungilnya mengengam tangan sang ibu seakan takut terjatuh, sang ibu tersenyum bahagia menghadap ke arah kamera, begitupun balita tersebut yang tersenyum polos, tak terasa bulir bening mengalir dari mata Clara, ia mengusap kasar air matanya, tidak ada gunanya menangisi masa lalu, karena semuanya tidak akan berubah.
Seorang pria duduk terdiam di dalam kamarnya dengan sebuah kalung di tangannya.
Indah, itulah satu satunya kata yang pas untuk kalung tersebut.
Dering ponselnya kembali berbunyi dan kali ini pria itu tidak mengabaikannya.
"Astaga, lama sekali mengangkatnya," seru seorang wanita di sebrang sana.
__ADS_1
"Aku sibuk," jawabnya singkat, atau lebih tepatnya sibuk memperhatikan kalung indah itu, (hahahaha)
"Kau tidak lupa besok, bukan?" tanya seseorang di sebrang sana.
"Tidak, dan persiapkan semuanya,"
"Baiklah kutunggu," ucap nya singkat.
Tuutt!
Tanpa menjawab lagi, pria itu memutuskan panggilan tersebut.
Alex tersenyum samar memandangi kalung itu, benar, dialah yang menemukan kalung Clara dan Alex meesa tertarik pada kalung indah itu.
Pagi itu Clara kembali mengunjungi ibunya, saat masuk kedalam ruang inap ibunya, terukir senyum indah yang bahkan hanya orang tertentu yang dapat melihatnya.
"Ibu," sapanya dan mendekat ke arah ranjang.
"Ibu, Joni telah pergi dari kehidupan kita dan kini hidup kita akan kembali damai, ibu, aku akan melakukan apa pun demimu, jadi kumohon bangunlah dan sapa aku dengan senyummanmu dan berikan aku kehangatan dalam pelukanmu, ibu, aku benar benar merindukanmu sangat," ucap Clara dengan nada sendunya.
Ucapan itu kembali tidak mendapatkan jawaban, karena Clara tahu sepanjang apa dia berujar, hanya suara alat penopang kehidupan lah yang terdengar.
__ADS_1
Tapi itu tidak akan mematahkan semangat Clara untuk terus mengungkapkan apa yang ia rasakan pada Sarah, meski ibunya hanya terbaring lemah tanpa meresponnya.
Bersambung....