
Saat sampai di kediaman keluarganya, Alex segera turun dari mobil dan segera menemui mamanya, saat tahu di mana keberadaan sang mama, dimana lagi jika bukan di taman belakang, tempat favorit mama.
"Alex, kemarilah," ucap Litina mamanya Alex saat melihat anaknya, Alex pun menghampiri mamanya yang sedang menyiram bunga lily kesukaannya.
"Baiklah, hal penting apa yqng ingin mama bicarakan?" tanya Alex pada mamanya yang berjalan menuju kursi goyang yang ada di taman tersebut.
"Kau pasti sudah tahu, soal istri," jawab mama Litina sambil menyesap minumannya.
"Sudah kukatakan berapa kali, ma? aku masih ingin sendiri," ujar Alex.
"Kau mau mama meninggal terlebih dahulu, baru kau mau menikah?" tanya sang mama.
"Jangan berbicara sembarangan, ma." ucap Alex, inilah hal yang paling ia benci membicarakan soal pernikahan padahal ia masih ingin hidup bebas di luaran sana.
"Alex, mama dan papa sudah tidak muda lagi mama ingin segera mengendong cucu," ucap Litina memelas pada anak laki lakinya.
"Dan Aliya mengetakan kau telah meneyelamatkan seorang gadis, mama yakin gadis itu orangnya, karena kau sangat jarang bahkan tidak pernah menyelamatkan seorang gadis kecuali angota keluarga, tapi lihat, kau peduli dengan seorang gadis," ucap litina mengingat Aliya yang bercerita tentang kakaknya yang meneyelamatkan seorang gadis.
"Ini hanya kebetulan," Balas Alex singkat.
"Mama tidak peduli itu hanya kebetulan atau apa, tapi mama yakin dia calonnya dan mama juga tidak peduli siapa dia dan bawa dia kehadapan mama dan papa secepatnya," ucap sang mama dengan nada sedikit tekanan untuk anak nya agar segera membawa gadis itu kemansionnya.
"Apa mangsud mama? aku tidak mau, sudahlah aku pergi," ucap Alex sambil berdiri dari duduknya dan langsung pergi meninggalkan mamanya yang masih memanggil Alex, tapi tak ia gubris.
********
"Kau bebar benar bekerja keras Clara." ucap Dinda prihatin terhadap Clara, Dinda yang duduk beraebelahan dengan Clara yang masih berkutat dengan komputer danberkas berkas kantor seperti biasanya, Dinda membawakan makanan untuk Clara, karena sahabatnya ini belum makan siang.
"Ini cita citaku, dan makasih makanannya," ucap Clara seraya membuka bungkusan makanan yang diberikan Dinda.
"Ini sudah pukul empat sore dan kau baru memakannya? Astaga Clara apa yang ada di dalam kepalamu?" ucap Dinda ngomel ngomel, kesal melihat sahabatnya ini, ia tahu jika bukan Dinda, Max, dan Rafael yang mengingatkan Clara untuk makan, maka tidak ada yang mengingatkannya.
"Yang ada di dalam kepalaku otak, kau pikir apa?" jawab Clara dengan bodohnya.
Pletak!
"Aww...Dinda," kesal Clara pada Dinda, padahal ia tahu jitakan yang diberi Dinda tidak sakit.
"Aku tidak mau melihatmu seperti ini lagi, dan aku akan selalu mengajakmu makan siang setiap hari," ujar Dinda.
"Ya...ya...terserah," ucap Clara seraya memasukkan makanannya.
__ADS_1
Baru saja Clara menghabiskan makannya sudah ada panggilan tugas untuknya.
"Clara," panggil manajer di bagian marketing pada Clara, langsung saja Clara berdiri dari kursi kerjanya dan menghadap pada manajernya memasuki ruangannya.
"Ya sir?" tanya Clara pada manajer marketing.
"Kau kerjakan berkas ini, lusa berikan padaku," perintah sang manajernya.
"Baik, permisi," pamit Clara dan beranjak keluar ruangan sang manajer.
*********
"Clara ayo pulang," Ajak Dinda kepada Clara yang masih seperti biasa berkutat dengan komputer dan berkas berkas yang di berikan manajernya tadi.
"Aku lembur Dinda," jawab Clara santai.
"Tapi ini sudah pukul tuju malam,"
Dinda memang sengaja lembur sekedar untuk menemani Clara.
"Aku janji tidak akan pulang larut malam," Ucap Clara menyakinkan.
"Jika ada apa apa hubungi aku, aku tidak mau memar lagi," ucap Dinda memperingatkan, karena ia merasa khawatir saat melihat memar yang ada di pergelangan Clara.
"Aku duluan," ucap Dinda dan berlalu meninggalkan Clara seorang diri.
Keadaan kantor sudah cukup sepi meski masih ada beberapa karyawan yang juga memilih untuk lembur.
Bruk!
Seseoarang langsung memeluk Clara saat ia berada di dalam lift, Clara yang tidak tahu menahu hampir roboh, untung ini berada di dalam lift dan ia langsung mendekatkan dirinya pada dinding lift agar tidak roboh, segera Clara melihat orang yang memeluknya itu, Tercium aroma maskulin bercampur aroma alkohol.
"Maaf tuan, anda mabuk," ucap Clara masih sopan saat tahu siapa orang yang berani memeluknya itu, Clara tidak merasa takut meski kantor dalam keadaan sepi karena ia tahu penjagaan yang ketat meski ini sudah malam.
"Jadilah istriku."
Ucapan itu membuat Clara menegang, bagaimana tidak, jika yang mengatakan hal itu adalah seoarang Senopati Alexander.
Deg!
Ada gejolak aneh dalam diri Clara saat mendengar ucapan Alex.
__ADS_1
"Tuan, anda sedang mabuk," ucap Clara yang masih mencoba menopang tubuh Atletis alex dengan di bantu dinding lift.
"Aku tidak mabuk, aku masih sadar dengan apa yang aku katakan ini dan aku masih berada di tingkat rendah saat aku mabuk seperti ini," ucap Alex yang sadar bahwa Clara menopang tubuhnya dengan cepat ia memeluk Clara erat dan menaruh dagunya dibahu Clara.
Deg!
Jantung Clara berpacu dengan cepat saat Alex memeluknya sangat erat seperti seseorang yang tidak ingin kehilangan barang berharganya.
"Menikahlah denganku Clara Cecilia, aku akan memberikan apapun yang kau mau, aku tidak akan menyebutkan namamu secara lengkap jika aku sedang mabuk," lanjut ucapan Alex dengan cepat, pasalnya ia tahu Clara akan menolak dan ia tidak pernah mengenal kata penolakan untuknya.
Ada perasaan sedih saat mendengar perkataan Alex, bahwa Clara akan diberi apa pun yang gadis itu mau asalkan ia mau menikah dengan Alex, Clara bukanlah wanita seperti itu.
"Maaf tuan anda mabuk, permisi." segera Clara mendorong tubuh Alex dan keluar lift, Alex dengan berat hati melepaskan Clara dari pelukannya, karena ia merasa Clara tidak menolak hanya belum menjawab.
Dan malam ini dia akan pergi kerumah sakit untuk menemui ibunya.
Ia sangat rindu tidur dengan sang ibu, sekaligus melupakan masalah yang baru ia dapati tadi.
Di pihak lain sebenernya Alex tidak tahu kenapa ia bisa mengatakan hal serius ini pada Clara, tapi ini karena kebodohannya, seandainya ia tidak meninggalkan sapu tangan milik Clara di kediamannya, maka kejadiannya tidak akan seperti ini, dan ia tahu bagaimana mamanya, jika sudah mendapatkan satu petunjuk maka mamanya akan mencari petunjuk lain, seperti saat ini, mama sudah tahu siapa Clara Cecilia.
Clara melewati lorong lorong rumah sakit yang sudah ia hafal, sebelumnya Clara pulang terlebih dahulu untuk mengambil beberapa pakaian, karena ia pikir besok adalah hari libur, maka seharian penuh ia berada di rumah sakit.
Tapi Clara tidak ingin bermalas malasan ia juga akan mengerjakan tugas tugas kantor yang ia bawa pulang.
"Clara,"
Sapa Dr,rafael saat membuka pintu kamar inap Sarah melihat Clara yang akan masuk.
"Rafa," sapa Clara balik pada sang dokter.
"Kau lembur lagi?" tanya sang dokter.
"Aku hanya ingin mencari kesibukan tersendiri," jawab Clara menatap lekat ibunya, siapa pun tahu didalam mata coklat karamel itu terdapat sebuah kesedihan saat menatap wanita paruh baya di depannya ini.
"Ada apa dengan tanganmu?" tanya Rafael lagi saat melihat pergelangan tangan Clara dan menyentuhnya.
"Tidak apa hanya kecelakaan kecil," jawab Clara segera menjauhkan tangannya.
"Sudah di obatti?" tanya Rafael lagi dengan nada sedikit khawatir karna pergelangan tangan Clara berwarna ungu.
"Tidak perlu khawatir, ini hanya bekasnya saja," jawab Clara lagi.
__ADS_1
"Baiklah jaga kesehatanmu," ucap Rafael ia tahu pasti bahwa Clara sangat lelah saat ini, segera Rafael keluar dari kamar inap Sarah, berjalan keluar rumah sakit, karna ia akan pulang.
Bersambung....