
Saat itu, Clara teringat bahwa dia punya janji temu dengan Alvian, entah apa yang ada di pikiran Clara, namun yang pasti dia memikirkan Alex, apa perkataannya tadi sangat menyinggung ego pria itu? padahal Clara hanya berniat untuk mencaikkan suasana yang ada.
Astaga, sepertinya dia tidak memiliki bakat untuk mencaikkan suasana yang ada saat mereka berdua, dan sekarang Clara sedang menepati janjinya dengan Alvian, saat ini ia tengah berada di salah satu restoran yang akan menjadi tempat mereka bertemu, Clara memang sengaja datang lebih awal, selain menghindari Alex, ini juga bentuk maafnya pada Alvian, karena hampir melupakan janji mereka, Clara juga sudah meminta ijin pada Alex dan pria itu memperbolehkannya, meski saat memberi ijin nada pria itu kembali datar.
Sambil menunggu Alvian, Clara memikirkan ibu nya, ia Rindu pada ibunya, seandainya sarah ada di sampingnya, ia yakin, ibunya itu akan menenangkannya dengan kata kata penenang.
Saat Clara asyik dengan lamunannya, seseorang datang dan duduk tepat dihadapannya, kembali tersenyum tanpa dosa.
"Maaf membuatmu menunggu!" ucap Alvian, meski ia tahu Clara datang lebih awal.
"Aku yang datang terlalu awal," balas Clara.
Alvian memanggil seorang waitrees untuk membawa buku menu dan menulis pesanan mereka, saat waitrees itu berlalu, Clara berujar,
"Sepertinya waitrees itu tertarik padamu."
"Pesonaku memang tidak bisa di tolak," Ujar Alvian menyombongkan dirinya seperti biasa.
Clara hanya mencebik saat sudah memperkirakan ucapan Alvian, mengenal Alvian, membuat Clara sadar, bahwa Alvian mempunyai percaya diri yang luar biasa tinggi, tapi apa yang di katakan pria itu memang ada benarnya juga sich, dan tidak berapa lama pesanan mereka datang, dan mereka menikmati pesanan itu sambil di selingi senda gurau mereka berdua.
Di tengah-tengah senda gurau, Clara berujar, "Alvian, boleh aku meminta pertolongan?" tanya Clara.
"Dengan senang hati," jawab Alvian masih dengan senyumnya yang dapat melelehkan para wanita yang berada di restoran.
"Setelah ini tolong antarkan aku kesuatu tempat,"
"As yau wisb,"
Dan jam makan siang itu benar benar mereka habiskan dengan canda tawa yang mengiringi, bersama Alvian membuat Clara berpikir, seandainya Alex adalah Alvian, namun ia segera membuang jauh jauh pemikiran tersebut karena pada dasarnya mereka berbeda.
@@@
__ADS_1
Di tempat lain, keadaan Alex masih sama saja hanya saja kini pria itu kembali sibuk dengan pekerjaannya, lihat saja bagaimana pria itu begitu konsentrasi dengan laptop yang ada di atas pangkuannya, yang berbeda, hanya saja Alex tidak sendirian di kamarnya, melainkan ada Aliya yang entah datang dari mana, tiba tiba saja adiknya itu datang dan masuk kamarnya, bahkan sebelum Alex memberikan ijin, namun satu yang Alex tahu, jika kedatangan Aliya karena Clara, adiknya itu mengatakan, bahwa tiba tiba Clara meneleponnya dan memintanya untuk menjaga Alex.
Bukannya menjaga Aliya malah membuat Alwx semakin pusing dengan ocehan wanita itu, sekarang aja pembahasan Aliya tentang Jenifer yang akan kembali dari liburanya, Alex benar benar tidak peduli, maka dari itu dia hanya diam cuek.
"Aku tidak bisa membayangkan, jika ternyata yang menjadi istrimu bukanlah Clara," ucap Aliya tiba tiba menganti topik pembahasannya.
Alex tetap pada pilihannya diam.
"Clara adalah wanita yang baik, lihat saja bagaimana dia tiba tiba memintaku untuk menjagamu, bagimana jika yang menjadi suami Clara bukanlah dirimu? wah beruntung nya pria itu," ucap Aliya.
"Apa kau tidak bisa membiarkan aku tenang?" tanya Alex.
Aliya yang mendengar pertanyaan itu memberengut kesal, sebab kakaknya tetap saja mengacuhkan dirinya, dengan kesal, akhirnya ia memilih memainkan ponsel.
sebenarnya sadar atau tidak, ada nada kesal dalam perkataan Alex tadi, entah mengapa Alex harus merasa kesal mendengar ucapan Aliya tentang Clara, seandainya yang jadi suami Clara bukanlah dirinya, namun kini pertanyaaannya adalah, mengapa Alex harus merasa kesal?
@@@@@
"Clara apa kau masih ingin di sini?" tanyanya.
"Tidak apa, pergilah Alvian, aku bisa pulang sendiri," jawab Clara.
"Aku akan mengantarmu pulang,"
"Tidak apa, aku masih merindukan ibuku," balas Clara.
"Kau yakin akan baik baik saja?* tanya Alvian lagi.
Clara tak menjawab lagi, ia hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis kearah Alvian.
Setelah mendapat jawaban dari Clara Alvian benar benar keluar dari kamar inap ibu sarah, sekali lagi ia menyakinkan pada Clara bahwa dia harus hati hati.
__ADS_1
'aku tidak mungkin salah, itu pasti dia' batin Alvian sambil berjalan keluar dari rumah sakit tersebut.
Saat Clara kembali pulang keapartemen, Aliya menelponnya mengatakan bahwa dia terpaksa meninggalkan Alex sendirian, karena suami nya itu sangat menyebalkan dan membosankan, Clara sempat terkekeh mendengar keluhan Aliya, tidsk lupa ia juga miminta maaf pada wanita itu, karena telah membuat aliya menunggu lama.
Saat Clara sudah selesai dengan ritual mandinya, bergegas ia kekamar Alex menanyakan kabar suaminya itu.
" Apa kau sudah lebih baik? apa kau sudah meminum obatmu?" tanya Clara sarat akan nada khawatirnya, saat dia baru saja masuk kedalam kamar pria itu dan mendapati Alex masih saja fokus pada pekerjaannya.
"Aku rasa, aku sudah sembuh," jawab Alex dan beruntung pria itu tidak mengacuhkan Clara, seperti ia mengacuhkan Aliya.
Mendengar itu secara sepontan tangan Clara menyentuh kening Alex dengan punggung tanganya, dan mendesah lega ternyata yang di katakan suaminya benar adanya bahwa pria itu sudah baik baik saja.
"Kenapa kau masih bekerja?" tanya Clara.
"Aku hanya demam Mrs, Clara!" perkataan terahir Alex mampu memunculkan rona merah pada pipi Clara dan pria itu tersenyum geli saat melihat Clara merona.
"Apa kau sudah makan, aku akan membuatkanmu makan malam," ujar Clara setelah keheningan singkat yang terjadi di antara mereka.
"Kau tetap di sini,"
"Tapi kau belum makan malam."
"Aku sudah makan,"
Clara terdiam mendengar pernyataan Alex sekarang dia tidak tahu harus melakukan apa.
"Kemarilah naik keatas ranjang," ucap Alex.
Awalnya Clara terkejut mendengar itu, namun saat mendapat tatapan tajam dari Alex, akhirnya dia menuruti perintah suaminya itu, dengan perlahan Clara naik keatas ranjang, hingga tanpa sadar, alam mimpi mulai menariknya dan wanita itu tidur membelakangi Alex.
Alex yang melihat istrinya tertidur, tanpa sadar, senyum tipis terukir di bibirnya saat ia menatap lekat lekat istrinya itu, Alex segera meletakkan laptop nya di atas nakas samping ranjangnya, dengan perlahan akhirnya ia memilih bergabung bersama Clara hingga alam mimpi menariknya....
__ADS_1
Bersambung......