
"Dinda aku ke toilet dulu," pamit Clara pada Dinda.
"Jangan terlalu lama aku tidak suka sendirian," ucap Dinda sebelum Clara benar-benar pergi.
Saat keluar toilet, Clara melihat Dinda yang sedang memandang ke arah lain dengan tatapan sedih, marah dan kecewa, Clara pun mengikuti arah pandang Dinda.
Clara berjalan menuju sebuah meja namun bukan meja di mana ia dan Dinda berada, tetapi ke arah meja yang dipandang Dinda tadi.
Brak!
Seketika para pengunjung cafe yang tidak terlalu ramai dan rata rata wanita, menoleh pada asal suara.
"Clara,"
Seorang pria yang berada di meja terlihat terkejut sekali dengan kedatangannya.
"Ya, kenapa? takut? Heh... rupanya kau memiliki selingkuhan hingga rela meninggalkan temanku," ucap Clara, memandang sinis wanita yang duduk di samping pria itu, sekarang ia benar-benar naik pitam dan tidak peduli pada tatapan pengunjung cafe.
"Clara, kita pergi saja dari sini, ayo," ajak Dinda.
Tiba-tiba Dinda sudah berada di sebelah Clara dan menarik lengannya.
"Tidak, sebelum pria brengsek ini menjelaskan semuanya!" tolak Clara.
"Sudahlah semua sudah berakhir Clara, ayo sebentar lagi jam makan siang selesai," ucap Dinda.
Dinda benar-benar tidak menatap Wiliam sama sekali.
"Kau pria brengsek yang berani melukai hati wanita sepertinya, mimpi apa kau pernah menjalin hubungan dengannya?"
Wajah cantik Clara kini merah padam karena menahan emosi.
__ADS_1
"Aku sudah tidak mencintainya!" Ucap Wiliam dengan tenang.
Clara bisa merasakan kekecewaan Dinda saat mendengar perkataan barusan dan kini jangan salah kan Clara saat satu tamparan berakhir mulus di wajah tampan Wiliam.
Plak!
Terkejut? pastinya, bahkan hal itu tergambar jelas di wajah Wiliams, karena mungkin selama ini pria itu tidak pernah menyangka bahwa Clara mampu melakukan hal ini.
"Berani sekali kau!" bentak Wiliam seraya mencekal erat pergelangan Clara, Dinda yang melihat berusaha untuk melerai mereka, namun yang terjadi selanjutnya.
"Lepaskan tanganmu Wiliam," ucap seorang pria dengan tenang.
"Alvian," ucap Wiliam saat melihat siapa gerangan yang berani menghentikan aksinya untuk membalas Clara.
"Aku bilang lepaskan tanganmu sekarang!"
Suara pria itu meninggi saat Wiliam bergeming tidak menanggapi.
"Tapi--,"
"Terima kasih," ucap Clara dan mendekat ke arah Dinda yang sempat menjauh.
"Terima kasih pak!" ujar Dinda berterima kasih terhadap Alvian dan hanya ditanggapi senyum manis dan anggukkan kepala dari pria itu.
Saat mereka sudah keluar cafe, Dinda tampak antusias dan Clara mengerti alasan temannya itu antusias.
"Clara kau tahu siapa yang menyelamatkanmu?" tanya Dinda.
"CEO ALVIAN," jawab Clara singkat.
"Alright, dia sangat tampan." ucap Dinda.
__ADS_1
"Dinda, berhentilah menyukai pria seperti itu, karena lihatlah apa yang kau dapatkan sekarang," tutur Clara menasehati Dinda.
"Kau berkata layaknya pernah jatuh cinta, kau bisa berkata seperti itu tapi apa kau sudah bercermin," tanya Dinda yang masih emosi karena nasihat Clara mengingatkannya pada Wiliam langsung berkata seperti itu dan berjalan terlebih dahulu meninggal kan Clara di belakang.
Clara yang mendengar itu, seakan teringat pada dirinya sendiri, Dinda benar, tidak seharusnya ia menasihati temannya, sedangkan dia tidak sadar, bahwa ia telah menjual dirinya pada CEO nya sendiri, sebuah pernikahan tanpa cinta.
yang kau katakan benar Dinda, aku akan menikah dengan seseorang yang tampan dan kaya tapi aku tidak pernah tahu bagaimana dia sebenarnya, batin Clara.
"Clara, aku....aku minta maaf, aku tidak bermangsud mengatakan itu tadi, aku hanya terbawa emosi." ucap dinda meminta maaf pada Clara.
Dinda yang sadar akan kesalahan ucapannya menyakiti hati Clara, segera menghampiri temannya itu.
"Ayo, sebentar lagi jam makan siang selesai," ucap Clara sambil jalan mendahului dinda.
"Tapi--,"
"Cepat atau aku tinggal!" teriak Clara karena ia tahu Dinda masih diam di tempat.
Skip!
Saat berada di lift untuk menuju ke lantai dimana ruangan Clara dan Dinda berada, lift yang mereka naiki terhenti, namun anehnya ini bukan lantai yang akan dituju mereka, para karyawan terdepan yang melihat siapa yang berada di depan pintu lift, menunduk hormat pada seseorang tersebut.
Sedangkan Clara dan Dinda yang ada di bagian belakang sendiri yang hampir tidak mengetahui siapa yang berada di depan sana.
"Saya ingin bertemu dengan Clara Cecilia," ucap seseorang yang berada di depan lift dengan dingin.
Clara yang merasa namanya di panggil, hanya bisa mengangkat sebelah alisnya bingung, ditambah lagi dia tidak seberapa mengenali suara seseorang yang memanggilnya karena keadaan lift yang cukup ramai.
"Saya di sini," ucap Clara seraya melambaikan tangannya ke atas memberi tahu seseorang yang memanggilnya, tapi dia tetap tidak bisa melihat orang yang memanggilnya, karena beberapa pria henghadang penglihatannya.
Bersambung....
__ADS_1