My Love My Husband

My Love My Husband
Bab 15


__ADS_3

Hari ini Clara harus merelakan, menghabiskan jam makan siangnya seorang diri, dikarenakan Dinda yang tidak masuk kerja untuk kunjungan rutin wanita itu pada orang tuanya, jika tidak ingin fasilitasnya ditarik, Dinda memang berasal dari keluarga menengah, tapi wanita itu ingin menunjukkan pada keluarganya bahwa ia dapat hidup mandiri.


Saat tengah menikmati makan siangnya, seseorang duduk begitu saja di hadapannya, ikut bergabung satu meja dengannya.


"Tampaknya ada wanita cantik yang membutuhkan seorang teman," ucap orang tersebut tiba tiba.


"Alvian,"


Yang dipanggil hanya menunjukkan senyum tanpa dosanya dan melanjutkan acara makannya.


"Sendiri saja?" tanya Alvian seraya memasukkqn makanan ke dalam mulutnya.


"Dinda sedang mengambil cuti," jawab Clarq memerhatikan cara makan pria di hadapannya ini.


"Clara, bagaimana jika akhir pekan ini kita pergi?" tanya Alvian setelah keheningan yang terjadi beberapa menit di antara mereka.


"Baiklah," jawab Clara singkat.


"Jika begitu aku akan menjemputmu," ujar Alvian tiba tiba dan itu membuat Clara terhenti.


"Tidak, kita janjian si tempat saja," sahut Clara dengan cepat, karena dia takut jika Alvian mengetahui pernikahannya bersama Alex, karena jika pria itu mengajak bertemu, itu artinya Alvian tidak mengetahui perihal pernikahannya bukan?


"Kenapa?"

__ADS_1


"Kau mau keluar atau tidak?" tawar Clara.


"Baiklah, terserah padamu saja," ucap Alvian menyerah, karena mengenal Clara, akhirnya ia tahu jika wanita itu sangat keras kepala dan dia pernah menemui orang seperti ini, ayahnya, sama keras kepalanya sama seperti Clara.


Saat jam kerja selesai, hari itu Clara berpikir untuk mengunjungi ibunya di rumah sakit, karena beberapa hari ini juga Clara tidak mendapatkan kabar dari suster erna dan juga rafa, sebagai dokter khusus untuk ibunya, ia juga terlalu merindukan ibunya, dan di sinilah Clara sekarang, duduk termenung di samping ranjang ibunya, menatap wanita paruh baya yang terbaring lemah dalam diam, percayalah bahwa dia merindukan senyuman hangat ibunya, ia merindukan dekapan penuh kenyamannan ibunya, ia merindukan aroma masakan ibunya, Clara merindukan segalanya yang ada pada ibunya.


Ia selalu membayangkan bagaimana jika tiba-tiba ibunya terbangun dari tidur panjangnya itu dan menyambut Clara dengan senyuman hangat dan bagaimana jika saat ibunya terbangun dan tahu bahwa kini kehidupan putrinya telah berubah total.


Tak terasa setitik bulir bening menganak sungai mengalir deras di area pipinya, Clara ingin menahan, tapi tidak bisa, seakan inilah yang diinginkan oleh air mata itu, untuk keluar dari kungkungan yang selama ini Clara tahan.


Saat jam menunjukan tengah malam, Clara tersadar bahwa dia masih berada di rumah sakit, bergegas ia merapikan barang bawaannya, ia tersenyum setidaknya hari ini ia bisa tidur bersama ibunya, walaupun hanya sebentar, bergegas ia keluar dari ruangan ibunya, setelah mencium kening sang ibu dan berpamitan pulang.


Dalam perjalanan pulang, Clara merutuki kebodohannya, pertama, dia pergi tanpa ijin Alex, kedua, dia tidak memberi kabar pada suaminya, dan ketiga, dia pulang larut malam, Astaga, Clara tidak tahu bagaimana kemarahan Alex dan dia tidak pernah ingin tahu, tapi, kenapa ia harus merasa khawatir? karena belum tentu bukan Alex menunggunya.


Saat berada didepan puntu apartemen, Clara ragu untuk langsung membukanya, maka dari itu ia memilih untuk menekan bel apartemen beberapa kali dan saat pintu terbuka, menampakkan wanita paruh baya yang nampak terkejut mendapati Clara baru saja pulang, Lila berujar.


"Apa Alex sudah datang?" tanya Clara balik mengabaikan pertanyaan lila dan berjalan masuk kedalam apartemen.


"Belum nyonya, Tuan belum datang," jawab lila.


"Jika begitu, kembalilah istirahat lila, maaf menganggumu," ucap Clara mereasa bersalah, karena telah menganggu waktu istirahat lila.


Dan perintah itu langsung di turuti oleh Bik Lila.

__ADS_1


Setelah Lila masuk kamar nya, Clara segera membersihkan dirinya, setelah beberapa lamanya, saat selesai membenahi dirinya, Clara bisa mendengar suara keributan terdengar dari kuar kamar, segera wanita itu keluar kamar, dan mendapati dua orang pria yang langsung menatapnya tajam saat ia baru saja keluar dari kamar.


Alex dan Max, berdiri di sana menatapnya dalam pandangan tidak terbaca.


"Dari mana kau?"


Pertanyaan yang sarat akan nada dingin itu membuat nyali Clara menciut.


"Kutanya dari mana kau!?"


Bentakan itu membuat Clara terlonjak terkejut.


"dude, sabarlah,"


KininMax membuka suaranya, entah menyadari sikapnya atau apa, Tiba-tiba Alex berlalu dari sana dan masuk kamarnya dan suara pintu yang tertutup dengan kasar, kembali membuat Clara terkejut.


Max yang menatap Clara yang menunduk ketakutan, mendekat dan mengelus bahu wanita itu.


"Dia terlalu kalut saat mencarimu hampir keseluruh kota, lain kali jangan lakukan ini lagi," dan saat Clara mengangguk mengerti, Max masih berusaha menenangkan wanita itu.


Clara awalnya terkejut saat Max mengatakan bahwa Alex mencarinya hampir ke seluruh kota, apa pria itu khawatir? apa pria itubpeduli? namun semua pertanyaan itu terenyahkan saat satu fakta menyadarkannya, bahwa raga dan jiwanya adalah milik Alex dan pria itu tidak ingin kehilangan miliknya.


Berdeda dengan Alex yang tidak mengerti akan apa yang terjadi padanya, sebab sebelumnya dia tidak pernah seperti ini, dia tidak pernah sepanik ini saat supir pribadinya mengatakan, Bahwa Clara tidak ada.

__ADS_1


Bahkan dulu saat Aliya hilang, Alex masih bisa mengunakan pikirannya, baru setelah beberapa lama Aliya tidak ditemukan, saat itulah Alex turun tangan, tapi sekarang? apa yang terjadi pada dirinya, bahkan Alex tidak tahu, sebesar itukah pengaruh Clara dalam hidupnya? padahal Clara adalah wanita yang baru saja ia kenal.


Bersambung....


__ADS_2