
Cahaya matahari yang malu malu masuk dari jendela rumah sakit membuat Clara menggeliat malas di tempat tidur, sedikit demi sedikit bulu mata lentik itu terbuka menunjukkan mata coklat jaramel yang menyimpan kesedihan di dalamnya, Clara tersadar bahwa ia berada di rumah sakit, sedikit senyum terukir setiap kali ia tersadar, bahwa setidaknya ia masih bisa tidur bersama ibunya.
Sekarang Clarq terlihat lebih segar dengan celana Jens selutut dan kaos dengan lenggan setengah berwarna Peach yang kontras dengan kulit putihnya, membuat dia semakin terlihat cantik natural tanpa polesan make up apa pun.
"Ka---kau....?" ucap Clara terkejut saat ia baru keluar dari kamar mandi.
"Apa kau tidak ingin menyambut ayahmu ini dengan pelukan seorang anak yang merindukan ayahnya?" tanya Joni, benar ayah tirinya itu tiba tiba masuk kedalam kamar inap ibunya.
"Jangan sentuh apapun di sini!" ucap Clara sinis karena ia melihat Joni memegang selang infus ibunya.
"Aku kesini hanya ingin menawarkan sesuatu padamu," ucap joni masih memegang selang infus Sarah.
"Jangan menyentuh ibuku Joni!" ucap Clara sedikit menjerit, percuma saja berteriak kamar inap ini kedap suara.
"Aku tidak akan menyentuh milikmu lagi Clara, setelah kau memberikan apa yang kumau," ucap Joni mengancam Clara dengan masih memegang selang infus Sarah.
"Apa yang kau mau?" tanya Clara berusaha menahan kekesalannya.
"Aku hanya ingin uang," Jawab Joni.
"Berapa yang kau inginkan?" tanya Clara lagi.
"Satu setengah juta dollar, mudah bukan?"
"Apa? kau gila? aku tidak memiliki uang sebanyak itu, kau terlalu gila," ujar Clara memberikan tatapan membunuh pada Joni ayah tirinya.
"Saat kau memberikan uang itu maka aku akan pergi dari kehidupan kalian selamanya, tapi jika kau tidak sanggup maka ucapkan selamat tinggal pada ibumu yang menyusahkan ini," Ucap Joni ingin membuka alat bernapas Sarah.
"Hentikan!!" Teriak Clara tertahan mendekat dan menahan tangan Joni.
__ADS_1
"Ingat Clara, aku tidak pernah main main dengan ucapanku!" Ancam joni sedikit mundur untuk melihat reaksi ketakutan Clara.
Joni tahu Clara sangat ingin menelepon pihak berwajib, tapi apa daya meskipun Joni di tangkap jika ia susah memberikan ancaman maka ancaman itu tidak akan berhenti meski ia sudah berada di balik jeruji besi, karena Joni bukan sekedar pemabuk ataupun penjudi tapi dia penjahat yang sangat berbahaya.
"Tapi kau harus berjanji akan meninggalkan kami selamanya dan segera tanda tangani surat cerai itu, saat aku sudah memberikan uangnya kau harus sudah pergi dari kehidupan kami selamanya!" ucap Clara dengan menekan kata selamanya.
"Oke deal, aku akan mengambil uang itu lusa, tapi jika lusa uang itu tidak ada, maka, say good bye to your mother."
"Apa?! Lusa?" dari mana Clara mendapat uang sebanyak itu dalam jangka waktu beberapa hari? ini benar benar sudah gila.
"Aku tidak punya banyak waktu lagi, segera siapkan atau sesuatu yang tidak diingikan akan terjadi," Ancam joni lagi sebelum pergi meninggalkan Clara yang frustasi, ingin rasanya Clara benar benar menelepon polisi, andai saja Joni tidak mengancamnya, karena dulu Clara dan ibunya juga sempat menelepon pihak berwajib, tapi Joni yang mengerikan itu sudah membuktikan ancamannya yang ia buat.
Sekarang yang harus Clara pikirkan adalah dari mana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam jangka waktu beberapa hari?
**********
Saat Clara baru saja keluar dari minimarket, untuk membeli keperluanya, seorang pria berbaju hitam menghampirinya dan mengatakan bahwa seseorang ingin bertemu dengannya, percaya atau tidak jika ternyata orang yang ingin menemuinya adalah ibunda CEO nya sendiri, benar Litina Xander tiba tiba menemuinya.
"Nyonya, nona Clara sudah datang," kata sang pelayan.
Wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik dan anggun itu tersenyum manis pada Clara yang berpenampilan biasa seperti tadi pagi.
Hanya saja ia sudah menganti celana jeans-nya menjadi lebih panjang sampai mata kaki dengan Flatsboes berwarna coklat yang nampak indah di kaki putihnya dan rambut hitam pekat yang terurai serta wajah tanpa make up.
"Maaf nyonya, saya berpenampilan tidak sopan saat pertama kali bertamu di rumah anda," ucap Clara sopan.
"Aku menyukai gadis yang berpenampilan apa adanya, dan kau tetap terlihat cantik, tidak salah jika Alex tergila gila denganmu," ucap Litina yang membuat Clara terkejut dengan perkataan nya.
"Saya tidak mengerti," kata Clara binggung dengan arah pembicaraan Litina.
__ADS_1
"Kau akan menikah dengan Alex, Clara, qku bahagia sekali," lanjut Litina mengenggam tangan Clara dengan mata berbinar, sebenarnya, Litina tidak yakin Alex akan mengatakan hal itu pada Clara, tapi dengan sedikit aksinya, Litina mampu membuat mereka menikah, entah perasaan apa, Litina yang saat itu menemukan sapu tangan Clara di kamar Alex, langsung mencari tahu tentang Clara Cecilia.
Dan Litina yakin Clara adalah orang yang tepat untuk Alex, ia pikir ini adalah perasaan seorang ibu dan tidak akan salah.
"Tapi saya tidak bisa menikah dengan Tuan Alex," ucap Clara, membuat hati Litina kecewa.
"Kenapa?" tanya Litina.
"Karena saya tidak mengenalnya, saya hanya tahu dia atasan saya, permisi," ucap Clara pamit, beranjak dari tempat duduknya dan membungkuk pada Litina.
"Nyonya.... Tolong!" teriak histerisnya Clara yang menopang tubuh Litina agar tidak terjatuh di tanah.
Beberapa pelayan dan bodyguard pun datang untuk membantu Clara mengangkat tubuh Litinw dan dibawa menuju kamar, salah seorang pelayan menelepon dokter pribadi keluarga Xander.
Setelah menunggu beberapa jam, terdengar beberapa depap langkah orang yang berlari mendekat.
"Apa yang terjadi pada mama?" tanyanya dengan suara bariton itu membuat Clara menjadi lebih ketakutan, Leonard Xander yang baru saja datang dari Los Angeles dan langsung pulang mengambil penerbangan pertama, segera masuk kekamar pribadinya dan Litina diikuti oleh Aliya.
"Nyonya masih diperiksa oleh dokter, Tuan," ucap pelayan menunduk ketakutan.
"Kenapa mama bisa seperti ini?" Tanya Alex dan melihat Clara yang berdiri tidak jauh menunduk seraya meremas tangannya ketakutan.
Segera Alex mendekat kearah Clara, tanpa mengubris perkataan pelayan, entah perasaan apa, Alex merasa kesal, senang, khawatir menjadi satu.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Alex dingin pada Clara, Clara langsung mendongak menatap Alex takut takut.
Alex ingin sekali merengkuh badan Clara dan mendekapnya, menenangkan dirinya dan dia, saat melihat mata cokelat karamel yang ingin menangis dan ketakutan itu, tapi ia harus tetap menjaga imangenya.
"Ma.....maafkan saya..." ucap Clara dengan suara ketakutan.
__ADS_1
bersambung....