
Visual Apartemen milik Alex
Wow sungguh indahnya pemandangan
Kamar nya Alex yang ada di Apartemennya, kira kira seperti ini lah nuasanya.
Ini masakan yang di bikin Clara di dapurnya Alex.
Dan inilah expresinya Alex waktu makan mencicipi buatan Clara.
,
,
,
,
,
,
Skip
__ADS_1
Clara sampai di rumahnya pukul tuju malam, sekarang ia benar-benar merasakan pipinya memanas sejak tadi dan ini gila, Tidak seharusnya ini terjadi, Namun karena tingkahnya yang konyol tadi ia merasa malu sekarang.
"Kau baru datang? aku menghawatirkanmu tadi," ucap Dinda yang masih berada di rumah Clara.
"Eh? I...iya, aku sudah menulis note untukmu tadi," jawab Clara gugup.
"Kau kenapa?" tanya Dinda menyadari kegugupan Clara.
"Aku tidak apa-apa," ucapnya masih duduk di ruang tamu.
"Tapi wajahmu memerah."
Mendengar perkataan Dinda, Clara langsung menutupi wajahnya dengan tangannya dan berjalan ke kamar.
Sekarang Clara benar-benar merasa malu, pertama kejadian di apartemen dan sekarang ia ketahuan oleh Dinda sedang merona, seandainya tadi ia tidak bertingkah konyol pasti semua ini tidak akan terjadi.
Flasback Apartemen.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Alex yang sudah duduk di meja makan berhadapan dengan Clara.
"Eh...Ti..tidak," ujar Clara yang tertangkap sedang memperhatikan pemandangan indah di hadapannya, sekarang ia benar benar merasakan pipinya memanas karena tertangkap basah oleh calon suaminya sekaligus CEO-nya.
Alex tersenyum geli dalam hati melihat wajah Clara yang memerah seperti tomat, *tidak peduli lagi dengan Clara yang merona, Alex langsung menyantap makanan di hadapannya yang membuat perutnya bersorak ingin di isi.
Flasback off*.
Drett...dreettt...
Dering ponsel Clara membuyarkan lamunannya dari kejadian tadi.
"Hallo,"
__ADS_1
"Kau tidak lupa dengan uang yang kuminta kan?"
"Tidak, kau bisa datang kerumah sakit besok dan aku juga meminta yang kuinginkan!" ucap Clara.
"Good, kau memang dapat diandalkan, aku akan datang pukul empat pagi dan aku tidak ingin kau terlambat."
Setelah seseorang mengucapkan kata-kata tersebut saluran telepone dimatikan begitu saja.
*kenapa pagi sekali? batin Clara*.
Seperti yang di katakan Joni, Clara datang tepat waktu, awalnya Dinda khawatir saat ia mengatakan, bahwa pagi-pagi sekali ia akan pergi kerumah sakit, tapi Clara berhasil menyakinkan Dinda, saat membuka pintu kamar inap ibunya, Clara tidak terkejut saat menemukan Joni sudah berada di dalamnya.
"Ini," ucap Clara datar seraya memberikan cek kepada Joni.
"Aku tidak menyangka kau akan mendapatkan uang sebanyak ini dalam waktu singkat," ucap Joni terkesan.
Clara diam tidak mengacuhkan ucapan pria itu dan berujar, "Berikan suratnya,"
Joni memberikan sebuah Map yang berisi surat yang harusnya sudah ia tanda tangani sejak lima tahun lalu, setelah mengecek isi Map tersebut Clara kembali berucap, "Kau sudah janji untuk tidak menganggu kami lagi, aku harap itu bukan janji palsu," kata Clara mengingatkan Janji Joni.
"Tentu aku bukan tipe orang yang mengingkari janji dan jaga dirimu baik-baik," Ucap Joni seraya mengelus rambut Clara, ia berjalan keluar dari kamar inap tersebut, sebelumnya menoleh dan menatap kembali kedua wanita yang pernah mengisi harinya, Joni tersenyum tipis saat memori itu terputar.
"Selamat tinggal," ujar nya sambil melambaikan tangannya.
Dan pria itu pergi.
Clara diam termenung mengingat kembali sikap manis Joni padanya barusan, entah mengapa sepercik rasa sedih menghampirinya, Jobi memang bukan ayah idaman, tapi salahkah ia menangisi kepergian seseorang yang pernah berperan sebagai ayahnya?
Setidaknya peran Joni mampu mengurangi cemoohan orang sekitar padanya dan ibunya.
Hari itu Clara benar benar merasa sedikit beban yang ia tanggung terangkat meski tidak seluruhnya, bahkan Dinda menyadari perubahan Clara di hari itu, tapi dia tidak ingin banyak bertanya dan membiarkannya saja, Dan kini mereka tengah berada di salah satu cafe terdekat di kantor untuk menghabiskan jam makan siang, mereka tertawa bersama melupakan sejenak semua hal yang terjadi.
__ADS_1
Bersambung.....