
Gadis itu menyeruak masuk kedalam kamar inap ibunya dengan perasaan bercampur aduk, inilah yang selalu ia lakukan salama lima tahun terakhir setiap kali ia merasa kacau, jikalau ia berapa jauh dengan ibunya, maka kalung berliontin salju milik ibunyalah yang menjadi pengganti nya, sebuah kalung yang diberikan oleh seseorang yang sangat dicintai oleh Sarah, ayah kandungnya, dulu sewaktu ibunya mengalami kecelakaan ini, Clara akan lari dalam pelukan menenangkan milik ibunya, namun, kini hanya ini yang bisa ia lakukan.
"Maaf kan aku, bu, seandainya Joni tidak mengancam, aku tidak akan melakukan ini semua, maafkan aku," ucap Clara sambil sesengukkan menangis.
Akhirnya Clara menangis di hadapan ibunya, percayalah bahwa sebenarnya Clara adalah gadis yang sengeng, namun keadaan yang memaksanya harus tegar untuk menghadapi semua.
Seseorang yang ada diluar kamar inap yang terbuka, mendengar semua perkataan Clara, ia semakin dibuat bingung oleh kehidupan yang dijalani oleh Clara, apa sebenarnya yang dialami Clara? ia tidak tahu dan akan mencari tahu, sebenarnya tadi ia tudak ingin mengikuti Clara namun kecurigaan yang ia pendam terhadap Clara menghadapkannya pada satu hal yang tidak ia ketahui tentang Clara.
Saat di perjalanan pulang, bukan rumah Clara yang dituju, malah arah lain dan itu membuatnya curiga.
"Turunkan aku diperrmpatan itu,"
Clara menunjukan perempatan jalan.
"Kenapa tidak di depan rumahmu saja?" tanya Alex binggung.
"Tolong, bapak turunkan di sana," ucap Clara memohon pada Alex masih menunjukan sopan santunnya, karena ia pikir Alex masihlah atasannya.
"Jangan panggil aku bapak saat kita berdua karena aku tidak setua itu," ucap Alex kesal karena jika Clara memanggilnya bapak ia merasa seperti orang tua.
Clara pun segera turun dari dalam mobilnya Alex, saat Clara sudah pergi menjauh, Alex masih berada di tempat segera memarkir kan mobilnya di pinggir jalan dan keluar untuk mengikuti Clara.
Namun ia semakin binggung karena Clara memasuki rumah sakit yang ternyata dimiliki oleh dokter pribadi keluarganya.
Dan inilah satu fakta yang ia temui, Ternyata Clara masih memiliki ibu yang sedang koma, Alex benar benar merasa bahwa baru pertama kalinya ia sangat memedulikan seorang wanita yang bahkan baru saja ia kenal.
Dreet.... dreett...
.Clara terbangun dari tidurnya saat ponsel miliknya bergetar, ia sempat tertidur di samping ranjang ibunya, dengan mengenggam tangannya setelah ia selesai mandi, ini sudah tengah malam, siapa yang meneleponnya selarut ini?
Saat Clara menemukan ponselnya didalam tas, ia melihat ID Call Max di sana, segera Clara mengangat telepon dari Max, karena ia tahu untuk apa Max meneleponnya semalam ini.
"Hallo,"
"Clara, datanglah kemari, Dinda mabuk, dan aku tidak bisa mengantarnya pulang karena kau tahu sendiri bukan?" Ucap Mex sedikit berteriak di sebrang sana karena suara alunan musik Club yang sangat keras.
"Ada apa dengannya?" tanya Clara seraya menganti bajunya dengan kemeja panjang yang ia bawa dari rumah.
__ADS_1
"Entahlah sepertinya masalah Wiliam," ujar Max santai, Clara pun segera keluar kamar inap ibunya setelah mengunakan kemejanya dan mencium kening ibunya lama.
"Max," seru Clara saat mendapati Max yang menjaga Dinda di bagian pojok, Clara percaya pada Max bisa dikatakan adalah seorang ayah bagi Clara dan Dinda, karena Max selalu menjaga mereka berdua.
"Dia tampak tidak baik," ucap Max saat Clara mendekat.
"Aku tidak ingin pulang," ucap Dinda bersender di sofa dengan mata terpejam.
"Baiklah, kau ini selalu menganggu waktu tidurku saja," Kesal Clara pada Dinda, Max yang biasa mendengar ocehan kedua teman wanitanya ini hanya mengeleng dan berlalu menuju bar.
Clara duduk disamping Dinda seraya memainkan ponselnya, Clara tidak tega jika melihat Dinda seperti ini.
"Aku benar benar akan membunuh Wiliam," Geram Clara.
"Ayo dinda,"
Clara memapah dinda untuk keluar dari Club, saat Clara melewati bar dimana ada Max sedang melayani pelangan, disana Clara berpamitan pada Max.
"Max, kami pulang," pamit Clara tidak melihat ada seseorang yang terkejut mendengar suaranya, sedang melihatnya.
"Perlu bantuan?" tanya Max, sebenarnya tidak penting karena Clara sudah terbiasa memapah tubuh mungil Dinda untungnya Clara memiliki tubuh tinggi seperti model model terkenal tidak dipungkuri tubuh Clara memang tubuh seorang model.
Clara segera berlalu begitu saja tanpa menunggu balasan dari Max.
"kenapa dia kemari?" tanya seseorang pelangan pada Max.
"Siapa yang kau mangsud? Clara?" tanya Max balik, karena merasa heran pada sobat lamanya ini, karena ini pertama kali sobatnya bertanya tentang wanita kecuali wanita penghibur.
"Ya,"
"Dia menjemput Dinda, kenapa kau bertanya soal Clara? tidak biasanya kau bertanya soal wanita?"
"Dia calon istriku,"
Spontan saja Max membelalakkan mata cokelatnya.
"Apa?" tanya Max tidak percaya.
__ADS_1
Alex dan Max mereka adalah teman dari masa sekolah dasar, hanya saja mereka terpisah saat Alex melanjutkan kuliahnya di negeri lain.
"Setahuku Clara tidak pernah menjalin hubungan dengan seorang pria dan kau, Ck...aku pun tidak pernah membayangkan dirimu akan menikah dengannya."
Max mencoba mengingat ingat pada masa dimana mereka kuliah dulu, saat ada seorang pria menyatakan cinta pada Clara, malah ditolak mentah mentah oleh Clara padahal pria itu primadona di kampus mereka dulu.
"Berarti bagus aku tidak perlu mengotori tanganku untuk menghajar pria pria yang telah berhubungan dengannya." ucap Alex.
"Aku baru mau menyatakan Cinta pada Clara," canda Max mengoda Alex dan terbukti Alex sudah mengepalkan tangan diatas meja bar.
"Aku bercanda, kau ini, mana mungkin aku merebut calon istri orang, kami hanya berteman dari masa kuliah." ucap Max.
Alex merasa lega saat mendengar pernyataan Max, entah mengapa ia merasa marah tadi saat mendengar Max akan menyatakan cinta pada Clara.
"Ngomong ngomong soal pernikahan, Jenifer tahu soal ini? ingat Lex aku tidak ingin temanku Clara masuk dalam bahaya karena Jenifer," Saran Max kepada Alex karena ia tidak mau kalau Clara dalam bahaya karena ulah Jenifer, (rekan Alex) yang tidak terima akan pernikahan ini.
Jenifer memang mencintai Alex, namun sayangnya Alex tidak mempunyai perasaan apapun pada Jenifer, hingga Jenifer rela hanya menjadi pacar main main Alex.
Alex juga sudah mengatakan pada Jenifer bahwa ia tidak akan bisa mencintainya.
Namun Jenifer pikir Alex akan mencintainya suatu saat nanti seperti Novel novel yang pernah ia baca.
Dan Alex tahu bahwa Jenifer adalah wanita berbahaya yang akan melakukan apa pun untuk mencapai tujuannya.
Clara keluar dari mobil Dinda dan memapah Dinda memasuki rumahnya, Dinda memang membawa Mobil saat pergi ke Club tadi, ia membaringkan tubuh Dinda di atas ranjang, Clara sengaja membawa Dinda kerumahnya, karena tidak mungkin ia meninggalkan Dinda di apartemen wanita itu Sendiri.
"Wiliam," Dinda mengigau nama wiliam.
"Minumlah dulu!" Clara memapah Dinda yang setelah sadar untuk minum dan segera dituruti oleh gadis itu.
"Sudah lebih baik?" tanya Clara saat dinda sudah selesai minum.
"Hanya saja aku masih merasa pusing," ucap dinda dengan mata sembap.
"Tidur lah nanti pusingnya akan hilang," ucap Clara, tanpa balasan lagi Dinda segera tidur, karena ia memang benar benar pusing.
Clara merasa kasihan pada Dinda, sebab dia tahu bagaimana temannya ini, jika sudah lari ke club, maka wanita itu sudah tidak sanggup lagi.
__ADS_1
Bersambung....