
*Semua itu bermula di tengah malam seorang pria masuk rumahnya dengan marah, berteriak meminta sejumlah uang pada sang istri padahal dia sendiri tahu, bahwa usaha yang di jalani istrinya tengah mengalami penurunan, seakan tidak peduli pada kata kata memohon sang istri untuk tidak mengambil sejumlah uang tersebut, karena awalnya uang itu akan di gunakan untuk biaya kuliah Clara, Joni pergi keluar dan Sarah mengejarnya.
Clara terbangun karena keributan itu, namun semuanya terlambat, karena saar ia berniat mengejat ibunyq, semua itu berjalan dengan cepat seakan putaran film yang di jalankan secara cepat, suara teriakan terdengar, darah tercecer di sekitar tempat kejadian dan Sarah terkapar tak berdaya di tengah jalan dengan kesadaran yang hampir hilang wanita itu menatap putrinya seraya tersenyum tipis seakan mengatakan pada Clara bahwa semuanya akan baik baik saja tapi Clara tahu semuanya tidak ada yang baik baik saja*.
"Ibu!" Clara terbangun dari mimpi buruk yang telah henghantuinya selama lima tahun ini, keringat bercucuran di sekitar dahinya ia menatap sekeliling dengan waspada saat menyadari di mana ia berada segera Clara menatap ranjang ibunya.
Clara memang tengah ada di rumah sakit karena ia memang sengaja datang pagi sekali untuk mengunjungi ibunya, dan ternyata ia malah tertidur di samping ranjang ibunya, Clara tersenyum tipis tidak melepaskan gengaman tangannya pada sang ibu.
"Ibu, mungkin aku terlalu rindu padamu, hingga mimpi buruk itu seakan menghantuiku, Ibu kembalilah ku mohon," ucap Clara, ia tahu bahwa sebanyak apapun ia mengajak ibunya mengobrol, hanya suara penopang kehidupan lah yang terdengar.
"Baiklah bu, aku harus bekerja, I LOVE YAU," ucapnya sembari mencium kening ibunya dalam dan lama.
Bulir bening jatuh tampa aba aba saat Clara berjalan keluar dari ruangan inap ibunya, ia tidak boleh menangis di depan ibunya, meski ibunya terbaring lemah, karena Sarah akan sangat khawatir saat dia meninggalkan kamar inap itu, ia berharap ibunya terbangun dari tidur lamanya kemudian mendekapnya dalam sebuah pelukan hangat.
********
Clara merasa bahwa hari ini adalah hari kesialannya selain sampai dikantor dengan waktu yang hampir menunjukkan pukul delapan, kini ia berhasil menabrak seseorang di lobby dan berakhir dia jatuh tertunduk, lebih sialnya lagi, saat seseoarang itu bertanya dan Clara mengenal suara itu.
__ADS_1
"Nona?" bagaimana tidak sial, jika yang baru saja Clara tabrak adalah sang CEO.
"Maaf pak, tadi saya terburu buru," ucap Clara seraya menerima uluran tangan Alex, hangat, itulah hal pertama yang diterima Clara saat tanganya bersentuhan dengan Alex.
"Sekali lagi maafkan saya pak, permisi," Ucap Clara lagi dan pergi meninggalkan Alex yang masih berdiri disana.
Ada desiran aneh yang Alex rasakan saat tangannya bersentuhan dengan Clara, ia baru tersadar bahwa yang menabraknya adalah gadis yang sama yang mengatakan bahwa dia tidak peduli pada Alex dan dia juga gadis yang ia tolong semalam, Alex tahu apa yang harus ia lakukan.
"Cari informasi tentang pegawai Clara Cecilia," ucapnya.
Alex mengetahui nama itu dari sapu tangan yang diberikan Clara untuk lukanya semalam, tanpa menunggu jawaban dari sebrang telepon, Alex langsung mematikannya.
"Jadi dia gadis yang selalu membantuku memenangkan tender, karena berkas berkasnya itu?" tanya Alex seraya meletakkan tangan di atas meja kerjanya.
"Benar, dia memang sedikit membantu anda," jawab Galih.
"Baiklah," ucap Alax.
__ADS_1
Galih yang sudah tahu akan sifat bosnya itu segera pergi dari ruangan mematikan itu, karena ruang kerja Alex penuh dengan intimidasi ditambah tatapan sang empunya ruangan.
Dreet....Drertt...
Ponsel Alex bergetar menunjukan ID CALL MAMA.
"Ada apa?" tanya Alex langsung saat mengangkat telepon mamanya.
"Bisa pulang sekarang, ada hal penting yang mau mama bicarakan denganmu," jawab sang mama Litina.
"Aku masih banyak pekerjaan," Alex paling benci jika membahas hal penting saat ini dengan mamanya, karena ia tahu hal penting apa yang akan di bahas mamanya.
"Hanya sebentar tolonglah," ucap Litina memohon, karena jika ia tidak memohon bisa di pastikan sifat keras kepala Alex sama seperti dirinya yang mempunyai sifat yang sama dengan anaknya.
"Hanya sebentar," jawab Alex.
"Oke mama tunggu," sambungan telepon langsung dimatikan begitu saja oleh Alex. (Kebiasaannya)
__ADS_1
Alex menarik nafas dalam nya, lalu ia menghembuskannya secara perlahan, setelah itu ia bangkit dari duduknya, meraih kunci mobil yang ada di atas meja kerjanya, bergegas ia keluar dari dalam ruangannya, berjalan menuju Bescemns **kantornya.
Bersambung**....