My Lovely Bawang

My Lovely Bawang
Bawang merah


__ADS_3

▪○▪○▪


Pukul 23.00 waktu setempat,


Bian menatap tubuh ibunya yang tertidur diatas sofa kamar rawat dengan balutan selimut berwarna jingga. Jelas ia merasa sangat bersalah karena telah memisahkan kedua orang tuanya hingga akhirnya mereka harus tidur ditempat yang jauh berbeda.


Ya, sejak mengetahui jika anak bungsu mereka koma sang ayah menyuruh ibu mereka untuk tetap berada disisi Bian, sedangkan dirinya sendiri tetap berjaga dirumah karena tidak baik jika harus membiarkan rumah mereka dikampung ditinggal dalam keadaan kosong diwaktu yang cukup lama.


Perlahan ia mencoba menggerakan jemari tangan kanannya yang terasa begitu kaku. Hanya jemari karena lenganya masih menggunakan gips. Sedangkan kedua anggota gerak bawahnya sama sekali tidak bisa ia rasakan selain rasa sakit dan nyeri yang berkelanjutan akibat cedera parah yang dialaminya.


Satu-satunya yang bisa ia gerakan dengan lancar adalah tangan kirinya yang hanya terdapat luka robek pada bagian lengan atas, meski begitu tetap sedikit menyiksa karena dia bukanlah kidal yang terbiasa dengan tangan kirinya.


-


-


Bian sangat meyakini jika Yang Maha Kuasa tengah menegurnya, sengaja memberinya kesempatan untuk menebus kesalahannya dimasa lalu dengan membiarkannya hidup dari kecelakaan naas itu. Namun ia kembali bingung, bagaimana caranya agar ia bisa bertemu dengan wanita itu.


Ya, Sezi tak mungkin mau menemuinya yang bahkan jika dirinya sekarat sekalipun karena wanita itu jelas tidak memiliki kepentingan apapun dengannya.


Bian menghembuskan nafasnya kasar, pikirannya benar-benar buntu. Mungkinkah hatinya memang menyukai wanita itu namun raganya menolak?. Jika memang ia tak menyukainya mengapa ia harus bertaruh nyawa hanya karena hatinya yang terbakar omongan duo sableng teman sekantornya itu dan juga otaknya yang tak bisa berfikir dengan jernih saat Bitha berkata demikian?.


_______


*Apakah ia harus meminta maaf melalui telepon?.


Ah itu jelas tidak akan diterima. Ia tahu bagaimana wanita itu akan bereaksi kepadanya atau mungkin teleponnya tidak akan pernah tersambung kepada sipemilik nama itu.


Bian ingat ibunya tadi mengatakan jika adik Sarah itu merupakan seorang terapis yang bekerja dirumah sakit swasta dikota mereka*.


Lalu bagaimana caranya meminta agar perempuan itu mau datang kemari?. Dengan kondisi seperti ini?. Pikirannya kembali bergulat.


Bian mendengus kasar. Ia memutuskan untuk membicarakan hal itu esok hari dengan ibu dan juga kakaknya karena tak mungkin baginya melakukan hal demikian tanpa bantuan mereka berdua.


-


▪▪▪▪▪


-


Siang ini Sezi benar-benar dibuat terkejut dengan kedatangan si duda yang dengan sengaja mengajaknya bicara disebuah restoran seafood tak jauh dari rumah sakit tempatnya bekerja.


Keduanya duduk berhadapan dengan aura kurang menyenangkan meskipun suasana didalamnya terasa nyaman.


"Langsung saja karena saya masih punya banyak pekerjaan yang belum terselesaikan." Ucap Dion mengawali pembicaraan mereka dan hal itu membuat Sezi hampir saja melemparkan segelas air dihadapannya lantaran kalimat duda itu yang membuatnya seolah menjadi orang yang berkepentingan terhadap dirinya.


Diluar ekspektasi, Sezi tak menyambut ucapan Dion. Ia hanya diam menatap duda itu dengan tatapan malasnya yang seolah ingin berkata jika ia sama sekali tidak ingin berbicara dengannya.

__ADS_1


"Bisakah kamu datang untuk makan malam diacara ulang tahun Meily?." Tanyanya to the point.


"Maaf, saya sudah berkata kepadanya jika saya tidak bisa hadir diacara itu." Balasnya


"Tapi Meily sangat mengharapkan kehadiranmu dihari ulang tahunnya."


"Untuk apa?. Saya rasa Meily sudah tahu alasan mengapa saya menolaknya. Lagi pula saya juga bukan sesiapa dikeluarga anda."


"Apa ucapan mu ini adalah sebuah kode?." Dion tersenyum simpul.


"Kode?." Sezi balik bertanya.


"Kamu memang bukan siapa-siapa dikeluargaku tapi kamu adalah terapis Meily dan dia sangat mengharapkan kehadiranmu."


"Saya tidak berfikir jika ini adalah kemauan Meily, karena saya sudah menjelaskan kepadanya tentang waktu istirahat saya kepada anak anda dan saya yakin dia bisa mengerti karena saya jelas mendapat balasan seperti apa yang saya harapkan. Untuk itu saya rasa sudah tidak perlu membahasnya lagi, permisi." Sezi meninggalkan Dion sendiri disalah satu meja resto dengan pesanan menu makan siang keduanya yang belum tiba.


Sezi tidak bisa bertele-tele dan jelas tidak suka jika duda itu mulai mendekatinya terlebih dengan alasan sang putri yang menjadi pasiennya.


"Dasar sok penting!. Dia pikir aku perempuan gampangan, dih sory-sory lah ya!. Ogah banget basa-basi sama kamu meskipun kamu orang tua dari pasien aku!." Gerutunya sepanjang jalan yang ia lalui tanpa menyadari jika lima panggilan tak terjawab sudah bersarang diponselnya sejak tadi akibat silent mode.


Sezi baru mendapati jika sang ibu menghubunginya dan terang saja hal itu membuatnya bertanya-tanya kenapa wanita spesial itu sampai berkali-kali meneleponnya.


"Halo ma?."


📲"Kamu lagi sibuk banget ya?."


"Iya tadi, lumayan." Alibinya. "kenapa?."


"Tumben." Sezi terkekeh mendengar suara ibunya diseberang sana. "Iya deh iya, entar mampir beli boba aja."


Panggilan itu berakhir setelah Sezi membiarkan sang mama memutus teleponnya. Ia merasa tak biasa dengan ucapan ibunya tadi yang membuatnya berfikir jika sesuatu tengah terjadi.


"Mencurigakan banget." Gumamnya sembari mendorong pintu ruangan tempatnya bertugas.


*


*


Kedatangannya disambut manis oleh Cia yang sedang tersenyum menggoda dirinya.


"Paan senyum-senyum kek gitu?."


"Ciee, yang udah mulai deket ama si ono ... prikitiiewww!." Godanya


"Edeeh ..."


"Gimana-gimana ... aku penasaran banget Sez."

__ADS_1


"Males banget sih Ci bahas itu. Lagian udah aku tinggalin tu idola kamu diresto sama makanannya."


"Lah si oneng!. Malah disia-siain makan siang gratisannya."


"Gratis gigi mu, kalo yang traktir macam artis sih aku jelas gak nolak."


"Sombong amat!."


"Oh jelas sekali. Ogah dong akunya ditraktirin cuman gara-gara ada udang dibalik rempeyek."


Cia terbahak-bahak mendengar ucapan Sezi yang menurutnya benar-benar lucu.


"Kenapa sih kamu gak langsung aja bilang kalo gak suka sama dia?."


"Lah kan dia gak ada bilang kalo dia suka sama aku, kamu jangan ngadi-ngadi dong Ci!."


"Eh iya ya, bener juga. Dia kan pake alesan si Meily terus ya." Cia menggaruk dahinya yang tidak gatal.


***


***


Sepulangnya bekerja Sezi benar-benar melaksanakan apa yang diminta oleh ibunya untuk tidak mampir-mampir, kecuali untuk beli boba drink.


Suara bising motor menyapa pendengaran sang pemilik rumah saat Sezi tiba. Sekitar empat puluh menit lamanya hingga wanita itu tiba dirumah sebelum matahari terbenam.


Sezi melepas sepatu, mensterilkan tangan dan juga kakinya menggunakan air keran dan juga sabun yang sengaja ia letakkan di teras rumah terlebih dahulu sebelum menginjak lantai.


"Assalamualaikum!."


"Wa alaikum salam. Kamu ngebut tadi?."


"Enggak, jalan normal aja."


"Kok cepet banget nyampeknya?."


"Loh, tadi katanya gak usah mampir-mampir." Sezi menyerobot masuk meninggalkan ibunya yang menggeleng pelan sambil mengingat jika putri bungsunya itu memang luar biasa jika berkendara dengan roda dua. Sangat-sangat menghawatirkan.


Sezi menanggalkan seluruh kain yang melekat ditubuhnya dan memasukkannya kedalam wadah terpisah untuk mencegah bakteri bercampur. Ia lantas merendamnya dengan sabun khusus untuk pakaian yang ia kenakan dari rumah sakit.


Bersih dan segar dua kata yang dibutuhkan oleh tubuh moleknya saat ini. Matanya kembali terjaga saat terdengar suara ketukan diambang pintu.


"Sez, yuk udah di tungguin." Ucap sang mama sebelum berlalu meninggalkan kamarnya dengan pintu terbuka.


.


.

__ADS_1


.


tbc


__ADS_2