My Lovely Bawang

My Lovely Bawang
Bawang merah


__ADS_3

...🐛...


...*...


...*...


...*...


Butuh waktu cukup lama hingga akhirnya Bian pulih seperti sedia kala meski masih sesekali ia merasakan ngilu pada kaki dan tangannya karena harus menggunakan pen yang mungkin akan ia gunakan selama beberapa tahun kedepan.


*


*


Sezi sesekali melirik arloji yang menempel dipergelangan tangan kirinya sembari mengipasi wajah karena hawa panas yang begitu terasa sejak setengah jam lalu.


"Mana ini pengantin laki-lakinya?." Suara bisik-bisik samar terdengar hingga ketelinga Sezi yang saat itu duduk dibangku depan. Ia pun juga tak mengerti mengapa acara sepenting ini tak ada pemberitahuan mengenai keterlambatan dari pihak mempelai pria.


Tak lama ponsel miliknya berdering dan menampilkan nama Bian disana.


"Gimana acaranya?."


"Delay."


"Loh?. Gimana ceritanya?."


"Gak tahu juga, si Cia udah hampir nangis."


"Wah, parah banget tu duda PhP-in anak orang."


"Hush, kamu jangan bilang gitu. Kan kita belum tahu alasannya kenapa mereka sampek terlambat gini."


Bian meminta maaf sembari terkekeh karena tak bisa menahan rasa bahagianya setelah mengingat masa-masa bodoh yang pernah ia lakukan dulu.


"Alhamdulillah, setidaknya aku masih lebih beruntung daripada si duda."


"Dih, malah ngebandingin sama yang lain." Sezi mencebik kesal.


"Cuman dia seorang, karena memang gara-gara dia deketin kamu aku jadi gak rela buat ngebiarin kamu lajang."


"Jujur banget pak." Wanita itu tersenyum kecil dibalik kipas tangannya. "Udah ah, jangan bahas itu lagi. Udah mau mulai nih acaranya." Ucap Sezi sebelum memutus panggilan Bian.


Acara akan segera dimulai karena pihak mempelai pria telah tiba dengan rombongannya. Sezi seketika membuang pandangan saat matanya secara tak sengaja bersirobok dengan Dion.


Ada rasa canggung diantara hangatnya suasana yang tengah berlangsung. Ia tak bisa mengingat siapa tapi yang jelas pria itu terus memandanginya sejak akad berlangsung namun saat melihat wajah Meily, ia baru menyadarinya jika pria itu kemungkinan adalah teman kerja Bian yang bernama Mahesa.


Sezi yang merasa risih karena terus ditatap hingga membuatnya berakhir dengan berpindah tempat saat kata SAH santer terdengar. Ia jelas tak suka kala pria yang tak dikenalnya terus menerus memperhatikan dirinya sampai tiba dipenghujung acara dan pria yang dimaksud justru mendatanginya dan mengajaknya berkenalan.

__ADS_1


Wanita itu sempat bingung mencari jalan kabur karena ia sendiri belum mengucapkan selamat kepada teman seperjuangannya yang kini justru menjadi istri si duda.


"Mbak, terpisnya Meily ya?." Mahesa terlihat ingin basa-basi untuk memulai usahanya.


"Iya, ada apa ya?."


"Gak papa, pengen kenalan aja." Ucapnya tampak malu-malu mau.


"Oh, boleh."


"Mahesa." Mahesa lebih dulu mengucapkan namanya sembari mengulurkan tangan dan langsung disambut dengan gelas berisi sirup melon yang baru saja dituang Sezi dari wadah es.


"Sezi." Sezi tersenyum tipis sembari memberinya piring dan sendok agar pria itu lekas berpindah tempat karena membuatnya jengah.


Mahesa secara reflek menerima apa yang diberikan oleh Sezi dan membuat pria itu bingung karena antrian semakin banyak berdiri dibelakangnya hingga mau tak mau ia pun harus menyingkir dari area tersebut.


"Aahh lepas lagi." Gerutunya sembari terus mengawasi kemana Sezi bergerak.


Sezi sepertinya tak berniat untuk menjajal hidangan yang tersaji di meja prasmanan karena ulah Mahesa. Ia kemudian bersegera untuk menyalami Cia yang saat itu akan berganti baju diruang fitting namun langkahnya harus tertahan oleh Dion.


Pria itu menahannya sebelum sampai ke pintu masuk.


"Untuk apa kamu datang?." Tanyanya dengan wajah tak suka.


"Saya diundang untuk menghadiri acara pernikahan teman saya dan saya tidak ada urusan mengenai siapa calon suaminya." Sezi menerobos bahu Dion yang saat itu berdiri mematung karena tak bisa membalas ucapannya.


Selesai memberi selamat, Sezi segera pergi dari tempat pesta itu. Ia merasa sangat tidak nyaman dengan suasana didalamnya yang menurutnya tidak ada kata romantis.


Beruntung ia tidak bertemu Mahesa saat keluar untuk menumpang taxi. Entah dimana pria itu yang jelas ia sangat lega.


Sezi mengingat-ingat ucapan Bian saat berkata jika pria yang bersama Meily kala itu adalah teman sekantornya dan si duda beranak itu merupakan kakak dari pria tersebut. Tubuhnya seketika bergidig ngeri.


"Kakak ade kayaknya tipikal pemaksa." Pikirnya,


Sezi kembali kerumah orang tuanya dengan hati tenang. Tidak ada lagi rasa was-was seperti yang tadi ia rasakan.


Tak lama Bian kembali menghubunginya dan menanyakan apakah ia sudah pulang atau belum.


"Temen kamu yang namanya Mahesa itu sudah married?." Tanyanya pada sang suami.


📲"Belum, kamu tadi ketemu dia?."


"Dia ngajak kenalan malahan." Ucapan jujur Sezi seketika membuat Bian meradang.


Hal itulah yang menjadi alasan mengapa ia tak suka membiarkan wanita itu pergi sendirian. Karena orang akan mengira jika dia adalah wanita single sekalipun statusnya sudah menikah.


📲"Terus kamu sebutin gak status kamu?." Bian terdengar emosi dari suaranya yang sedikit ngeGAS.

__ADS_1


"Ya enggaklah, kan dia gak tanya sampek situ. Lagian aku males banget basa-basi sama laki-laki sa**e an gitu."


Bian sektika terbahak-bahak karena ucapan Sezi yang menurutnya sangat frontal.


📲"Kok kamu bisa bilang gitu?. Emang dia ngapain?."


"Ngeliatin bibir kita terus, bukannya eyes to eyes."


📲"Ya udah cepetan balik kesini, kita percepat aja resepsinya." Bian kembali emosi karena membayangkan istrinya menjadi bahan hayalan pria lain.


"Bedebah sialan wahai Mahesa Prayogo!." Umpatnya dalam hati.


______


______


______


Di grup chat*


📨"Ketemu lagi guys!. Sama si terapis cantik dan yang bikin aku hampir lupa itu doi sekarang pake kerudung. Cantik elaaahhh sumpah!."


📨"Weh busyet dia rezeki bangey ueeyyy dua kali dipertemukan, bisa jadi Sa!." Rudy secara tak sadar telah menyiram api dengan minyak dan membakar grup chat.


📨"Bini gue itu WOOYY!!."


📨"Lah baru nongol ni manusia. Jadi kapan kita antar Mahesa ketemu tu cewek bro @BaiBian." Tanya Rudy dengan polosnya.


📨"Kalian ya, tolonglah konek dikit sama omongan ku. Perempuan yang kalian bicarain itu udah nikah, udah punya suami jadi jangan lagi kalian kejar-kejar pusing dia entar."


📨"Lah elu kan sukanya ama nyonya Bai kenapa lagi mesti ikut pusing, kan yang aku kejar dia." Mahesa membalas chatnya.


📨"Ya rabb tolong, elu bilang jangan ikut pusing karena elu yang ngejar dia?. Masalahnya Sa, itu tuh BINI GUE!. Gimana gue gak ikut pusing kalo ngasih tahu lu bedua gak pernah didengar."


📨"Bah!. Bohongnya kamu Bai." Mahesa tak begitu saja percaya.


📨"Iya loh, emang kapan kamu nikah?. dan kenapa gak ngabarin kita?."


.


.


.


.


tbc.

__ADS_1


__ADS_2