
"Baru ini aku lihat istrinya kak Zoe dari deket. Ternyata imut banget, ngemesin eeleeuuuhhh." Ucap Sezi dengan penuh kekaguman.
"Beneran?." Sarah menatap tak percaya. "Bukannya waktu itu udah pernah ketemu ya?."
"Udah sih, cuman yang pertama kali ketemu itu kan kak Zoe sendiri kaya sengaja ngejauhin dia dari kita."
"Bukan kita, tapi sama kamu aja."
"Kakak iiih..." Ia mendengus setelah mendengar ucapan Sarah.
_____
_____
Ketiga wanita dewasa itu kini tengah berada dikeramaian bersama dengan anak-anak mereka dan tidak ada pria lain yang mengikuti ketiganya selain Bian, hanya dia. Sebab ia harus siapa siaga menjaga bumilnya yang benar-benar tak bisa diam dirumah dan selalu mengajaknya untuk keluar mencari angin meski hanya dengan berkeliling tanpa tujuan.
Bian berjalan mengekori mereka dengan menggandeng tangan Mentari, anak pertamanya yang memang sangat cantik dan banyak menarik perhatian para ibu-ibu ketika berada dikeramaian seperti saat ini.
Mentari memiliki wajah Bian dan mata indah Sezi maka tak heran jika banyak pasang mata yang meliriknya dan bergumam memuji. Namun ada yang sedikit berbeda dari balita seumurannya, yakni ekspresinya yang terkesan dingin dan irit bicara.
Si mungil itu hanya mau terbuka dan menjadi banyak bicara saat bersama Zhian, anak dari Bitha. Meski jarang bertemu namun balita itu terlihat begitu nyaman saat berinteraksi dengan saudara sepupunya itu.
"Dia kenapa dari tadi diam aja?." Tanya Sezi setengah berbisik kepada sang suami yang berada disebelahnya.
"Dia gak lihat Zhian."
"Ya ampun, kenapa ni bocil bisa segitunya sih sama anak SD."
"Mirip kamu gak tuh?." bisik Bian.
"Ya enggaklah!."
"Kalian lagi bicarain apa sih?." Tanya Sarah yang tengah menyuap sebutir pentol bakso kedalam mulutnya.
"Emak sama bapaknya lagi ghibahin anaknya." Bitha menjawab dengan santai pertanyaan Sarah.
"Ya ampun, bisa-bisanya kalian." Sarah menggeleng perlahan. "Lagian si Zhian kemana sih Bith?. Kok tumben dia gak ikutan, biasa paling laju kalo udah tahu kita mau ngemall."
"Pergi boxing. Padahal udah dibilangin taekwondonya lagi libur tapi dia tetap maksa buat masuk kelas, jadilah sama papanya di daftarin kelas boxing."
"Waw, boleh boleh boleh!. Semangatnya itu loh!." Sarah secara spontan mengacungkan kedua ibu jarinya bersamaan.
"Tapi gini nih jadinya, si adek jadi ngambek gegara abangnya gak ikut pergi." Terang Bian santai dan membuat Mentari menoleh seketika. Matanya bulatnya tampak lucu saat berkedip, bibirnya mengerucut hingga membuat Sarah yang juga berada disampingnya tak kuasa untuk tidak memberinya sebuah cubitan gemas.
Mentari menepisnya dan berkata untuk tidak memegang pipinya.
"Papiiiiii." Bian segera menjauhkannya dari Sarah yang semakin gencar menciuminya saat anak cantiknya itu termehek-mehek.
"Kakak!. Adeehh, ganggu aja ni juga orang tua. Lagi enak-enak makan malah dibikin nangis!." Gerutunya sembari mengangkat Mentari dan membawanya berkeliling diluar tempat makan.
__ADS_1
Disaat itu Bian bertemu dengan Rudy. Satu-satunya teman sableng yang tersisa untuknya.
Pria itu tengah berjalan bersama seorang wanita sembari mendorong kereta bayi berwarna hitam. Pernikahannya yang baru berlangsung sekitar enam bulan lalu itu nyatanya telah menghasilkan anak yang kini berusia tiga bulan. Sungguh diluar dugaan, ia yang mengira jika Rudy tidak akan tergoda nyatanya tetap salah. Terbukti dari hasil akhirnya yang cukup membuatnya tertawa miris.
"Mana nyonya?." Tanya Rudy saat melihat atasannya itu berada ditepi pagar kaca bersama gadis cantik pujaan ibu-ibu sekampung.
"Lagi makan didalam." Jawabnya sembari menunjukan bayi yang tengah tertidur pulas didalam kereta itu kepada Mentari.
"Makin cantik aja sih Bai anak lu?."
"Cantiklah, bapaknya aja ganteng gini. Gak lihat emang?."
"Idih, amit-amit." Rudy terdiam sejenak saat sang istri mimintanya menunggu diluar bersama Bian karena wanita itu akan masuk kesebuah gerai kosmetik yang memiliki cabang dimana-mana.
"Bai, elu udah tahu kabar belum?." Ucapnya setelah kepergian sang istri.
"Kabar apalagi?. Ngeri banget kamu, masalah gosip aja cepat betul."
"Kalo gosip yang ini kamu juga pasti bakal sama terkejutnya dah sama aku!. Yakin!."
"Emang gosip apaan?."
"Dua hari lalu aku lihat si Rina gandeng anak cowok Bai di pusat grosir yang dekat pasar pandan."
"Ya terus kenapa kalo dia gandeng anak?."
"Masalahnya Bai, anak ini tuh mukanya mirip sama Mahesa, percaya gak lu?!."
"Aku sendiri tadinya gak mau percaya Bai, tapi kata istriku anak itu memang mirip sama fotonya Mahesa yang masih kesimpen dinomor kontak."
"Apa jangan-jangan si dia emang sengaja bunuh diri ya Bai karena tahu Rina hamil anaknya?."
"Jangan asal nebak, bisa ajakan cuman mirip doang. Lagian kan si Rina juga udah lama nikah."
"Nikahnya kapan ku tanya?." Rudy seolah menantangnya dan membuat Bian seketika terdiam dengan pikirannya.
"Inget gak sebelum doi meninggal, dia sering banget ngunjungi si Rina. Pas tahu elu ternyata nikahnya sama perempuan idaman kita, Eiits!!!." Rudy menyingkir saat Bian akan menendang tulang keringnya.
"Ya gak usah juga bawa-bawa istri ku kaya gitu, gereget juga ni lama-lama kacung satu!."
"Oke, oke." Rudy terkekeh sebelum melanjutkan analisanya.
"Jadi intinya tu sialan udah secara illegal tanem bibit dikebonnya si Rina." Ucapnya penuh penekanan. "Terus dia frustasi antara milih si Rina yang masih dalam perawatan ODGJ atau ngejar perempuan yang secara sengaja udah elu nikahi duluan."
"Heh!. Masih juga bawa-bawa bini orang lain buat bikin analisa."
"Lah, kan emang bener begitu adanya!."
"Terus kamu samperin gak waktu itu?."
__ADS_1
"Enggak lah, buat apa?. Yang ada aku malah takut kalo dia kumat lagi gara-gara lihat aku yang seperti masalalu."
"Jijik Rud."
"Tapi benerkan aku?."
"Iya juga sih, tapi ya semoga aja tebakan kamu itu gak benar."
"Gak bisa, tebakan ku pasti benar. Apalagi istri ku juga bilang gitu."
"Lagi bicarain apa?." Tanya Sezi yang baru saja menyelesaikan makan siangnya dan meninggalkan dua kakaknya didalam resto.
"Eh, ada si nona!." Rudy seketika menyudahi pembahasan mereka.
"Ini juga si om kenapa tiba-tiba menduda?."
"Widih, jahat nian kalimat dikau besti." Rudy merengut kesal karena ucapan ngawur dari istri atasannya itu.
"Itu bininya lagi didalem nyari barang." Bian menunjuk gerai dengan huruf 'G' yang tengah menawarkan diskon besar disetiap akhir pekan seperti saat ini.
"WAW!. Aku juga mau." ibu hamil itu langsung saja melipir tanpa peduli dengan dua pria yang bersamanya.
"Ternyata gak jauh beda ya, kayaknya hampir semua perempuan kalo lihat diskon langsung berseri-seri." Rudy menatap kepergian wanita dengan perut besar tadi yang kemudian menghilang dibalik susunan rak berisikan berbagai macam perawatan tubuh mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Yang penting mereka bahagia dulu Rud, entar kedepannya kita juga yang ngerasain enaknya."
"Iya juga sih, tapi kalo tanggal tua gini ya gue jadi ngerasa kaya ngeri-ngeri sedep gitu Bai."
"Kamu udah stok beras belum dirumah?."
"Udah sih, air galon juga udah, gas juga sama."
"Lah, ya udah berarti. Masalah mereka mau pencak silat nantinya yang pasti gak bakalan jadi drama berseri."
"Iya Bai, ada benernya kalimat elu barusan."
.
.
.
.
Jadi intinya apa?.
BAHAGIAAAAAAA.
......
__ADS_1
oke gaes, apa masih mau dilanjut ataukah sudah stop disini?. Otor mau up cerita baru juga soalnya.
See ya next time🐛