
...☆●☆...
...◇...
...◇...
Bian langsung memeluk Sezi yang saat itu tengah bersantai diatas kasur sembari bermain ponsel.
"Apaan sih peluk-peluk."
"Aku butuh penenang." Ucapnya dengan bersembunyi disisi perut Sezi.
"Aduh Bi sesek, lepasin."
"Aku hampir dihajar orang."
"Ha?. Kok bisa?." Sezi begitu terkejut mendengarnya. "Pasti kamu abis ngomong sembarangan." Tuduhnya yang membuat Bian mendongak seketika.
"Gak boleh su'udzhon."
"Lah?. Terus kenapa?."
"Gara-gara aku nikahin kamu."
"Emang bisa gitu?."
"Bisa lah, terus satu lagi."
"Apa?."
"Si Rina depresi gara-gara kita nikah."
"Bi, kamu gak lagi bohongkan?."
"Enggak lah, aku juga baru tahu tadi sebelum negara api menyerang."
"Ish kamu ini, orang lagi serius juga malah dianya bercanda."
"Terus gimana dong sayang nasib aku?."
"Tauk ah, kamu sih pake maksa-maksa nikahin aku segala."
"Dari pada kamu dinikah sama si duda itu?. Tadi tuh yang nyerang aku si Mahesa, adeknya duda itu."
"Seriusan?."
"Duarius malah!."
"Becanda terus!." Sezi berusaha mengingat-ingat, "Si Rina itu perempuan yang waktu itu dirumah sakit ngupasin kamu apel?."
"Iya."
"Ya udah, mending besok kamu datangin si Rina dulu. Mungkin dia rindu sama perhatian kamu Bi, setelah lama vakum dan ternyata kamu malah nikah sama cewek seksi kan jadi jomplang gitu kesannya." Sezi berucap santai sembari bermain ponsel. "Terus abis itu kamu temuin Mahesa, ajakin duel yah paling banter sampek diantara kalian ada yang patah gigilah."
__ADS_1
"Kamu itu ngasih saran apa menjerumuskan?."
"Biar adil Bi, jadi semua merasakan sakit."
"Iya tapi gak gitu juga kali non!. Gak lucu dong muka ganteng gini tiba-tiba aja bonyok pas resepsi."
"Itu menandakan perjuangan kamu Bi."
"Gak mau!." Bian meninggalkan Sezi dengan tawanya yang memenuhi seisi kamar.
Sejujurnya ia merasa kasihan kepada wanita bernama Rina itu meski tak pernah mengenalnya secara langsung. Ia tak pernah mengira jika wanita berhijab dengan wajah kalem itu ternyata memiliki masalah pada psikisnya namun ia juga tak bisa berkata ataupun berbuat lebih karena apa yang terjadi sudah pasti diluar kuasanya. Begitupun dengan dirinya yang ternyata tak bisa sepenuhnya menyingkirkan perasaannya kepada pria yang dulu pernah menghinanya.
Ia yang hanya berniat membantu pria itu untuk sembuh nyatanya justru terjebak dengan sisa rasa yang tertinggal dan semakin bersemi karena usaha Bian yang memang bisa membuat hatinya luluh.
Apakah ini takdir atau hanya kebetulan semata?.
_____
_____
Brangkar pasien Rina terus berderit seolah yang berada diatasnya tengah kesakitan karena sesuatu.
"Rin?." Mahesa tiba tepat ketika Rina tengah menggeliat karena menahan rasa sakit yang menjalari tubuhnya.
Pria itu dengan segera memencet tombol untuk memanggil nurse yang sedang berjaga.
"Tolong sus."
________
Sezi yang saat itu ikut mendengarkan langsung menarik tangan Bian untuk bersegera mendatanginya.
"Tapi_ " Bian tampak ragu untuk pergi.
"Kita lihat dulu kondisinya lagi pula disana juga ada Mahesa kan?. Jadi bisa sekalian ngeluruskan masalah kamu sama dia disana."
Pria itu berfikir sejenak kemudian mengangguk.
Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan selain deru mesin kendaraan yang mereka tumpangi.
Sesampainya di lobi Sezi memilih untuk menunggu dibawah. Ia percaya jika Bian bisa menyelesaikan masalah pelik diantara ketiganya.
"Kamu gak ikut naik?."
"Kalo aku ikut, yang ada bukannya mereda tapi malah nambah masalah Bi."
"Terus aku gimana?."
"Temui dulu perempuan itu, dia perlu kamu buat kembaliin kesadarannya." Sezi memeluk Bian untuk sesaat, "Aku ada disini kalo kamu butuh."
Pria itu seolah berat meninggalkan istrinya hanya karena keadaan Rina yang membuatnya begitu pusing.
"Tunggu ya, jangan kemana-mana. oke?." Ucapnya sebelum memasuki lift.
__ADS_1
Sezi hanya mengangguk pelan dengan senyum mengembang tipis diwajahnya. Ia kemudian mencari tempat duduk untuk menunggu sang suami menyelesaikan kisah konyol diantara mereka yang belum usai sebelum acara resepsi keduanya digelar.
Ada rasa perih yang menyelinap ke dalam hatinya saat merelakan Bian untuk pergi menemui wanita itu. Namun ia tidak bisa se egois itu, Sezi selalu berfikiran logis yang membuatnya berbesar hati meski dirinya sendiri sebenarnya terluka.
________________
Bian sampai pada pintu dimana Rina dirawat. Ia bisa melihat bagaimana seorang Mahesa tengah berdiri membelakangi pintu bersama sepasang suami dan istri yang kemungkinan adalah orang tua wanita itu, ada Rudy disana. Pria itu tengah duduk disofa dengan segelas soda ditangannya.
Perlahan Bian mendorong pintu rawat, senyumnya menyapa dua orang lanjut usia yang kini juga tersenyum padanya.
Si ibu bertanya apakah dia yang bernama Abian dan dirinya mengangguk membenarkan.
Kini Bian harus berbicara dengan orang tua Rina untuk mendudukan masalah anak mereka yang menjadikannya sebagai biang kerusuhan.
"Saya sebagai orang tua Rina sebelumnya meminta maaf pada nak Bian, karena Rina nak Bian harus repot-repot kesini." Ucap sang ayah yang tampak ringkih di usia senjanya.
"Tidak apa-apa pak, justru saya yang seharusnya minta maaf. Karena saya, Rina jadi harus merasakan hal seperti ini."
"Tidak. Nak Bian tidak salah, Rina memang memiliki gangguan psikis sejak kecil jadi kami tidak begitu terkejut."
"Kami dengar nak Bian baru saja menikah, benar begitu?." Si ibu bertanya padanya.
"Benar bu dan istri saya sedang menunggu dibawah."
Si ibu cukup terkejut karena mendengar jika istri dari pria yang membuat anaknya colaps berada dibawah.
"Kenapa tidak diajak naik. Biar kami bisa menyapa."
"Dia hanya mengantarkan saya sampai lobi karena tidak ingin memperkeruh suasana nantinya."
"Beruntung nak Bian dapat perempuan seperti dia yang bisa mengerti."
Hening sesaat sebelum Bian memulai pembicaraannya.
"Ibu dan bapak, saya meminta maaf untuk semua yang sudah terjadi pada Rina. Jika boleh jujur, sebenarnya kami memang tidak memiliki hubungan apapun selain rekan kerja dikantor." Bian menjeda kalimatnya, "Saya juga tidak tahu jika Rina ternyata memiliki perasaan sebesar itu kepada saya, terlebih dengan kondisinya saat ini."
"Saya pernah berkata kepadanya untuk tidak menaruh perhatian lebih. Karena saya cukup tahu bagaimana perasaan bisa membuat seseorang terjerumus kepada hal negative yang disebabkan oleh bisikan-bisikan kekecewaan." Ucapnya dengan lirikan tajam yang mengarah pada Mahesa.
_____
Kini Bian dan Rudy tengah berjalan pelan dibelakang Mahesa yang tampak menghindari keduanya.
Mereka bagaikan anak TK yang sedang bermusuhan karena hal sepele disekolah.
"Sa!." Suara Bian memanggil Mahesa yang kini berjalan membelakanginya hingga sampai pada saat dimana mata pria itu bertatapan langsung dengan Sezi yang juga tengah memperhatikannya dari kursi tunggu yang ada di lobi.
Mahesa hanya berdiri mematung, sorot matanya begitu dalam saat melihat bagaimana perempuan yang menjadi incarannya justru telah menikah dengan teman sekantornya sendiri.
.
.
.
__ADS_1
.
tbc.