My Lovely Bawang

My Lovely Bawang
Bawang merah


__ADS_3

☆▪☆▪☆


Bian yang baru saja pulang dari kantor mendengar Bitha berkata kepada Alex jika siang tadi ia bertemu dengan Sezi. Ia mengatakan jika adik Sarah itu sengaja menunggunya hanya untuk berpamitan pulang ke kota mereka.


...


"Sudah pulang." Bian bergumam pelan sembari menatap layar ponsel dimana nomor baru dengan nama kontak 'Bawang Merah' bertengger manis diphone book miliknya.


Beberapa jam lalu,


Bian baru saja berkunjung ke rumah Sarah. Pria itu menanyakan alamat tinggal Sezi dan langsung dijawab oleh Sarah jika Sezi sudah tidak tinggal disana.


"Dia sudah mau pulang nanti sore Bi, kenapa gak minta nomornya sama Bitha aja?."


Bian sempat termenung sebentar sebelum akhirnya memencet nomor yang sejak tadi ia pandangi.


Perasaannya jadi tak menentu saat menunggu jawaban diujung sana namun panggilan itu harus ditolak oleh operator karena si pengguna telah menonaktifkan ponselnya.


"Ckk." Bian berdecak pelan.


Ia kembali meletakan ponsel pintarnya diatas nakas dan berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


*****


-


-


-


Bitha dan Alex tengah duduk dimeja makan bersama putra mereka. Tak lama Bian muncul dengan celana kolor dan kaos oblongnya.


Wajah pemuda itu terlihat begitu kusut beberapa hari ini, tak hanya Bitha yang menyadarinya tetapi juga Alex. Kesan judes diwajahnya seolah luntur dengan perlahan. Bitha sempat berfikir jika itu adalah karma tetapi apa mungkin karma itu bisa menjangkiti bocah sepertinya?.


Entahlah, hanya tuhan yang tahu.


-


-


☆▪☆▪☆


"Kenapa lu bro?." Rudi merangkul pundak Bian yang berjalan gontai didepannya setelah memarkir motor matic jadul andalan.


"Gak papa, paan sih nempel-nempel!. Risih!." Pria itu menepis kasar.


"A'elaaah Bi, nempel doang belum juga gue cip*k !!."


"Bangk*!!!."


Rudi berlari secepat mungkin setelah kembali menowel dagu Bian si judes.


Tak jauh dari keduanya ada seorang wanita yang juga memperhatikan kekonyolan mereka, Rina.


Perempuan itu hanya bisa tersenyum melihat betapa lucunya interaksi keduanya hingga tanpa sadar dirinya justru menabrak punggung pria yang kini masih berdiri diambang pintu masuk.

__ADS_1


"Maaf!."


Pria itu menoleh dan mendapati jika Rina lah yang baru saja menabraknya.


"Loh mas Bian?." Rina sedikitnya merasa terkejut sekaligus senang karena tak menyangka jika pria itu adalah Bian.


"Jangan melamun."


"hehe iya mas, maaf." Wanita itu terkekeh sejenak sebelum akhirnya meminta maaf dan meninggalkan Bian yang justru berbalik arah tak jadi memasuki kantor.


-


-


*****


-


-


Di kota berbeda, Sezi sedang membantu seorang remaja perempuan berlatih menggerakan persendiannya setelah mengalami cedera pada ankle kakinya.


"Kakak cantik banget sih." Ucap remaja itu pada Sezi yang saat itu membantunya berpegangan pada sebuah besi yang menyangga kedua lengannya.


"Makasih, kamu juga sama cantiknya kok." Sezi tersenyum ramah.


"Kakak mau gak sama papa aku?."


Whats???.


"Papa aku ganteng loh kak, baik lagi." gadis itu terus mempromosikan kelebihan yang dimiliki ayahnya kepada Sezi yang hanya ditanggapi senyuman olehnya.


"Mama kamu kemana?." Pada akhirnya Sezi menanyakan juga hal yang tidak seharusnya ia ketahui.


"Mama pergi sama om. Aku sama papa aja berdua dirumah sama si mbak."


Sezi melihat jika gadis dihadapannya ini tidak tumbuh sebagaimana mestinya, mungkin juga faktor bonding diantara kedua orang tuanya hingga menyebabkannya tampak begitu polos di usia remajanya. Seperti tidak ada yang mengajarinya menjaga sebuah rahasia, atau tidak boleh berbicara lebih kepada orang lain.


"Kakak cantik loh pasti papa aku suka."


Sifat yang terlalu kekanakan diusia remajanya membuat Sezi merasa prihatin, setidaknya ia masih jauh lebih beruntung karena memiliki kasih sayang lengkap dari kedua orang tua juga kakaknya meski terkadang juga dirinya tak luput dari omelan karena tingkahnya yang bar-bar.


Dua jam berlalu, Sezi mendorong kursi roda remaja itu dan langsung disambut oleh wanita usia empat puluhan yang disebut 'mbak' oleh si bocah.


"Hati-hati dijalan." Sezi melambaikan tangannya kepada Meily yang juga tersenyum lebar kepadanya.


Sekembalinya dari koridor ia lalu mengecek ponsel yang terselip disaku baju dinasnya.


Sarah mengiriminya sebuah pesan yang berkata jika,


📩"Beberapa waktu lalu Bian ada datengin kakak, dia nyariin kamu. Kakak bilang kamunya sudah mau pulang dan dia cuman minta nomor telepon aja."


📩"Sebenarnya ada masalah apa sih kalian, gak biasanya tu anak sampe repot-repot nyariin orang gak penting kaya kamu?."


Sezi hanya mengabaikan pesan Sarah tanpa niat membalasnya. Jika ia tetap melakukannya itu sama saja dengan mengorek luka dimasalalu dan akan menghancurkan usahanya untuk melupakan si judes bermuka datar itu.

__ADS_1


"Kamu nyariin Lont*?!." Sezi tersenyum miris. Ia begumam dalam hatinya dengan tatapan sejahat bawang merah.


"Sez?." Cia, teman satu grupnya menepuk pundak wanita itu hingga membuatnya tersadar dari lamunan.


"Ci!, ngagetin aja."


"Abisnya muka kamu jahat banget." Cia terkekeh meski tak mengetahui penyebab dibalik mengerikannha wajah Sezi.


"Kelihatan banget ya?." Sezi justru tak percaya jika penampakannya benar-benar mengerikan.


"Mikirin apa sih emang?." Cia menarik kursi lalu duduk dihadapan Sezi dimana terdapat meja yang memisahkan mereka diruangan fisioterapi itu.


"Lagi kesel aja ama sesuatu." ucapnya beralasan.


"Sama, aku juga pernah gitu ampe kebawa emosi." Cia menyesap sekotak buavita ditangannya. "Sez, anak perempuan yang tadi itu bener-bener suka sama kamu?."


Sezi mendongak dari fokusnya mengisi laporan karena kata-kata Cia yang tetiba saja membahas masalah remaja tadi.


"Mana aku tahu." Jawabnya sembari menggedigkan ke dua bahunya


"Yee, tempe bener dah lu!." Cia terlihat memajukan bibirnya sesaat, "Sez, bokapnya si bocil ganteng loh, duda sih... tapi..."


"Dih, situ nawarin apa gimana?."


"Beneran ganteng Sez, mayan meskipun duda tapi dijamin lah orinya."


"Ori apanya?." Dahi Sezi kembali berkerut.


"Ori dudanya lah, apalagi?. Masa iya ori perjakanya, kan gak mungkin banget tuh. Jelas-jelas anaknya segede itu."


"Kamu aja lah Ci, aku minggir dulu. Lagi males mikirin si 'adam'." Ucap Sezi sembari menutup kembali buku catatan ditangannya.


"Tajir Sez, kamu beneran gak mau?."


"Enggak Ciaaa, ya ampun!." Sezi begitu kesal dengan mulut Cia yang tak mau berhenti membicarakan si duda tampan yang bahkan belum pernah sekalipun ia lihat.


"Seandainya tu duda suka beneran sama kamu gimana?."


"Astagfirullohaladziim Ciiiaaa!!. Suka, suka, ketemu aja belum pernah. Gak usah menghayal ketinggian deh Ci. Lagi pula ni ya, biasanya Duda itu juga nyari yang sama-sama mateng, bukan labil kaya kita. Duh! si embak mikirnya udah yang jauh-jauh amat."


Cia terbahak-bahak karena ulahnya yang terus membahas masalah si duda hingga membuat wanita cantik itu kesal bukan main.


"Sudahi acara duda mu Cia, ayo kita pergi ngisi perut aja biar gak melenceng kemana-mana pikiran mu yang labil ini." Sezi mengapit sisi kepala Cia sembari menggelengkannya pelan.


"Tapi kamu yang bayar ya mak?. Kan elu bentar lagi dipersunting ama duda kaya." Cia tengah cengengesan karena berhasil menjahili Sezi yang semula berwajah garang.


"Dih, astagfirulloh. Gak deh!. makasih, buat kamu aja!. Aku mau cari yang spek international."


"Asshooyyyy ... Percaya mak, emang bule dah yang paling cocok ama elu!!!."


.


.


.

__ADS_1


tbc.


__ADS_2