My Lovely Bawang

My Lovely Bawang
Bawang merah


__ADS_3

○●○●○


_______


Sezi melalui pagi dengan rasa berbeda setiap harinya. Khususnya hari ini karena genap sudah tiga bulan mereka hidup bersama sebagai pasangan kurang akur, oleh sebab itu Bian mengajaknya untuk pergi berlibur ketempat yang tidak ia ketahui.


"Kita mau kemana?." Tanyanya saat melintasi sebuah jembatan besi sepanjang dua puluh meter untuk menuju sebuah perumahan dengan nuansa botanical garden.


"Kita mau lihat rumah."


"Rumah?. Kamu beli rumah?."


"Iya, rumah kita."


Sezi membuang muka agar Bian tak melihat bagaimana rasa sedih tengah menjalari saraf-saraf diwajahnya.


Ia masih tak habis pikir dengan perlakuan Bian kepadanya yang terus memberinya rasa manis dikala egonya masih tak berpihak.


"Kamu yakin beli rumah disini?."


"Aku udah survei dibanyak lokasi dan yang pas untuk kamu ternyata disini." Ucapnya dengan senyum simpul.


"Aku?. Kenapa harus aku?."


"Karena kamu udah jadi prioritas buat aku, meski kamu bilang mau pisah setelah aku sembuh pun aku tetap jadiin kamu prioritas."


"Kenapa kamu begitu keras kepalanya Bi?. Banyak perempuan sholeh diluar sana yang mau sama kamu."


"Kenapa?. Kamu mau bilang si Rina lagi?."


Sezi hanya diam tak menjawab.


"Kamu udah jadi bagian dari hidup ku sejak dulu. Bahkan sebelum aku tahu yang namanya cinta monyet jaman SMP gara-gara kamu yang suka banget gangguin aku kapanpun dan dimanapun."


Sezi tersenyum tipis. Ia sangat mengingat masa-masa itu. Masa dimana ia melihat Bian sebagai satu-satunya pria tertampan di RT nya dan itu masih berlaku sampai saat ini.


Ia memang sangat senang mengganggu Bian, karena menurutnya Bian sangat sulit untuk tersenyum apalagi tertawa karena dirinya.


"Kamu kan belagu, pengen kelihatan cool gitu." Balasnya


"Aku gak pernah mikir gitu, gak ada tuh pengen kelihatan cool."


"Kalo gitu kenapa kamu gak pernah senyum kalo ketemu aku?." Sezi melirik kesal.


"Coba kamu pikir, buat apa aku senyum sama kamu yang bocil bau matahari disiram cuka?." Bian terkekeh geli mengingat bagaimana seorang gadis belia bisa menggodanya.


"Ya kan paling enggak kamu tuh bisa nyapa gitu, negur kita kalo lagi lewat."


"Aku males, karena kamu berani banget."


"Ck!." wanita itu terdengar berdecak dan membuat senyum bian kembali mengembang.


"Kan bener kamu centil, diumur segitu aja udah bisa bedain mana laki-laki ganteng mana yang enggak."


"Dih!. Kepedean, merasa emang kalo situ ganteng?."

__ADS_1


"Ya iyalah. Bibit mahal ini."


"Terus kenapa kamu suka banget ngejelek-jelekin aku?."


Bian menarik nafas panjang sebelum mengatakan tentang isi hatinya selama ini.


"Dulu aku selalu berfikir untuk mendapatkan jodoh yang sholihah. Aku gak pernah merasakan apa itu sakit hati, apa itu cinta monyet. Yang ada dikepalaku waktu itu cuman kesuksesan. Punya kerjaan mapan, gaji besar, bisa bahagiain bapak sama ibu, pokoknya mau apa aja bisa. Tapi setelah beberapa waktu berlalu aku baru ngerasa kalo hatiku ternyata kesepian. Gak ada kamu yang selalu bikin kesel." Curhatnya panjang lebar.


"Tapi seharusnya bisa aja kamu nemuin cewek semasa kuliah disini belum lagi dilingkungan kerja." Balas Sezi dengan rasa penasarannya.


"Mereka hanya figuran, bukan seperti kamu. Kamu tahu seberapa menyesalnya aku setelah ngusir kamu waktu itu?."


"Itu sakit hati yang gak bakal aku lupa sepanjang masa." Ucap Sezi spontan dan terkesan arogan.


"Tuh!. Kamu aja bilang begitu, apalagi aku?. Perasaan ku sakit banget, seolah kalo kata-kata itu memang ditancapkan ke ulu hati. Selama tiga tahun lebih aku gak bisa tenang gara-gara kamu. Apalagi waktu dua manusia error itu bilang kamu mau nikah sama kakaknya yang duda."


Sezi seketika tertawa karena ucapan Bian yang mengingatkannya dengan masalah Dion.


"Padahal tahu orangnya aja enggak, tapi hati aku gak rela."


"Jadi Dion itu kakak dari teman kerja kamu?." Sezi cukup terkejut karena baru mengetahui kebenarannya.


"Iya, dia Mahesa laki-laki yang ketemu kamu sama keponakannya si Mili."


"Meily?."


"Iya apalah itu pokoknya, intinya dia anaknya si duda itu."


Sezi kembali terkikik geli melihat Bian tengah membicarakan rivalnya yang seorang duda.


Tak lama mobil yang dikendarain Bian memasuki halaman sebuah rumah berlantai dua dengan kesan asri yang ada disekitarnya.


Sezi tak mengedipkan matanya. Ia begitu terpukau dengan rumah yang dibangun oleh Bian.


"Ini kamu yang beli?."


"Iya. Memang kenapa?. Kamu gak suka?."


"Aku gak percaya aja kalo kamu yang bangun rumah ini."


"Yang bangun sih developer sayang, aku cuman ngasih duitnya."


"Yakin bukan kak Alex?."


"Ck!. Kamu ngeremehin banget."


"Ya enggaknya gitu, kan kamu jarang kerja. Duitnya dari mana coba?."


"Hasil donasi." Candanya dengan senyum merekah.


"Atau kak Bitha?."


"Ada, tuh dia nyumbang pohon jambu air dipojokan." Ucap Bian sembari menunjuk letak bibit pohon jambu pemberian Bitha ditanam.


Bian menarik tongkat kruk yang terdapat di belakang kursi kemudinya.

__ADS_1


"Rumah ini sudah mulai dibangun sejak kamu terima lamaran itu."


Sezi semakin bingung dibuatnya.


"Kamu buat ini sebelum kita nikah?."


"Iya."


Rumah itu tidak besar, tapi terlihat begitu hangat dan nyaman untuk dihuni.


Bian membuka pintu rumah perlahan dan memperlihatkan ruangan kosong didalamnya.


"Dibawah cuman ada satu kamar tamu sama dapur terbuka. Kamar utama ada dilantai atas." Jelasnya.


"Kamu bisa naik pake itu?." Tanya Sezi melihat Bian yang berjalan dengan dua kruk yang menyangganya.


"Kamu aja yang naik, aku tunggu dibawah." jawabnya dengan terus berjalan ke area belakang rumah.


Namun Sezi tak mengindahkannya. Ia justru mengekori langkah Bian yang berjalan pelan menuju sebuah taman dengan hamparan rumput hijau dimana banyak pepohonan baru yang mulai bersemi setelah dua bulan penanaman.


"Kenapa gak naik?." Tanya Bian saat melihat istri bawangnya itu mengikuti langkahnya.


"Enggak, aku takut naik sendiri." Ucapnya beralasan.


"Mau aku anterin?."


"Gak, jangan!." Sezi menahan sisi lengan Bian untuk tidak melakukan apa yang baru saja ia katakan.


...🍂🍃🍂...


...🍂🍃🍂...


Bian berdiri membelakangi Sezi. Pria itu tengah menikmati semilir angin yang berhembus lembut dan menerbangkan dedaunan yang gugur dan jatuh berserak diatas rumput hijau yang menjadi pijakan kakinya saat ini.


Ia merasakan sesuatu menelusup diantara pinggang dan tongkat kruknya. Matanya terbuka kemudian menoleh kebelakang.


Sezi tengah memeluknya. Tangan wanita itulah yang kini melingakari pinggangnya.


Rasa hangat kian menjalari hatinya, ia bisa merasakan kasih dan sayang yang sempurna saat kepala wanita itu menempel lekat pada punggungnya.


"Maaf."


Satu kata yang keluar dari mulut Bian untuk Sezi. Ia bisa merasakan jika wanita dibelakangnya tengah menangis hanya dengan melihat bagaimana jemari lentik itu meremas kemeja miliknya dibagian depan.


"Maaf, sudah buat kamu sakit hati."


"Aku terlambat menyadari karena ketidak pekaan ku dengan perasaan yang ada." Ia merasa jika Sezi tengah menggelengkan kepalanya.


Semakin lama semakin terdengar suara sesegukan darinya yang membuat Bian berbalik untuk mendekap tubuh wanitanya. Memberinya ketenangan agar tangisnya tidak semakin pecah.


.


.


.

__ADS_1


.


tbc.


__ADS_2