My Lovely Bawang

My Lovely Bawang
Bawang merah


__ADS_3

...♡▪♡▪♡...


...🌳...


...🌳...


...🌳...


Tidak ada agenda untuk berlibur keluar kota bagi sepasang pengantin lama yang baru saja menggelar wedding party mereka. Cukup berdiam diri dirumah baru untuk menuntaskan misi Bian yang sudah berbulan-bulan lamanya tertunda.


Malam saat mereka tiba dirumah seorang pria usia pertengahan menyambut keduanya di depan teras dengan senyum ramah. Beliau pak Manah, pria paruh baya itulah yang diminta Bian untuk menjagakan rumah mereka sejak tiga hari lalu.


Ucapan selamat pun terucap dengan begitu halus dari pak Manah lengkap dengan senyum tulus yang terukir diwajah tuanya. Beliau juga memberikan buah-buahan sebagai bentuk rasa syukur dan terimakasih karena telah menjadi tetangga mereka.


Bian pun dengan senang menerima buah-buahan pemberian pak Manah yang ada didalam wadah berbentuk baskom besar sebelum akhirnya pria itu pergi setelah memberikan kunci rumah mereka.


"Siapa tadi nama bapaknya?." Sezi bertanya pada Bian yang saat itu akan membuka pintu dengan kunci pemberian pak Manah.


"Pak Manah, lengkapnya sih Amanah cuma orang-orang sini manggilnya gitu."


Sezi tampak manggut-manggut mengerti.


Wanita itu terlihat begitu santai merebahkan tubuhnya pada ambal yang memang tersedia didepan ruang TV masih dengan gaunnya yang terpasang sempurna.


"Kamu gak mau lepasin baju itu dulu. Aku sumpek banget ngelihatnya." Ucap Bian saat mendapati istrinya tergeletak tak bedaya sembari bermain ponsel.


"Tolongin."


"Tolongin apa?. Bukain baju maksud kamu?." Bian tersenyum nakal yang membuat Sezi kembali mendelik tak percaya dibuatnya.


"Resletingnya doang ini yang dibelakang. Dih, mukanya mesum amat!." Cibir wanita berbalut kebaya modern tersebut.


"Ya kali kan kamu mau dibantuin buka semuanya." Kekehnya sembari menarik kucian pada gaun Sezi. "Udah."


"Bi,"


"Emh?." Bian menoleh saat Sezi memanggilnya.


"Kamu pernah gak nanya-nanya sama kak Bitha tentang pengaman."


"Pengaman?." Dahi Bian berkerut.


"Itu loh....eemh.... anu." Sezi begitu sulit menyampaikan maksud dari kata-katanya dan membuat Bian semakin menggeser tubuhnya karena ia pun sebenarnya tak mendengar dengan jelas apa yang diucapkan wanita itu kepadanya.


"Ngomong apa sih?. kok ngedumel sendiri." Pria itu kini tengkurap tepat disamping Sezi.


"issh!. Kamu jangan deket-deket."

__ADS_1


"Deket sama pasangan sah itu banyak pahalanya sayang."


"Udah lah gak jadi, aku mau langsung mandi aja." Sezi memilih pergi meninggalkan Bian yang tengah tertawa karena melihat wajah panik sang istri.


Bian melihat wanitanya menaiki anak tangga menuju kamar mereka yang berada dilantai dua dengan begitu lambat karena gulungan gaun miliknya terus menjuntai saat diangkat. Pria itu berlari kemudian membantunya memungut sembari berucap,


"Nanti gak usah pake baju yang ribet ya."


Sezi langsung mengiyakan karena memang fokusnya tidak pada kalimat yang Bian lontarkan melainkan pada gaun miliknya yang sangat menjengkelkan ketika ia akan menaiki anak tangga.


Tiba dikamar Sezi masih harus disibukan dengan melepas printilan yang melekat pada kepalanya namun Bian dengan sabar membantunya mencabuti jarum pentul yang menurutnya begitu aneh.


"Perempuan kenapa suka banget pake jarum beginian?." Tanyanya


"Biar rapih Bi."


"Kenapa gak dijahit langsung aja?."


"Dijahit sama kepalanya gitu?." Sezi bertanya balik.


"Dibuat kaya helm, jadi langsung pake." Jelasnya yang membuat Sezi terbahak-bahak karena membayangkan bagaimana susahnya memasang hijab dikepala dengan disain seperti maksud Bian.


"Apa gak kelihatan lebih aneh?. Mirip alien gak tuh!?." Keduanya terkekeh geli dengan bayangan mereka masing-masing.


Bian meninggalkan Sezi sendiri dikamar. Pria itu memilih pergi kedapur untuk mengambil minuman dingin.


Pukul 11 malam dan Sezi memilih untuk ikut turun kebawah menyusul Bian setelah menyelesaikan ritual yang biasa ia lakukan setiap akan tidur.


Ia melihat pria itu berdiri membelakanginya dengan mengenakan apron untuk menutupi kemeja putih yang masih membalut tubuhnya.


"Bi?."


"Ya?."


"Kamu ngapain?."


"Buatin kamu salad."


"Kamu bisa?."


"Bisa lah, kan cuman buah terus dipotong-potong."


Sezi yang melihat Bian membuka banyak buah dengan irisan kulit yang begitu tebal pun menjadi kasihan, kasihan karena daging buah yang terbuang bukan kepada tersangka.


"Sini aku aja yang kerjain." Ia mengambil alih buah dalam genggaman Bian dengan cepat.


"Kenapa sih?."

__ADS_1


"Kamu itu bukan ngupas kulit Bi, tapi ngupas daging buahnya. Coba lihat ini, banyak banget yang kebuang." Omelnya sembari mengupas buah mangga yang tampak begitu manis saat digigit.


"Ya gimana dong abisnya licin banget." Ucapnya beralasan.


Bian memilih mencuci tangan kemudian diliriknya wanita yang kini tengah berdiri membelakanginya. Ada rasa kagum bercampur haru kala ingatannya kembali pada sosok Sezi yang dulu sebelum ia mengenal perempuan itu secara jauh.


Kagum karena dibalik perilakunya yang 'aduh' itu ternyata menyimpan banyak kelebihan dan rasa haru setelah beberapa bulan menikah ia melihat jika Sezi perlahan mulai menanggalkan pakaian seksinya yang dulu selalu membuat dirinya berusaha keras untuk tidak tergoda dengan kemaksiatan.


Bian melepas apron yang dikenakan lalu melangkah lebih dekat kearah Sezi yang masih sibuk dengan buah ditangannya. Pria itu mulai menyelipkan kedua tangannya untuk memeluk sang wanita dari belakang.


"Bi!. Jangan bikin rusuh deh!."


Bian sama sekali tak mengindahkan ucapan sang istri,


"Panggil abang." Bisiknya pada Sezi dan membuat bulu kuduk wanita itu seketika meremang.


Wangi vanilla yang melekat pada tubuh Sezi benar-benar membuat Bian gemas ingin menuntaskan h******** malam ini, namun lagi-lagi ia harus berusaha membujuk singa betinanya terlebih dahulu agar tidak ada unsur keterpaksaan nantinya.


"Bi, ini tajam loh." Sezi mengangkat pisau ditangnnya untuk mengancam Bian.


"Masih lebih tajam punyaku sayang." Bisiknya dengan menciu*i tengkuk Sezi. "Kamu wangi banget." kicaunya dengan suara berat.


Tangan yang awalnya hanya memeluk kini telah menambah pekerjaannya dengan menyelinap dibalik piayama yang dikenakan oleh Sezi hingga membuat wanita itu menggigit bibirnya sendiri demi menahan suara aneh yang bisa-bisa menyebabkan dirinya lemah tak berdaya.


Yakinlah jika kini Bian tak akan lagi menahan apa yang seharusnya sudah ia lepaskan.


Sezi yang tak tahan terus digoda pun akhirnya membalikan tubuhnya dengan tangan yang masih berlumuran cairan mangga. Wanita itu mengalungkan tangannya melingkari leher pria yang kini tengah menatapnya dengan tatapan penuh ... minat?.


Ia memberinya sebuah kiss yang begitu manis untuk dirasa hingga membuat Bian ingin mengulangnya kembali. Dari yang awalnya biasa perlahan berubah menjadi li*r dan semakin memanas kala pria itu mendudukkan tubuh Sezi diatas meja bar lalu membuka kemeja putih yang sejak tadi melekat ditubuhnya yang kini mulai berkeringat.


Sezi bisa melihat bagaimana suaminya itu begitu menginginkannya dan ia tak lagi menolaknya seperti sebelumnya dengan alasan yang dibuat-buat.


Mungkin tadi ia sempat berfikirkan untuk membicarakan masalah pengaman itu dengan Bian jika saja pria itu tadi tidak meninggalkan kamar. Akan tetapi setelah melihat bagaimana ketulusan pria itu untuk benar-benar selalu ada dan mencintainya maka ia bisa memberinya dua kali lebih banyak.


Oleh sebab itu ia memberanikan dirinya untuk menyambut tamu dimalam ini, karena dimulai detik ini ia akan mengabdikan jiwa dan raganya hanya untuk pria dihadapannya, pria yang sudah menghalalkannya disaat dirinya sendiri masih memiliki rasa benci kepada pria itu.


.


.


.


.


tbc.


🐛Hai sobat nutnut, pada semangat senin yak buat yang gawe. Buat yang bambong kaya nutnut🐛yuk merapat, 😙

__ADS_1


Nutnut mau jagain pintu rumah abang Bian ama Neng Sezi dulu yak, biar ndak ada yang bertamu buat seminggu kedepan. 💕


__ADS_2