My Lovely Bawang

My Lovely Bawang
Extra End


__ADS_3

...🐛🐛🐛🐛🐛🐛🐛...


_


_


_


Tebakan Rudy tidak salah, anak yang dikatakan pria itu berwajah seperti almarhum Mahesa nyatanya memanglah benar.


Orang tua dari Rina sendirilah yang menceritakan semuanya kepada Bian yang saat itu tak sengaja bertemu dengan ibunya dipasar tradisional ketika mengantarkan Sezi membeli beberapa keperluan dapurnya.


Bian lantas mengajak wanita paruh baya itu untuk mampir diwarung nasi sembari menanyakan keadaan Rina setelah beberapa waktu tak mengetahui kabar wanita mantan teman sekantornya tersebut.


"Cantik sekali putri nak Bian, siapa namanya sayang?." Tanyanya penuh kehangatan kepada Mentari yang justru memberinya tatapan tak suka.


"Namanya Mentari, oma."


"Cantiknya sholihah."


Tidak ada yang tidak akan melirik balita mungil dengan mata indah dipangkuan Bian saat itu.


Tidak ada Sezi disana, wanita itu tengah asik berkeliling didalam pasar membawa perut besarnya yang sudah semakin turun karena telah memasuki bulan kelahirannya.


"Nak Bian tadi mau tanya apa?." Tanya ibu Rina dengan nada halus dan sangat sopan.


Bian merasa tak enak hati karena wanita tua itu justru membuatnya harus mengulang pertanyaan yang sama seperti sebelumnya.


"Bagaimana kabarnya Rina bu?."


"Alhamdulillah baik. Sekarang sudah ikut suaminya pindah keluar kota."


Biang mengangguk paham, ia kemudian memikirkan cara bagaimana mengorek informasi mengenai anak yang dikatakan Rudy mirip dengan almarhum Mahesa itu.


"Ibu, maaf jika saya lancang. Sebenarnya ada yang ingin saya tanyakan mengenai ...


"Nak Bian mau tanya mengenai anaknya Rina?."


Bian terdiam, ditatapnya mata tua wanita itu yang menyiratkan kesedihan jauh didalamnya.


"Maaf." Hanya itu yang Bian ucapkan karena merasa lancang dengan pertanyaan yang sepertinya telah mengorek luka dimasa lalu.


"Tidak apa-apa, tidak perlu minta maaf karena bukan salah nak Bian." Ucapnya tulus.


Wanita itu diam sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.


"Anak yang ada bersama Rina itu memang anak dari Mahesa. Awalnya ibu juga tidak percaya jika saat kami membawa Rina pergi untuk berobat itu ternyata dia dan Mahesa telah melakukan perbuatan terlarang."


"Puncaknya saat Rina dinyatakan hamil dengan kondisi psikisnya yang belum stabil, saat itu kami memberi tahu pria itu tentangnya dan dia jelas terkejut tapi juga tidak menolak saat kami mintai keterangan. Hanya saja takdir berkata lain."


"Ibu tidak habis pikir dengan pria mapan dan rupawan sepertinya dapat dengan mudah mengakhiri hidup hanya karena sebuah masalah yang seharusnya bisa ia selesaikan bersama."


"Rina sadar akan kesalahannya saat itu, tapi apa daya ketika nasi sudah menjadi bubur. Kematian Mahesa menjadi pukulan telak baginya terlebih pria itu mati karena kecelakaan sepulangnya dari bar."


"Anak itu juga sempat berfikir untuk kembali mengakhiri hidupnya ketika tahu mahesa telah tiada tapi kami berusaha sesegera mungkin untuk menyadarkannya. Kami membawanya untuk pengobatan dan terapi lebih jauh sembari merawat bayi dalam kandungannya hingga anak tak berdosa itu lahir kedunia dengan selamat."


Mata tua itu terlihat basah sambil sesekali tangannya mengusap cairan bening yang berusaha menerobos keluar dengan selembar tissu.


"Kami juga tidak berniat memberi tahu keluarga pria itu. Biarlah cerita ini cukup kami yang mengenangnya sebagai pelajaran hidup. Jikapun kami beritahu, nantinya anak itu juga tidak akan mendapatkan apa-apa baik pengasuhan ataupun pengakuan." Tangan sepuhnya kembali melipat tissu untuk membendung lelehan bening dimatanya.


"Ibu takut jika seandainya mereka tahu, yang nantinya malah akan menjadikan anak itu sendiri sebagai bahan fitnah dan membuat luka psikis baru ditubuh dan fikirannya yang bersih dan suci terlepas dari dosa yang telah dilakukan oleh kedua orang tuanya."


"Ibu tidak kuat nak Bian, ibu kasihan sama dia."


Ucapan ibu Rina ada benarnya, lebih baik mereka tidak usah tahu mengenai anak Mahesa yang lahir diluar nikah.


Selain untuk menjaga nama baik almarhum, hal itu juga bertujuan untuk memberikan rasa aman pada anak itu sendiri karena mereka tidak mengenal seperti apa keluarga pria itu sebelumnya.


__________


__________


Mentari terlelap diatas carseat yang terpasang pada kursi penumpang. Gadis mungil itu benar-benar lelah karena mulutnya yang tak berhenti memakan kerupuk udang dengan kuah soto saat dua orang dewasa sibuk membahas kisah Rina dan Mahesa.


Sepanjang perjalanan pulang, Bian mengingat bagaimana wajah ibu tadi yang nampak lelah dengan kisah hidup putri sematawayangnya yang tak berjalan mulus seperti harapan mereka.


Ada nama Mahesa yang menjadi bagian dari kisah perjalanan hidupnya dan juga Rina.


....


....


"Bi, kamu masih ingat si duda itu gak?."


"Ingat, kenapa memangnya?."


"Udah cerai sama si Cia."

__ADS_1


"Lah?. Kok bisa?."


"Ternyata dia punya anak diluar nikah, Bi. Jadi sebelum nikah sama Cia dia udah ada hubungan sama perempuan lain."


"Lah?. Kenapa ceritanya jadi merembet gitu?."


"Gak tau dah!."


"Ada-ada aja tuh duda."


"Gatel emang!." Sezi menimpali.


"Sayang, jangan ngumpat." Tegur Bian kepadanya.


"Gak bisa, ini tuh emang ngeselin. Kasihan si Cia."


"Kaan, alhamdulillah kamu nikahnya sama aku. Gak sama dia."


"kamu bikin dejavu tau gak!?."


"Emang iya ya?!. Emang aku udah pernah bilang gitu ya sebelumnya?."


"Sering!."


"Gak papalah, itung-itung sebagai pengingat perjuangan ku buat ngehalalin kamu."


Sezi terkekeh setelah melepaskan rasa kesal dihatinya karena masalah Cia. Perempuan itu mengusap halus perutnya dengan senyum tipis yang menghiasi sudut bibirnya.


"Udah mau launching aja ni satu, gak kerasa."


Bian yang melirik sekilas pun ikut tersenyum dan menempelkan tangan kirinya untuk ikut meraba bagian dirinya yang tengah berkembang didalam perut sang istri.


"Mau nambah lagi?." Ucapnya dengan wajah tengil.


"Kamu nanya apa nawar?."


"Enggak keduanya, aku cuman ngasih tau tapi pake nada tanya."


"Aku sih yes kalo kamu yang ngidam."


Bian terbahak-bahak mendengar jawaban Sezi. Ia mengakui jika kehamilan kali ini cukup parah dan diluar dugaan karena kondisi morning sickness yang dialaminya benar-benar membuatnya pusing tujuh keliling. Bukan istrinya, melainkan dirinyalah yang harus merasakan beratnya hamil muda.


Dulu ia berfikir jika hamil itu tidak begitu sulit selain saat melahirkan. Sebab ia melihat bagaimana Sezi yang bahkan tak merasakan apa-apa saat kehamilan anak pertama mereka, Mentari. Namun tidak untuk kali ini yang jelas berbeda, Bian sampai tak bisa membuka matanya. Bahkan untuk ke kamar mandi saja ia harus berpegangan pada tembok atau merangkak dilantai seperti bayi agar tubuhnya tidak limbung.


"Aah ngeri, ngeri, ngeri. Cukup dua aja. Aku takut kaya kemaren lagi."


"Enggak, enggak, udah. Yang ini aja belum keluar."


"Kamu kenapa sih, kok jadi parno gitu?!." Sezi tertawa melihat raut wajah Bian yang seperti ketakutan.


"Kalo dikasih lagi gimana?." Tanya Sezi sembari menatap wajah Bian yang tengah fokus mengemudi.


"Kalo dikasih lagi ya alhamdulillah. Diterimalah, tapi ya semoga jangan kaya yang kemarin lah. Aku takut sayang, Adeeuhhh, ngebayanginnya aja udah gak kuat."


"Idih, si abang lebay nian."


"Gak papa, biar aja dibilang lebay. Emang begitu adanya."


"Emang gimana rasanya?." Sezi begitu penasaran dengan jawaban sang suami.


"Rasanya ituuu... kaya lagi Koma, Hidup segan Matipun tak mau!." Pria itu mbergidig ngeri yang langsung disambut gelak tawa darinya.


..._________________...


...____________...


...________...


Pukul 16.35 semburat kuning menemani sore Bian dan putri kecilnya diteras belakang rumah sebelum maghrib tiba disusul oleh Sezi yang baru saja merampungkan kegiatannya memasak makan malam.


"Camilaannn..." Ucapnya dengan riang saat melihat dua orang spesial yang tengah sibuk dengan kegiatan mereka.


Mentari berteriak gembira. Gadis itu langsung menyambut tangan sang ibu dimana kudapan berupan sukun goreng dengan bau gurih khas bawang putih dan ketumbar menyatu sempurna didalamnya.


"... yummyyy..." Mata bulatnya semakin berbinar.


"Aku buatin tehnya dulu, tunggu sebentar." Ucap Sezi setelah memberikan piring ditangannya kepada sang suami.


"Gak usah!. Biar aku aja. Kamu duduk temanin dia." Bian dengan sigap berdiri untuk membuat teh yang dimaksud Sezi.


Pria itu tidak tega melihat bagaimana susahnya sang istri bergerak kesana-kemari dengan perut sebesar baskom cucian sayur mereka. Ia membiarkan Sezi duduk untuk istirahat bersama Mentari yang sibuk dengan kartu-kartu bergambar hewan ditangannya.


"Jangan terlalu manis ya sayang."


"Sip!." Bian berlalu dengan jempol mengacung diatas kepala.


💕🐛🎶

__ADS_1


Sukun goreng dipadukan dengan teh hangat untuk menemani sore mereka sebelum berangkat kemasjid.


Tatapan keduanya mengarah pada pemandangan rumah-rumah warga yang diselingi oleh pepohonan hijau dibawah sana.


"Bi, ada gak pertanyaan dalam benak kamu yang sampai sekarang belum ada jawabannya."


Pertanyaan Sezi membuat pria itu diam dengan pikiran menerawang namun mulutnya terus mengunyah gurihnya sepotong sukun goreng yang tak bisa diabaikan begitu saja.


"Kayaknya ada tapi lupa. Apa ya?." Jawabnya ambigu.


"Yang seputaran hubungan kita aja."


"Eemhh..............enak, sukunnya."


"Iish, kamu yang seriusan dong."


"Masih mikir ini." Bian terkekeh melihat wajah kesal Sezi karena kesolihannya, eh? keusilan maksudnya.


"Gimana bisa mikir, kan mulut kamu ngunyah terus." Wanita itu kemudian berdecak.


"Ada, satu!."


"Apa?."


"Kamu!."


"Aku?."


"Kenapa kamu yang jadi jodoh ku?."


"HIIIISSSS, kamu apaan sih!?. Seriusan Bi!."


"Iya sayang, aku serius. Dulu tuh aku ngelirik Lady Gaga, apalagi waktu lagunya yang bad romance booming, euh tu cowok-cowok disekolah udah pada heboh sampai ada yang kena sidang gara-gara nontonin videonya pas lagi kelas."


"Itu bukannya yang VCnya bug*l itu ya?."


"Ya gak segitunya, cuman be bikinian doang dia nyanyinya."


"Iihh, kamu jorok!."


"Eh, aduh sakit." Bian menarik tangannya yang baru saja kena cubitan sayang. "Wajar bebiiiiihh, namanya puber."


"Dosa tuh mata kalian, udah tercemar!."


Bian terbahak-bahak karena ucapan Sezi.


"Tapi yang ku dapat nayatanya tak sebanding dengan si Gaga. Yang ini tuh lebih WAAAWW!."


"Gaga, gaga, GAGAK sekalian!."


"Bunyi dong, Kaaaakkk🦅 ... kaaaaaakkk...🦅 Kaaaaaaakkk....🦅!."


Kelakuan Bian benar-benar sukses membuat Sezi terbahak.


Ia tak mengerti mengapa suaminya itu terkadang bisa begitu lucu dan sangat menghibur.


Bian selalu bisa menghilangkan rasa kesalnya, membuatnya tertawa walau kadang candaan yang dibuatnya terkesan garing.


________


"Udah deket adzan, turun yuk!." Sezi mengajak Bian dan juga si kecil setelah membereskan bekas makan mereka.


Sezi memasangkan kerudung kecil untuk menutupi kepala Mentari dan Bian menyambutnya, menggendongnya dengan satu tangan dan tangan lainnya menggenggam tangan Sezi setelah wanita itu selesai mengunci rumah mereka.


Ketiganya berjalan bersama menuju majid yang berada diperumahan bawah tak jauh dari rumah mereka.


"Capek?." Tanyanya pada sang istri.


"Enggak, malah semangat banget ini nunggu lahiran. Semoga lancar sampai harinya tiba nanti." Ucapnya sembari mengelus perutnya yang terasa semakin kencang saat dirinya berjalan kaki.


"Amin." Bian mengamini dengan terus menggenggam tangan Sezi diperjalan mereka menuju masjid.


"Sehat-sehat ya kalian semua. Love you." Bian memberi kecupan dikepala sang istri setelah lebih dulu mengecup pipi Mentari yang berada dalam gendongannya.


...__________...


..._______...


...____...


...__...


..._...


...Happy end!. 🐛💕...


Udaah ya gaes, monmaap

__ADS_1


Sebenar masih agak gantung dikit sih, tapi ya sudahlah ya tolong diikhlasin. 😅


__ADS_2