My Lovely Bawang

My Lovely Bawang
Bawang merah


__ADS_3

...♡♡♡♡♡...


...-----♡-----...


Waktu menunjukan pukul empat sore. Rumah tampak sepi karena kedua orang tua mereka tengah berada di luar untuk mengunjungi sebuah tempat wisata baru yang sedang hits dikalangan para pelancong.


Tinggalah sepasang pengantin baru yang dengan sengaja mereka lupakan setelah mendapat persetujuan Bian serta tiga orang PRT yang memang sedang bekerja membersihkan juga merapikan rumah setelah acara selesai.


Wanita itu, ya!. Wanita dengan kemben itu keluar dengan santainya dari dalam kamar Bian dan membuat seisi rumah terkejut karena penampilannya yang jauh dari kata SHOLIHAH!.


Sezi baru terbangun dari tidur siangnya saat matahari telah condong kebarat. Ia berjalan santai dengan mata setengah tertutup karena kesadarannya yang belum pulih sepenuhnya.


Setiap pasang mata yang melihatnya seketika memohon ampun kepada tuhan karena telah melihat hal yang seharusnya tidak mereka ketahui.


Bian yang kala itu tengah asik bermain PS-pun spontan melemparkan stick yang ada ditangannya dan meluncur untuk mendorong wanita itu kembali masuk kedalam kamar.


"Kamu apa-apaan sih!. Lepas!!." Sezi mencoba berontak saat Bian menghalanginya dengan kursi.


Wanita itu seketika sadar dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Bian namun bukannya mengakui kesalahan, ia justru menuduh jika Bian berniat mengambil keuntungan darinya. Sedangkan pria itu sendiri hanya menatap dengan wajah yang sulit untuk ditebak.


"Cuci muka dulu, mandi, baru boleh ngomel." Ucap Bian lalu pergi meninggalkan istri bawangnya didalam kamar.


Setelah pintu tertutup Bian segera menjambak rambutnya sendiri agar tersadar dari fenomena alamiah yang biasa terjadi saat malam pertama.


"gila gila gila...godaan depan mata...ini kalo bulan ramadhan udah pasti kudu bayar kafarat sebulan penuh." Gumamnya sembari menggerakan kursi rodanya kembali kedepan TV.


Beruntung semua yang membantu pekerjaan didalam rumah adalah wanita yang telah menikah setidaknya itu bisa mengurangi kehawatiran Bian meski hanya secuil.


_____


"Orang-orang pada kemana?." Tanya Sezi setelah satu jam berlalu dan ia baru saja menyelesaikan kegiatannya didalam kamar.


"Pergi jalan-jalan." Jawab Bian dengan santai setelah melirik sekilas. Ia merasa tenang karena bawangnya keluar dengan pakaian lengkap.


"Kok kamu gak bilang sih!. Kenapa gak bangunin aku, aku kan juga mau ikut!." Ucapnya dengan penuh kekesalan.


"Kamunya aja tidur gak bisa dibangunin." Bian beralasan yang pada kenyataannya dirinyalah yang sebenarnya tidak ingin mengganggu wanita itu.


"Isshh, alasan!." Sezi berbalik meninggalkan suaminya dengan menghentak-hentakan kakinya dan itu sukses membuat senyum Bian bersemi.


"Bocah, bocah." Gumamnya sembari terus memainkan jemarinya pada stick.


Tak lama wanita itu kembali keluar dengan menenteng pouch miliknya dan berlalu tanpa menyapa sang suami yang juga menatapnya dengan bingung.


"Kamu mau kemana?."


"Nongkrong."


"Sama siapa?."


"Sendirilah."


"Tunggu!."


Sezi berhenti sejenak dan menoleh. Ia melihat suaminya berlalu memasuki kamar mereka yang entah untuk apa dan itu membuatnya kesal karena Bian tak mengatakan apapun sampai pria itu keluar dengan kunci mobil dan juga clutch bag hitam ditangannya.

__ADS_1


"Kamu mau kemana?." Kini giliran Sezi yang bertanya dengan wajah bingung.


"Nongkrong."


"Ha?. Nongkrong sama siapa?."


"Kamu."


Sezi langsung memutar tubuhnya lemas. Ia tak habis pikir jika pria itu akan mengikutinya.


"Kamu mau ikut aku?." Sezi menunjuk dirinya sendiri tak percaya. "Pake kursi roda?."


"Iya, emang kenapa?." Bian terlihat santai menekan tuas ditangannya untuk bergerak maju melewati Sezi.


"Kamu mau bawa mobil?. Bisa kamu nyetir begitu?." Sezi benar-benar tak percaya dengan keseriusan Bian yang akan mengikutinya.


"Kenapa?. Kamu gak percaya kalo aku bisa?. Atau kamu mau nyetir?."


"Aku nyetir?. Boleh sih kalo kaki mu mau patah dua kali." Jawabnya dengan senyum jahat sembari melenggang pergi meninggalkan Bian yang ternyata juga tersenyum saat Sezi berbalik membelakanginya.


___


Tiba digarasi Sezi sempat tercengang saat melihat bagaimana mobil van yang digunakan Bian itu terlihat begitu menarik. Ya, mobil yang telah dimodifikasi itu bisa mengeluarkan pijakan yang akan mengantarkan Bian tepat dibelakang kemudi.


Sebenarnya ia pernah beberapa kali melihat ada pasiennya yang juga menggunakan kursi roda seperti Bian, namun tidak dengan mengemudi seperti apa yang dilakukan oleh suaminya itu. Pasiennya hanya menggunakannya untuk masuk melalui pintu belakang mobil dan jenis yang Bian gunakan ia hanya pernah melihatnya melalui internet.


"Ayo." Ajaknya saat menoleh dan mendapati jika istrinya masih setia pada posisinya semula.


"Enggak, aku naik motor aja."


"Apanya motor siapa?." Sezi tampak berfikir, ia lupa jika kini dirinya tidak memiliki kendaraan sendiri. "iya ya motor siapa?, lupa banget." gumamnya dalam hati. Mau tak mau ia kembali harus mengikuti Bian.


"Mbak Min aku keluar dulu ya." Bian berpamitan kepada seorang PRT yang akan menutup pintu rumah.


"Mas Bian nginep diluar atau pulang?." Tanyanya sesaat sebelum Bian melajukan mobilnya.


"Belum tau mbak, nanti aku bilang ke kak Bitha aja."


"OK."


______


Sezi membuang muka, ia tengah berusaha menikmati suasana senja dikota tempat dimana ia mendapatkan luka hati bersama dengan orang yang sama.


"Mau kemana?." Tanya Bian disela kesibukannya mengemudi.


"Beli boba."


"Boba?."


"Iya boba."


"Apa itu boba?." Bian tak mengerti.


"Kamu gak tau boba?." Sezi menatapnya tak percaya.

__ADS_1


Ya, bagaimana bisa orang kota sepertinya tidak tahu boba.


"Es boba?."


"Belum pernah beli." Ucapnya jujur.


"Kamu orang kota gimana ceritanya gak tahu es boba."


"Aku gak suka belanja minuman."


"Ck!. Gak mungkin banget." Sezi berdecak lalu bergumam pelan sembari membuang muka kembali.


___


Lima belas menit berkendara dan tibalah mereka disebuah mall dengan gaya mewah yang siap memanjakan para pengunjung didalamnya.


"Kenapa kita kesini?." Sezi justru bertanya padanya yang telah siap membuka pintu untuk keluar.


"Kamu mau beli bobakan?."


"Ya tapi gak kesini juga lah, aku gak suka ke Mall."


"Terus dapetin bobanya dimana?."


"Di booth - booth pinggir jalan kan ada banyak."


"Ya kan sama aja disini juga banyak. Malah bisa sekalian belanja."


Sezi memutar bola matanya malas. Apalagi harus masuk kedalam mall yang jelas tak terlihat ramah dikantongnya.


Pusat perbelanjaan itu tampak lengang. Semua yang masuk kedalamnya merupakan orang-orang yang memang ingin bersantai dan menghabiskan uang. Bagaimana tidak, jika yang ada didalamnya rata-rata adalah butik ternama.


"Bi, aku cuman mau beli boba. Bukan kongkow disini!." Lirihnya sembari menyamakan langkahnya dengan kursi roda Bian.


"Tuh di depan."


"Kamu yang bayarin!. Aku gak mau ya rugi gara-gara kita masuk ketempat kaya gini." Gerutunya disela-sela kakinya yang terus bergerak maju.


Bian berusaha untuk tidak tertawa kala matanya menangkap rona kekesalan diwajah istrinya yang tampak begitu lucu. Uhuy


Jika hal ini terjadi saat mereka belum sah mungkin saja Bian akan mengusirnya atau bahkan hal seperti ini tak akan pernah terjadi karena dirinya sangat tidak sudi di ikuti oleh sticker dashboard tersebut.


Langkah keduanya tersendat saat seorang pria dengan lantangnya memanggil nama Bian,


"BAII!!!."


.


.


.


.


.

__ADS_1


tbc.


__ADS_2