My Lovely Bawang

My Lovely Bawang
Bawang merah


__ADS_3

...♡▪♡▪♡▪♡...


.......


.......


Hari semakin siang dan tidak ada hal lain yang mereka kerjakan selain bercerita tentang masa kecil masing-masing. Benar-benar momen langka untuk keduanya bisa berbagi cerita dengan penuh kenangan hingga adzan dzuhur berkumandang diantara sayup-sayup pepohohan yang tengah bergoyang karena hembusan angin.


"Aku sholat dulu kebawah, kamu ikut atau mau tunggu disini?." Tanya Bian sembari bersusah payah menegakan tubuhnya.


"Aku ikut, tapi tunggu dimobil aja." Ucap Sezi dengan membantu pria itu untuk memasangkan kruk miliknya.


Keduanya lantas berjalan meninggalkan halaman belakang. Sezi menutup pintu rumah lalu menyusul langkah Bian yang terus berjalan kearah dimana ia memarkirkan mobilnya saat tiba.


"Jauh dari sini?."


"Enggak, ada dibawah sini aja." Bian menunjuk pemukiman yang berada dibawah rumah mereka.


"Disini suasananya masih enak dari pada didaerah bawah." Yang dimaksud Bian adalah rumah sang kakak.


"Tapi jauh dari pusat perbelanjaan." Ucap Sezi sembari memandangi deretan rumah-rumah lama yang berada disepanjang jalan menuju masjid.


"Gak masalah, setidaknya masih bisa dijangkau kalau lagi kepingin."


Sezi mengangguk tanda setuju, "Tapi kan kamu suka nongkrong ditempat yang waktu itu."


"Enggak, aku juga baru dua kali kesana. Yang pertama karena beli gadget dan yang kedua sama kamu." Jujurnya sembari memperlambat laju mobil yang dikendarainya ketika memasuki pelataran masjid berwarna hijau pupus.


"Kamu tunggu disini?." Tanya Bian sebelum menurunkan kedua kakinya.


"Iya."


"Gak mau cobain cendol dawet disitu?." Tawarnya sembari menunjuk warung kecil yang menjajakan gorengan juga gado-gado dipojok masjid.


"Entar aja tunggu kamu selesai."


"Oke."


Bian berlalu, meninggalkan Sezi yang kini tengah duduk sendiri didalam mobil. Sejujurnya wanita itu merasa tak enak hati karena dirinya tidak memakai kerudung seperti halnya Bitha namun tidak dengan Sarah yang masih suka buka-tutup.


Hampir delapan belas menit ia menunggu Bian, tak lama pria itu muncul dengan bersusah payah membawa sekotak makanan yang dibagikan oleh salah satu jamaah sebagai sedekah.


Sezi segera turun dan berlari untuk membantu pria itu menuruni tiga anak tangga yang menjadi pijakan juga sebagai batas suci antara lantai masjid dengan paving blok dibawahnya.


Bian menatap bagaimana wanita itu terus menundukan wajahnya kala membantunya untuk melangkah turun sembari memegang kotak putih tadi.


"Kenapa?. Takut sinar matahari ya?." Candanya saat keduanya telah masuk kedalam mobil.


"Enggak."


"Terus kenapa nunduk-nunduk gitu kaya nyari duit ilang."


Sezi memberinya lirikan tajam seolah ingin menelannya hidup-hidup.


"Kamu dapet apa?."


Sezi membuka kotak putih berisi nasi uduk beserta lauk pauknya yang terlihat begitu menggoda untuk segera disantap.


"Apa dalamnya?." Tanya Bian sembari melirik kotak dipangkuan Sezi, "Barakallah, enak tuh. Mau donk, suapin."

__ADS_1


Sezi melepaskan pengait sendok berlapis sepotong tisu untuk menyuapi pria disebelahnya.


"Mau kemana kita Non?." Tanya Bian sembari memutar kemudinya keluar dari pelataran masjid.


"Cari es boba." Ucapnya sembari sibuk melepaskan kulit udang yang ada pada sambal goreng dengan tangannya.


"Siap."


■■■■


Dilain tempat,


"Adek elu kemana Bith?." Sarah bertanya pada Bitha yang saat itu tengah mengaduk es jely bercampur buah leci didalam wadah.


"Jalan sama adek kamu." Keduanya tertawa bersama, pikiran mereka seolah terkoneksi satu sama lain.


"Jadi bocah dua itu sebenarnya anaknya siapa sih?." Tanya Sarah sembari terkikik.


"Gak tahu, anak pungut kali." Bitha tak kalah ngawurnya dengan Sarah.


"Jadi mereka kemana?."


"Mereka lagi lihat rumah." Bitha akhirnya berkata jujur.


"Rumah?." Sarah terlihat begitu penasaran.


"Lumayan jaraknya dari sini."


"Dimana?."


"Daerah ***************."


"Seriusan?."


"Kok bisa tu bocah bikin rumah disana?."


"Kata Bian itu bagus buat dia ama Sezi berkembang biak."


"Seniat itu dia mau bikin anak itu bunting."


"Kamu kira kucing, bunting!." Ucap Bitha sambil menjejer gelas diatas nampan.


.


.


.


Dua sejoli tadi benar-benar menikmati waktu santai mereka. Tidak ada ponsel berbunyi selain untuk memeriksa email.


"Bi, mampir sebentar di ruko depan ya." Pintanya pada Bian yang tak bertanya untuk apa ia kesitu.


"Bentar." Sezi berjalan menuju sebuah outlet yang memajang pakaian syar'i.


Bian tersenyum kala melihat bagaimana wanita itu keluar dengan mengenakan pasmina seperti kebanyakan perempuan jaman sekarang. Meski belum tertutup secara syar'i dirinya sudah sangat bersyukur wanita itu mau menurunkan egonya perlahan.


"Udah yuk!." Sezi menutup pintu dan memasang sabuk pengaman namun tak ada pergerakan dari sang driver. "Loh!. Gak jadi pergi?." Tanyanya saat menoleh kearah Bian yang justru tengah tersenyum memandanginya.


"Bi?."

__ADS_1


"Cantik." Ucap Bian dengan senyum manisnya dan hal itu sukses membuat Sezi berdecak sebal.


"Aku memang cantik dari orok kali. Emang kamunya aja yang gak sadar." Ucapnya setengah mencibir.


"Iya, aku yang gak sadar kalo anak kecil bau matahari itu ternyata bisa juga bikin aku ambyar."


Sezi mengalihkan tatapan matanya untuk tidak terprosok semakin dalam karena pesona mulut pedas yang membuat benteng pertahanannya kian terkikis.


"Kenapa masih diem, ayo jalan." Pintanya yang kemudian diangguki oleh driver tampannya.


"Let's go boba!."


Sepanjang perjalanan hanya ada suara radio yang setia mengisi kekosongan diantara keduanya. Deretan lagu tengah berputar secara bergiliran dan diselingi oleh suara sang penyiar yang membuat suasana semakin hangat.


"Bi, seandainya kita gak nikah apa yang bakal kamu lakuin?." Sezi bertanya disela-sela kemacetan kota.


Bian menaikan kedua bahunya sebagai isyarat bahwa ia juga tak tahu apa yang akan terjadi padanya saat itu. "Jadi pasikopat mungkin." Ucapnya dengan alis terangkat.


"Ih, ngapain coba?." Sezi bergidig ngeri.


"Yaa, kan aku tipe orang yang gak mudah menyerah dan berputus asa. Kalo jalan santet itu sudah pasti musyrik jadi aku pilih psikopat aja lebih aman."


"Ya itu sih sama gilanya."


"Memang, tapi mekanismenya berbeda." Jelasnya yang membuat Sezi geleng kepala. "Yang penting bisa dapetin kamu."


"Dih maksa banget, kaya gak ada cewek lain aja."


"Emang gak ada, dimataku itu cuman ada kamu. Gimana bisa yang lain mau kelihatan loh?."


Bian menepikan mobilnya tepat didepan sebuah booth kekinian yang menjual minuman dengan bola-bola kenyal didalamnya.


"Kamu mau?."


"Samain aja." Bian mengeluarkan debit card lalu menyerahkannya kepada Sezi dan seketika membuat wanita itu berdecih.


"Gak laku kartu begituan disini." Wanita itu mengeluarkan pouch miliknya dan meninggalkan Bian yang masih tidak mengerti dengan ucapannya.


"Loh, bukannya banyak booth-booth pinggir jalan yang udah pake EDC ya?." Gumamnya sembari menggaruk jidatnya yang tidak gatal.


Delapan menit dan Sezi kembali dengan membawa dua cup minuman matcha ditangannya.


"Emang dia gak punya mesin EDC?." Tanya Bian penasaran.


"Ada, tapi lebih enak pake uang cash jadi bisa tukar uang kecil sekalian. Nih!." Sezi memperlihatkan isi dalam pouch miliknya yang ternyata berisikan uang pecahan dengan berbagai nominal.


"Kamu koleksi atau gimana?." Bian begitu heran dengan wanita disampingnya yang ternyata gemar mengumpulkan uang pecah.


"Ini tuh udah jadi kebiasaan, dari jaman SMA kalo lagi makan siang diluar tu pasti ada yang nyamperin sambil nyanyi-nyanyi kalo enggak sambil njajain kerupuk gitu, temen-temen kan pada males tu karena duit mereka biasanya gede-gede, kadang malah ada yang di usilin jadi suka kasian. Nah ini tu fungsinya buat ngasih tu orang terus jadi kebawa sampe sekarang." Jelasnya sembari menyeruput matcha miliknya.


Bian seketika menjadi paham mengapa gadis sepertinya bisa memiliki banyak teman meski kelakuannya diluar kewajaran. Dulu ia hanya bisa melihat keburukan yang ada pada diri istrinya, namun kini hal itu tak lagi ada. Justru dialah yang kini tengah berjuang untuk mendapatkan hatinya kembali.


.


.


.


.

__ADS_1


.


tbc.


__ADS_2