
◇◇◇◇◇
Enam bulan berlalu sejak kejadian naas yang menimpa Bian kala itu. Kini pemuda itu tak lagi menginap dirumah sakit setelah dua bulan lamanya ia hanya bisa terbaring diatas brangkar pasien tanpa bisa menghirup udara luar dengan bebas.
Meski masih berada dalam pantauan dokter baginya ini merupakan hal luar biasa yang sudah sepatutnya ia syukuri. Terlebih setelah mendengar penuturan Bitha jika Sezi sudah memasukan lamarannya dirumah sakit tempat pria itu pernah dirawat.
Antara bahagia dan juga kecewa. Ia tak bisa tersenyum saat ini karena pikirannya masih sibuk mencari cara agar wanita itu mau membatalkan permintaan yang diajukan kepadanya beberapa bulan lalu meski belum berstatus istri untuknya.
-
-
-
Bian memang belum bisa kemana-mana selain berada dirumah sang kakak. Ia juga harus memindah kamarnya ke lantai bawah agar mempermudah mobilisasinya dengan kursi roda.
Waktu cuti yang panjang menjadikan pekerjaannya menumpuk cukup banyak dan itu membuatnya harus bekerja dengan ekstra sabar.
_______
"Om om, diluar ada tante Sezi." Zhian berkata dengan suara cukup keras diambang pintu kamar Bian yang sedikit terbuka hingga membuat lamunannya buyar seketika.
Pria itu tak menanggapinya secara berlebihan meski jantungnya berdetak lebih cepat dari yang bisa ia duga.
Ya, ini adalah hari dimana dirinya akan mengucap ijab dan qobul atas nama perempuan yang sudah berdandan cantik dengan abaya berwana nude diluar sana.
Kediaman Alex dan Bitha tampak sedikit ramai saat itu, hanya saja tidak ada teman kerja didalamnya karena mereka hanya mengundang pak RT juga istrinya serta petugas KUA setempat dan keluarga dari kedua belah pihak. Bukan berarti mereka tidak ingin meramaikannya hanya saja waktu dan kondisi saat ini yang belum tepat dan lagi itu juga atas permintaan Sezi.
Pagi ini ia terlihat lebih segar dengan balutan kemeja senada dengan warna kebaya yang dikenakan oleh Sezi.
Bian keluar dari kamar menggunakan kursi roda elektriknya. Bibirnya nampak tersenyum namun tidak demikian dengan matanya yang justru memancarkan kesedihan.
Pandangannya mengitari seisi ruangan dimana enam orang pria sudah duduk dengan rapi menunggunya dalam satu meja. Tidak ada Sezi disana mungkin wanita itu ada dilantai atas, berada dikamar lamanya bersama sang kakak.
"Ya ampun, Sar. Cantik banget ini tuh. Padahal gak didandani macem-macem loh." Bitha begitu terpesona dengan penampilan Sezi yang tengah duduk diatas kasur lama Bian.
"Gak tahu aja kamu tadi perjuangan kita buat bikin dia bisa kaya gini." Ucap Sarah disertai decakan kesal dari mulut Sezi.
__ADS_1
Bitha terbahak mengingat bagaimana bar-barnya sifat asli sang calon adik iparnya itu.
"Sezi, MaasyaAllah. Cantik banget, sumpah!. Apalagi pake kerudung gini, kakak aja pangling loh." Bitha terlihat begitu senang melihat bagaimana hasil perjuangan Sarah untuk adik semata wayangnya.
Sezi sendiri awalnya tidak begitu peduli dengan penampilannya. Ia menjadi kesal lantaran Sarah terus-terusan memaksanya untuk mengenakan penutup kepala.
"Bian bakalan klepek-klepek ni kayaknya." Goda Bitha untuk kesekian kalinya hingga membuat Sezi semakin mengerucutkan bibirnya dengan sedikit rona dipipi.
"Udah udah kasian dia, entar pecah make Up-nya kebanyakan mecucu." Bu Rahma menyudahi candaan keduanya.
Sementara itu dibawah sana,
Bian begitu tegang kala dihadapkan dengan seorang pria yang dulu selalu ia sebut om dan kini justru akan menjadi ayah mertuanya.
"Bagaimana mas Bian, apa sudah siap?." Pertanyaan dari pak penghulu membuat kegugupannya bertambah dua kali lipat.
Bian berusaha mengurai rasa tegang yang begitu menyiksa batinnya, hanya saja saat ia melirik untuk mencari penyemangat justru wajah tengil kedua kakak ipar laki-lakinyalah yang ada. Alex dan Ibram tengah menahan tawa karena dirinya.
"Siap pak."
"Bisa kita mulai sekarang mas?."
"Jangan tegang ya mas Bian, dibawa santai aja."
Bian hanya bisa mengulum senyum tipis untuk melunturkan kegugupannya setelah mendengar bagaimana penghulu nikah itu mencoba membuatnya relax.
"Ya harus tegang dong pak. Kalo gak tegang gak asik." Suara Ibram justru mengintrupsi diantara hangatnya suasana dan membuat para saksi juga tamu yang hadir tegelak karenanya.
"Yo jangan, nanti capek duluan. Gimana mas Bian?." Balas pak penghulu disertai lirikan genit kepada si mempelai pria yang tak bisa menahan senyumnya.
Guyonan mereka benar-benar bisa mengurangi rasa gugup Bian. Setelah dirasa cukup relax barulah acara ijab dimulai.
-----------
Sezi yang berada dilantai atas merasa sangat bersalah karena telah membuat hubungan mereka menjadi semakin rumit. Ya, rumit bagi dirinya untuk bisa terlepas dari si mulut jahat.
Ia cukup paham dengan hukum-hukum dalam sebuah pernikahan, namun egonya ternyata cukup sulit untuk ia kendalikan, seolah Bian benar-benar tak bisa membuatnya bahagia meski pria itu sudah meminta maaf kepadanya berkali-kali.
"Kamu masih merasa sulit buat nerima semuanya, iyakan?." Tanya Sarah yang sedari tadi ternyata memperhatikan bagaimana perubahan emosi yang terpancar dari wajah sang adik.
__ADS_1
"Kak_
"Coba belajar memaafkan dari diri kamu sendiri dulu. Ingat bagaimana dulu Bian ngasih respon sama tingkah ajaib kamu yang suka banget bikin dia kesel." Sarah mencoba untuk menjadi perantara ego Sezi yang begitu keras hingga sulit untuk dipahami.
"Sez, gak semua orang itu bisa kaya Bian. Dia memang judes diluar tapi dia orang yang baik, dia paham bagaimana menghargai orang yang lebih tua. Dia tahu bagaimana seharusnya bergaul dengan lawan jenis."
"Tapi hati ini tuh kak, disini, ini _ itu tuh rasanya kesel banget." Wajah Sezi berubah murung.
"Terus gimana sama sarat yang kamu bilang waktu itu?. Jadi kamu bilang ke dia?."
Sezi hanya mengangguk tipis sebagai jawaban.
"Respon dia?."
"Gak ada, dia gak bilang atau balas apa-apa." Lirihnya yang hampir meneteskan air mata.
"Ya sudah pasti dia gak mau itu. Dia keberatan sama sarat aneh yang kamu ajuin. Lagian mana ada orang yang cuman mau nikah kontrak sama orang yang dia suka."
"Ya kan aku juga gak mau rugi donk kak, aku gak mau jadi babunya, aku gak suka kalo dia ngelarang ini itu."
"Sez, setiap orang yang hidup apalagi berumah tangga itu gak ada yang namanya tanpa masalah. Bahkan yang gak berumah tangga aja bisa punya banyak masalah. Perkara babu dan larangan nanti deh kamu lihat gimana kedepannya."
"Tapi_
"Udah, jalanin aja dulu. Inget pesan kakak, jangan bantah omongan dia selagi itu tidak menjerumuskan kamu kepada sesuatu yang dilarang sama agama."
Sezi hanya diam, ia tak menolak ataupun mengiyakan ucapan Sarah karena yang ada dipikirannya saat ini hanyalah membantu pria itu terlebih dahulu. Masalah syarat yang pernah dia ajukan lebih baik dibicarakan saat Bian sudah benar-benar pulih seperti sedia kala.
_
_
_
_
_
tbc.
__ADS_1