
...💕...
Malam itu benar-benar menjadi malam terpanas bagi keduanya setelah melalui banyak waktu berdua hanya dengan menelan rasa kecut karena Sezi selalu menjadikan ketidakberdayaan Bian sebagai satu-sayunya alasan agar pria itu tidak menggagahinya sebelum hatinya benar-benar siap menerimanya lahir dan batin.
_
_
Sayup-sayup suara adzan subuh terdengar berkumandang hingga menyadarkan kedua insan yang baru saja terlelap dua jam lalu setelah menyelesaikan kegiatan panas mereka.
Sezi meraba tubuh dibalik selimut yang masih terlihat enggan untuk membuka matanya.
"Bi, adzan." Bisiknya tepat ditelinga Bian dan membuat pria itu tersenyum dengan mata tertutup.
"Mandi bareng?." Tanya Bian dengan suara paraunya.
"Ih enggak!. Kamu bukannya mandi malah ngefly entar." Ucap Sezi sembari memukul tubuh pria itu secara asal dan membuatnya memekik dengan suara tertahan.
"AKhh!... Kamu pukul sayang, sakit." Rintihnya dan membuat Sezi seketika terkekeh.
"Ya kan aku gak tahu Bi kalo si Juki yang kepukul."
"Kenapa jadi timun jepang?. Padahal nama yang semalem kamu sebutin kedengaran lebih keren." Protesnya masih dengan mengusap manis miliknya.
"Kamu denger waktu aku bilang gitu?." Tanya Sezi yang kini malah menutup mulutnya sendiri
"Ya denger lah, semalem memang cumam suara kamu aja yang paling ribut." Terangnya hingga membuat wanita itu sembunyi didalam selimut karena malu.
"Yuk?." Bian malah semakin gencar menggodanya hingga membuat wanita itu salah tingkah dan memukulinya berkali-kali.
"Sudah, kamu tuh bikin kesel aja. Kita belum sholat subuh." ucapnya sembari menyibakan selimut tanpa menyadari jika tubuhnya benar-benar shirtless.
ABIAAN!!!
Bian benar-benar tertawa lepas kala mendapati bercak merah bertaburan bagaikan panu yang hampir ada disetiap bagian tubuh sang wanita terutama dada dan dikedua paha crispy yang kini lebih mirip sepotong leging dengan corak absurd.
"Salah siapa gak pake baju?."
"Kamu kenapa gak ingetin aku sih!." Kesalnya sembari melempar bantal kewajah bahagia sang suami.
"Bagus begitu lah, aku suka lihatnya."
"Mesum!."
"Tapi enak. Lagi ya?."
"Enggak mau!. Awas!, minggir aku mau mandi!." Bentaknya disertai desisan, "Ngeladenin kamu cuma bikin kesel tau gak?!."
__ADS_1
________
________
________
Sarapan pagi ini disponsori oleh pak Manah. Pagi-pagi sekali pria tua itu datang bersama sang istri untuk mengantarkan sarapan pagi yang memang diperuntukan bagi pengantin baru.
Bukan tanpa sebab, mereka pernah muda dan pernah berada difase yang sama dengan kedua manusia labil penghuni baru rumah tersebut. Jadi akan sangat baik jika ia bisa membantu untuk membuatkan sarapan selagi keduanya tengah berbulan madu.
Sezi sangat berterimakasih kepada kedua orang tua tersebut karena telah memberikan mereka makanan yang bahkan belum sempat membasahi tenggorokan.
"Mari masuk pak, buk." Tawar Sezi sembari membuka lebar pintu rumah mereka demi mempersilahkan keduanya untuk bertamu.
"Sudah gak usah. Kami langsung aja, cucu-cucu udah pada nungguin dirumah minta dianterin kesekolah." Ucap pak Manah yang saat itu masih mengenakan Sarung beserta baju kokonya.
"Yang kerasan ya disini." Ucap bu Yuni, "Kalo mbak Sezi bosen dirumah main-main aja kebawah, banyak temen disana." Terangnya yang membuat Sezi seketika mengiyakan ucapannya dengan senyum merekah.
________
Sepeninggalan mereka, Sezi langsung menutup kembali pintu rumah dan memilih untuk bersantai ditaman belakang sembari menikmati sejuknya pagi diarea perbukitan
Bian yang sejak tadi subuh kembali terlelap pun kini dengan terpaksa ikut bersama sang istri yang mengajaknya minum teh pada pagi pertama mereka dirumah baru.
Pria itu tampak meringkuk diatas kursi karena hawa dingin yang selalu membuatnya ingin bersembunyi dibalik selimut.
"Dingin sayang." Ucapnya dengan mata terpejam.
"Ini seger Bi, dingin darimananya coba?."
"Ni si juki aja sampek ikut ngumpet." Mulut Bian benar-benar senang mengundang perdebatan.
"Kamu jorok banget!. Pagi-pagi udah ngomongin juki mulu."
"Mau gimana lagi?. Juki memang sukanya yang anget-anget."
"Abian! Jorok!."
"Tapi_____enak."
Bian tak kuasa untuk tetap dalam mode coolnya karena memang wajah kesal Sezi begitu menarik baginya.
Sezi yang awalnya hanya berniat untuk mengambil ponsel dikamar justru berujung fatal karena ternyata Bian juga menyusulnya untuk kembali mengulangi adegan panas mereka semalam sampai dua kali putaran dan membuat perutnya benar-benar keroncongan.
Pukul sembilan lebih empat puluh menit dan mereka baru saja menyelesaikan sarapan pagi yang tertunda karena ulah Bian yang benar-benar tak memberinya ampun.
"Puas banget!. Cuman tetep mau lagi sih dan gak akan pernah bosen!." Ucapnya sembari cengengesan yang membuat wanita berambut basah itu melemparkan kulit mangga padanya.
__ADS_1
"Udah lah Bi, kamu bahasnya yang gituan melulu." Sezi mengeluh karena tingkah sang suami yang selalu menggodanya.
"Bayangin sayang, setelah bertahun-tahun aku jauhin kamu karena gak mau kejebak maksiat!. Terus setelah halal aku masih harus puasa berbulan-bulan?!. Itu tuh rasanya udah kaya puasa plus-plus."
"Plus maksiat maksud kamu?." Sarkasnya yang membuat Bian terkekeh geli.
"Lagian mana ada orang puasa pake icip-icip bibir segala." Lanjutnya.
"Gak tahan sayang, bibir kamu kayak manggil-manggil gitu." ucapnya beralasan.
"Mana ada begitu!." wanita itu berdecih sembari menyuapkan potongan mangga kemulut Bian agar pria itu diam dan tak membahas hal-hal berbau erotis.
_____
Pukul sebelas siang, Bian disibukan dengan banyaknya laporan yang tertunda setelah beberapa hari mangkir.
Sezi yang saat itu berada dikamar seketika berlari kebawah sembari membawa ponsel sang suami dalam genggaman tangannya.
"Bi, ada telepon."
"Siapa?."
Sezi memilih untuk menyerahkan ponsel pria itu dari pada harus mengeceknya ulang.
"Si Rudy, kenapa dia?." Gumamnya setelah kepergian Sezi.
Bian memilih untuk menunggu pria itu kembali menghubunginga dari pada ia yang harus menelepon ulang karena ia merasa tidak memiliki kepentingan dengannya.
Tak lama Rudy pun kembali menghubunginya dengan berita yang benar-benar membuatnya syok.
🍂
"Bai, si Esa' Bai. Dia meninggal jam 2 dini hari." Pria itu menahan isak tangisnya. "Aku dikasih tahu sama abangnya pagi ini dan jenazahnya udah dibawa balik ke kampung tadi pagi pake penerbangan pertama."
Bian bagaikan tersambar kilatan yang saling bertautan setelah mendengar kabar duka yang datang dari teman sekantornya tersebut.
"Mahesa kecelakaan tunggal Bai, dia pergi ke club semalem terus pulangnya gak ada yang nganterin dia bawa mobil sendiri dalam keadaan mabuk."
Bian masih tak bisa berpaling dari ponsel miliknya yang menampilkan nomor kontak si almarhum. Menurutnya ini benar-benar diluar dugaan. Kematian memang menjadi misteri yang tak pernah bisa terpecahkan kapan dan dimana dia akan datang. Tinggal kita sebagai mahluk yang bernyawalah yang harus mempersiapkan kedatangan itu dengan sebaik-baiknya.
.
.
.
tbc.
__ADS_1
🐛 Hai sobat nutnut, udah di ujung ya. Semoga masih tetap setia memberikan semangatnya buat otor 👍 ya guys.